Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya

Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya
Bab 24


__ADS_3

Marsel kembali kerumah, ia lalu melihat kedua orang tuanya berada diruang tamu bersama dengan kedua orang tua Keysa dan juga dirinya.


"Marsel, kamu sudah pulang?" Darita membawanya duduk di sofa. "Duduklah dulu, tidak sopan jika kamu hanya diri diam saja seperti ini saat kita kedatangan tamu".


Kemudian Marsel mendudukkan diri, lalu melihat mereka satu persatu hingga arah pandangan matanya berhenti di arah Keysa.


"Ada apa ini? Jangan bilang kalian masih membahas soal perjodohan ini. Maaf, aku tidak punya waktu untuk membicarakan ini dengan kalian dan juga satu hal yang perlu kalian tau dan ingat, aku sudah memiliki calon istri dan calon istri ku bernama Nadira".


Deng!


Rudian sedikit terkejut dan juga penasaran mendengar nama yang baru saja Marsel ucapkan membuat ia bertanya-tanya dalam hati Nadira siapa yang sekarang Marsel maksud.


"Hentikan Marsel! Hentikan ini semua" Darita marah. "Mama tidak suka kalau kamu menyebut pembantu itu dirumah ini dan mama juga sudah pernah bilang sama kamu kalau sampai kapan pun mama tidak akan pernah terima kamu menikahinya".


Marsel diam.


"Dan keluarga Herlambang datang kerumah ini ingin meminta maaf atas apa yang sudah putri mereka lakukan kepada mu. Sekarang dengarkan Keysa menjelaskan kesalahpahaman ini, jangan keras kepala dulu".


Marsel masih tetap diam dan membiarkan Keysa bicara dihadapan mereka semua.


Kemudian Keysa menetap kedua orangtuanya dan juga orang tua Marsel.


"Jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja. Minta maaflah kepada Marsel dan sesali apa yang sudah pernah kamu lakukan" ucap Meta memberikan semangat kepada putrinya itu.


Lalu Keysa menatap Marsel, ia melihat anak itu benar-benar sangat marah kepadanya.


"Marsel, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf setelah apa yang sudah aku lakukan terhadap mu bersama dengan pembantu itu" Keysa pura-pura sedih agar Marsel merasa iba. "Tolong Marsel, tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk menebus kesalahan-kesalahan itu, aku mohon".


Marsel menarik nafas, "Jangan khawatir, aku sudah memaafkan kesalahan yang kamu lakukan terhadap ku. Hanya saja, untuk melanjutkan perjodohan ini aku tidak bisa. Maaf!".


Darita tidak terima, "Maksud kamu Sel? Jangan bilang kamu masih bersikeras untuk menikahi pembantu itu?".


"Benar, sampai kapan pun aku akan tetap menikahinya. Jadi tolong hargai keputusan aku dan permisi".


Marsel pergi meninggalkan mereka, dan tempat itu tiba-tiba terasa sunyi tanpa seorangpun diantara mereka yang berani angkat bicara.


"Mah pah, sebaiknya kita pergi saja. Kalian sudah dengar sendiri kan kalau Marsel sudah memaafkan aku tapi dia tetap masih akan menikahi pembantu itu. Jadi untuk apa lagi kita berlama-lama disini?".

__ADS_1


Darita mengeleng kepala, ia merasa sangat tidak enak kepada keluarga besar tersebut dan masih mencoba untuk membujuk mereka agar jangan pergi begitu saja dari sana.


"Maaf Tante, kami juga masih punya harga diri. Jika memang keadaannya harus seperti ini, kami tidak bisa apa-apa. Permisi Tante, om".


Ketiga orang itu lalu pergi dari sana dengan kekecewaan, tapi mereka juga tidak bisa terlalu banyak menuntut karna semua adalah kesalahan yang sudah mereka lakukan.


Di dalam mobil, "Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Meta.


"Mmmm, aku baik-baik saja mah" Keysa meneteskan air matanya. "Aku baik-baik saja, mama tidak usah khawatir".


"Benarkah? Tapi mama berharap kamu jangan menangis sayang. Kalau kamu menangis seperti ini, mama juga akan sedih sama papa kamu".


Hingga akhirnya Keysa semakin menumpahkan air matanya, "Aaarrrkkkhh.. Sakit mah, rasanya sangat sakit mah hiks.. hiks..".


"Iya sayang mama tau, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya bisa pasrah. Tapi mama akan berdoa sayang, semoga pada akhirnya Marsel segera sadar dan mencoba menerima kamu".


.


Tok... Tok...


"Marsel, ini papa. Tolong buka pintunya, aku ingin bicara dengan mu".


Ceklek!


Ia melihat Rudian berdiri depan pintu kamarnya dengan senyum tipis sambil berkata bolehkah ia masuk ke dalam kamarnya.


"Silahkan, ada apa pah?" keduanya duduk secara bersamaan diatas sofa. "Jangan bilang papa kemari masih membahas itu".


"Sedikit" jawab Rudian. "Tapi papa ingin bertanyakan ini kepada mu, siapa Nadira yang tadi kamu bicarakan?".


Marsel mengernyitkan dahi, "Kenapa? Papa mengenalnya sampai-sampai papa datang kemari hanya untuk bertanya siapa dia?".


"Tidak, aku tidak mengenalnya siapa. Aku hanya penasaran saja siapa orang pemilik dari nama itu".


Meskipun Rudian berkata demikian, Marsel sedikit merasa aneh tapi ia tetap menunjukkan wajah orang yang Rudian maksud.


"Ini dia orangnya".

__ADS_1


Saat itu juga Rudian terdiam, ia tidak menyangka kalau orang yang selama ini mereka perdebatan adalah wanita yang juga begitu sangat ia cintai.


"Ada apa pah? Kenapa papa terlihat begitu sangat terkejut?".


Rudian mengeleng, "Lalu dimana wanita ini sekarang?".


"Aku tidak tau dimana keberadaannya sekarang ini pah. Tapi aku sangat yakin kalau mereka pasti sudah menyembunyikan dia agar aku tidak bisa bertemu dengannya. Begitu juga dengan ponselnya, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja atau tidak".


Sejenak Rudian terdiam kembali.


"Lalu, apa kamu menyukainya?".


"Hhhmm? Kenapa papa tiba-tiba terlihat perduli?".


"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja kamu benar-benar mencintai dia atau sekedar hanya pelarian mu saja".


Tertawa kecil, "Aku juga tidak tau pah aku menyukai wanita itu atau tidak. Yang aku rasakan saat ini aku ingin segera menikahinya".


"Tapi apa kamu benar-benar sangat yakin menikahi seorang pembantu? Dia sangatlah jauh dibawah keluarga kita bagaikan langit dan bumi. Aku rasa kamu tidak pantas dengannya".


"Lihat saja nanti pah, untuk saat ini aku hanya ingin menikahi dia dan tidak perduli apa kata orang. Dan sedari tadi aku perhatikan, papa tampak...


"Sedang apa papa disini?" tiba-tiba Darita muncul diambang pintu menatap tajam kepada suaminya itu. "Sebaiknya papa keluar sekarang juga atau...


"Ada apa mah? Aku sedang bicara dengan Marsel".


"Mama bilang keluar sekarang juga dari kamar ini. Mama tidak mau mendengar bantahan papa".


Rudian lalu melihat Marsel hanya diam saja karna ia tau kalau Darita sekarang ini sedang marah besar kepadanya.


"Ya sudah kalau begitu, papa pergi dulu".


"Iya pah".


Tidak lama setelah keduanya keluar, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari nomor seorang yang tidak ia kenal. Namun pesan tersebut tetap ia buka yang berisikan.


"Apa benar ini dengar tuan Marsel? Saya Reva teman satu pekerjaan Nadira. Dia berpesan kepada saya agar tuan datang menyelamatkannya dari kediaman tuan Herlambang".

__ADS_1


__ADS_2