
Pagi ini Nadira membuka mata, ia melihat jam masih menunjukkan pukul 6 lewat 12 menit. Kemudian ia menuruni tempat tidur dan berjalan kearah jendela kamar yang berada di dekat meja rias tersedia.
"Sepertinya hari masih gelap" Nadira membuka jendela "Benar, aku bangun terlalu cepat sekali" lalu ia berpikir apa yang harus ia lakukan disaat seperti ini, untuk tidur kembali tidak mungkin, ia takut kalau sampai ia ketiduran sedangkan ia baru saja bekerja dirumah tersebut.
Diam berpikir sejenak, ia pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu ia keluar dan melihat rumah tampak begitu sangat sepi sekali. Namun yang ia lihat tidaklah seperti dengan kenyataan, beberapa pelayan telah sibuk di dapur menyediakan sarapan pagi untuk Keysa.
"Astaga, aku pikir aku bangun terlalu pagi sekali. Ternyata mereka sudah ada disini".
Kemudian bi Hanum melihat Nadira berjalan menghampiri mereka dan saat itu juga bi Hanum bertanya.
"Kamu sudah bangun Dira? Kemarilah, tugas kamu pagi ini yaitu membersihkan taman belakang dan taman depan dan ingat apa yang kemarin aku katakan kepada mu".
Nadira mengangguk, "Baik bi, kalau begitu aku kesana dulu".
"Reva" bi Hanum memanggil salah satu orang bawahnya. "Kamu juga hari ini membersihkan semua taman bersama dengan dia, dan nanti kamu sekalian mengajari dia agar dia secepatnya paham. Kamu mengerti?".
"Iya bi, ayo" Reva berjalan duluan membawa Nadira menuju taman belakang. Dan disana keduanya langsung mengambil pekerjaan mereka masing-masing tanpa ada yang berani mengobrol salah satu diantara Nadira dan Reva.
"Wah, pagi-pagi seperti ini membersihkan taman begitu sangat menyenangkan sekali. Ditambah juga taman-taman ini di penuhi tanaman bunga yang indah dan juga tanaman hias yang lainnya. Wah, aku sangat menyukainya, aku benar-benar sangat menyukai tinggal disini".
Reva lalu memperhatikan Nadira yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum seorang diri, dan itu membuat ia merasa heran ada apa dengan wanita yang berada disebelahnya itu. Karna yang seperti ia lihat, Nadira seperti orang yang tidak waras saja.
Hingga pekerjaan mereka bagian taman belakang telah selesai, Reva lalu berjalan mendekati Nadira dan langsung bertanya.
"Kamu orang baru disini?".
Nadira tersenyum, "Iya, aku orang baru disini dan perkenalkan nama ku Nadira, kamu bisa memanggil ku dengan sebutan Dira. Terus nama kamu siapa?" ia mengulurkan tangan di hadapan Reva.
__ADS_1
"Reva" jawabnya singkat membalas tangan Nadira.
"Reva, nama yang sangat aku suka hehehehe... Semoga Kedepannya kita bisa berteman dengan baik. Dan terus, apa kamu sudah menikah Reva?".
"Tidak, aku belum menikah" Jawab Reva berjalan duluan sembari membawa peralatan yang mereka perlukan. "Ayo, kita tidak boleh terlalu banyak mengobrol. Nona Keysa bisa melihatnya".
Nadira mengikut dari belakang, "Apakah nona Keysa akan memecat kita kalau sampai ketahuan olehnya kalau kita sedang mengobrol bersama?".
"Mmmm" balas Reva dengan gumaman.
"Oh begitu".
Dan sekarang mereka berdua telah berada di taman depan. Tidak lama setelah itu, sebuah mobil Rollies tiba-tiba berhenti di depan rumah membuat Reva menebak kalau kedua orang Keysa telah kembali pulang dari luar kota. lalu Nadira berkata, "Siapa Reva?".
"Nyonya dan tuan".
"Benarkah?".
Dengan rasa penasaran seperti apa raut wajah kedua orang tua Keysa, Nadira tak henti-hentinya mengalihkan arah pandangan matanya dari mobil tersebut sebelum sepasang suami istri itu keluar. Hingga akhirnya ia melihat mereka keluar, saat itu juga Nadira di buat kagum betapa cantiknya dan tampannya kedua orang tua Keysa yang begitu sangat menawan.
"Mereka saja begitu sangat cantik, bagaimana mungkin putrinya tidak cantik" batin Nadira. "Dia beruntung, rasanya aku tidak ingin berhenti mengatakan kata-kata ini".
Lalu sepasang suami istri itu melihat putri mereka menunggu di dalam rumah. Dengan senyum mengembang di wajah Keysa, ia pun langsung berlari dan memeluk mereka dengan sangat erat.
"Wah, putri mama sepertinya sudah begitu sangat merindukan kita pah" ucap sang ibu tertawa mencium kening Keysa dengan sayang.
"Tentu saja aku sangat merindukan mama dan papa setelah 1 Minggu lamanya kalian meninggalkan rumah. Lalu apa yang kalian bawa untuk ku?".
__ADS_1
Tidak menjawab pertanyaan Keysa, Meta membawa putrinya itu duduk diatas sofa bersama dengan Barhan sang suami. Kemudian Keysa menatap mereka dengan mata memicing seperti ada sesuatu yang begitu sangat serius ingin mereka bicarakan kepadanya.
"Ada apa mah pah? Cara kalian melihat ku tidak seperti biasanya?".
"Iya sayang" jawab Meta masih dengan senyum manisnya. "Begini sayang, mama sama papa telah mempersiapkan perjodohan dengan kam...
"Apa?" potong Keysa terkejut. "Perjodohan? Maksudnya?".
"Mmmm, makanya kamu dengarkan mama dulu selesai bicara ok?".
Tetapi Keysa malah menggeleng kepala.
"Sayang, perjodohan ini tidak seperti yang kamu bayangkan selama ini. Perjodohan ini.. Pah, coba deh papa sendiri yang jelaskan kepada Keysa".
Barhan menatap Keysa, "Begini Key, karna papa sama mama sudah tau kalau kamu itu udah tumbuh menjadi wanita dewasa. Kini saatnya kami harus melepaskan kamu dengan menikahkan putri satu-satunya kami kepada pria yang terbaik menurut kedua orang tua mu ini".
Tetapi Keysa lagi-lagi menggeleng kepala yang sama sekali tidak tertarik mendengar perjodohan tersebut.
"Aku tidak mau pah mah, aku tidak mau menerima perjodohan yang seperti apapun. Kenapa kalian harus sibuk-sibuk mengurusnya? Aku bisa mencari pasangan ku sendiri".
"Mama tau sayang, tapi pria ini adalah anak rekan bisnis papa kamu. Dan juga calon suami kamu ini adalah anak yang begitu sangat baik dan juga tampan. Karna itu kami sangat ingin sekali memiliki menantu ideal seperti dia sayang. Mama mohon yah Keysa putri ku sayang, tolong terima perjodohan ini".
"Tidak mah, aku tidak mau menikah dengan siapapun" Keysa tetap menolak dan memilih pergi meninggalkan mereka dengan wajah sedih.
Lalu Barhan berkata kepada istrinya, "Sudah mah, mungkin Keysa masih syok mendengarkan perjodohan ini secara tiba-tiba. Jadi biarkan tunggu Keysa tenang dulu baru mama bicara lagi dengan dia. Sekarang kita istirahat saja dulu".
"Hhhmmss" Mala hanya bisa mendengus sedih. Tetapi ia tetap menuruti perkataan suaminya dan keduanya segera memasuki kamar mereka.
__ADS_1
Sedangkan Keysa yang berada di dalam kamar, ia menangis sesenggukan tanpa suara memikirkan perjodohan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya kalau kedua orang tuanya akan melakukan hal tersebut kepada putri mereka sendiri.
"Hiks... Hiks... Papa sama mama jahat! Mereka sangat jahat. Bagaimana mungkin mereka sangat tega melakukan ini kepada ku? Mereka pikir aku ini apa? Aarrkkhhh" Keysa lalu menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang sembari menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. "Aku benci ini, aku benci dengan perjodohan yang mereka rencanakan dan juga aku membenci pria itu hiks.. hiks..".