
1 Minggu kemudian berlalu, Marsel yang sudah menetapkan keputusan yang selama ini ia sudah bulatkan, ia meminta kedua orang tuanya agar menjemput Nadira sekarang juga dari kebesaran rumah Herlambang.
"Tidak, tidak Marsel. Mama tidak bisa pergi kesana, apalagi mama sama papa harus menjemput wanita pembantu itu. Mama tidak bisa" Darita meneteskan air mata.
Begitu juga dengan Rudian sama halnya tidak setuju juga jika Marsel harus menikahi wanita pembantu tersebut.
"Kalau begitu, biar aku saja yang pergi kesana menjemputnya".
"Tidak Marsel!" Darita menahan langkah kaki Marsel berdiri dihadapannya dengan kedua tangan. "Tidak boleh sayang, kamu tidak boleh pergi kesana menemui wanita pembantu itu Marsel hiks.. hiks... Mama mohon Marsel, jangan pergi kesana. Mama mohon sayang, tolong dengarkan mama kali ini saja".
Namun Marsel tidak perduli, ia tetap melanjutkan langkah kakinya hingga Darita jatuh menangis diatas lantai berharap kalau putranya itu akan melihat kebelakang, tetapi keras kepala Marsel sama sekali tidak berpengaruh dan malah semakin mempercepat langkah kakinya.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus memiliki seorang putra keras kepala seperti Marsel? Kenapa harus seperti ini Tuhan hiks.. hiks... Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan dia? Apa yang harus aku lakukan?".
Sedangkan Marsel, Tidak lama setelah ia tiba di depan kediaman keluarga besar Herlambang. Ia langsung melihat Keysa tengah menunggu kehadiran dirinya tepat di depan pintu dengan kedua tangan melipat di depan dada.
"Kamu sudah datang?" Keysa bertanya dengan suara penuh makna ejekan.
Lalu Marsel membalas, "Mmmmm, aku mau menjemput calon istri ku. Dimana dia? Boleh aku masuk sebentar?".
Keysa terdiam tidak menjawab pertanyaan Marsel.
"Kalau begitu, bolehkan kamu memanggilnya sekarang juga keluar dari dalam rumah mu?".
Lagi-lagi Keysa diam dengan senyuman palsunya seperti seorang wanita yang tengah mengejeknya.
"Apa kamu sudah tuli sehingga kamu tidak bisa mendengar pertanyaan ku?".
Keysa lalu menganggukkan kepala, "Sebaiknya kamu pergi saja dari sini sebelum kamu kelelahan berdiri di situ. Lagian kamu juga tidak bakalan bisa lagi bertemu dengannya apalagi sampai menikahi wanita mur*han itu".
Marsel mengernyitkan dahi, "Hahahaha.. Ada apa lagi? Kamu malah melihat ku seperti itu? Sudah aku katakan kalau wanita pembantu itu" Keysa menundukkan kepalanya di hadapan Marsel. "Pembantu mur*han itu sudah melarikan diri dari muka bumi ini hahahaha".
__ADS_1
Tidak percaya dengan apa yang baru saja Keysa katakan, Marsel langsung masuk begitu saja ke dalam rumahnya mencari keberadaan Nadira. Namun bukannya ia bertemu dengan wanita itu, ia malah bertemu dengan Meta ibunya Keysa dengan mimik wajah sinis.
"Sedang apa kamu disini?" pertanyaan itu begitu sangat ketus.
Marsel lalu melihat samping kiri kanannya mencari keberadaan Nadira, "Maaf kedatangan ku membuat tante terkejut. Saya kemari mencari calon istri saya. Dia ada dimana?".
Keysa menjawab dari belakang, "Mah, biarkan saja dia mencari wanita pembantu itu" ucapnya dengan sinis kepada Marsel. "Ada apa lagi? Bukannya kamu mau mencari wanita pembantu itu? Ya sudah, cari saja sendiri sampai kesetiap sudut".
Masih tidak percaya kalau keberadaan Nadira tidak ada di dalam rumah tersebut, Marsel langsung mencarinya sendiri sambil memanggil namanya berulang kali.
"Nadira! Nadira! Kamu dimana? Nadira!".
Reva lalu mendengar suara Marsel berjalan kearahnya, "Nadira?".
"Iya, dimana dia?" jawab Marsel menatap Reva dengan serius. "Dimana dia?".
Reva kebingungan harus menjawab seperti apa, kemudian ia melihat Keysa datang dari belakang bersama dengan Meta menatapnya dengan tajam.
"Dimana dia? Kamu tidak mendengar ku?".
"Yah!!" Keysa membentak Reva dengan sangat marah dan itu membuat Marsel curiga kepadanya kalau Nadira masih berada di dalam rumah tersebut.
"Maaf nona, maafkan saya" setelah itu Reva pergi meninggalkan mereka. Marsel lalu melihat keduanya dengan senyum sinis, tidak lama setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan rumah mereka, karna ia tau kalau keduanya pasti sudah menyembunyikan Nadira entah dimana.
"Kamu mau kemana?" Keysa tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. "Kamu mau kemana Marsel?".
"Hhhmmss.. Menurut mu aku mau kemana?".
Keysa bingung, "Aku tidak tau kamu mau kemana? Kenapa kamu tidak menjawab ku?".
"Kalau begitu, sebaiknya kamu tidak usah tau".
__ADS_1
"Yah!!" lagi-lagi Keysa menghalangi langkah kaki Marsel. "Tunggu sebentar! Kamu mau kemana? Jangan bilang kamu mau mencari wanita pembantu itu".
"Iya, kenapa?".
"Jangan pergi mencarinya".
Tersenyum sinis lagi, "Jangan halangi aku mencari calon istri ku".
"Aku mohon Marsel, jangan cari wanita pembantu itu" Keysa mencoba menggenggam tangan Marsel, namun Marsel malah menarik tangannya. "Aku mohon Marsel, aku mohon jangan mencarinya. Wanita itu tidak pantas untuk mu, dan... dan... Tolong maafkan aku" Keysa menundukkan kepala. "Maafkan aku pernah melakukan kesalahan yang membuat kamu kecewa kepada ku".
"Terus, mau kamu apa sekarang?".
Keysa menatapnya dengan sendu, "Aku akan menerima perjodohan ini Marsel".
Mendengar jawaban Keysa, Marsel langsung tertawa sembari geleng kepala kalau ia tidak bakalan mau menikahi dirinya.
"Kenapa Marsel? Aku lebih pantas untuk mu dibandingkan pembantu itu. Kenapa kamu tidak bisa menerima ku? Ayolah Marsel, tolong maafkan aku dan terimalah aku sebagai istri mu atau.. Perlukah aku bersujud di bawah kaki mu agar kamu bisa menerima ku?".
Setelah itu Marsel pergi begitu saja meninggalkan mereka, lalu Meta membantu putrinya bangkit berdiri.
"Sudah, jangan menangis lagi. Jika kamu seperti ini kamu akan semakin terpuruk".
"Aaarrrkkkhh... Hiks.. hiks.. Aarrkkhhh.. Mah! Mama! Aaarrrkkkhh... Maafkan aku mah, ini semua salah ku. Ini semua terjadi atas kebodohan yang sudah aku ciptakan sendiri aarrkkhhh... Aku benar-benar sangat bodoh sekali, kenapa aku harus melakukan hal konyol ini?".
"Jangan menangis lagi, kita cari jalan lain agar Marsel mau memaafkan kesalahan yang sudah kamu lakukan. Nanti mama akan bicara dengan ibunya".
"Mah" Keysa menatapnya. "Tolong Keysa mah, tolong Keysa hiks..".
"Iya sayang, sudah mama bilang nanti mama akan bicara dengan ibunya. Karna ibunya juga tidak bakalan mau kalau putra mereka menikahi seorang pembantu yang tidak jelas mereka tau asal usulnya dari mana".
"Iya mah, terima kasih sudah mau membantu Keysa. Aku benar-benar sangat menyesal, aku benar-benar sangat menyesal telah mempermainkan Marsel seperti ini. Dan aku bakalan berjanji mah, jika nanti Marsel mau memaafkan aku, aku akan selalu mencintai dia sampai akhir hayat ku".
__ADS_1
"Kalau begitu terima kasih banyak sayang akhirnya kamu menyadari kesalahan yang sudah kamu lakukan sendiri. Dan semoga saja begitu mama bicara dengan ibunya, hati Marsel yang keras itu mau menerima kamu kembali dan memaafkan mu".
Lalu keduanya berpelukan, sedangkan dari kejauhan sana Reva yang tengah melihat mereka hanya bisa diam dalam diamnya sembari mencari keberadaan Nadira di dalam kamarnya yang memang sengaja mereka kurung.