
Di kantor Marsel seperti bisanya ia selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Kemudian sang sekretaris mengetuk pintu memberitahu kalau ia sedang kedatangan tamu.
"Siapa?" tanya Marsel.
"Dia tidak memberitahu siapa nama...
"Aku" jawab Keysa menerobos masuk ke dalam ruangan Marsel membuat Marsel sedikit terkejut ada apa dengan wanita yang berada di hadapannya itu datang secara tiba-tiba.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan datang kemari?" Marsel bangkit berdiri, lalu membawa Keysa duduk di sofa.
Kemudian Keysa duduk di sofa, lalu menatap Marsel membuat ia seketika membisu.
"Ada apa?" Marsel sedikit menebak. "Jangan bilang kamu terpesona dengan ketampanan ku".
Keysa membulatkan mata, "Sial! Bagaimana bisa dia tau kalau aku sedang memperhatikannya?" lalu Keysa tersenyum sinis membuang wajahnya. "Kamu terlalu percaya diri sekali. Sekarang aku ingin katakan kepada mu, jangan pernah berpikir kamu bisa menikahi pembantu itu karna kesalahan bodoh yang sudah aku lakukan".
Marsel tertawa, "Kenapa? Aku tidak menikahi mu, melainkan aku berencana menikahi wanita itu. Apa sekarang kamu menyesal?".
"Haahh... Hahahaha... Aku hanya membantu dia saja kalau dia tidak mau menikahi mu. Kenapa kamu jadi membantah?".
"Kamu tidak perlu itu campur, itu masalah ku dengan dia" Marsel melihat sekretarisnya membawa dua gelas teh. "Minumlah sebelum kamu meninggalkan kantor ku".
"Haahhh... Apa kamu sedang mengejek ku?".
Marsel tidak menjawab, ia menyeruput kopi panasnya. Setelah itu Keysa pergi meninggalkan ruangan Marsel dengan kekesalan. Sedangkan Marsel tidak perduli, ia malah tersenyum menyeringai.
"Aaarrrkkkhh... Sial! Sial! Bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepada ku? Pria itu benar-benar membuat aku sangat marah. Dia sangat menyebalkan sekali, rasanya aku ingin membungkam mulutnya".
Sedangkan Meta dan Darita yang tengah bertemu di tempat mereka biasa bertemu. Kedua orang itu hanya diam saja setelah mereka membicarakan kalau perjodohan itu tidak bisa dilanjutkan lagi.
Kemudian Darita mendengar ponselnya berdering, dan panggilan itu berasal dari Marsel membuat Darita segera menjawabnya.
__ADS_1
"Ada apa Marsel?".
Meta menyimak dalam diamnya.
"Mama lagi dimana?".
Darita melirik Meta, "Mama sedang bersama dengan Meta ibunya Keysa membicarakan kalau perjodohan ini batal. Inikan yang kamu mau?".
"Tidak" jawab Marsel menarik nafas dalam. "Mama tidak usah khawatir, pernikahan ini akan tetap berlanjut. Tapi...
"Tapi apa Marsel?".
"Mari kita bertemu, aku ingin membicarakan ini dengan mama".
"Baiklah kalau begitu, mari kita bertemu. Mama akan pulang sekarang juga".
"Iya ma".
Darita mematikan ponselnya, ia lalu melihat Meta yang terlihat begitu sangat penasaran apa yang sedang kedua orang itu bicarakan. Namun ia memilih pura-pura tidak perduli dan malah bersikap acuh tak acuh.
"Ya, silahkan. Saya juga harus pergi".
Sebelum Darita pergi meninggalkannya, Meta telah terlebih dahulu pergi meninggalkannya dan Darita hanya bisa menarik nafas panjang. Lalu ia keluar dari sana kembali pulang kerumahnya dimana Marsel tengah menunggunya bersama dengan Rudian.
"Ada apa Marsel? Kenapa kamu tiba-tiba menyuruh papa pulang dari kantor di jam segini?".
Marsel melirik jam tangannya, "Ada hal penting ingin aku bicarakan pah. Ini mengenai perjodohan itu".
Tidak lama setelah itu, Darita tiba disana melihat anak dan juga sang suami berada dirumah membuat ia segera duduk disebelah Rudian.
"Ada apa Marsel?" tanyanya langsung.
Tersenyum, "Sepertinya mama sangat lelah sekali. Tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan...
__ADS_1
"Tidak usah Marsel, sekarang katakan saja ada apa kamu memanggil papa dan mama pulang kerumah? Apa ini mengenai masalah perjodohan kalian? Mama dengar kalau kalian berdua sudah memutuskan hubungan ini".
"Benar, tapi masalahnya aku akan tetap menikah mah pah. Tapi wanita yang akan aku nikahi bukan Keysa Herlambang, Melainkan wanita yang sudah mengantikan Keysa datang menemui ku".
"Apa?" kedua orang itu terkejut. "Ma-maksud kamu Sel? Maksud kamu seperti apa? Mama tidak mengerti".
"Mmmmm, sebenarnya yang terjadi pertama kali aku bertemu dengan Keysa. Ternyata bukan Keysa yang sebenarnya yang aku temui, melainkan seorang pembantu".
"Astaga ya Tuhan. Kenapa bisa seperti itu Marsel?".
"Aku tidak tau mah, wanita itu benar-benar sudah membuat harga diri ku turun. Hingga akhirnya, mau bagaimana pun aku akan tetap menikahi pembantu itu. Tolong jangan membantah pemerintah ku mah pah, bukan aku yang salah, tapi mereka yang sudah berani mempermainkan aku".
Kedua orang itu lalu terdiam.
"Tapi kamu yakin Marsel mau menikahi pembantu itu? Dia itu seorang pembantu loh, kamu akan lebih malu lagi jika kamu terdengar sampai kemana-mana kalau kamu menikahi seorang pembantu" Darita terlihat sangat tidak setuju. "Intinya kamu pikirkan lagi ini semua Marsel. Mama juga tidak mau memiliki menantu seorang pembantu. Jadi mama tidak setuju, bukankah begitu pah?".
Rudian masih terdiam, setelah itu ia melihat keduanya sambil menari nafas panjang.
"Tidak banyak yang akan papa bilang, seperti kata mama kamu. Coba kamu pikirkan ini lagi Marsel, jangan karna kamu sedang marah, pembantu juga mau kamu nikahi".
"Aku tidak perduli dia seorang pembantu atau bukan mah. Disini aku memanggil papa sama mama kalau aku dan dia akan segara menikah, tolong hargai keputusan ku" Marsel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. "Aku harus pergi, di kantor pekerjaan ku masih banyak".
Tidak lama setelah Marsel pergi meninggalkan rumah, Darita beberapa kali menepuk dadanya melihat Rudian juga tidak bisa berkata apa-apa. Mereka sangat tau betul seperti apa jika Marsel membuat keputusan, karna itu semua juga salah mereka, salah mereka memaksa Marsel harus segera menikah. Namun yang mereka harapkan tidaklah sesuai dengan kenyataannya.
"Aaarrrkkkhh... Aaarrrkkkhh... Aarrkkhhh".
Rudian menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, "Jangan menangis mah, papa juga tidak tau harus berkata apa lagi jika Marsel sudah dalam kehendaknya".
"Aarrkkhhh... Hiks.. hiks.. Ini semua salah mama pah, ini semua salah mama. Mama yang salah pah, mama yang salah kenapa mama harus memaksa Marsel menikah aarrkkhhh hiks.. hiks..".
"Tidak, ini semua bukan salah mama saja mah. Papa juga salah, papa juga salah telah memaksakan Marsel harus segera menikah agar kita bisa bebas menikmati hari tua kita. Jadi papa mohon berhenti menyalahkan diri mama sendiri, papa tidak bisa mendengarnya".
"Terus apa yang harus kita lakukan pah? Mama tidak mau Marsel menikahi wanita pembantu itu. Mama tidak akan pernah setuju pah, sampai kapanpun mama tidak akan pernah setuju aaarrrkkkhh.. Mama tidak setuju pah".
__ADS_1
"Papa mengerti perasaan mama".
"Dan juga, bagaimana kalau sampai teman-teman mama dan juga rekan bisnis papa tau kalau Marsel putra kira satu-satunya menikahi seorang pembantu. Apa yang akan mereka katakan pah? Apa yang akan mereka katakan?".