
Begitu Marsel mendapatkan pesan tersebut, ia langsung tersenyum menyeringai mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Dan sekarang ia sudah tau kalau Nadira berada disana, kemudian ia menghubungi nomor Keysa, tetapi panggilan itu tidak dijawab olehnya hingga akhirnya Marsel berencana kesana sekarang juga.
"Kamu mau kemana Marsel?" Rudian melihat Marsel menuruni anak tangga seperti hendak pergi entah kemana ia tidak tau.
"Aku mau keluar sebentar pah".
"Kemana?".
Namun Marsel tidak menjawab, ia malah pergi begitu saja meninggalkan Rudian yang langsung menebak kalau Marsel pasti mencari keberadaan Nadira.
"Kenapa pah?" tiba-tiba Darita muncul di belakang Rudian. "Anak itu mau kemana lagi?".
"Tidak tau mah. Terus mama mau kemana berpakaian seperti ini?".
"Mama mau menenangkan pikiran dulu, papa mau ikut? Tapi mama pergi sama teman-teman mama".
Rudian melihat jam menunjukkan pukul 8 malam, "Mama pergi saja, beritahu papa kalau mama sudah pulang. Papa akan datang menjemput".
"Iya pah, mama pergi dulu".
"Hati-hati ma".
Begitu Darita pergi, Rudian langsung memasuki ruangan kerjanya yang berada di sebelah kamar mereka membuka sebuah album foto dimana kisah cintanya dengan Nadira ia taruh disana.
Kemudian Rudian menutup mata, ia sangat merindukannya, ia benar-benar sangat merindukan Nadira, ia sangat merindukan saat-saat kebersamaan mereka yang sampai sekarang tidak bisa Rudian lupakan.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu tidak merindukan ku Nadira? Rasanya sangat sakit" air mata yang selama ini Rudian simpan kini mengalir terus menerus sampai ia merasa puas.
Sedangkan Marsel, begitu ia tiba di kediaman keluarga Herlambang, ia langsung masuk ke dalam melihat beberapa pelayan dirumah tersebut bertanya sedang apa dia sana. Namun Marsel tidak menjawab, ia malah bertanya dimana Nadira sekarang berada.
"Maaf tuan, dia sudah di pecat dari rumah ini dan dia tidak berada disisi lagi. Sebaiknya tuan pergi saja, jangan sampai nyonya tau kalau..
"Siapa bi?" Keysa bertanya dari belakang mereka melihat Marsel berada di dalam rumahnya. "Kamu? Sedang apa kamu disini?" pertanyaan itu terdengar begitu sangat kasar.
Marsel membalas dengan senyuman, "Aku tidak akan lama, aku langsung ke intinya saja, dimana kamu menyembunyikan Nadira?" ia bertanya kepada si pelayan tersebut membuat para pelayan terlihat ketakutan mencoba melirik Keysa yang berada disebelahnya.
__ADS_1
"Apa? Kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk menanyakan pembantu itu? Haahhh... Hahahaha... Yah, apa perkataan ku kemari kurang jelas kamu dengar hingga kamu datang kembali?".
"Hhmmm.. Tidak usah berpura-pura seperti itu. Maaf jika pada akhirnya aku membuat keributan dirumah ini" Marsel lalu berjalan meninggalkan mereka mencari keberadaan kamar Nadira yang ia tempati sekarang ini.
Namun Marsel belum menemukannya juga karna rumah kediaman Herlambang begitu sangat luas sehingga ia kelelahan hanya untuk mencarinya saja.
Tidak lama setelah itu, beberapa pria bertubuh besar menghampiri Marsel menatap ia dengan tajam.
"Sebelum kami bersikap kasar, tolong segera tinggalkan rumah ini".
"Tunggu sebentar" Marsel memanggil nama itu kembali melihat Hanum dan Reva datang secara bersamaan melihat kepadanya. "Permisi! Nadira ada dimana?".
Reva melirik bi Hanum, "Ada, dia ada di dalam kamarnya tuan" jawabnya membuat semua mata seketika tertuju kepadanya. "Mari ikut saya tuan".
"Kamu!" Keysa berteriak dari belakang dan langsung menampar kedua pipi Reva sampai berulang kali. "Berani-beraninya kamu" tetapi Marsel segera menahan pergelangan tangan Keysa saat ia hendak mau menampar pipi Reva kembali. "Apa? Lepaskan! Lepaskan tangan ku Marsel".
Marsel lalu menghempaskan tangan Keysa dengan kasar, dan bertanya kepada Reva dimana Keysa mengurung Nadira.
"Mari ikut saya tuan" keduanya segera berjalan menuju kamar Nadira. Dan seperti yang baru saja Reva katakan, pintu tersebut sedang terkunci hingga Nadira di dalam sana tidak bisa melakukan apa-apa selain berharap seseorang datang menolongnya.
"Dira, ini aku Reva. Aku sudah membawa dia datang kemari. Bersiaplah".
"Reva?" Nadira berlari ke ambang pintu. "Maksud kamu apa Reva?".
"Aku membawa tuan Marsel kemari".
"Apa?" Nadira terkejut. "Kamu mengatakan yang sebenarnya?".
"Iya, aku mengatakan yang sebenarnya" lalu mereka melihat bi Hanum membawa kunci kamar Nadira memberikan ditangan Marsel. "Bibi!".
"Ini, aku berikan kepada mu. Tolong jaga dia dengan baik".
"Bibi" dengan sedih Reva menggenggam jemari tangannya. "Kenapa bibi melakukan ini? Bibi juga akan di usir dari rumah ini".
"Tidak apa-apa, bibi jauh lebih kasihan melihat Nadira dikurung seperti ini di dalam kamar tanpa memakan apa-apa. Jadi bibi siap meninggalkan rumah ini".
__ADS_1
Marsel lalu membuka pintu tersebut dan langsung melihat Nadira berdiri dihadapannya dengan tubuh kurus akibat ia yang tidak memakan apa-apa selama beberapa hari berlalu. Kemudian Nadira meneteskan air mata dengan bibir bergetar melihat Marsel ada disana datang menyelematkan dirinya.
"Terima kasih tuan hiks.. hiks.. Terima kasih banyak sudah menolong ku".
BBRRRAKKK..
Nadira jatuh pingsan dan Marsel segera menahannya melihat kedua orang itu tersenyum akhirnya Nadira bisa keluar dari dalam sana.
"Jangan khawatirkan kami, bawalah dia dan tolong sekali lagi jaga Dira dengan baik. Dia anak yang baik dan polos".
Setelah itu Marsel membawa Nadira pergi meninggalkan kediaman keluarga Herlambang tepat di hadapan Keysa dan juga kedua orang tuanya yang ikut menyaksikan kejadian tersebut.
Keysa menyeringai, lalu menarik kedua orang itu keluar dari rumahnya dengan kasar.
"Mulai hari ini, kalian berdua silahkan tinggalkan rumah ku dan jangan sampai aku melihat kalian lagi ada disini. Kalau tidak, aku sendiri yang akan membunuh nyawa mu".
Tidak berani menjawab Keysa, kedua orang itu juga akhirnya pergi meninggalkan kediaman Herlambang tanpa sepeser uang pun mereka kantongi.
"Bibi, apa bibi tidak menyesal melakukan ini semua? Kenapa bibi harus ikut campur? Kalau tidak, ini semua tidak akan pernah terjadi dengan bibi".
Bi Hanum menghentikan langkahnya, "Lalu bagaimana dengan mu? Kalau kamu juga tidak memberitahu pria itu bahwasanya Nadira masih ada dirumah itu, kamu juga tidak akan pernah meninggalkan kediaman Herlambang dan sekarang ini posisi kamu sedang kuliah".
Reva tertawa kecil, "Apakah menurut bibi aku ini bodoh?".
"Tidak, kamu sudah melakukan hal yang benar untuk menolong seseorang".
"Benarkah bibi?".
"Mmmm".
"Hehehehe.. Terima kasih bi Hanum. Aku sama sekali tidak menyesali telah membantu Nadira keluar dari rumah itu meskipun aku sendiri yang menjadi taruhannya. Aku malah jauh lebih bangga, aku merasa kalau aku baru saja menyelamatkan seseorang setelah apa yang selama ini kita lihat bi".
"Iya, sekarang ayo kita cari tempat tinggal untuk sementara waktu".
"Tapi, apa bibi memiliki uang? Aku sama sekali tidak memiliki uang sepeser pun bibi".
__ADS_1
"Jangan khawatir, kita bisa menjual perhiasan ini" Bi Hanum mengeluarkannya dari dalam kantong.