
Marsel lalu membawa Nadira kerumahnya. Dan saat keduanya tiba disana, Rudian dan Darita tengah melihat mereka berdua dengan sorot mata yang tidak bisa Nadira artikan. Tetapi yang lebih membuat Nadira terkejut, ketika ia melihat pria yang begitu tidak asing berdiri tepat dihadapan mereka berdua.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Kenapa pria ini ada disini?".
PPLLLAAKKK...
Tanpa Nadira sadari, satu tamparan mendarat di pipi kanannya dan tamparan itu berasal dari Darita ibunya Marsel. Kemudian Nadira menyentuh pipinya sembari menatap kedua orang itu dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar perempuan tidak tau diri! Sekarang apa maksud mu datang kerumah ini haahh? Apa maksud mu? Tidakkah kamu sadar diri kalau kamu itu hanyalah seorang pembantu?".
"Hentikan mah" jawab Marsel menahan pergelangan tangan ibunya saat Darita hendak menampar pipi itu kembali. "Aku tidak akan peduli mau semarah apapun mama kepadanya. Dia akan tetap menjadi istri ku, jadi aku mohon tolong mama hargai keputusan aku dan terimalah dia sebagai menantu mama".
"Apa?"Darita tertawa mengejek. "Kamu bilang menerima dia sebagai menantu mama? Kamu pikir mama sudah gila Marsel? Kamu pikir mama tidak waras lagi?".
"Please... Please mah... Tolong jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kenapa sih mama harus bersikeras menolak dia sebagai menantu mama? Apa karna pekerjaan yang menjadi seorang pembantu di rumah Herlambang?".
"Iya, mama tidak menyukai dia karna sudah berani merebut putra kesayangan mama. Dan sekarang dia berharap kalau mama akan menerima dia sebagai menantu mama? Haahhh.. Hahahaha... Sampai kiamat pun Marsel mama tidak akan bisa menerima dia. Ingat itu!" Darita lalu pergi meninggalkan mereka hingga hanya mereka bertiga yang masih tertinggal disana. Namun setelah itu Rudian menyusul istrinya.
"Kamu baik-baik saja?" Marsel bertanya menarik bahu Nadira menghadap dirinya. "Maaf, jika ibu ku bersikap kasar seperti itu. Tapi aku yakin, suatu saat nanti dia pasti akan bisa menerima mu. Sekarang ini kamu hanya perlu bersabar dan berusaha mendekatkan diri dengannya. Kamu mengerti?".
Nadira menghapus air matanya, "Tidak! Aku tidak bisa hidup seperti ini dan tinggal di rumah ini sampai ibu kamu bisa menerima ku. Maaf, aku benar-benar tidak bisa".
"Tidak, kamu bisa. Kamu pasti bisa melakukan hal seperti yang aku perintahkan kepada mu" Marsel mencoba menenangkan Nadira. "Sekarang hapus air mata mu, jangan menangis seperti itu. Kalau kamu masih menangis, itu artinya kamu wanita lemah".
__ADS_1
Nadira menatap kedua manik mata Marsel.
"Sebenarnya apa tujuan kamu ingin menikahi ku? Aku sudah meminta maaf kepada mu atas kesalahan yang sudah aku lakukan dengan nona Keysa dan kamu juga sudah tau kalau nona Keysa sekarang ini menaruh perasaan terhadap mu. Tapi kenapa? Tapi kenapa kamu harus menyiksa ku seperti ini hiks.. hiks.. Apakah ini hukuman untuk ku? Apakah kamu belum puas melihat ku terluka seperti ini? Tolong katakan yang sebenarnya".
"Karna aku mencintaimu".
Deng!
Nadira tidak percaya, "Tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku pasti salah dengar dan kamu pasti asal mengucapkan kata-kata itu".
"Tidak Dira, aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku mencintaimu. Dan aku juga tidak tau sejak kapan perasaan itu muncul, tapi aku disini benar-benar mencintai mu Nadira".
Kemudian Nadira meneteskan air mata itu kembali, karna mau bagaimana pun, ia tidak pantas untuk Marsel, ia benar-benar tidak pantas untuknya karna ia tau sendiri kalau di bukanlah wanita baik seperti wanita diluaran sana yang Marsel kenal.
Marsel lalu membawa Nadira ke dalam pelukannya, "Jangan berkata seperti itu, aku berjanji akan membuat mu...
Nadira tiba-tiba mendorong tubuh Marsel terlepas dari pelukannya.
"Hentikan semua ini! Aku mohon hentikan ini semua dari sekarang. Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukan ini semua, ditambah kedua orang tua mu yang sama sekali tidak menyukai akan kehadiran ku dirumah ini. Jadi tolong hentikan ini semua mulai dari sekarang sebelum kamu menyesal".
"Aku tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini Dira. Aku juga bisa merasakan itu semua, tapi bukankah aku sudah katakan kepada mu kalau semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu? Dan sekarang aku yang meminta tolong kepada mu, tolong jangan menangis dan bertahanlah untuk sementara waktu".
"Tidak bisa hiks.. Aku tidak bisa".
__ADS_1
"Apa yang tidak bisa Dira? Kenapa menipu ku kamu bisa sedangkan bertahan untuk sementara waktu kamu tidak bisa?".
Nadira terdiam, tetapi air mata itu terus-menerus mengalir dari kedua pelupuk bola mata Nadira.
"Berhenti lah menangis, itu akan membuat mu semakin lemah. Ayo, aku akan membawa mu ke kamar".
Dan tanpa keduanya sadari, dari ujung sana Rudian sedang memperhatikan mereka dengan dada sesak akan kehadiran Nadira dirumah itu secara tiba-tiba yang membuat Rudian tidak bisa berkata apa-apa lagi selain marah kepada dirinya sendiri.
Kemudian Marsel membantu Nadira membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Sekarang tidurlah, besok pagi semuanya akan berlalu" Nadira menutup mata, setelah itu Marsel pergi meninggalkannya di dalam kamar. Hingga beberapa menit kemudian, Nadira mendengar seseorang membuka pintu kamar tersebut, dan ia langsung menebak kalau orang yang baru saja membuka pintu itu adalah Darita ibunya Marsel. Namun saat ia membuka pintu, orang yang ia lihat bukanlah ibunya Marsel, melainkan Rudian lah yang masuk ke dalam kamarnya dengan air mata mengalir dari kedua pipinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan dirumah ku Dira? Ke-kenapa kamu bisa mengenal putra ku? Dan...
Nadira terdiam menundukkan kepala.
"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada ku Dira? Kenapa kamu harus menghukum ku seperti ini? Kenapa kamu harus melakukan ini kepada ku Dira?".
"Maafkan aku" jawab Nadira memohon maaf kepadanya. "Aku juga tidak tau kenapa ini semua harus terjadi kepada ku? Aku tidak akan menyangka kalau perjalanan hidup ku akan seperti ini? Aku juga tidak menginginkan ini semua, aku tidak menginginkan ini semua" Nadira kembali menangis.
"Dan asal kamu tau, aku sudah melakukan segala cara dan usaha untuk menghilang dari mu. Tapi apa? Aku malah bertemu dengan mu lagi dan sekarang... Dan sekarang putra mu sendiri yang mau menikahi ku. Aarrkkhhh, ya Tuhan, kenapa kamu harus menyiksa ku seperti ini? Penderitaan apa lagi ini Tuhan? Mau sampai kapan lagi kamu menyiksa ku?".
Rudian kemudian berjalan mendekatinya dan mencoba untuk menyentuh tangannya. Tetapi Nadira malah menjauh dan itu membuat Rudian semakin merasa sesak.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku Dira, aku tidak bisa hidup tanpa kamu".