Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya

Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya
Bab 6


__ADS_3

Setibanya dirumah, ketiga orang itu langsung masuk ke dalam melihat begitu sangat banyak hidangan tersaji diatas meja. Darita lalu tersenyum, "Jadi ini yang papa maksud?".


"Iya, maaf jika papa hanya bisa menyediakan ini semua menyambut kedatangan kalian".


"Hahahaha papa ada-ada saja. Mama sangat senang sekali, papa tau saja kalau mama sama Marsel sudah sangat lapar. Terima kasih pah uummcchh" dengan sayang Darita mencium pipi Rudian. "Ayo, kita makan bersama. Mama sudah tidak tahan lagi".


Tetapi Marsel tidak merasa lapar, sehingga ia berkata kepada sepasang suami istri itu.


"Papa sama mama saja. Aku masih merasa kenyang dan juga aku ingin istirahat".


"Loh, kamu yakin tidak merasa lapar Sel? Tadi juga di pesawat kamu hanya minum kopi saja".


"Sudah mah, mungkin Marsel benar-benar belum merasa lapar. Biarkan saja, dia butuh istirahat" ucap Rudian.


Darita lalu mengangguk mengerti, "Ya sudah kalau begitu. Naiklah dan istirahat".


"Mmmm".


Marsel segera pergi meninggalkan mereka menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Kemudian ia membuka pintu dan melihat seisi dalam kamarnya tidak ada yang berubah dari semula ia tinggalkan.


"Aaakkhh, aku sangat lelah sekali" ia mendudukkan diri diatas ranjang, lalu menarik beberapa helan nafas panjang.


Setelah beberapa menit lamanya, ia membuka mata itu lagi. Ia melihat ponselnya sedang berdering menandakan sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Dan orang tersebut adalah teman-teman masa kecilnya yaitu Anto dan Seto.


"Mmmm, aku baru saja tiba di rumah" ucap Marsel dengan tubuh lelah. "Aku ingin istirahat, nanti saja. Aku akan menemui kalian" setelah itu Marsel mematikan ponselnya tanpa mendengarkan perkataan lawan bicaranya.


Lalu Marsel menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap ke langit-langit kamar hingga ia menutup mata itu kembali sampai ia terlelap.


.


Di dalam kamar, Nadira masih tetap asik mencari-cari pekerjaan tersebut menggunakan smartphone miliknya tanpa peduli sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Lalu Nadira mendengar ponselnya berdering, dan panggilan itu berasal dari Lala yang tengah sibuk melayani para tamu-tamu yang sudah berdatangan.

__ADS_1


"Iya La?".


"Kamu dimana Dira? Kamu enggak bekerja malam ini?".


"Kenapa La? Malam ini aku tidak bekerja".


"Hey, yang benar saja Dira? Tamu kita malam ini begitu sangat banyak. Bagaimana bisa kamu tidak bekerja malam ini?".


"Mmmm, maaf. Aku sangat lelah sekali".


"Jadi kamu pikir hanya kamu saja yang lelah Dira? Aku juga sangat lelah. Cepatlah datang kemari, aku tidak menerima alasan" Lala mematikan ponselnya secara sepihak tanpa mendengarkan Nadira lagi.


Kemudian Nadira mendengus kesal, ia benar-benar tidak ingin bekerja. Tetapi jika ia tidak datang, ia takut kalau Lala akan marah kepadanya karna yang ia miliki sekarang ini hanyalah Lala.


"Ck, terpaksa deh aku harus pergi" ia pun segera mengganti pakaian dan langsung menuju tempat keberadaan Lala sekarang ini berada. Tidak lama setelah ia tiba disana, ia melihat benar-benar begitu sangat banyak tamu yang datang malam ini. "Tidak seperti biasanya, padahal ini bukanlah hari libur. Terus Lala dimana? Kenapa aku tidak melihat anak itu?" gumamnya.


Ia berjalan dan sambil mencari keberadaan Lala, Nadira tidak memperhatikan sekitarnya sehingga ia tidak sengaja malah menabrak bahu seorang pria yang tidak ia kenal.


"Astaga, maaf-maaf. Aku tidak sengaja" Nadira mengangkat wajahnya melihat si pria tersebut. Dan saat itu juga kedua mata Nadira terpesona melihat betapa tampannya pria yang berada di hadapannya itu.



Dan pria itu adalah Marsel yang sedang bersama dengan teman-temannya menikmati minuman mereka masing-masing.


Lalu Seto bertanya kepada Nadira, "Hey gadis cantik. Tidak usah minta maaf seperti itu kepadanya. Lebih baik kamu kemari dan tuang minuman ini ke dalam gelas kami".


Nadira tidak menjawab, ia masih membisu sembari melirik kepada Marsel yang sama sekali tidak tertarik kepadanya.


"Ck, apa kamu tidak mendengar ku?".


"Aku mendengar mu" tidak ingin mendengarkan suara Seto yang mengoceh, Nadira pun langsung menjawabnya dengan segera menuang alkohol di dalam gelas mereka masing-masing.


"Dan kamu juga, sedang apa kamu masih berdiri disana. Ayo duduk" ucapnya kepada Marsel yang terlihat sama sekali tidak menikmati tempat tersebut. "Ayo, tuang alkohol ini juga di dalam gelasnya".


"Ya" Nadira melihat Marsel, lalu membawakan satu gelas untuknya dan langsung menuangkan alkohol tersebut di dalamnya. "Ini tuan" ucap Nadira.

__ADS_1


Marsel tidak menerima atau pun menjawab, ia hanya diam menatap Nadira tanpa ekspresi.


"Ada apa bro? Kenapa kamu menatap wanita jal*Ng ini seperti itu?" tanya Anto yang berada di sebelahnya. "Kamu menyukainya?".


Marsel melihatnya, "Kamu tau dari mana kalau dia wanita Jal*Ng?".


Anto tertawa, "Hahahhaha, tentu saja aku tau. Aku sering melihatnya disini dan dia selalu bersama dengan pria-pria ber-uang. Dan lihat saja penampilannya, bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya?".



Sedangkan Nadira yang mendengar percakapan keduanya, ia hanya bisa diam membisu dan membenarkan semua perkataan Anto kalau ia adalah wanita malam.


Anto lalu berkata, "Yah, kamu mau melayani kita malam ini?".


Marsel kemudian melirik Nadira, ia melihat kalau Nadira tersenyum manja membuat Anto semakin tertawa senang melihat respon Nadira.


"Kamu lihat itu Sel hahahhaha. Sekarang katakan, berapa yang harus kami bayar untuk menyewa mu malam ini? Dan juga, kami bertiga bisa memaka....


"Hentikan" ucap Marsel memotong.


"Ada apa?" tanya Anto. "Kalau dia mau kenapa tidak?".


"Aku katakan hentikan" ucap Marsel kembali melihat Nadira yang masih diam belum menjawab tawaran Anto. "Sebaiknya kamu pergi saja, dia tidak akan memakai mu".


"Tidak, kamu tidak boleh pergi" Anto mencekal pergelangan tangan Nadira. "Wanita secantik dia tidak boleh di lepaskan begitu saja Marsel. Atau kamu ingin tidur bersama dengan ku?".


Marsel lalu memilih tidak peduli dengan keduanya. Sedangkan Seto yang melihat mereka dibuat tertawa, karna ia sangat tau kalau Anto hanya menggoda Marsel saja agar ia sedikit tertarik dengan wanita. Ditambah wanita yang berada di hadapan mereka itu begitu sangat cantik tidak seperti dengan wanita lainnya.


"Sel" Seto memanggilnya. "Kamu yakin tidak tertarik dengan kecantikan wanita ini? Lihatlah" Seto menatap Nadira dengan tatapan mata kagum. "Dia sangat cantik, body ya.. Dan juga bibirnya. Aku yakin kamu pasti sangat menyukainya Sel".


"Apa kalian berdua sudah mabuk?" suara Marsel terdengar sangar membuat Nadira tidak bisa berlama-lama disana lagi jika pada akhirnya mereka ribut.


"Hentikan" ucap Nadira. "Jika kalian seperti ini, sebaiknya aku pergi saja. Permisi!".


"Ekh tunggu dulu cantik" lagi-lagi Anto mencekal pergelangan tangan Nadira dengan cukup kuat. "Jangan pergi begitu saja. Kamu yakin tidak mau uang?" dengan sombongnya Anto mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam saku, kemudian mengipas-ipasnya tepat di wajah Nadira. "Sekarang katakan berapa uang yang kamu inginkan?".

__ADS_1


__ADS_2