
Dengan wajah penuh dengan keringat, keduanya sudah sangat lelah sekali. Mereka lalu memasuki sebuah warung yang berada di pinggir jalan untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Kemudian si penjual datang menghampiri dan bertanya, "Mau makan apa?".
"Iya Bu, kami berdua sudah sangat lelah sekali. Tolong berikan kami minuman dulu" jawab Nadira dengan helaan nafas sesak.
Dan si penjual pun segera menuruti permintaan mereka dengan membawakan dua gelas minuman segar.
"Terima kasih Bu" setelah itu Nadira dan Lala baru memesan apa yang ingin mereka makan sambil mencari lauk pauk yang enak. Tidak lama setelah itu, mereka kembali duduk dengan tenang, lalu Nadira tersenyum kecil kepada Lala. "Maaf La".
"Hentikan itu Dira, aku sedang tidak ingin mendengarkan kata maaf dari mu".
Nadira tertawa kecil, "Tapi mau bagaimana pun aku akan tetap meminta maaf kepada mu La karna sudah merepotkan kamu seperti ini, bahkan kamu selalu memberikan aku semangat disaat aku sudah mulai ingin menyerah".
"Mmmm, dan aku selalu katakan kepada mu kalau aku akan selalu membantu mu. Jadi jangan lupakan itu".
"Aku tidak akan melupakannya La, terima kasih sahabat ku" keduanya tertawa kecil bersama sampai-sampai mereka tidak sadar kalau pesanan mereka sudah tiba.
"Wah, sepertinya ini enak Dira" ucap Lala menatap makanannya. "Aku sudah sangat lama sekali tidak makan di tempat seperti ini lagi".
"Sama La, aku juga sangat tergiur sekali ingin segera memakannya. Tapi sebelum itu...
"Apa Dira?".
"Akh sudahlah, luapkan saja. Selamat makan Lala".
"Mmmmm".
Keduanya pun segera melahap makanan mereka masing-masing sampai-sampai mereka tidak punya waktu sambil mengobrol.
.
__ADS_1
Texas group, perusahaan ini sudah lama berdiri dan sudah di turunkan dari nenek moyang keluarga Marsel. Dan sekarang Marsel sedang berada di dalam ruangan Rudian, kedua orang itu tampak menikmati sebuah kopi hangat.
"Pah" Marsel memanggilnya.
"Ada apa Sel?".
"Papa yakin akan segera pensiun? Tapi perusahaan ini masih membutuhkan papa" ujar Marsel melihat Rudian dengan serius. "Dan juga pejabat yang lainnya pasti tidak akan setuju dengan ini semua. Apa tidak sebaiknya papa pertimbangkan dulu sebelum mengambil keputusan?".
Rudian menarik nafas panjang, "Ini semua sudah aku pikirkan sejak dulu Sel, kalau secepat mungkin aku akan segera pensiun dan menghabiskan sisa waktu ku bersama dengan mama kamu".
"Benarkah? Hanya saja papa masih muda, bagaimana jika yang lainnya tidak setuju?".
Rudian langsung terdiam. Setelah itu ia melihat Marsel kembali, "Aku percaya kepada mu Marsel. Aku percaya kepada mu kalau kamu mampu mengurus semua perusahaan ini dengan baik".
"Baiklah kalau memang sudah itu menjadi keputusan papa. Lalu kapan papa akan pensiun?".
"Secepatnya, aku akan segera pensiun. Tapi setelah kamu menikah".
"Mmmm, aku dan mama kamu sudah membicarakan ini semua. Papa akan pensiun setelah kamu menemukan jodoh mu, maka dengan itu menikah lah Marsel dengan wanita manapun yang kamu suka. Atau perlu mama kamu sendiri yang akan mencarinya".
"Hhmmsss..." Marsel kesal. "Tolong jangan pernah melibatkan masa depan ku dengan perusahaan ini. Aku masih belum ingin menikahi wanita mana pun".
"Kenapa?" Rudian menatapnya dengan serius. "Usia kamu sudah hampir memasuki kepala 3 Marsel. Apa kamu masih belum berniat untuk menikah?".
"Mmmm, aku sama sekali belum ada niat untuk menikah. Jadi berhenti membahas tentang pernikahan apalagi jangan pernah melibatkannya dengan perusahaan. Jika pada akhirnya papa tetap mau pensiun di usia semudah ini, itu semua terserah papa. Aku pergi dulu, permisi!".
Melihat Marsel pergi dengan kekesalan, Rudian menarik nafas panjang menatap punggung Marsel yang sudah menghilang di ujung pintu sana. Hingga beberapa menit lamanya Rudian membisu, ia tiba-tiba merasakan rindu yang begitu sangat dalam dengan wanita yang beberapa minggu ini mengisi kekosongan dalam hidupnya yaitu Nadira.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang ini? Aku sangat merindukannya" tanpa Rudian sadari ia meneteskan air mata.
.
__ADS_1
Dan kini jam menunjukkan pukul 6 sore, Nadira dan Lala memutuskan untuk kembali pulang ke tempat mereka tinggal dan melanjutkan pencarian mereka besok.
Setibanya disana, kedua orang itu lalu melihat Sarah tengah berdiri seorang diri menunggu kedatangan mereka yang entah dari mana Sarah tidak tau.
Lala tersenyum, "Ekh Tante Sarah. Ada apa Tante?".
"Kalian berdua habis dari mana?" Sarah menatap Nadira yang hanya diam saja menundukkan kepala dengan wajah datar.
"Itu Tante, kami habis dari luar mencari pekerjaan untuk Nadira. Tapi hasilnya tidak ada, dan kami sudah sangat lelah sekali berkeliling kesana kemari untuk mencarinya, namun hasilnya sangat mengecewakan, tidak ada satu perusahaan pun yang bersedia menerima Nadira" jawab Lala dengan jujur tanpa ia sadari kalau Sarah terlihat senang mendengar kabar tersebut.
"Oh" balas Sarah singkat.
"Terus, Tante Sarah sedang apa disini? Jangan bilang Tante Sarah menuggu kepulangan kami?".
"Mmmmm, aku sedang menunggu kepulangan kalian berdua. Dan kalian benar-benar terlihat sangat lelah sekali, sebaiknya kalian masuk saja dan istirahat sebelum waktunya bekerja".
"Iya Tante. Ayo Dira".
Kemudian Sarah kembali tersenyum senang setelah mereka menjauh darinya menunjukkan rasa kebahagiaan kalau Nadira tidak akan pernah meninggalkan tempat tersebut dan itulah yang selalu dia inginkan. Karan ia tidak akan pernah mau kalau sampai ia kehilangan Nadira.
Dan di dalam kamar Nadira menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, ia menatap keatas langit-langit dengan wajah penuh kesedihan.
"Ya Tuhan, disaat aku ingin meninggalkan pekerjaan ini semua. Kenapa kamu tidak bisa mempermudah jalan ku? Kenapa engkau tidak bisa membantu ku Tuhan? Kenapa kamu ingin melihat aku hidup seperti ini terus hiks.. hiks... Sebenarnya kamu itu benar-benar ada atau tidak? Aaarrrkkkhh".
Meskipun demikian, hari ini Nadira benar-benar sangat kecewa kepada dirinya dan kepada Tuhan. Karna di setiap langkah kakinya ia selalu meminta agar Tuhan membukakan jalan untuknya, tapi hasilnya tidak seperti yang ia harapkan, ia berpikir kalau Tuhan benar tidak dapat membantunya.
"Aarrkkhhh... Aaarrrkkkhh... Kenapa harus seperti ini sih? Kenapa harus seperti ini hiks.. hiks.. Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini. Aku membenci hidup ku, aku membenci takdir ku aaarrrkkkhh".
Hampir 20 menit lamanya Nadira menangis seorang diri di dalam kamarnya, ia lalu memasuki kamar mandi membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin tanpa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya terlebih dulu.
"Tuhan, jika kamu benar-benar ada. Tolong bantu aku Tuhan, aku mohon kepada mu tolong bantu aku keluar dari beban hidup ini semua. Aku tidak sanggup lagi, aku sungguh tidak sanggup lagi. Bahkan orang yang aku cintai pergi meninggalkan aku dan sekarang ini aku tidak tau dimana keberadaannya Tuhan aaarrrkkkhh".
__ADS_1