
"Iya pah, kencan buta. Mama sendiri yang mengusulkan ide ini. Bagaimana menurut papa? Apakah papa juga setuju dengan ide mama?".
Barhan melihatnya, "Sebenarnya itu tidak menjadi ide yang buruk. Tapi... Ya sudah, papa sangat setuju sekali jika mereka perkenalan terlebih dahulu agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain".
Meta tersenyum senang, tidak lama setelah itu keduanya melihat putri mereka menuruni anak tangga membuat Meta langsung berlari kearah Keysa membawanya duduk di atas sofa.
Dengan wajah datar Keysa melihat mereka.
"Ada apa lagi mah pah? Apa ini masih masalah perjodohan? Aku sudah bilang kalau aku tidak bakalan mau menerima perjodohan ini. Jadi stop memaksa aku pah mah, please".
Keduanya pun terdiam, dan membiarkan Keysa berbicara sendiri sampai ia selesai.
"Ada apa? Jangan melihat ku seperti ini".
"Kamu sudah selesai?" tanya Barhan menatap putrinya. "Kalau sudah selesai, biarkan papa bicara" lalu Meta mengeluarkan selembar foto di hadapannya. "Kamu lihat foto itu? Pria yang ada di dalam foto itu adalah putra mereka. Pria itu adalah pria yang ingin kami jodohkan dengan mu".
Keysa menutup kedua matanya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orangtuanya itu tega menikahkan dia dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal.
"Jadi, mau papa sama mama itu sekarang apa?".
Meta mendekat, "Begini sayang, mama sudah memikirkan ini semua dengan matang untuk menghargai perasaan mu juga. Jadi mama dan papa tidak akan terlalu memaksa mu lagi, kami sepakat membuat acara kencan buta untuk perkenalan mu dengan pria itu. Bagaimana? Kamu setuju kan sayang?".
Keysa terdiam, ia menatap wajah yang berada di dalam gambar tersebut.
"Terus, bagaimana kalau kami berdua pada akhirnya tetap tidak mau menikah? Apakah kalian masih akan tetap memaksakan perjodohan ini?".
"Tidak, itu semua terserah kalian berdua. Tapi mama sangat yakin sekali jika pada akhirnya kalian berdua akan saling mencintai satu sama lain. Mama yakin itu".
"Baiklah kalau mama yakin, aku akan menuruti perkataan kalian" setelah itu Keysa pergi meninggalkan mereka sembari membawa foto tersebut kearah taman belakang. Dan saat ia tiba disana, ia melihat Nadira tengah duduk termenung seorang diri entah apa yang sedang anak itu pikirkan.
"Sedang apa kamu disini?".
Nadira sempat terkejut, "Ekh nona Keysa. Ada apa nona?" tersenyum.
"Sedang apa kamu?" tanya Keysa kembali duduk di sebelahnya.
"Tidak sedang ngapain-ngapain nona. Saya hanya menikmati angin malam saja".
__ADS_1
Lalu Keysa menatap Nadira dengan serius. Tiba-tiba ia berpikir bagaimana kalau ia memanfaatkan Nadira saja untuk kencan buta tersebut.
"Ada apa nona? Kenapa nona melihat saya seperti itu?".
Keysa tersenyum, "Bagus" batinnya. Setelah itu ia memberikan foto Marsel di tangannya, "Kamu lihat pria ini?".
"Astaga!" Nadira membulatkan kedua matanya. "Ke-kenapa nona memberikan foto ini kepada ku?".
"Ada apa? Kenapa kamu tampak terkejut hanya melihat foto itu saja".
Kemudian Nadira tersenyum menggeleng kepala, "Tidak apa-apa nona, saya hanya sedikit terkejut saja kenapa nona memberikan foto ini kepada saya".
"Oh, aku pikir ada apa-apa".
"Tapi, kenapa nona memberikan ini?".
"Aku ada pekerjaan untuk mu" Keysa menatapnya. "Tapi pekerjaan ini hanya kamu dan aku yang tau. Jangan sampai orang lain tau, apalagi kedua orang tua ku. Kamu mengerti?".
"I-iya nona. Tapi pekerjaan apa yang nona maksud?".
"Terus nona?".
"Aku menolak, aku bersikeras menolak menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal. Jadi mereka menyusun rencana agar kami berdua melakukan kencan buta, tapi kamu tau sendiri seperti yang aku katakan tadi kalau aku tidak mau menikahi pria itu. Dan sekarang aku ada pekerjaan untuk mu, yaitu mengantikan aku dengan kencan buta ini".
"Apa? Nona serius menyuruh saya menggantikan nona menemui pria ini?".
"Mmmmm, jika kamu berhasil aku akan memberikan uang berlipat kali ganda untuk mu. Bagaimana? Kamu suka uang kan?".
"I-iya nona. Terus, apakah dia tidak akan mengenal ku? Aku takut kalau sampai ketahuan oleh nyonya dan tuan nona".
"Kamu tenang saja, mereka tidak akan pernah tau ini semua. Tapi yang akan menjadi tugas kamu itu, kamu harus bisa membatalkan perjodohan ini, apapun caranya kamu harus lakukan. Kamu mengerti?".
"Baiklah nona kalau begitu, saya akan melakukannya untuk nona".
Keysa pun langsung tersenyum bahagia.
"Bagus Dira, aku sangat menyukai" ia lalu meminta nomor ponsel Nadira agar ia leluasa menghubungi ponselnya kapanpun ia mau, setelah itu ia pergi dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Nadira yang masih berada diatas kursi, ia menatap wajah Marsel yang berada di dalam foto membuat ia mengingat kejadian dimana ia yang pernah menabrak punggung Marsel secara tidak sengaja.
"Bagaimana ini? Pria itu sudah mengenal wajah ku. Apa ini akan baik-baik saja?" Nadira berpikir sejenak apa yang akan ia lakukan saat ia menjalankan tugas itu nantinya. "Atau mungkin dia tidak akan mengingat wajah ku lagi? Saat itukan lampu hanya mengeluarkan sedikit cahaya, aku rasa dia tidak akan mampu mengingat ku. Astaga, semoga saja".
.
Marsel yang tengah berada di dalam kamarnya, ia sedang duduk diam memikirkan perjodohan yang secara tiba-tiba kedua orang tuanya itu lakukan. Sedangkan ia sama sekali belum siap dengan ini semua, meskipun ia sudah melakukan segala cara agar mereka membatalkannya, tetap saja usahanya gagal.
Dan sekarang ibunya malah merencanakan kencan buta keduanya, itu membuat Marsel semakin tidak bersemangat.
DDDDRRRTTT.... DDDDRRRTTT....
"Ada apa Anto?" suara Marsel terdengar parau.
"Kamu sedang dimana? Bisakah kamu menemui ku di tempat biasa? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu. Ini mengenai masalah percintaan ku Sel".
Mendengar hal tersebut, Marsel langsung membuang nafas panjang sambil mengiyakan permintaan sang sahabat kalau ia akan segera datang kesana.
"Marsel, kamu mau kemana?" Darita melihat putranya itu menuruni anak tangga dengan langkah panjang.
"Aku mau keluar sebentar mah".
"Tapi ini sudah jam 10 malam Sel. Kamu keluar sama siapa?".
Tidak ada jawaban, Marsel malah semakin mempercepat langkah kakinya keluar dari dalam rumah menuju dimana ia memarkirkan mobilnya sport miliknya.
"Ada apa mah?" Rudian melihat istrinya itu berdiri menatap kepergian Marsel yang sudah menjauh di ujung sana.
"Itu pah, Marsel pergi keluar entah mau kemana. Padahal ini sudah jam 10 malam, mama takut dia pergi entah kemana".
Rudian tersenyum geleng kepala, "Mama ada-ada saja. Marsel bukan anak kecil lagi yang harus dia beritahu semuanya kepada mama kalau dia mau pergi kemana".
"Ck, ya mama harus tau doang pah kemana anak mama pergi. Papa gimana sih?".
"Sudah, sebaiknya kita istirahat saja. Dan biarkan dia dengan kebebasannya, paling Marsel menemui teman-temannya".
"Hhmm".
__ADS_1