Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 9


__ADS_3

Liliana a.k.a Xiao Hui POV


Aku berjalan pergi dari taman untuk kembali menuju kekediamanku, setelah Dewa Reinkarnasi menghilang. Tubuhku terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Dan istirahat adalah hal yang bagus untuk dilakukan sekarang.


Aku berjalan sambil melihat buku yang diberikan oleh Dewa Reinkarnasi. Entah mengapa firasatku kembali merasa tidak enak. Tak lama aku merasakan perasaan ini, aku malah mendengar seseorang tengah berteriak keras.


Helaan nafasku akhirnya keluar lagi. 'Kenapa orang-orang disini suka sekali membuat telinga menjadi tidak sehat sih?. Astaga.' Aku memang sangat tidak suka dengan teriakan atau suara keras.


Aku melangkah mencari pelaku utama yang tengah berteriak itu. Pandanganku menyapu seluruh penjuru agar menemukan orang yang tengah berteriak histeris, yang kini semakin menjadi.


Dan aku malah menemukan sebuah pemandangan yang aneh. Seorang gadis tengah berteriak dan terisak di dekat danau. Dia berteriak memanggil seseorang bernama Lien Hua.


Aku mendekati gadis yang masih tidak sadar akan keberadaanku. Tapi tiba-tiba dia ingin melompat ke danau itu. Secara reflek aku menariknya agar tidak jatuh.


"Apa kau sudah gila?." Kataku padanya. Bagaimana dia tidak gila?. Gadis dengan tubuh kecil dan kurang tinggi ini mau menyeburkan dirinya sendiri ke danau ini, aku bisa pastikan akan ada mayat yang mengambang setelah ini jika dia masih nekat.


"Kakak.." Dia memanggilku saat melihat wajahku dan memelukku erat.


"Eh.." Aku terkejut saat dia memelukku sambil terisak.


Ternyata dia Putri Xiao Mei adik ke empatku. Dia anak yang polos tapi cerewet dan keras kepala, meskipun wajahnya sangat imut. Anak dari Raja dan Selir Hue. Umurnya 14 tahun.



[Ilustrasi Putri Xiao Mei]


"Kakak.. Tolong Lien Hua dia jatuh kesana?." Adunya padaku sambil menunjuk ke arah danau.


'Lien Hua?. Tunggu sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya tapi dimana?.'


"Kakak kenapa malah melamun cepat bantu dia dengan elemen air yang kakak punya.. Hikss.. Hikss." Sambil kedua tangannya menarik-narik bajuku dia terisak.


'Astaga, ini menyebalkan. Aku bahkan belum bisa menggunakan kekuatanku saat ini. Aku harus bagaimana?' Pikiranku kembali mengeluh.


"Baiklah lepaskan tanganmu." Kataku padanya. Aku hanya punya satu cara. Berenang. Yah hanya itu yang bisa kulakukan. Aku meletakkan buku pemberian dari Dewa Reinkarnasi di tepian danau.


Setelah dia melepaskan tangannya, aku melompat ke dalam danau. Putri Xiao Mei kembali terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan. Dia akan berteriak, tapi aku lebih dulu bersuara.


"Aku akan menyelamatkannya. Pergilah dan panggil beberapa pengawal dan pelayanmu untuk datang kesini. Dan suruh yang lainnya memanggil tabib kerajaan. Apa kau mengerti?." Teriakku padanya sambil berenang di danau.


Dia masih mematung ditempatnya dengan seluruh tubuhnya yang bergetar.


"Aku akan baik-baik saja. Pergilah Xiao Mei!." Aku kembali bersuara agar dia tersadar.

__ADS_1


Xiao Mei mengangguk dan segera berlari setelah mendengar kata-kataku yang terakhir.


Dan aku sendiri langsung menyelam ke dalam danau. Air danau ini tidaklah kotor, jadi aku bisa melihat dengan jelas saat berada di dalam airnya.


'Jika aku tidak salah perkiraan, danau ini tidaklah terlalu dalam sebenarnya. Jika orang yang berenang disini sudah terbiasa dan terlatih dia pasti tidak akan tenggelam semudah itu. Namun akan lain ceritanya bila anak kecil yang tercebur kesini. Dan aku berharap bisa menyelamatkannya. Karna aku sudah terbiasa dari dulu berenang, jadi ini tidak menjadi masalah untukku.' Batinku sambil terus berenang.


Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk berenang. Jadi aku sudah terbiasa untuk melakukannya.


Aku berenang semakin jauh ke dalam danau, dan melihatnya. Seseorang yang sedang tenggelam.


'Dia gadis yang tadi menyapaku kan?.' Tanyaku pada diri sendiri.


Ternyata gadis yang tenggelam itu adalah Putri dari Perdana Menteri, Lien Hua.


Aku berusaha mempercepat gerakanku untuk meraihnya. Dia menutup matanya perlahan, aku terbelalak. Aku semakin cepat menuju kearahnya.


'Jangan menutup matamu, hei bangunlah. Astaga, aku tidak mau melihat mayat.' Aku berucap padanya dalam hati.


Ajaib. Dia perlahan membuka matanya walaupun begitu sepertinya dia kehabisan nafas. Tangan kirinya memegang dadanya. Kelihatan sekali dia kesulitan untuk bernafas.


Dia mengangkat tangan kanannya, sepertinya dia melihatku. Aku meraihnya tangan itu dan menariknya. Tapi dia tidak bisa bergerak, ah dia tidak bisa berenang rupanya. Mau tak mau aku harus membawanya dengan memeluknya menggunakan satu tangan.


NYUTTT..


'Ada apa denganku?. Kenapa tubuhku jadi begini?.' Aku bertanya dalam hati.


Tapi aku merasa kasihan dengan gadis ini. Dia hampir kehabisan nafasnya. Aku berusaha membawa gadis ini naik kepermukaan dengan sisa tenaga yang ada.


Sambil menahan rasa sakit dan sesak, aku masih berjuang berenang ke permukaan. Dan setelah beberapa saat akhirnya aku bisa juga sampai kepermukaan.


Segera saja aku keluar dari air sambil membawa Lien Hua dalam rengkuhanku menuju ke tepian danau. Aku membaringkan Lien Hua di tepi danau yang ditumbuhi rerumputan hijau, supaya bajunya tidak kotor.


Uhukkkk..


Seteguk darah keluar dari mulutku. Aku terbatuk beberapa kali dan tubuhku terasa sangat lemas. Aku merasa kehabisan tenaga. Keringat bercucuran keluar saat aku menahan rasa sesak didada yang tiba-tiba muncul.


"Huh.. Huh.." Aku jadi sulit bernafas. Aku menghapus bibirku dari noda darah. Aku melihat Lien Hua. Aku mengecek keadaannya.


"Syukurlah dia baik-baik saja. Tapi kenapa keadaannya sangat lemah?. Ada apa dengannya?." Gumamku merasa aneh. Dia tampak pucat dan sulit bernafas. Padahal saluran pernafasannya baik-baik saja.


Saat aku mengecek keadaannya dia memang terlihat baik-baik saja, namun kenapa dia seperti kesulitan bernafas. Aku juga sudah mengeluarkan air dalam tubuhnya. Dengan cara yang dulu aku pelajari dari pelatih renangku.


'Sebenarnya dia kenapa?.' Entah kenapa aku merasa cemas dengan keadaannya. Sepertinya ada masalah dalam dirinya, tapi apa?.

__ADS_1


"KAKAK.." Sebuah teriakkan kembali terdengar. Xiao Mei bersama beberapa pelayan dan pengawal akhirnya datang.


"Nona.. Apa yang terjadi Nona?. Hikss.. Hiks.." Pelayan Lien Hua terduduk dan menangis melihat Nonanya terbaring sambil menyentuhnya.


"Kakak apa Lien Hua baik-baik saja?. Kenapa dia tidak bangun.. Hikss.. Hikss" Xiao Mei ikut menangis kembali.


Aku yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa terdiam sambil menekan dadaku dengan satu tangan. Sakit dan sesak.


Saat para pengawal dan pelayan akan membawa pergi Lien Hua. Aku secara spontan mencegahnya.


"Tunggu dulu.. Dudukkan dia sebentar, aku akan memberikan sedikit tenaga kepadanya." Aku sendiri merasa bingung kenapa aku bisa berbicara begitu. Tapi ya sudahlah daripada dia lama bangun dan malah menyebabkan kehebohan.


Kilasan ingatan muncul di pikiranku saat Dewa Reinkarnasi berpesan padaku.


"Itu tidak akan bertahan lama, hanya dalam beberapa hari saja tenagamu juga akan pulih kembali. Dan jangan menggunakan tenaga dalammu dulu selama 3 hari ini. Sepertinya kekuatan ini lebih banyak menguras tenaga dalammu daripada energimu."


Sekarang aku sudah duduk bersila dibelakang Lien Hua yang masih menutup mata.


'Aku hanya ingin tahu tinggal berapa persen tenaga dalamku yang tersisa.' Batinku berkata.


Aku menyalurkan sedikit demi sedikit tenaga dalamku padanya. Dengan kedua telapak yang ku arahkan pada punggungnya.


Beberapa saat setelahnya, Lien Hua perlahan bisa membuka matanya. Yang membuat orang-orang yang tadinya khawatir menjadi lega.


Tapi aku merasa janggal dengan ini. Padahal aku hanya sedikit memberikan tenaga padanya, tapi dia cepat sekali tersadar dan pulih. Ini aneh. Aku membantin.


"Nona/Kak Lien Hua." Pelayan Lien Hua dan Xiao Mei berpekik bersamaan saat melihat Lien Hua tersadar.


Uhukkkk..


Aku kembali memuntahkan seteguk darah segar.


'Ternyata tenaga dalamku hanya tinggal lima persen. Pantas saja tubuhku lemas begini.'


"Yang Mulia/Kakak." Pekik mereka bersama saat melihatku seperti ini.


"Berhentilah berteriak telingaku sakit mendengarnya." Sekali lagi aku mengusap bibirku untuk menghilangkan sisa darah yang ada. Aku mencoba berdiri dengan tenagaku yang ada.


"Kakak.. Apa kau tidak apa-apa kau terlihat sangat pucat?." Tanya Xiao Mei dengan raut khawatir juga cemas.


"Aku baik-baik saja. Kembalilah ke kediamanmu dan bawa dia. Suruh tabib mengobatinya. Aku pergi dulu." Aku mengambil bukuku lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.


Mereka semua menatapku aneh begitupun dengan Xiao Mei. Tapi aku tak menghiraukan tatapan mereka. Dengan pakaian basah aku berjalan kembali ke kediamanku. Aku ingin beristirahat sekarang juga sebab diriku sudah mencapai batas.

__ADS_1


__ADS_2