
~Flashback on~
Xiao Chen POV
"Yang Mulia, tidak maksudku kakak kumohon tolong jangan pergi besok." Aku memohon padanya dengan memelas.
Setelah sekian lama dia terdiam, mungkin kakak sedang memikirkan maksud dari perkataanku. Dia pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Aku akan tetap pergi." Dia berkata serius, sepertinya Yang Mulia Putra Mahkota sudah mengerti dengan perkataanku.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi kak. Aku tidak mau melihatmu terluka!." Kataku lantang.
Putra Mahkota hanya tersenyum penuh arti kearahku.
"Kau juga sudah terlalu banyak terluka dan menderita." Dia berkata pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku mematung mendengar ucapannya. Apa maksud ucapannya?.
"Pulanglah." Perintahnya padaku sambil membalikkan badannya ingin pergi.
Segera saja aku duduk berlulut dibelakangnya. Berharap dia akan mendengarkan permintaanku.
"Aku mohon. Aku tidak mau ibuku melukaimu Yang Mulia. Sudah cukup aku saja yang mendapatkan penderitaan darinya. Tapi aku tidak akan bisa menerima jika dia juga menyakitimu meskipun hanya seujung jarinya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri dan juga memaafkan ibuku, jika anda terluka Yang Mulia." Kataku serius.
Putra Mahkota menolehkan pandangannya padaku. Dan aku menangkap sebuah tatapan yang syarat akan kesedihan yang mendalam. Membuatku terpaku ketika melihatnya.
"Bangunlah. Semua itu bukanlah kesalahanmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Dan buanglah rasa bencimu pada ibumu. Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Dia berkata ambigu dan berjalan pergi meninggalkanku yang masih setia duduk berlulut disini.
~Flasback off~
***
~Malam hari~
Diriku masih mengingat pertemuan singkat dengan kakak pertama pagi tadi. Membuatku tidak berselera hanya untuk sekedar menikmati beberapa makanan yang tersedia didepanku.
Aku hanya mengaduk-aduk makananku dengan satu tangan menyangga kepalaku. Kata-kata darinya masih terngiang di otakku.
"Yang Mulia..." Panggil paman Lie.
"Hm..." Aku menggumam, aku mendengarnya berbicara padaku tapi aku tidak mengeluarkan suara hanya untuk sekedar membalasnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Yang Mulia?. Kenapa anda jadi seperti ini?." Paman Lie terlihat cemas dengan keadaanku yang berbeda dari biasanya.
Aku pun beranjak dari dudukku dan ingin pergi, namun paman Lie mencegahku dengan berdiri didepanku untuk menghalangi jalan sambil merentangkan tangannya.
"Minggir paman aku mau lewat." Kataku dengan malas.
__ADS_1
"Anda ingin pergi kemana lagi Yang Mulia?." Paman Lie bertanya lagi.
"Bertemu ibuku." Ucapku cuek.
"Tidak bisa Yang Mulia. Apa anda lupa, hari ini para Selir Kerajaan akan pergi dari istana untuk berdoa di kuil." Paman Lie mengingatkanku.
"Benarkah?. Lalu kapan mereka kembali?." Aku bertanya karna lupa.
"Iya benar Yang Mulia. Sekitar tiga hari mereka baru akan sampai di istana." Jelasnya padaku.
"Aish... Selama itukah?!." Aku mengacak rambutku, membuatnya kusut dan berantakan.
"Paman panggilkan jendral Liu sekarang." Perintahku padanya.
Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk melindungi Putra Mahkota, kakakku. Aku tidak akan membiarkannya terluka oleh kelakuan ibuku.
***
~Di pagi hari~
"Yang Mulia... Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan anda." Paman Hong Li datang memberitahuku tentang kedatangan Raja.
Aku yang masih bersiap pun mempercepat kegiatanku, dan langsung berjalan pergi untuk menemuinnya.
"Ayo paman." Ajakku dengan berjalan mendahului paman Hong Li.
"Selamat pagi putraku. Kau sepertinya sudah bersiap ya?." Sambil memandangiku dari bawah sampai atas.
"Sudah ayah. Aku akan berangkat sebentar lagi. Ada apa ayah datang kesini sepagi ini?."
"Aku hanya ingin melihatmu sebelum kau pergi. Dan lagi ini pertama kalinya kau akan pergi berperang." Dia menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca antara cemas, sedih dan khawatir.
"Ayah tidak perlu khawatir dan cemas. Aku akan baik-baik saja." Aku tersenyum untuk menenangkannya.
Raja pun ikut tersenyum dan menepuk pundakku.
"Ayah percaya padamu." Kemudian dia pergi meninggalkanku bersama para pelayan dan pengawal yang selalu setia menemaninya.
Aku berjalan pergi keluar dari kediamanku. Aku akan pergi ke kerajaan Lin sekarang sebelum matahari mulai meninggi.
Saat ini aku tengah melihat banyaknya pasukan yang berjajar rapi. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi aku rasa ada ribuan pasukan. Aku memandangnya sambil berpikir.
"Kalau aku pergi bersama dengan pasukan ini akan sangat lama dan membosankan. Aku juga masih harus menyelesaikan tugas dari Dewa. Hanya tinggal 4 hari lagi waktu yang tersisa untukku." Gumamku pelan.
"Yang Mulia anda sudah siap untuk pergi sekarang?." Guru Feng Ying mendekatiku.
"Guru menurutmu berapa lama kita akan sampai disana?." Aku bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Jika kita tidak terhambat apapun, kita bisa sampai disana selama tiga hari tanpa istirahat." Terangnya.
"Itu lama sekali guru. Tidak bisakah kita sampai lebih awal?." Aku bertanya sambil menerawang.
Dia melihatku dengan tatapan bertanya.
"Guru kau pergi bersamaku. Jendral Yong dan paman Hong Li, kalian berdua pergilah bersama para pasukan." Keputusan final pun kuambil.
Aku hanya berpikir jika aku lebih dulu sampai disana, aku mungkin akan menemukan sebuah petunjuk untuk menyelesaikan tugasku yang diberikan Dewa. Diriku masih berusaha dan tidak akan menyerahkan meskipun aku belum tahu apapun tentang tugasku ini.
Masih terngiang dikepalaku sebuah kalimat yang ada didalam buku biru tua itu. Membuatku mau tak mau harus mencari makna dari tuliskannya.
"Yang Mulia..." Jendral Yong dan paman Hong Li ingin membantah perkataanku. Namun aku lebih dulu menyelanya.
"Aku tidak menerima bantahan. Aku juga masih punya beberapa hal yang masih harus aku lakukan. Ayo guru kita pergi." Kataku cepat.
Paman Hong Li dan Jendral Yong akhirnya hanya bisa pasrah dengan perintahku. Mereka pun berangkat bersama para pasukan tanpa diriku.
"Guru, apa kau tahu rute jalan yang paling cepat untuk sampai ke kerajaan Lin?." Aku bertanya sebelum menaiki kuda.
"Kenapa kau ingin cepat-cepat sampai disana?." Dia menaiki kudanya.
"Masih ada hal yang harus aku lakukan. Bisakah kita pergi kesana dalam satu hari perjalanan?." Aku pun ikut menaiki kudaku. Aku sudah sangat piawai dalam hal mengendarai kuda, sebab dulu aku sering berlatih berkuda juga.
"Tentu saja bisa." Katanya percaya diri.
"Baiklah ayo kita pergi sekarang." Komandoku padanya.
***
~Ditempat lain~
"Oh.. Jadi Putri dari Perdana Menteri mempunyai perasaan dengan Putra Mahkota?, menarik. Dan juga Putra Mahkota pernah menolongnya dengan menyalurkan tenaga dalam dan itu berhasil?. Ini sungguh benar-benar permainan yang menarik." Seorang laki-laki tersenyum menyeringai setelah sebelumnya anak buahnya membisikkan sesuatu padanya.
Nampaknya anak buahnya itu adalah seorang yang selalu menyusup di dalam kediaman Perdana Menteri.
"Kau boleh pergi. Dan tetap awasi mereka." Lanjutnya.
"Baik tuan." Anak buahnya pun pergi dari hadapannya untuk melaksanakannya tugasnya.
"Akhirnya aku menemukanmu. Tak sia-sia selama bertahun-tahun aku mencarimu." Katanya sambil tersenyum menakutkan.
"Sudah saatnya kalian berdua untuk mati ditanganku dan aku akan memiliki kekuatan yang amat besar untuk menguasai dunia ini. HAHAHAHA..." Tawanya menggelegar didalam ruangan yang gelap hanya dengan diterangi sebuah lilin.
Siapakah dia?.
Tunggu kelanjutannya ya... 🤗🤗
__ADS_1
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..