
Guru Feng Ying POV
Hari ini aku pergi mengunjungi Putra Mahkota. Dia sudah menjadi muridku sejak masih kecil. Segala perilaku dan tingkahnya aku sangat tahu. Kemarin aku mendengar bahwa tempat kediamannya diserang oleh sekelompok orang.
Dan saat ini aku tengah membawa dua orang gadis cantik bersamaku. Muridku itu sangat menyukai gadis cantik. Dia tidak pandai dalam menguasai ilmu bela diri. Tapi aku malah mendengar bahwa dia sendiri yang bertarung dan menyelamatkan para pelayannya saat penyerangan itu terjadi.
Ini sangat aneh. Hatiku berkata pasti ada yang tidak beres. Pasalnya Putra Mahkota sangat tidak menyukai kekerasan secara fisik. Dia lebih suka menggunakan elemen miliknya. Jika lawannya sepadan dengannya. Namun bila lawannya hanya orang biasa, bisa kupastikan dia tidak akan membalasnya.
Pernah suatu ketika saat dia pergi keluar istana untuk bermain dengan perempuan, dia babak belur dihajar oleh sekelompok orang. Dan dia tak membalasnya sama sekali.
Aku yang merasa tidak percaya dengan kabar yang kuterima pun segera mengunjunginya. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai perempuan. Tapi karna Putra Mahkota memaksaku untuk selalu melakukan hal ini jika bosan, akhirnya aku jadi terbiasa sekarang. Aku sekarang juga menyukai perempuan sepertinya.
Setelah aku memasuki ruangannya. Aku melihat sesuatu yang aneh pada dirinya. Cara memandang, ekspresi yang diperlihatkannya, juga tingkah lakunya.
Aku masih bersikap biasa didepannya. Namun dia sepertinya terganggu dengan kebiasaan yang kulakukan.
Dalam hati aku berkata 'Ada apa dengan Putra Mahkota?.'
Dan ketika aku memberi salam padanya dan menyuruhnya untuk bergabung bersamaku dan kedua gadis ini, dia menolaknya secara halus. Tapi bagiku dia terlihat sangat tidak menyukai para gadis yang kubawa ini.
Aku semakin curiga terhadap orang yang sedang ada didepanku ini. Dia tidak tampak seperti Putra Mahkota yang biasanya. Cara berbicaranya juga berubah. Jika dia memang Putra Mahkota yang biasanya dia akan menjawabnya dengan kata yang lebih santai dan tidak formal seperti sekarang ini.
'Apa dia bukan Putra Mahkota?. Hanya ada satu cara memastikannya.' Aku berpikir sambil merayu para gadis disampingku.
Aku pun menyuruh kedua gadis itu pergi keluar ruangan ini seperti yang diperintahkannya. Sekarang hanya tinggal diriku dan Putra Mahkota didalam sini.
Dia bertanya padaku dengan menunjukkan sebuah anak panah yang dibawanya. Ketika dia berada didekatku, aku menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui kebenarannya.
Aku bisa merasakan energi didalam tubuhnya tidak stabil dan tidak sama dengan milik dari Putra Mahkota. Juga seluruh elemen yang dimilikinya tidak berada pada tempat yang benar. Meskipun dia memiliki elemen yang sama, namun tetap saja ini tidak benar.
Putra Mahkota muridku pandai dalam mengatur tempat elemen didalam tubuhnya. Tapi apa yang aku rasakan ini berbeda.
Dan aku mulai melihat lambang didalam sebuah anak panah yang diberikannya padaku.
Sebuah lambang ular.
'Ular?.'
"Aku tahu, sangat tahu." Aku menjawab pertanyaannya dan menghampirinya.
Dia menatapku dengan serius, tidak seperti biasanya dia memandangku. Dan saat aku berada di hadapannya aku mengancamnya dengan sebuah pisau kecil yang selalu kubawa.
Kecurigaanku memanglah benar setelah aku mendengar jawaban dari mulutnya. Tetapi aku tidak menyangka jika dia tidak terpengaruh bahkan tetap bergeming saat aku mengancamnya bahkan sedikit menggores leher miliknya.
Dia begitu tenang, namun aku melihat sorot matanya memancarkan sebuah kesedihan. Entah kenapa aku jadi tidak tega melihatnya. Meskipun tatapannya tajam tapi aku bisa merasakan kesedihannya.
Aku meninggalkannya dengan sebuah ancaman agar dia tidak pergi dari tempat ini sebelum aku bisa menemukan Putra Mahkota yang asli. Namun jika dia keluar atau kabur dari sini aku pasti akan membunuhnya. Dan sebelum aku keluar dari sini aku masih menekankan ancamanku padanya.
Akan jadi sebuah masalah jika aku belum menemukan Putra Mahkota dan dia kabur, sebab akan membuat seluruh istana gempar karna mencari keberadaannya.
Aku bergegas pergi ke tempat perguruan ular. Aku ingin mencari Putra Mahkota disana. Mungkin saja jika dia diculik oleh mereka. Karna mereka pernah menyerangnya.
~Di halaman belakang kediaman Putra Mahkota~
Liliana a.k.a Xiao Hui
Malam ini aku tidak bisa pergi keluar istana seperti yang sudah aku rencanakan. Ancaman dari guru Feng Ying masih terngiang dikepalaku jadi aku memutuskan untuk tetap berada di istana. Sambil memikirkan maksud dari kalimat 'gajah ditelan ular lidi'.
Aku saat ini tengah duduk di kursi yang ada pada halaman belakang kediamanku. Aku menatap sebuah kolam air yang tidaklah besar disana. Meskipun begitu kolam itu terlihat sangat indah dengan banyaknya tanaman yang tumbuh disekeliling tepinya.
Aku sendirian disini tanpa ada pengawal ataupun pelayan yang mendampingi. Aku menyuruh mereka untuk meninggalkanku sendiri. Moodku begitu buruk setelah tadi bertemu dengan guru dari Putra Mahkota yang asli.
Aku menyentuh luka yang ada dileherku. Masih segar diingatanku saat tadi paman Hong Li berteriak heboh melihat lukaku ini. Aku hanya tersenyum masam saat mengingatnya. Tiba-tiba bibirku menyanyikan sebuah lagu yang dulu sering aku dengarkan.
Aku mengingat semua kejadian dimasa laluku yang terasa sangat sepi dan sunyi tanpa kasih sayang dari ayah dan ibuku.
Nae mameul bolsu issnayo?
Apakah kau bisa melihat isi hatiku?
Nan geudaeppunieyo
Kau satu-satunya bagiku
Geudaedwie na isseulgeyo
Aku akan ada tepat di belakangmu
Hangeoreum dwieseoyo
Satu langkah di belakang
__ADS_1
Geudaen naemaeum moreujyo
Pasti kau tidak tahu isi hatiku
Nunmuri geulsseongyeoyo
Air mataku mengalir
Geudael bomyeon maeumi apeuneyo
Hatiku sakit ketika melihat dirimu
Tak terasa bulir demi bulir air mata turun dari mataku. Kilasan-kilasan kejadian saat aku masih kecil terus berputar. Saat aku merasa iri dengan seorang anak kecil yang tengah bermanja ria dengan sang ayah dan ibunya.
Sedangkan diriku hanya diabaikan oleh kedua orangku saat kami berjalan di sebuah taman, untuk menemui rekan bisnis ayah yang mengajak keluarga kami untuk ikut berpiknik.
Juga saat aku mendapatkan sebuah
penghargaan ketika diriku menenangkan suatu lomba, anak-anak lain yang gagal menangis dan mengadu pada ayah atau ibunya. Namun diriku hanya bisa tersenyum kecut melihat semua itu, ayah dan ibuku bahkan tidak datang hanya untuk sekedar mengucapkan sebuah pujian kecil untuk anaknya.
Mereka malah mengirimkan beberapa pelayan untuk menjemput diriku dan lebih mementingkan pekerjaannya. Hatiku terasa sakit saat mengingatnya. Berulang kali, tidak. Tapi selalu seperti itu. Mereka tak pernah ada untukku. Apakah aku ini memang anaknya?. Aku ada disamping mereka, tapi kenapa aku tidak pernah terlihat dimata mereka?.
Aku terus mengalunkan lagu itu untuk mencurahkan segala luka lama yang belum menutup dan masih menganga. Entah sudah berapa tahun itu, aku tidak ingat. Tapi kejadiannya tidak akan bisa hilang dari ingatanku, aku sudah melakukan berbagai cara untuk melupakannya namun tetap saja sia-sia.
Honjahaneun sarangeun
Karena aku mencintai sendirian
Eonjenga dasi doragaya hal
Suatu saat nanti aku harus berbalik
Geugoseul hollo georeogagessjyo
Aku harus berjalan di sana sendiri
Geureon naega seulpeoyo
Aku sangat sedih akan itu
Moreuncheok haneun geongayo
Apa kau berpura-pura tidak tahu
Diriku yang ada di sampingmu
Himkkeot sorichyeo bulleobwado
Bahkan jika aku berteriak sekencang-kencangnya
Maeumui sorinikka
Itu adalah suara hatiku
Eonjenga dasi doragaya hal
Suatu saat nanti aku harus berbalik
Geugoseul hollo georeogagessjyo
Aku harus berjalan di sana sendiri
Geureon naega seulpeoyo
Aku sangat sedih akan itu
Eonjenga dasi doragaya hal
Suatu saat nanti aku harus berbalik
Geugoseul hollo georeo doragagessjyo
Aku harus berjalan balik sendirian
Ireon naega apayo
Sangat menyakitkanku
[HEIZE-Can You See My Heart]
Prokk.. Prokk..
__ADS_1
"Suaramu bagus sekali!."
Seseorang bertepuk tangan di sampingku. Aku yang terkejut secara tak sengaja langsung berdiri dan menatap orang yang tengah mengejutkanku.
"Kau mau membunuhku dengan cara mengejutkanku begitu?!." Aku merasa jantungku hampir saja lepas dari tubuhku.
Seonggok makhluk aneh kembali menemuiku. Dengan menyengir kuda dia membentuk jari telunjuk dan jari tengahnya menjadi huruf V. Astaga jika saja dia bukan seorang Dewa, aku pasti sudah meninjunya dan membuatnya menyesali perbuatannya barusan.
"Hei.. Hei.. Jangan marah-marah begitu. Apa kau sedang PMS sekarang?." Dia bertanya dengan menekan kata 'PMS' sambil tersenyum mesum kearahku.
"Ya ampun kau menangis?." Dewa itu ingin menyentuh wajahku. Buru-buru aku menghindar dan..
Ctakkk...
Akhirnya aku menjintak kepalanya karna kesal. Biarkan saja dia menambah hukuman atau waktuku berada disini. Aku tidak peduli.
"Yak!!.. Beginikah caramu menyambut seorang Dewa yang datang berkunjung hanya untuk menemuimu?!." Dia berteriak kesal ke arahku.
"Siapa suruh juga kau dengan seenak jidatmu mengejutkanku seperti itu?!." Aku membalasnya rasa kesalnya dengan rasa kekesalanku yang sangat menumpuk.
Aku sangat benci dikejutkan oleh seseorang itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku. Apalagi aku masih muda, aku tidak mau punya riwayat penyakit jantung dihidupku ini. Tapi makhluk berpakaian putih itu malah mengejutkanku, maka jangan salahkan aku jika aku membalasnya dengan jitakan maut.
"Astaga kau ini benar-benar gadis yang arogan!." Dewa Reinkarnasi masih kesal padaku.
"Dan aku tidak peduli. Lalu kenapa kau datang lagi?. Ah.. Apa kau mau menambah hukumanku karna sudah ada yang tahu jika diriku bukanlah Putra Mahkota yang asli?." Aku bertanya dengan tampang yang menyebalkan.
"Memangnya kenapa jika dia tahu?. Aku kesini bukan untuk melakukan hal seperti yang kau tuduhkan itu padaku. Sepertinya kau suka sekali jika aku menambah hukumanmu. Ck..ck..ck." Dia mengatakannya dengan nada mengejek.
"Entahlah. Sepertinya penyamaranku sudah ketahuan." Ucapku acuh.
"Itu karna kau memang tidak bisa berakting dengan baik." Dia ingin memulai pertengkaran denganku sepertinya.
Aku menatapnya dengan tajam. Mahkhluk ini benar-benar menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya apa dia memang seorang Dewa?.
"Hei apa-apaan sih kau ini!. Tentu saja aku seorang Dewa. Astaga!." Dia mengeluh setelah mendengar batinku mengatainya.
"Aku meragukannya. Lagipula siapa yang mau berakting seperti Putra Mahkota mesum itu. Dan apa kau lupa aku ini adalah seorang perempuan juga." Kataku sambil emosi.
"Ah.. Maaf tapi aku memang hampir melupakannya." Dewa Reinkarnasi tersenyum mengejek saat mengatakannya.
"Dasar, kau pasti sudah tua." Aku membalasnya.
"Sepertinya kau sudah tahu tentang rahasia yang kusembunyikan?." Dia merubah ekspresinya menjadi datar.
Aku menolehkan pandanganku padanya sebentar, kemudian beralih menatap bulan dan bintang dilangit.
"Apa kau berpikir aku ini benar-benar gadis yang bodoh?. Tentu saja aku mengetahuinya." Aku tersenyum hambar dalam mengatakannya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku juga tidak pernah bilang begitu. Apa sekarang kau sangat marah setelah mengetahui kebenarannya?." Dia menatapku meminta jawaban.
"Untuk apa aku marah?. Apakah semuanya akan berubah jika aku marah?. Itu hanya akan membuang tenaga." Aku menjawab dengan nada datar.
"Tapi sepertinya kau.." Belum sampai dia kembali mengucapkan kata-katanya, aku memotongnya dengan perkataanku.
"Sudahlah aku sangat lelah hari ini. Kembalilah kau pasti sibuk sekarang. Kau bukanlah seorang pengganguran yang hanya akan menggoda seorang gadis kecil sepertiku." Aku beranjak dari dudukku dan akan melangkahkan kakiku, namun tanganku saat ini tengah digenggam oleh Dewa Reinkarnasi itu membuatku berhenti dan menatapnya tajam.
"Lepaskan!." Kataku berusaha melepaskan genggamannya.
"Maafkan aku." Dia berkata pelan.
"Apa itu penting sekarang?. Cepat lepaskan!." Aku masih belum menyerah untuk melepaskan tanganku darinya.
"Dengarkan dulu penjelasanku." Ucapnya yang membuatku diam.
'Ya ampun apa ini?. Kenapa aku malah seperti seorang kekasih yang telah selingkuh dan akhirnya ketahuan, lalu sekarang aku harus memberikan sebuah alasan yang masuk akal agar dia mempercayaiku kembali.' Pikiran aneh Dewa Reinkarnasi.
"Cepat lepaskan!." Kataku tidak sabaran.
"Apasaja yang kau ketahui tentang rahasia itu?. Aku akan melengkapi setiap cerita yang belum ada bagaimana?." Dia mencoba bernegosiasi rupanya.
"Bagaimana jika aku tidak mau. Aku bisa mengetahuinya sendiri." Aku masih keras kepala ingin pergi sekarang juga.
Clinggg....
Sebuah cahaya putih mengelilingi diriku. Dan seketika aku berubah kembali menjadi diriku yang sebenarnya, menjadi seorang gadis perempuan.
"Apa dengan begini kau baru mau mendengarkan penjelasan dariku?."
Aku hanya bisa menghela nafas dan mengangguk lemah menyetujuinya. Aku juga ingin tahu cerita lengkap dari sebuah rahasia yang kuketahui. Diriku tidaklah mengetahui secara rinci rahasia itu.
__ADS_1
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..