Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 7


__ADS_3

Terlihat seorang pengantin wanita dan pria paruh baya berjalan beriringan menuju ke altar pernikahan. Senyum bahagia terlihat diwajah sang ayah pengantin wanita, namun berbanding terbalik dengan mempelai pria disana yang memandang mereka dengan datar.


Setelah mereka sampai didepan altar, ayah pengantin perempuan itu meletakkan tangan putrinya pada pria yang akan menjadi suaminya. Kemudian menepuk bahunya, sebagai tanda bahwa dia menyerahkan sepenuhnya putri kesayangannya pada pria itu.


~Kembali ke dunia Liliana~


Liliana POV


Beberapa saat setelah aku dan Dewa Reinkarnasi ini memasuki portal yang dibuatnya, kami sekarang berada di tempat yang terlihat familiar bagiku. Di luar sebuah gedung yang menjadi tempat pernikahanku dulu. Ternyata dia membawaku kembali ketempat asalku.


Aku memandang bingung ke arah Dewa Reinkarnasi. Mencoba mencari jawaban dari apa yang tengah dilakukannya dengan membawaku kembali ke tempat ini.


"Ini hadiahmu yang kedua." Dan dia menggandeng tanganku, ah bukan lebih tepatnya dia menyeretku masuk ke dalam gedung ini. Aku hanya mendengus sebal dengan perlakuannya ini. Bagaimana dia bisa memperlakukanku seperti ini?. Tapi apalah daya, tenaganya lebih besar daripada diriku yang punya badan kecil ini.


Aku hanya bisa pasrah saat diseretnya seperti ini. Melawan juga bukan ide yang bagus jika lawannya tidak mudah dan dia adalah seorang Dewa. Mustahil bagiku untuk menang bukan?.


Namun aku tidak merasakan tanganku sakit saat diseretnya, ini sungguh aneh. Namun aku lebih memilih untuk diam dan mengikutinya. Mungkin itu efek dari kekuatan miliknya pikirku.


Kami berhenti saat melihat ayah dan ibuku bersama seorang gadis yang mirip denganku berjalan ke sebuah ruangan. Bukan hanya mirip, tapi rasanya gadis itu adalah diriku.


Aku akan menghampiri mereka namun dicegah oleh Dewa Reinkarnasi dengan memegang pergelangan tanganku sambil menggeleng saat aku menatapnya.


Aku hanya bisa menatap ketiga orang itu yang kini telah membuka pintu dan memasukinya. Terlihat raut bahagia terpancar dari ayah dan ibu, tapi tidak dengan gadis itu.


Aku yang merasa janggal dengan ini semua pun menanyakannya langsung pada Dewa yang ada disampingku saat ini.


"Gadis itu doppelganger yang kubuat untuk menggantikanmu disini saat kau tidak ada." singkatnya menjelaskan.


Lalu dia menggandeng tanganku dan masuk ke dalam ruangan yang sama dengan yang dimasuki ketiga orang tadi.


Saat kami telah memasuki ruangan, terlihat banyak sekali tamu yang datang dan duduk ditempat yang disediakan. Terlihat mewah dan elegan dengan warna coklat pastel bercampur dengan bunga mawar putih yang menghiasi ruangan ini.


Decak kagum dan pujian beberapa kali tertangkap diindra pendengaranku. Mereka semua sangat menggagumi ruangan indah ini. Juga pujian yang mereka berikan untukku dan pria itu sebagai pasangan yang serasi. Cantik dan tampan, serta reputasi kedua keluarga yang bisa dibilang sangat gemilang.


Aku muak mendengar semua itu. Ini semua tidak berarti apa-apa bagiku. Aku menatap lurus saat ayah dan doppelganger diriku berjalan kearah altar. Terlihat gadis yang mirip denganku kini tengah menggandeng lengan ayahku.


Dan pria yang ada didepan altar itu hanya memandang dua orang yang tengah berjalan ke arahnya dengan datar, tak ada senyuman yang ditampilkannya. Begitu menyiratkan dia tidak menyukai pernikahan ini.


Setelah ayah dan doppelganger diriku sampai di dekat pria itu, ayah memberikan tangan doppelganger pada pria itu sambil tersenyum bahagia. Lalu menepuk bahunya. Dan meninggalkan mereka berdua dan ikut duduk bersama ibuku.


Saat doppelganger dan pria itu akan mengucapkan janji pernikahan mereka, aku yang tidak bisa tinggal diam ingin pergi menghentikannya, tapi sayang lagi-lagi Dewa Reinkarnasi mencegahku dengan cara yang sama.


Aku yang tidak mau dihentikan pun mencoba untuk mengatakan sesuatu. Namun tiba-tiba semua penerangan diruangan ini menjadi gelap gulita.

__ADS_1


Semua orang di dalam ruangan ini menjadi panik dengan keadaan gelap ini. Tapi semua ini tidak berlangsung lama. Karna sebuah layar monitor di belakang altar menampilkan sebuah tayangan.


Dan layar monitor itu kini menjadi penerangan satu-satunya diruangan ini. Semua orang memandang ke arah monitor yang sedang menampilkan sebuah adegan seorang pasangan yang sungguh romantis, mungkin.


Mereka semua terkejut saat melihatnya. Begitupun dengan diriku kini. Terlihat dua orang tengah berada dalam sebuah ruangan. Seorang gadis dan pria.


Si gadis tengah menangis dan si pria mencoba untuk menenangkannya.


"Bunuh atau racuni saja dia aku tidak peduli.. aku hanya tidak mau kau menikah dengannya!.. Hiks hiks"


"Sudahlah jangan menangis Cila.. Aku juga tidak tahu harus bagaimana"


"Pokoknya aku tidak mau kau menikah dengannya!"


"Pelankan suaramu nanti ada orang yang dengar!.. Baiklah aku akan menaruh racun diminumannya supaya bisa meracuninya sekaligus membunuh dirinya oke? Tapi bukan hanya dirinya melainkan juga keluarganya. Agar nanti bisnis dan harta keluarganya bisa aku ambil alih" sambil menyeringai


"Benarkah?" matanya berbinar.


"Iya benar.. Jadi tenanglah aku sayang padamu.. Hanya dirimu"


Mereka berdua kemudian berpelukan mesra. Tanpa mereka berdua menyadari bahwa ada seseorang yang mendengar perkataannya. Orang itu adalah diriku.


Setelahnya layar tadi juga menampilkan diriku yang akan meminum dua gelas racun yang diberikan pria itu untuk ayah dan ibuku.


'Walaupun aku tidak menyukai hidupku dan pernikahan ini, bukan berarti aku akan melakukan hal bodoh seperti ini. Aku bukanlah gadis lemah. Aku akan membalasnya jika mereka berani menyentuh kedua orang tuaku. Siapapun itu.' Sambil menatap gelas yang kini telah hancur aku berucap.


Kini layar monitor itu kembali menggelap dan penerangan pun kembali seperti semula.


Aku yang masih terkejut dengan adegan terakhirpun menoleh pada Dewa Reinkarnasi yang tersenyum menatapku. Layar monitor yang seharusnya nanti akan menampilkan foto-foto masa kecil kedua pasangan malah menanyangkan sebuah adegan yang membuat banyak orang terkejut dan bingung.


"Kau suka itu."katanya padaku. Bagaimana aku tidak terkejut, bahkan aku tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu sebelumnya.


"Tapi hatimu pernah mengatakannya. Dan aku membuatnya seperti yang hatimu katakan." Lanjutnya Dewa, seperti menjawab pertanyaan dihatiku. Aku tersenyum tulus padanya.


BRRAKKKK..


Terdengar suara gebrakan meja menggema diseluruh ruangan, semua orang yang tadinya tengah terkejut dengan tayangan tadi kini mengalihkan pandangannya begitupun diriku, pada seseorang yang terlihat marah. Ayahku, dia menggeram marah dengan wajah yang merah padam.


"APA-APAAN SEMUA INI?!!." Katanya begitu marah pada pria calon menantunya, Erick.


Bahkan ayah dan ibu Erick juga terkejut dengan kelakuan anaknya sendiri. Yang bisa dibilang sangat keterlaluan.


"Angkat tangan." Aku menoleh kearah suara. Terlihat beberapa polisi memasuki ruangan ini sambil mengeluarkan pistolnya.

__ADS_1


"Saudara anda kami tangkap karena mencoba merencanakan pembunuhan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang." Kata seorang polisi pada Erick dan langsung menyuruh kedua anak buahnya memborgol dan membawanya keluar dari ruangan.


Ayah dan ibu Erick syok melihat anaknya satu-satunya sangat tidak punya etika dan moral.


"Tidak.. Tidak apa yang kalian lakukan?!. Jangan bawa dia.. Kalian tidak bisa membawanya.. TIDAKKK... JANGAN BAWA DIA!!." Teriak seorang gadis pada polisi yang tengah membawa Erick pergi dari ruangan ini, dia Cila kekasih Erick.


Sedangkan Erick dia hanya diam sambil menunduk malu.


Ayah dan ibuku segera berdiri dan beranjak menghampiri doppelganger diriku. Mereka segera memeluknya. Tangis ibuku dan ayahku pecah saat merengkuhku dalam kehangatan.


Aku yang melihat semua kejadian ini hanya bisa memejamkan mata untuk menenangkan hatiku. Dan perlahan kutengok Dewa Reinkarnasi agar melepaskan tanganku. Dia yang mengerti segera melepaskannya. Aku berjalan pelan menghampiri kedua orangku yang kini tengah menangis meminta maaf pada kembaran diriku.


"Maafkan ayah dan ibu ini semua salah kami." Ibu berbicara dengan terisak.


"Maafkan ayah putriku." Ayah berkata dengan nada penyesalan yang sungguh menyayat hati.


Doppelganger yang melihatku menghampirinya tersenyum memandangku. Aku juga membalas senyuman itu.


"Terima kasih sudah menggantikanku. Tolong jaga mereka untukku sementara waktu." Dia menggangguk sebagai jawaban menyetujui permintaanku.


Sebuah tangan menepuk bahuku. Siapalagi jika bukan Dewa Reinkarnasi.


"Apa mereka tidak bisa melihatku sekarang?." Gumamku yang masih bisa didengar Dewa Reinkarnasi.


"Kau sudah tahu jawabannya. Lagipula bukanlah ini sudah cukup untuk membuatmu merasa tenang sekarang?."Aku menggangguk mengiyakan ucapannya.


"Iya kau benar. Terima kasih. Tapi Bukannya pernikahan ini sudah terjadi kemarin?" Tanyaku yang merasa aneh.


"Ah.. Aku belum memberitahumu ya jika kau di dunia sana satu hari sama dengan satu menit disini. Apa kau mengerti?." Aku hanya menggangguk mendengarnya.


"Karna hadiah keduamu sudah kau terima. Ayo kita kembali sekarang."Ajaknya padaku.


Meskipun aku merasa berat harus pergi lagi meninggalkan kedua orang tuaku, tapi aku masih punya hukuman yang harus aku selesaikan agar bisa kembali lagi kesini dan berkumpul bersama mereka.


Setidaknya diriku sekarang merasa tenang bisa melihat mereka lagi walaupun hanya sebentar.


"Baiklah.. Ayo kita kembali."


Kami berdua masuk lagi ke dalam portal yang dibuat oleh Dewa Reinkarnasi. Sebelum aku benar-benar melangkah memasuki portal itu, aku menatap sendu ke arahnya ayah dan ibu. Ini terakhir aku melihat mereka dan aku harus menjalani hidup sebagai Putra dari seorang Raja. Untuk bisa bertemu lagi dengan ayah dan ibu.


"Ayah, ibu tunggulah aku akan kembali."


Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..

__ADS_1


Dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya. 🤗🤗


__ADS_2