
"Putraku, daripada kau selalu pergi keluar istana hanya untuk bertemu para wanita bukanlah lebih baik bila kau menikah?." tiba-tiba Ratu mengejutkanku dengan pertanyaannya. Aku yang sedang meminum teh, hampir saja menyemburkan teh ini.
Astaga pertanyaan macam apa itu?!. Dasar laki-laki ini ingin sekali aku mematahkan tulang-tulangnya agar tak bisa kemana-kemana. Dia selalu menempatkan diriku dalam masalah. Aishh.. ini menyebalkan pikirku.
"Ah.. Bukankah itu ide yang bagus? Kau juga bisa memilih beberapa selir jika kau mau. Bagaimana?. Jadi dirimu tidak perlu keluar lagi." Raja juga ikut menanggapinya dengan serius yang malah membuatku kehabisan kata.
"Ayah, ibu aku masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula aku masih mau memperbaiki tingkahku ini sebelum aku menjadi seorang suami. Aku ingin membanggakan kalian. Baru aku akan memikirkan tentang hal itu." Aku mencari sebuah alasan yang logis agar mereka bisa memakluminya.
Bukan aku namanya jika menyerah begitu saja. Aku memutar otakku agar bisa menyelesaikan masalah ini. Menikah?. Astaga aku ini bukan Putra Mahkota yang asli. Bagaimana aku bisa menikah dengan seorang perempuan jika aku juga adalah seorang perempuan. Itu hal yang gila. Dan tidak mungkin.
Aku punya trauma tersendiri tentang pernikahan. Meskipun aku tidak mencintai orang itu, tapi penghianatan yang dilakukannya masih membekas bagai luka tak yang tak terlihat.
"Baiklah ayah dan ibu tidak akan memaksakan kehendakmu. Tapi ingatlah dirimu adalah calon dari penerus tahta kerajaan ini, cepat atau lambat kau harus memilih calon istrimu sendiri. Ayah akan merestui siapapun yang kau pilih asal dia baik untukmu." bijak Raja itu mengambil keputusan. Dan Ratu juga menyetujui keputusannya.
Mereka berdua sangat mengerti anaknya. Andai ayah dan ibuku yang asli seperti ini, aku pasti senang sekali. Aku tersenyum kecut sambil memandang gelas tehku. Lupakan saja, itu tidak penting sekarang.
Setelah bercakap-cakap cukup lama aku pun kembali ke kediamanku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk karna Putra Mahkota bodoh ini.
Saat aku berjalan keluar dari aula istana aku mendengar beberapa pelayan wanita sedang bergosip ria.
'Apa kau dengar tadi malam dikediaman Putra Mahkota ada penyusup.'
'Aku juga dengar katanya dia yang mengalahkan mereka semua dengan tangan kosong.'
'Benarkah?bukannya dia tidak bisa bela diri ya?.'
'Itu benar bahkan pelayan dari kediamannya sendiri yang mengatakannya. Mereka saat itu tengah disandera oleh penyusupnya.'
'Wah.. Bukankah dia sangat keren. Dia tampan, pandai bela diri yah meskipun dia pria yang suka sekali menggoda wanita. Tapi aku tetap kagum padanya.'
Kalimat demi kalimat yang diucapkan para pelayan itu sungguh tak tahu malu menurutku. Astaga berita disini cepat sekali menyebarnya ya?.
Seorang wanita malah bergosip seperti ini. Ya ampun. Sudah berapa kali aku mengeluh seperti ini. Sepertinya hampir setiap waktu aku mengeluh disini. Aku melanjutkan perjalananku ditemani Hong Li dan jendral Yong juga beberapa pengawal pribadiku.
"Em.. Yang Mulia.."panggil paman Hong Li pelan. Tapi aku tidak mendengarnya dikarenakan sibuk mengeluh di dalam pikiranku. Bagaimana aku tidak mengeluh, setelah ini aku akan dihadapan dengan banyaknya tumpukan kertas yang harus aku selesaikan.
Tak ada sahutan apapun dan aku terus berjalan. Tiba-tiba paman Hong Li berdiri di depanku sambil merentangkan kedua tangannya. Aku yang tak fokus terkejut dengan aksi pria paruh baya ini, langsung saja menghentikan kakiku sebelum menabraknya. Aku hanya mengangkat sebelah alisku merasa aneh dengan kelakuannya. Yah sekarang aku memanggil Hong Li dengan sebutan paman, agar lebih sopan terhadap orang yang lebih tua.
__ADS_1
"Apa?." ucapku padanya. Pandangan matanya menunjuk ke sebuah arah. Dan aku mengikuti arah pandangnya dengan menolehkan kepalaku kesamping kiri.
Aku melihat sesosok gadis berdiri disana dengan satu pelayan disampingnya. Dia tersenyum sopan dan lembut kearahku. Aku yang tidak tahu siapa dia secara reflek memandang paman Hong Li kembali untuk meminta penjelasan.
"Apakah Yang Mulia tidak tahu dia adalah putri bungsu dari Perdana Menteri. Namanya Lien Hua." jelasnya sambil senyam-senyum.
[Ilustrasi Lien Hua]
"Paman kenapa kau senyam-senyum begitu apa kau menyukainya?." Meskipun sebenarnya aku merasa geli dengan pertanyaan yang kulontarkan. Namun aku ingin sekali menggoda paman Hong Li.
Dia cemberut setelah aku berkata seperti itu. Astaga lucu sekali paman ini dalam hati aku tertawa.
"Salam Yang Mulia Putra Mahkota."Aku menolehkan kepalaku pada orang yang saat ini menyapaku.
Ternyata dia adalah putri dari Perdana Menteri. Dia menundukkan kepalanya saat berhadapan denganku.
'Dia sepertinya punya sifat yang lembut juga anggun. Dan sopan kepada orang lain.' nilaiku dalam hati saat melihat tingkah lakunya.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Akupun melanjutkan perjalananku tanpa melihatnya lagi. Jika kalian bertanya kenapa aku bersikap seperti ini, itu karna banyak para pelayan di istanaku yang saat ini menatap kearahku.
Lien Hua POV
Ketika aku pergi ke istana untuk bertemu dengan Yang Mulia Putri Xiao Mei aku melihat Putra Mahkota Xiao Hui sedang berjalan. Aku menghampirinya untuk menyapanya sebagai bentuk penghormatan. Tidak baik bagi orang sepertiku mengacuhkannya.
Aku tahu jika banyak yang mengatakan Putra Mahkota adalah seorang pria yang suka sekali menggoda wanita. Tapi meskipun begitu aku tetap harus menghormatinya.
Aku menyapanya dengan sopan tapi dia hanya tersenyum tipis dan pergi begitu saja meninggalkanku.
"Eh.. Ada apa dengan Yang Mulia Putra Mahkota?. Kenapa dia tidak menggoda Nonaku yang cantik ini. Tapi syukurlah.." kata pelayan ku dengan tidak sopan.
"Jaga bicara Huanran.. Dia adalah Putra Mahkota jangan bicara sembarangan tentangnya." peringatku padanya.
"Tapi bukankah itu benar Nona, dia memang seperti itu. Banyak juga orang yang berkata begitu." jawabnya lagi.
Aku menatapnya dan berucap "Biar saja orang lain mengatakan apapun, tapi kau tidak boleh seperti itu." balasku padanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera pergi menemui Yang Mulia Putri, tidak baik jika membuatnya menunggu terlalu lama."lanjutku sambil berjalan kembali.
"Baik Nona. Saya mengerti. Maafkan saya." Huanran mengangguk dan ikut berjalan disampingku kembali.
Aku hanya tersenyum kepalanya sebagai balasan.
~Di kediaman Putra Mahkota~
Liliana a.k.a Xiao Hui POV
Aku tengah merasa bosan sekarang. Setelah 1 jam berkutat dengan tumpukan tugas yang harus kukerjakan. Semuanya sudah aku selesaikan. Dan aku bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa bosan ini.
Paman Hong Li dan jendral Yong malah tengah menatapku dengan mata melotot. Mereka berdua tidak percaya jika aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.
"Yang Mulia apakah ini benar-benar anda yang mengerjakannya?. Apakah kepala anda terbentur sesuatu dan sekarang anda bisa mengerjakan semua ini. Ini adalah keajaiban. Sungguh keajaiban anda bisa mengerjakan ini semua." Paman Hong Li kembali mengoceh heboh sambil membolak balik memeriksa tumpukkan kertas itu.
Dan jendral Yong hanya diam sambil menatapku tidak percaya. Aku menatap mereka bergantian dengan malas.
'Aku bosan, aku rindu dengan ponselku aku ingin mendengarkan lagu.' dalam batin aku mengeluh.
"Paman.. Jendral Yong aku bosan. Bisakah kita melakukan sesuatu untuk menghilangkannya?" Dengan polos aku bertanya.
Dan mereka saling berpandangan. Kemudian melihat kearahku secara bersamaan dan tersenyum misterius padaku.
"Yang Mulia.. Katakan gadis seperti apa yang anda inginkan aku akan mencarinya untuk anda sebagai rasa syukurku karna anda sudah berubah." Paman Hong Li membuatku bangkit dari duduk malasku.
Aku menatapnya tajam. Dia yang ketakutan segera berlari ke belakang jendral Yong.
"Y-yang Mulia.. apa ada yang salah dengan ucapan kepala pelayan Hong Li barusan?." Jendral Yong bertanya dengan gugup padaku. Sepertinya dia juga takut.
Aku melangkah pergi meninggalkan mereka namun sebelum langkahku semakin jauh aku berhenti dan menatap mereka berdua.
"Jangan ikuti aku. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Dan jangan bertanya aku ingin pergi kemana." Aku berucap sangat dingin pada keduanya, agar mereka patuh. Dan sebelum paman Hong Li bertanya dengan pertanyaan kereta api beruntunnya, yang hanya akan menambah moodku bertambah buruk.
Keduanya hanya mengangguk kaku sebagai jawaban. Kemudian setelah memastikan mereka tidak melanggar ucapanku, aku berjalan kembali dengan cepat.
__ADS_1
"Yang Mulia barusan sangat menakutkan." paman Hong Li sambil memeluk kedua tangannya.
"Dan dia berbeda dari biasanya." Gumam jendral Yong sambil melihat punggung dari tuannya yang sudah jauh berjalan.