
~Di kediaman Putra Mahkota~
Setelah kejadian penyerangan oleh ketiga orang berbaju hitam, aku sekarang tengah mencari informasi tentang lambang ular dalam panah yang mereka gunakan.
Dimana lagi jika bukan pada buku hitam berlambang matahari dan bulan sabit pemberian Dewa Kematian. Aku akan mengabaikan tugasku disini untuk hari ini. Aku harus segera mencari tahu siapa orang-orang yang menyerangku tadi.
Dari buku ini aku mengetahui semuanya, tapi belum cukup tanpa adanya bukti nyata. Maka dari itulah malam ini aku berencana akan pergi keluar istana diam-diam dan mencari sebuah bukti.
Tidak baik jika harus terus menunda-nundanya. Akan lebih baik dilakukan dengan cepat. Karna mungkin bisa saja mereka akan membahayakan nyawa orang lain lagi. Meskipun target mereka adalah diriku, namun aku tidak sendirian disini. Ada banyak pengawal dan pelayan, aku tidak mau mereka terluka lagi seperti hari ini.
Aku membaca kata demi kata dalam buku ini. Dan berusaha menghafal semua informasi yang ada didalamnya. Dengan kapasitas otakku aku bisa saja menghafal semuanya begitu cepat dan mudah, tapi karna aku bukan berasal dari tempat ini. Bagiku beberapa informasi disini sedikit aneh menurutku.
Aku masih terfokus dan serius dengan buku yang ada dihadapanku, tiba-tiba paman Hong Li datang dan menghampiri diriku dengan tergesa-gesa.
"Yang Mulia apa anda baik-baik saja?. Saya sudah memanggil tabib seperti yang anda minta. Yang Mulia, apa perlu hamba meminta tambahan pengawal lagi untuk menjaga kediaman anda Yang Mulia?. Apa.." Belum selesai paman Hong Li berkata aku telah memotongnya lebih dulu.
"Paman aku baik-baik saja dan tidak usah terlalu khawatir seperti itu. Dan lagi tolong tenanglah sebentar aku sedang sibuk sekarang. Dan aku tidak mau menerima bantahan." Aku berkata cepat dengan masih berfokus pada buku didepanku.
"Baik Yang Mulia." Dia pun segera mundur dan pergi dari hadapanku dengan nada sedih. Aku merasa tidak enak sebenarnya, tapi sekarang ini aku memang sedang sibuk. Maafkan aku paman. Batinku merasa bersalah.
Aku tidak habis pikir bagaimana bisa paman Hong Li selalu berkata tidak ada habisnya seperti itu. Aq menggeleng-gelengkan kepalaku jika mengingatnya berbicara sangat panjang seperti tadi.
Selang beberapa menit kemudian paman Hong Li kembali menghampiriku. Aku yang masih duduk dan membaca buku harus mengalihkan pandanganku padanya.
'Ada apa lagi sekarang?.' Batinku merasa tidak enak.
"Yang Mulia guru Feng Ying sudah datang." Beritahunya padaku.
"Biarkan dia masuk."
Guru Feng Ying.
__ADS_1
Guru dari Putra Mahkota di kerajaan ini. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan Putra Mahkota asli. Umurnya 37 tahun tapi berwajah lumayan tampan. Dia suka sekali tebar persona dan menggoda setiap wanita yang ditemuinya. Astaga aku tidak bisa mempercayai semua ini. Bagaimana dia bisa menjadi guru jika sifatnya saja seperti ini. Pantas saja Putra Mahkota mempunyai sifat yang sama dengannya. Dan lagi bagaimana bisa dia menjadi guru dari seorang Putra Mahkota. Memangnya siapa yang mau mengangkatnya jadi guru?. Ah.. Tapi dia adalah seorang pendekar legendaris, meskipun hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Mungkin hal itulah yang bisa menjadikannya seorang guru.
[Ilustrasi Guru Feng Ying]
'Ternyata perasaanku itu selalu benar. Sebentar lagi akan ada hal menyebalkan terjadi.' Keluhku dengan membuang nafas lelah.
Tak lama kemudian seorang pria masuk dengan dua orang wanita yang bergelayut manja di lengan kanan kirinya.
Mulutku menganga tak percaya melihatnya.
'Astaga APA-APAAN INI?!!.' Teriakku dalam batin.
Mulutku masih terbuka melihat pemandangan yang jarang terjadi ini. Aku melihat seorang playboy yang dengan terang-terangannya membawa dua gadis dan merayunya secara bersamaan.
'Apa mereka berdua buta?. Atau otak mereka sedikit ada gangguan?. Bagaimana bisa mereka tertarik dengan seorang pria playboy seperti ini?.'
Aku memijat keningku kembali, rasanya aku yang notabenenya asli seorang perempuan merasa sebal dan jengkel jika melihat seorang playboy yang bertingkah seperti ini. Ingin rasanya aku membuatnya babak belur sekarang juga. Jiwa perempuanku meronta ingin segera menggorok kedua lengannya dan menghajar wajahnya yang sedang tersenyum menjijikkan itu.
"Salam Yang Mulia Putra Mahkota. Apakah anda baik-baik saja?. Anda terlihat pucat, ah.. Apakah anda ingin bermain sebentar dengan salah satu gadis yang kubawa seperti biasanya?." Dengan senyuman menjijikkannya dia berucap.
'Aku akan membunuhnya setelah ini.' Hatiku meronta ingin memberinya pelajaran.
Jika aku berada dalam dunia kartun sekarang, mungkin di atas kepalaku akan ada sebuah gambar diriku sedang membawa pedang dengan background api yang membara.
Kubuang jauh-jauh pikiran anehku. Tapi aku tidak bisa melihat pemandangan yang membuat mataku jadi sakit. Bagaimana tidak, guru Feng Ying sekarang malah asyik dengan kedua gadis yang dibawanya sambil sesekali bermesraan dengan mereka.
__ADS_1
"Ayolah Yang Mulia kemarilah, kita nikmati waktu belajar kita dengan ditemani oleh dua gadis cantik ini."
Habis sudah rasanya kesabaranku menghadapi orang yang tengah duduk manis dengan gadis dikanan kirinya tanpa sopan santun didepan seorang calon penguasa. Aku menghela nafas kasar.
"Bisakah kita belajar tanpa mereka hari ini guru?." Aku masih berusaha untuk bersikap sopan padanya. Walau hatiku memberontak tidak mau diajak bekerjasama. Tapi dulu saat aku masih diduniaku, aku selalu diajarkan untuk mendahulukan tata krama sopan santun pada orang yang lebih tua. Jadi saat ini aku sudah terbiasa.
"Apa kau yakin dengan kata-katamu tadi Yang Mulia?." Dia menggantikan ekspresinya menjadi serius.
'Dia cepat sekali merubah ekspresinya?. Apa dia punya dua kepribadian?.' Aku merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkannya.
"Tentu saja." Jawabku dengan mantap.
"Hah.. Baiklah kalau begitu. Kalian berdua bisa keluar dulu." Dan dua orang wanita tadi meninggalkan guru Feng Ying didalam ruangan bersama Putra Mahkota.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu guru. Jadi lain kali saja kita bermain dengan wanita lagi." Bohongku mana mungkin aku mau melakukan hal bodoh seperti itu. Itu tidak akan pernah terjadi.
"Hal serius seperti apa yang ingin anda katakan Yang Mulia?."
"Tadi pagi ada tiga orang yang menyerangku dengan sebuah anak panah. Apakah guru tahu lambang yang ada di anak panah ini?." Tanyaku padanya sambil memperlihatkan anak panah tadi.
Aku sudah tahu bila guru Feng Ying mengetahui tentang lambang itu dari buku. Lambang ular dipanah itu adalah lambang milik teman seperguruannya.
Dia terlihat terkejut saat melihat lambang itu. Dari ekspresinya aku bisa membacanya. Dan buku itu benar, bahwa dia memang tahu tentang lambang ular tersebut.
"Berapa orang yang menyerangmu?." Katanya serius masih menatap anak panah yang kini berada ditangannya.
"Tiga orang. Apakah guru tahu sesuatu?." Aku memancingnya supaya dia mengatakan suatu hal yang dia ketahui. Aku ingin tahu dia akan jujur atau tidak.
"Aku tahu, sangat tahu." Ucapnya dengan menatapku serius.
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..
__ADS_1