Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 13


__ADS_3

~Di tempat lain~


Di dalam sebuah ruangan nampak seorang pemuda dengan balutan pakaian khas seorang bangsawan tengah mondar-mandir seperti orang gila. Sesekali dia mengacak dan menjabaki rambutnya sendiri yang membuat tatanannya menjadi berantakan.


Dia melangkah dengan gusar. Dan tak sengaja malah menabrak sebuah kursi yang ada didepannya.


"ADUH!. Kakiku.. kakiku!." Teriaknya karena kakinya menyandung sebuah kursi dengan keras.


Sebenarnya salahnya sendiri berjalan tanpa melihat benda-benda yang ada disekitarnya.


Seorang pria paruh baya tampak berlari kearahnya dengan tergesa-gesa karna mendengar teriakannya.


"Yang Mulia apa anda baik-baik saja?. Ada apa dengan kaki anda?. Dia bertanya pada pemuda itu dengan heran dan khawatir, pasalnya saat ini sang pemuda tengah mengangkat satu kakinya dan meniupinya sambil berdiri.


"Ah..paman Kepala Pelayan Lie kakiku sakit karna menabrak kursi." Adunya pada pria paruh baya itu dengan wajah polos.


Sang kepala pelayan hanya menghela nafas lelah melihat tingkah laku pria muda itu. Dia tak habis pikir dengan pemuda didepannya ini. Meskipun umurnya telah memasuki usia 16 tahun, namun pemuda itu masih saja bertingkah kekanakan. Lalu dia berjalan dan menghampirinya.


"Apakah sangat sakit Yang Mulia?. Apa perlu saya memanggil tabib untuk memeriksa kaki anda?." Tanyanya sambil memperhatikan kaki yang tengah dipegang pemuda didepannya.


"Tentu saja tidak perlu paman. Aishhh.. Jangan berlebihan begitu." Pemuda itu cemberut setelah mendengar ucapan dari kepala pelayannya. Menurutnya ini bukanlah masalah yang besar dan serius lagi pula sakitnya juga akan hilang nanti.


"Lalu apa yang sebenarnya anda lakukan Yang Mulia?. Kenapa anda jadi berantakan seperti ini?. Kepala pelayan Lie sangat heran dengan kelakuan unik milik tuannya ini. Saat ini dia terlihat sangat em.. seperti anak hilang.


Rambutnya acak-acakannya, baju yang tidak lagi rapi, juga tampangnya yang murung benar-benar membuatnya seperti anak malang yang tengah hilang.


"Aku sedang bingung paman, kau tahu itu membuat kepalaku jadi pusing." Keluhnya dengan nada putus asa.


"Memangnya apa yang membuat Yang Mulia Pangeran menjadi pusing?." Paman Lie bertanya dengan penasaran pada pemuda yang ternyata dia adalah seorang Pangeran.


"Apa paman yakin ingin mengetahuinya?." Dengan sebelah alis terangkat Pangeran bertanya.


Kepala pelayannya hanya mengangguk sebagai balasan.


"Tapi ini rahasia paman, paman harus merahasiakannya ya?." Dengan nada serius.


"Em.. Baiklah Yang Mulia."


"Begini paman. Sebenarnya kejadian yang akhir-akhir ini terus terjadi pada kakak pertama itu semua adalah rencana dari ibuku." Dia mengatakannya dengan sedih.


"Maksud Yang Mulia?." Pelayannya yang tidak paham kembali bertanya.

__ADS_1


"Astaga paman. Paman tidak mendengar tentang penyerangan yang terjadi di kediaman Putra Mahkota." Gemasnya pada pelayan setianya yang lambat dalam mencerna perkataannya.


"Ah.. Kalau itu tentu saya mendengarnya Yang.. A-APA YANG ANDA TADI KATAKAN YANG MULIA?!." Pria paruh baya itu berteriak ketika telah menyadari maksud yang dikatakan tuannya.


Dengan reflek segera Pangeran tadi membungkam mulut pelayannya agar tidak didengar orang. Bisa gawat jika ada yang tahu. Lagipula dia yakin pasti ada mata-mata ibunya di kediamannya ini.


"Paman pelankan suaramu, nanti orang-orang akan mendengarnya jika kau berteriak seperti ini." Kata-kata itu membuat pelayannya mengangguk dan kembali tenang.


"Tapi bagaimana anda bisa tahu Yang Mulia?." Pelayan Lie mengecilkan volume suaranya saat kembali berbicara.


"Aku mendengarnya sendiri, saat aku ingin mengunjungi ibu kemarin malam." Jawabnya dengan lesu.


Pelayan Lie terkejut mendengar penuturan dari orang yang sudah diasuhnya sejak kecil hingga sekarang. Dia tak menyangka jika ibu dari anak unik ini memiliki tabiat yang buruk. Padahal anaknya tidak punya sifat seperti itu.


"Lalu apa yang akan anda lakukan Yang Mulia?." Pelayan Lie bertanya lagi.


"Aku harus memberi tahu kakak secepatnya agar dia bisa berhati-hati. Aku tidak mau jika dia sampai terluka karna kelakuan ibuku yang serakah itu." Ucapnya serius.


~Di kediaman Putra Mahkota~


Liliana a.k.a Xiao Hui POV


"Aku tahu, sangat tahu." Ucap guru Feng Ying serius.


Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang.


"Apa yang sedang guru lakukan?." Aku bertanya padanya.


"Dimana Putra Mahkota yang asli?." Katanya to the point dengan tatapan membunuh yang diarahkannya kepadaku.


Aku kembali terkejut dengan perkataannya, dan menatapnya dengan tajam pula.


'Bagaimana dia bisa tahu?.' Batinku terheran.


"Apa maksud dari perkataanmu guru?." Aku masih mengelak dari tuduhan yang dia berikan padaku.


"Jangan berpura-pura didepanku. Katakan dimana muridku yang asli?."


Dia menekankan suaranya dengan nada menusuk kepadaku.


Pisau yang dia bawa sedikit menggores leherku. Dan darah segar mengalir dari sana.

__ADS_1


"Cepat katakan!, jika kau tidak segera mengatakannya aku akan membunuhmu sekarang juga!." Ancam guru Feng Yi yang dilayangkannya padaku.


Aku masih diam menatapnya. Guru Feng Ying semakin geram dengan sikapku dan semakin menekankan pisaunya padaku, namun aku masih tak bergeming.


"Apa kau benar-benar ingin mati sekarang?." Tanyanya dengan nada geram, sepertinya dia sangat marah padaku.


"Jika kau ingin membunuhku lakukan saja. Lagipula aku juga tidak ingin berada di tempat ini." Habis sudah rasa sabar yang kubangun.


Aku sudah tidak peduli dengan semua ini. Bahkan aku merasa muak dengan penyamaran ini. Jika dia menginginkanku untuk mati hari ini, maka aku akan menerimanya. Sejujurnya aku memang tidak suka berada disini.


Dia menurunkan pisaunya dari leherku. Tatapannya masih syarat akan sebuah kemarahan. Aku tidak mengerti dengannya. Sebegitu besarkah rasa sayangnya terhadap Putra Mahkota yang asli?. Entahlah.


"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya padaku. Akan kucari keberadaannya sendiri. Tapi ingatlah satu hal jika kau berani melangkah satu langkah saja dari kerajaan ini, aku pastikan kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi." Dia masih mengancamku dengan kata-katanya. Tapi tetap aku masih diam dan menatapnya.


Perlahan dia membalikkan badan dan berjalan pergi dari ruangan ini. Namun sebelum melangkah keluar, dia sempat kembali memperingatiku dengan ancamannya lagi.


"Ingat apa yang tadi kukatakan padamu. Jangan sampai kau memilih hal yang hanya akan merugikan dirimu sendiri." Setelahnya dia kembali beranjak pergi dari ruanganku.


Tubuhku seketika langsung lemas dan terduduk dikursiku. Entah kenapa rasanya sangat sakit. Bukan, bukan karna goresan yang ada dileherku. Tapi perasaanku rasanya sangat sesak dan sakit.


'Kenapa hidupku selalu seperti ini.'


~Di tempat kediaman Perdana Menteri~


Lien Hua, putri dari Perdana Menteri saat ini tengah melamun. Sejak tadi pagi dia hanya mengurung dirinya didalam kamar miliknya.


Bayangan tentang Putra Mahkota yang menyelamatkannya masih berputar-putar dikepalanya seperti roll film yang sedang diputar. Lien Hua ingat dia belum mengucapkan kata terima kasih pada Putra Mahkota yang sudah menyelamatkannya.


Dia ingin pergi ke istana hari ini, namun ayahnya tak mengizinkannya untuk pergi hari ini. Itulah sebab yang membuatnya memutuskan untuk mengurung diri dikamar. Dia merasa bosan jika berada di rumah sendirian. Pelayan setianya Huanran sedang sibuk didapur membantu para pelayan lainnya menyiapkan sarapan.


Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya. Kemudian dia mengambil peralatan jahit dan juga sebuah kain yang tidaklah terlalu besar. Dia ingin membuatkan sapu tangan dengan sulaman indah khusus untuk Putra Mahkota.


Lien Hua berpikir tidaklah pantas mengucapkan kata terima kasih tanpa memberi sesuatu. Apalagi dia adalah seorang Putra Mahkota. Lien Hua juga berpikir mungkin Putra Mahkota sudah terbiasa dengan hadiah mewah, maka dari itu dia ingin memberinya sebuah hadiah yang berbeda dan istimewa.


Lien Hua sangat pandai dan mahir membuat sulaman dan menjahit. Maka dari itu, dia akan menyulam sebuah sapu tangan untuk Putra Mahkota.


'Semoga Yang Mulia Putra Mahkota menyukainya.' Batinnya berkata. Dia pun tersenyum sambil mulai menyulam.



[Ilustrasi Lien Hua sedang menyulam]

__ADS_1


Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..


__ADS_2