
Kini aku dan guru Feng Ying hanya berdua di dalam ruanganku kembali. Paman Hong Li memilih untuk keluar dari ruangan ini seperti kejadian sebelumnya.
Guru Feng Ying masih betah berdiri di tempatnya. Dia tidak menghampiriku ataupun menyapaku. Matanya menatap kearahku dengan pandangan menelisik. Dan tak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua. Membuat suasana menjadi hening dan suram.
Hal itu sukses membuatku merasa sedikit takut, meski aku tak menunjukkannya. Aku hanya berdiri di belakang mejaku dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Siapa tahu dia akan menyerangku lagi.
Guru Feng Ying bergerak setelah sekian lama berdiam ditempatnya, membuatku secara reflek juga menyiapkan pertahanan diri untuk berjaga-jaga saat dia mungkin akan melukaiku lagi. Bukannya aku berpikiran buruk padanya, tapi aku hanya ingin melindungi diriku dari bahaya. Hanya itu.
Seperti dugaanku dia menyerangku menggunakan pedang yang dia bawa secara membabi buta. Aku yang terkejut segera menghindari semua serangan yang diberikan olehnya. Tatapan matanya sangat menusuk pada diriku.
Aku berpikir apakah dia berniat membunuhku sekarang?. Serangan demi serangan dia arahkan padaku dengan lincah dan cepat. Diriku hanya bisa menghindari serangannya tanpa senjata. Dengan tangan kosong aku berusaha untuk bertahan.
Meskipun sebenarnya dadaku kembali sakit dan sesak. Apa aku punya penyakit jantung sekarang?. Kenapa sekarang aku sering merasa seperti ini?. Aku menekan dadaku dengan satu tangan berharap rasa ini akan hilang.
Gerakanku semakin lama semakin melambat. Rasanya aku sangat lemas dan tak bertenaga. Dan secara tiba-tiba aku memuntahkan cairan merah pekat dari mulutku, darah segar mengalir disudut bibirku.
Aku semakin mencengkeram dadaku. Kenapa ini sakit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Didalam otakku aku bertanya-tanya.
Guru Feng Ying menghentikan langkah juga serangannya dan beralih menatapku.
"Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan padaku?." Aku mengalah dan menanyakan maksud dari kedatangannya.
"Kondisimu ternyata sangat tidak baik. Seperti dugaanku." Dia berkata sambil menyimpan kembali pedang miliknya. Aku hanya menatapnya bingung.
Dia perlahan melangkah mendekatiku dan aku mundur beberapa langkah karna aku merasa terdesak sekarang. Bukan karna aku tidak bisa melawannya, tapi rasa sakit ini tak kunjung hilang dan itu membuatku sulit bergerak.
Guru Feng Ying mengangkat tangannya ingin mennyentuhku, namun aku menampik kasar tangannya.
"Jangan menyentuhku." Desisku marah.
Kemudian guru Feng Ying duduk berlutut di depanku. Aku sangat bingung dengan kelakuannya ini.
"Maafkan atas kesalahan dan kelancanganku karna telah melukaimu Yang Mulia." Dia berkata sambil menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu?." Aku tak mengerti kenapa dia berubah menjadi seperti ini?. Bukankah dia sudah tahu jika aku bukanlah Putra Mahkota yang asli?. Lalu kenapa sekarang dia malah melakukan ini.
__ADS_1
"Anda memang bukanlah Putra Mahkota yang asli tapi anda adalah reinkarnasi dari dirinya." Jelasnya padaku, masih dengan menundukkan kepalanya.
"Bagai... mana kau tahu hal itu?." Diriku terkejut mendengar perkataannya. Bagaimana bisa orang ini tahu?. Darimana dia tahu?.
"Itu tidak penting sekarang. Kita sembuhkan dirimu dulu. Lalu aku akan menceritakannya padamu." Guru Feng Ying serius kini dia menatapku.
Aku melihat kedua matanya mencoba mencari jawaban dari apa yang dikatakannya. Kejujuran atau kebohonganan. Dan aku menemukan sebuah jawaban. Tidak ada keraguan dari sorot matanya yang membuatku yakin dia tidak sedang berbohong padaku.
~Malam hari~
Malam ini aku berada dihalaman belakang kediamanku. Aku dan guru Feng Ying sedang berlatih. Setelah tadi dia membantuku untuk merapikan semua elemen yang ada pada diriku. Dia menempatkan semua elemen itu dengan baik didalam tubuhku. Membuat kondisiku menjadi sangat baik sekarang. Rasa sakit didadaku pun juga sudah hilang.
Kami berlatih dengan pedang. Karna aku belum bisa menggunakan elemen yang kumiliki. Tubuhku masih terlalu lemah untuk menggunakannya sekarang. Jadi kami berdua memilih berlatih dengan pemanasan fisik saja.
"Hah... Hah... Hah..." Nafas kami berdua terengah-engah saking lamanya berlatih, dari sore hingga malam tanpa henti.
Akhirnya kami mengakhiri latihan ini. Tubuhku juga sudah sangat lelah. Mungkin karena aku jarang bergerak akhir-akhir ini. Rasanya tulang-tulangku sangat kaku untuk digerakkan.
"Bisa kau jelaskan sekarang guru?!." Tanpa berbasa-basi terlebih dulu aku meminta penjelasan darinya.
Bahkan jendral Yong yang sudah kembali ke sini pun melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka tidak pernah menyangka aku bisa menguasai ilmu bela diri.
Namun aku tak menghiraukan mereka. Aku memilih untuk mendudukkan diriku diatas rumput hijau ini.
"Kau sangat penasaran ya?." Dia malah balik bertanya.
Tentu saja aku sangat penasaran, jika tidak mana mungkin aku bertanya padanya sekarang.
"Hm..." Gumamku.
"Aku mendengarnya ketika kau berbicara kemarin malam." Jawabnya.
Membuatku langsung mengalihkan perhatianku padanya.
~Di tempat lain~
__ADS_1
"Yang Mulia Selir Jiang hamba sudah melaksanakan apa yang anda perintahkan." Pria paruh baya itu duduk berlutut di depan seorang wanita.
"Bagus. Dengan begini akan memudahkan rencanaku untuk membuat anakku Pangeran Xiao Chen menjadi penerus tahta kerajaan ini." Selir Jiang tersenyum licik saat mengatakannya.
"Ah... Bukankah kau punya seorang anak perempuan Wakil Perdana Menteri?." Lanjutnya bertanya.
"Iya Yang Mulia. Kenapa anda menanyakan hal itu?." Tanya Wakil Perdana menteri bingung.
"Aku ingin anakmu menikah dengan Pangeran Xiao Chen, putraku."
Wakil Perdana Menteri menatap wanita didepannya ini dengan wajah tidak percaya.
"Baik Yang Mulia. Terima kasih atas kemurahan hati anda." Pria itu memberi hormat pada Selir Jiang yang tengah tersenyum kearahnya. Terlihat dia juga sangat senang dengan tawaran yang diberikan oleh Selir Jiang.
~Di kediaman Pangeran Xiao Chen~
Terlihat seorang pemuda tengah menatap pelayan didepannya dengan wajah tidak percaya.
[Ilustrasi Pangeran Xiao Chen]
"Apa yang barusan kau bilang paman?. Ayah akan mengirim Yang Mulia Putra Mahkota untuk berperang?!." Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya dengan apa yang tadi didengarnya dari pelayan setianya.
"Iya Yang Mulia." Pria paruh baya itu membenarkan pertanyaan dari pemuda yang sudah menjadi tuannya ini.
"Astaga... Ibuku benar-benar sangat keterlaluan. Dia sampai melakukan hal seperti ini." Pangeran Xiao Chen mengepalkan tangannya dan meninju meja didepannya.
"Aku tidak bisa diam saja melihatnya melakukan semua ini pada kakakku. Aku akan menghentikannya dan melindungi kakakku." Wajahnya menunjukkan dia sangat marah.
"Yang Mulia... Apa yang akan anda lakukan?. Hamba takut anda akan terluka jika melawan ibu anda." Nada khawatir dan cemas ditunjukkan oleh pria paruh baya yang notabenenya adalah pelayannya.
"Paman tenang saja. Apapun akan aku lakukan untuk kakak. Ibu tidak berhak mengusiknya ataupun mengusik diriku. Dia terlalu berambisi dalam kekuasaan dan itu membuatku muak padanya. Ibu tidak pernah sekalipun memperlakukan diriku sebagai anaknya. Dia hanya menganggapku sebagai pion dalam permainan catur rencananya." Terselip rasa sedih dibibirnya saat mengatakan semua itu.
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..
__ADS_1