Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 15


__ADS_3

Guru Feng Ying POV


Sekarang aku tengah mengintai di tempat perguruan dengan lambang ular. Aku berada diatas atap sambil melihat gerak gerik dari orang-orang yang ada disini.


Perguruan dengan lambang ular sebenarnya adalah perguruan yang didirikan oleh teman seperguruanku dulu.


Dulu saat aku masih sangat kecil aku diasuh oleh seorang pertapa bernama Haocun. Namun bukan hanya aku saja anak yang diasuhnya, melainkan ada Liu Min dan Tong Mu.


Sejak kecil kami berlatih ilmu bela diri bersama. Guru Haocun sangat menyayangi kami bertiga. Namun disaat umur kami sudah menginjak 20 tahun, guru Haocun wafat.


Sebelum meninggal dia memberikan aku, Liu Min dan Tong Mu sebuah pusaka yang masing-masing memiliki sebuah lambang.


Aku mendapat sebuah pedang dengan lambang burung Rajawali, Liu Min mendapat pedang dengan lambang ular dan Tong Mu mendapat pedang berlambangkan kera.


Guru kami meminta kami mendirikan sebuah perguruan dengan berlambangkan pusaka yang telah diberikannya pada kami bertiga.


Setelah guru tiada, kami pun menjadi seorang pengembara. Kami berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing.


Sudah 17 tahun kami terpisah dan diriku hanya tahu kabar dari temanku Liu Min. Dia mendirikan sebuah perguruan besar di pusat kota. Dia mempunyai banyak murid yang belajar padanya. Sedangkan Tong Mu aku tidak tahu dia ada dimana sekarang.


Sedangkan aku sendiri hanya memiliki satu orang murid. Dia adalah seorang Putra Mahkota di kerajaan ini. Alasan kenapa aku tidak membuat sebuah perguruan adalah karna aku bertekad hanya akan mencari seorang murid saja yang akan meneruskan ilmuku.


Meskipun begitu, Putra Mahkota ternyata bukanlah orang yang mudah untuk diajari. Dia adalah anak pemalas sejati jika berhubungan dengan ilmu beladiri. Tapi apa boleh buat Raja sendiri yang menyuruhku untuk menjadi gurunya. Mau tidak mau aku harus menyanggupinya.


Sedikit demi sedikit aku berusaha mengerti dengan sifat yang Putra Mahkota miliki. Namun sayang hingga sampai saat ini dia tidak mau juga dan masih keras kepala tidak mau belajar ilmu dariku.


Dia hanya mau mempelajari elemen miliknya yang memang menurun dari sang Raja, ayahnya. Putra Mahkota sangat pandai dalam melatih ilmu elemennya. Dan dia sudah mencapai level yang cukup tinggi diumurnya yang masih sangat muda.


Aku kembali terfokus saat melihat teman lamaku Liu Min bersama dengan seorang pejabat tengah berjalan berdua. Sepertinya mereka sedang mencari sebuah tempat untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting.


Diriku berusaha mendekati mereka agar dapat mendengar pembicaraannya dengan jelas. Dengan hati-hati aku berjalan sambil bersembunyi di balik tembok. Dan akhirnya aku bisa mendengar suara keduanya.


"Jadi apalagi rencana yang akan Selir Jiang lakukan setelah sebelumnya menyuruhku untuk membantunya melenyapkan Putra Mahkota itu?."


"Dia berencana mengirimkan Putra Mahkota untuk ikut berperang membantu kerajaan Lin."


"Apa menurutnya itu akan berhasil?."


"Entahlah.. Yang pasti dengan kemampuan Putra Mahkota yang masih di bawah rata-rata kemungkinan dia tidak akan bisa selamat."


"Bukannya dia telah selamat dan menang saat melawan anak buahku yang menyerangnya malam itu?."


"Kau kan hanya menyuruh anak buahmu yang ilmunya masih setara dengan pengawal biasa. Tentu saja dia bisa menang."


"Tidak juga. Sebenarnya tingkatan ilmu anak buah yang kukirimkan pada Putra Mahkota berada diatas rata-rata."


"Mungkin itu hanya karena keberuntungan saja dia bisa selamat. Dan ini upahmu karna telah membantu lagi pada pagi ini. Panah itu memang tidak mengenai Putra Mahkota. Tapi itu hanyalah sebuah ancaman terakhir untuknya. Kalau begitu aku pergi dulu Liu Min."


"Baiklah kalau begitu tuan Wakil Perdana Menteri."


Deg. Dia terkejut mendengar percakapan antara kedua orang itu. Tak disangka teman seperguruannya ternyata melakukan sebuah kejahatan.


Dengan masih dalam keterkejutannya guru Feng berlari pergi dari sana. Sekarang juga dia harus menemui orang yang saat ini tengah menggantikan Putra Mahkota di kediamannya. Dia bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju istana.


Liliana POV


Aku hanya bisa pasrah dan kembali terduduk. Tidak mungkin juga aku akan pergi dengan kondisiku yang seperti ini. Aku berubah lagi jadi seorang perempuan. Dewa ini benar-benar sangat menyebalkan.


Dengan seenaknya dia mengubahku jadi laki-laki lalu kembali jadi perempuan lagi. Bagaimana jika ada orang yang melihatnya dan tahu aku adalah seorang perempuan?. Mungkin mereka akan memisahkan kepalaku dari tubuhku.


Suasana hatiku yang sudah buruk kini bertambah lebih buruk dengan kehadiran makhluk ini. Aku tak habis pikir kenapa dia selalu saja datang menemuiku disaat-saat yang tidak tepat.


"Jadi apa saja yang sudah kau ketahui hm?." Dia bertanya dengan tampang sok lugu. Dan itu menambah rasa keinginanku untuk menghancurkan wajahnya. Sabar, sabar. Aku berusaha menahan diriku agar tak melakukan hal bodoh padanya.


Aku menghembuskan nafas sebelum menjawab pertanyaannya.


"Aku tahu diriku sebenarnya adalah reinkarnasi dari Putra Mahkota dimasa depan. Benarkan?."


"Hanya itu?." Dia mengangkat satu alisnya.


"Dan itu adalah alasan kenapa akulah yang harus menggantikannya disini."


"Coba kau jelaskan!." Dia bertanya dengan wajah tertarik ingin mendengarkanku bercerita.


"Aku tidak mau." Kataku cuek.


"Kenapa?."

__ADS_1


"Bukannya kau sudah tau semuanya. Untuk apa aku membuang waktu untuk menceritakannya padamu."


"Iya.. Iya. Tapi apa kau tahu mengapa aku menghukum Putra Mahkota itu?." Dia sepertinya mulai kesal kembali denganku namun masih berusaha menahannya.


"Aku tidak mencari tahu serinci itu. Karna apapun alasannya, itu hanya akan menambah beban pikiranku." Kataku apa adanya.


"Begitukah?." Dia tersenyum hambar.


Aku tidak menanggapinya. Tanpa aku menjawabnya, aku yakin dia sudah tahu apa jawabanku.


"Apa kau tahu dalam seribu tahun sekali seseorang akan bereinkarnasi menjadi wanita jika dia seorang laki-laki dan sebaliknya."


"Maksudmu?." Aku bertanya acuh padahal tadi aku memang tidak mendengarnya.


"Seorang laki-laki akan bereinkarnasi menjadi perempuan dalam seribu tahun sekali. Begitupun sebaliknya, jika dia seorang perempuan maka dia akan bereinkarnasi menjadi laki-laki." Jelasnya sambil menerawang ke depan.


"Hm.." Aku hanya menggumam padanya.


"Kenapa kau berbohong padaku?." Tiba-tiba aku mengungkit cerita lama saat dia membawaku kesini dengan dalih ingin menghukumku.


"Bukan dia yang berbohong padamu. Tapi aku." Suara seseorang dari jauh.


Orang berpakaian serba hitam itu berjalan menghampiri kami berdua. Satu lagi sosok makhluk aneh datang. Dengan gaya sok coolnya dia berjalan. Aku hanya memandangnya datar.


"Maafkan aku telah membohongimu. Sebab aku yakin kau akan menolak kami bawa kesini untuk menggantikan anak Raja itu." Dengan berdiri didepanku sambil melipat tangannya dia berbicara. Tampak sekali dia tidak merasa bersalah.


"Kalian ini aneh sekali. Bukankah kalian ini seorang Dewa?. Kalian bisa saja menyeretku kesini jika aku menolak. Apakah sangat sulit melakukannya?."


'Ya ampun gadis ini benar-benar!.' batin mereka kesal mendengar kata-kataku.


"Aishh.. Kau itu gadis yang menyebalkan!." Dewa Kematian akhirnya ikut kesal karna diriku.


"Em.. Bagaimana kalau kami menyanyikan sebuah lagu untukmu sebagai tanda permintaan maaf kami karna kami telah berbohong padamu?." Saran Dewa Reinkarnasi.


"Berikan saja aku buku pribahasa dan akan aku terima permintaan maaf kalian." Aku memberikan syarat lain.


"Tidak bisa!." Ucap mereka kompak.


"Huh.." Aku hanya mendengus sebal.


"Tenang saja. Kau pasti akan menyukai suara kami." Dewa Reinkarnasi mencoba membujukku.


"Baiklah.. Baiklah terserah kalian saja." Aku kembali mengalah dari dua makhluk aneh itu.


Mereka berdua memegang gitar yang entah darimana mereka dapatkan. Kemudia keduanya saling berpandangan sebentar. Dan mulai mengeluarkan suaranya.


[Dewa Reinkarnasi]


nae nargeun gitareul deureo haji mothan gobaegeul


hogeun gojipseuresamkin iyagireul


[Dewa Kematian]


norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo


geunyang deureoyo I’ll sing for you


[Dewa Reinkarnasi]


neomu saranghajiman saranghanda mal an hae


eosaekhae jajonsim heorak an hae


[Dewa Kematian]


oneureun yonggi naeseo na malhal tejiman


musimhi deureoyo I’ll sing for you


[Dewa Reinkarnasi]


The way you cry, the way you smile


naege eolmana keun uimiin geolkka?


hagopeun mal, nohchyeobeorin mal

__ADS_1


[Dewa Kematian]


gobaekhal tejiman geunyang deureoyo


I’ll sing for you, sing for you


geunyang hanbeon deutgo useoyo


[Dewa Reinkarnasi]


jogeum useupjyo naegen geudae bakke eomneunde


gakkeumeun namboda mothan na


[Dewa Kematian]


sasireun geudae pume meorikareul bubigo


angigo sipeun geonde marijyo


[Dewa Reinkarnasi]


The way you cry, the way you smile


naege eolmana keun uimiin geolkka?


doraseomyeo huhoehaetdeon mal


[Dewa Kematian]


sagwahal tejiman geunyang deureoyo


I’ll sing for you, sing for you


amureohji anheun cheokhaeyo


[Dewa Reinkarnasi]


maeil neomu gamsahae geudaega isseoseo


sinkkaeseo jusin nae seonmul


[Dewa Kematian]


oneuri jinamyeon nan tto eosaekhae haljido


hajiman oneureun kkok malhago sipeo


geureoni deureoyo


[Dewa Reinkarnasi]


The way you cry, the way you smile


naege eolmana keun uimiin geolkka?


hagopeun mal, nohchyeobeorin mal


[Dewa Kematian]


gobaekhal tejiman jom eosaekhajiman


geunyang deureoyo I’ll sing for you, sing for you


geunyang deureoyo I’ll sing for you


[EXO-Sing For You]


Aku tahu mereka berdua ingin menghiburku sekarang. Suara mereka cukup indah untuk didengar. Aku tersenyum tipis melihat keduanya. Entah kenapa hatiku rasanya menjadi lebih baik. Aku merasa sedikit bahagia.


Biasanya jika diriku tengah dilanda kekalutan batin dan pikiran, aku hanya sendirian tanpa siapapun. Tapi hari ini dua Dewa itu telah menemaniku dalam kesepianku. Terima kasih. Malam ini akan menjadi kenangan yang akan selalu aku ingat.


Karna aku tidak tahu kapan lagi bisa merasakan hal seperti ini kembali. Diam-diam aku bersyukur pada Tuhan telah menyelipkan sedikit kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan dulu.


Aku hanyut dalam lagu yang mereka berdua nyanyikan. Akan kubiarkan untuk malam ini hatiku melepaskan segala hal yang membuatnya lelah dan menderita. Aku akan menikmati setiap momen ini yang mungkin tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.


Dua Dewa itu bernyanyi sambil saling berpandangan sebentar kemudian tersenyum misterius. Mereka berdua tahu, ada seseorang yang tengah mengintip dan melihat mereka didalam persembunyiannya.

__ADS_1


Tapi keduanya membiarkannya. Prioritas mereka saat ini adalah membuat gadis itu tidak terlarut dalam kesedihan yang selalu menempel padanya. Untuk hari ini saja biarkan dia sedikit terhibur dengan apa yang mereka berdua lakukan.


Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..


__ADS_2