
~Di Kediaman Putra Mahkota~
Aku berjalan tertatih menuju kekediaman Putra Mahkota yang kini menjadi milikku. Untung saja tidak ada pelayan ataupun pengawal yang kutemui. Mungkin saat ini mereka sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.
Hari memanglah sudah sore dan sebentar lagi malam akan menjelang. Aku berusaha berjalan selangkah demi selangkah.
Akhirnya aku pun sampai juga. Aku melihat wajah khawatir dan cemas dari paman Hong Li juga Jendral Yong. Paman Hong Li sedang mondar-mandir seperti gansing yang membuatku pusing walau hanya dengan melihatnya. Mulut cerewetnya mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali.
"Yang Mulia.. Anda dimana?. Kenapa tidak kembali juga dari tadi?. Yang Mulia.."
Dan Jendral Yong hanya menekuk wajahnya sedih sambil menunduk melihat ke bawah. Entahlah apa yang menarik pengelihatannya disana.
Mereka berdua tidak menyadari kedatanganku, kedua orang itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku menggeleng pelan melihat kelakuan unik mereka. Dan tersenyum kecil.
Aku berjalan mendekatiku keduanya. Seraya berkata "Sedang memikirkanku?."
Sekali lagi aku membuat mereka terkejut. Namun sebelum rasa terkejut mereka hilang, aku malah menambah rasa terkejut mereka dengan tubuhku yang tiba-tiba akan terjatuh. Untung saja Jendral Yong dengan sigap menahan tubuhku. Jika tidak, sudah kupastikan mungkin aku tidak bisa berdiri lagi. Saat ini tubuhku benar-benar tidak punya tenaga.
"YANG MULIA.." Dan entah ini yang keberapa kali paman Hong Li berteriak. Aku tahu dia terkejut saat aku akan terjatuh, tapi tidak perlu juga dia harus berteriak didekat telingaku.
"Astaga paman, jangan berteriak di dekat telingaku. Kau membuatnya berdengung dengan suara tinggimu." Kataku sambil menutup salah satu telingaku yang berdengung.
"Yang Mulia apa anda baik-baik saja?. Kenapa baju anda basah begini?. Yang Mulia anda pergi kemana tadi?. Apa yang terjadi pada anda?. Yang Mulia tolong jawab saya." Paman Hong Li bertanya heboh dan itu menambah rasa pusing dikepalaku muncul.
"Sudahlah Kepala Pelayan. Lebih baik kau siapkan baju ganti untuk Yang Mulia. Aku akan membawanya masuk." Jendral Hong berucap, mungkin dia juga tidak suka jika mendengar paman Hong Li kembali mengoceh ria dengan pertanyaannya.
Dengan terpaksa paman Hong Li pergi meninggalkan aku dan Jendral Yong. Dan kami berdua masuk ke dalam dengan Jendral Hong Li yang memapah diriku. Dan mendudukan diriku di tempat tidur.
"Anda baik-baik saja Yang Mulia?." Jendral Yong bertanya dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja." Bohongku, mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Yah, setelah tinggal disini aku jadi suka berbohong padahal dulu aku tidak begini.
Paman Hong Li datang dengan membawa pakaian ganti untukku. Tapi aku tak bisa bergerak hanya untuk sekedar berjalan dan berganti pakaian.
Aku mencoba bangun dan meraih pakaian yang diberikan paman Hong Li. Baru juga beberapa langkah aku berjalan tiba-tiba semuanya jadi gelap dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.
~Di kediaman Perdana Menteri~
Lien Hua pulang ke rumahnya setelah diperiksa oleh tabib kerajaan. Ayah dan kakaknya langsung menyambutnya kala mengetahui apa yang baru saja dialami oleh Lien Hua.
Saat ini dia tengah beristirahat di dalam kamarnya. Setelah tadi mendapatkan banyak pertanyaan dari ayah, ibu juga kakaknya. Dengan nada yang syarat akan rasa cemas dan khawatir.
Namun Lien Hua mengatakan dia baik-baik saja. Dan rasa lega akhirnya menghampiri ketiganya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu harus lebih berhati-hati lagi putriku." Kata Perdana Menteri menasihati anaknya.
"Maafkan aku telah membuat kalian cemas dan khawatir. Tapi aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat." Dengan lembut Lien Hua berucap, agar seluruh keluarganya tidak merasa khawatir lagi.
"Apa benar Yang Mulia Putra Mahkota yang telah menyelamatkanmu?." Kakakku bertanya dengan heran.
"Iya kak. Dia juga memberikanku tenaga dalamnya setelah menyelamatkanku. Tapi.." Jelasnya dengan raut yang berubah sedih.
"Tapi kenapa Lien Hua?." Ibu Lien Hua bertanya dengan heran.
"Sepertinya Yang Mulia terluka. Saat setelah dia memberikan tenaganya kepadaku, dia memuntahkan darah." Lien Hua berkata dengan nada sedih.
"Apa mungkin?." Perdana Menteri menerka.
"Hanya ada satu cara memastikannya ayah?." Anak laki-lakinya menyahuti ucapannya.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita keluar dari sini dan membiarkan Lien Hua beristirahat. Dan lagi malam sudah larut. Kita bicarakan saja hal ini lain kali. Jika benar Yang Mulia memang menyelamatkan dirimu, kau harus berterima kasih padanya Lien Hua." Ibunya berucap dengan lembut sambil mengusap kepala putrinya.
Lien Hua hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Dan mereka bertiga pun meninggalkan Lien Hua sendirian di dalam kamar.
Setelah kepergian dari ayah, ibu dan kakaknya Lien Hua tidak langsung menutup matanya, dia masih masih mengingat kejadian yang tadi menimpanya. Dia mengingat sang penyelamat hidupnya sambil berbaring di tempat tidurnya. Lien Hua mengkhawatirkan keadaannya.
[Ilustrasi Lien Hua]
Tapi dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Meskipun saat ini tubuhnya telah baik-baik saja karna tenaga yang diberikan oleh Putra Mahkota. Perlahan dia pun terlelap dalam tidur nyenyaknya.
'Semoga Yang Mulia baik-baik saja.' Harapnya sebelum tidur.
~Di luar kediaman Lien Hua~
"Ayah.. Apakah itu mungkin?." Tanya putra Perdana Menteri.
"Entahlah.. Ayah tidak tahu, tapi yang pasti belum pernah ada yang bisa menyalurkan tenaga pada Lien Hua selain ayah, bahkan kau saja tidak bisa. Bukankah itu aneh?" Kata Perdana Menteri sambil menatap bulan diatas langit.
Akhirnya anak dan ayah itu hanya terdiam dengan pikiran, sambil melihat indahnya langit malam ini.
~Di lain tempat~
"Jadi kenapa kau bisa gagal?." Ucap seorang wanita dengan mendesis berusaha menahan amarahnya.
"Maafkan hamba Yang Mulia Selir Jiang. Tapi saya sudah melakukan perintah seperti yang anda katakan. Tapi saya tidak mengira jika Putra Mahkota bisa melawan bawahan yang saya kirimkan untuk membunuhnya." Kata pria yang kini tengah bersujud di depan wanita itu.
__ADS_1
[Ilustrasi Selir Jiang]
Wanita itu mencengkeram gelas berisi teh hangat dimejanya. Dia sangat marah mendengar kabar dari bawahannya itu.
"Aku pikir akan mudah untuk menyingkirkannya dari tahta. Tapi ternyata diluar perkiraanku, sekarang dia bertambah kuat." Selir Jiang berkata serius.
"Maafkan hamba Yang Mulia." Sekali lagi pria itu memohon pengampunan dari wanita yang berstatus selir itu.
"Jadi rumor tentang Putra Mahkota itu benar?. Baiklah jika cara seperti ini tidak bisa melenyapkannya, aku akan menggunakan cara lain." Sambil menyeringai kejam dia bersuara.
"Yang Mulia, saya mendengar bahwa Raja dan Ratu juga sudah mengetahui tentang hal ini. Jadi hamba mohon anda harus berhati-hati." Pesan pria itu masih dengan bersujud di depan wanita yang tengah duduk itu.
"Kau tidak perlu khawatir Wakil Perdana Menteri, aku sudah menyiapkan sebuah rencana yang akan membuat semua orang terkejut." Dia meminum tehnya dan menampilkan senyum kemenangan setelahnya.
Tanpa mereka sadari, diluar ruangan ada seorang pemuda tengah berdiri mematung setelah mendengar percakapan dua orang itu dari dalam. Dia mendengar pembicaraan tadi dari awal sampai akhir dan membuatnya pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.
~ Di kediaman Putra Mahkota~
Liliana a.k.a Xiao Hui POV
Aku merasakan tubuhku dalam kondisi lebih baik daripada tadi. Walaupun aku belum bisa membuka mataku. Samar-samar aku mendengar percakapan antara dua orang.
'Apa Yang Mulia baik-baik saja?. Apakah dia terluka parah?. Apakah aku perlu memanggil tabib istana?. Astaga Yang Mulia apa yang sebenarnya terjadi padamu?.'
Dan aku yakin orang yang tengah heboh itu adalah paman Hong Li. Aku tahu dia sangat perhatian padaku. Namun tidak harus seperti itu juga.
'Yang Mulia hanya kehabisan tenaga dalam dan energinya terkuras sangat banyak. Dia hanya perlu istirahat. Lagipula aku sedang menyalurkan tenaga dalam kepadanya. Jadi kau tidak perlu khawatir. Ambilkan saja dia obat penambah stamina. Itu akan membantunya cepat pulih.'
Dan yang ini adalah suara Jendral Yong. Tapi apa yang dia bilang tadi?. Menyalurkan tenaga?.
Aku langsung saja membuka mataku dengan paksa. Diriku saat ini tengah duduk bersila di atas kasur. Sontak saja saat aku membuka mata paman Hong Li kembali membuat suasana yang tenang menjadi ramai dengan suaranya.
"Yang Mulia.. Astaga anda sudah bangun!. Apa ada yang sakit Yang Mulia?. Yang Mulia hamba sangat mengkhawatirkan anda tadi. Tapi syukurlah sekarang anda baik-baik saja." Dia berkata sambil meneteskan air mata.
Aku yang melihatnya seperti ini menjadi sedikit terharu. Ternyata masih ada orang lain yang memperhatikan diriku. Yah meskipun sebenarnya bukan untukku, tapi aku tetap merasa senang.
Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan melihat Jendral Yong tengah menyalurkan tenaga dalamnya padaku.
"Yang Mulia tolong jangan banyak bergerak dulu hamba mohon." Dia berkata dengan serius membuatku mau tak mau harus kembali keposisiku yang tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada anda Yang Mulia?. Kenapa bisa tenaga dan energi anda terkuras habis seperti ini?." Tanyanya padaku.
__ADS_1
Paman Hong Li ingin kembali bertanya juga. Namun aku segera menyahut lebih dulu.
"Ah.. aku sangat lelah sekarang." Aku menutup mataku tak menghiraukan pertanyaan yang susah untukku jawab. Aku memilih untuk tidur kembali dalam keadaan terduduk.