
Pagi ini aku terbangun lebih awal. Suara langkah kaki para pelayan yang sedang kesana kemari membuatku harus mengurungkan niat untuk beristirahat lebih lama.
Aku masih berada di dalam kamarku. Sambil membuka buku berwarna biru tua pemberian Dewa Reinkarnasi. Aku duduk diatas kasurku dan membaca buku itu.
Halaman pertama.
Cari dan bantulah :
'Gajah ditelan ular lidi. Air diminum serasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Bagai pungguk merindukan bulan. Namun jauh di mata, dekat di hati. Meskipun sebenarnya bagaikan laksana garam dengan asam.'
Batas waktu 7 hari.
Aku membulatkan mataku, dalam satu lembar buku ini hanya ada beberapa kalimat. Dan hanya dalam waktu 7 hari aku harus bisa menyelesaikannya. Tanpa ada penjelasan, hanya sebuah kalimat yang tidak masuk akal. Aku memijat keningku.
'Apa-apaan ini?. Aku tidak suka teka-teki. Ini sangat menyebalkan. Apa Dewa itu tidak tahu jika aku tidak suka dengan sebuah pribahasa. Meskipun aku pernah membaca buku pribahasa, tapi aku tak pernah mengingatnya. Karna aku memang tidak suka.'
"Ini masih pagi tapi aku malah dibuat pusing gara-gara buku ini." Aku mendumel sendiri.
Aku berjalan ke luar ruangan ini untuk mencari udara segar di pagi hari dan menghilangkan kacaunya pikiranku sekarang. Yah, aku dulu memang memiliki otak yang berada diatas rata-rata. Tapi aku tidak pernah menyukai sebuah kalimat teka-teki ataupun pribahasa, bagiku semua itu menyebalkan. Jadi aku jarang mempelajarinya.
Terlihat matahari masih malu-malu untuk menunjukkan wujudnya. Aku berdiri memandang sekitar. Sinar matahari bahkan belum juga sepenuhnya menyinari.
Aku menatap yang langit masih agak gelap. Aku menghembuskan nafas lelah.
"Yang Mulia sedang apa anda disini pagi-pagi sekali?." Jendral Yong menghampiriku dan berdiri disampingku setelah memberikan hormat.
"Hanya sedang mencari udara segar." Jawabku seadanya tanpa memandangnya.
"Bukankah seharusnya anda beristirahat lebih banyak Yang Mulia?. Kondisi anda masih belum pulih sepenuhnya." Sepertinya dia mengkhawatirkan Putra Mahkota.
Aku menoleh kearahnya. Dia terlihat sudah sangat tapi dengan baju seragam yang melekat pas dibadannya.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri?. Pagi-pagi begini kau juga sudah rapi." Aku malah balik bertanya padanya.
"Saya akan pergi bersama dengan jendral lain untuk melatih para pengawal Yang Mulia. Beberapa hari lagi Yang Mulia Raja akan mengirimkan bantuan pada Kerajaan Lin untuk membantunya berperang melawan Kerajaan Shin." Jelasnya padaku.
"Ah begitu.. Jadi kenapa kau malah kesini mengujungiku?." Kataku mulai mengintrogasinya.
"Hamba kesini ingin bertanya pada Yang Mulia tentang keadaan anda kemarin. Bagaimana tenaga dan energi anda bisa habis begitu saja?. Padahal saat anda akan pergi, anda masih baik-baik saja. Hamba mohon tolong jawab pertanyaan hamba Yang Mulia." Katanya cepat.
"Memangnya kenapa?." Aku bertanya kembali dan bukan jawaban yang aku berikan.
"Yang Mulia.." Jendral Yong sepertinya sedikit kesal padaku. Tapi dia tetap menahannya dan masih bersikap sopan padaku.
"Lain kali saja kita akan membahasnya. Suasana hatiku sedang tidak baik sekarang." Ucapku dengan memasang wajah serius.
__ADS_1
Jendral Yong menatapku dalam. Aku masih memasang ekspresi yang sama.
"Baiklah Yang Mulia. Maafkan hamba." Sambil menunduk hormat dia berkata.
"Pergilah kau akan terlambat nanti." Kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Yang Mulia. Tolong jaga kesehatan dan diri anda." Aku mengusirnya secara halus tapi ternyata berhasil.
Aku menghela nafas di waktu yang masih pagi, kata orang ini berarti aku membuang satu keberuntungan di hari ini. Tapi aku tidak pernah mempercayai hal itu.
"Gajah ditelan ular lidi?." Aku menggumam sambil mengingat apa yang dimaksud dengan kalimat itu.
'Sepertinya aku pernah membacanya, tapi aku tak ingat artinya.' Batinku ikut berpikir.
"KAKAK!!." Dan sebuah teriakkan mengacaukan segala pemikiranku tentang 'gajah ditelan oleh lidi'.
Aku melihat Xiao Ching berlari menuju kearahku dan memelukku.
'Dia suka sekali mengejutkanku. Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung.' Sambil mengelus dadaku yang berdetak cepat karna terkejut.
SYUTTTTT SYUTTTTT SYUTTTTT.....
Tiga anak panah melesat ke arahku dan Xiao Ching. Dan cepat aku membawa Xiao Ching yang masih memelukku pergi menghindar. Tapi na'as salah satu anak panahnya mengenai satu pengawalku yang sedang berjaga disana. Dua diantaranya menancap pada pohon dan mengenai tembok bangunan.
Mata tajamku melihat kearah atap bangunan kediamanku, disana aku melihat tiga orang berpakaian hitam dengan busur juga panah ditangan mereka. Ketiganya langsung kabur, saat tahu jika yang dilakukannya sudah ketahuan.
"Xiao Ching kau tidak apa-apa?." Aku berkata lembut padanya.
Para pelayan juga pengawalku dan Xiao Ching terkejut melihat kejadian tadi. Mereka berbondong-bondong mendatangi kami berdua. Dan para pengawal bersiaga melindungi diriku dan Xiao Ching.
"Kakak.. Aku takut." Dia berkata dengan nada bergetar. Sepertinya dia sangat ketakutan.
"Tidak apa-apa semuanya baik-baik saja sekarang. Kakak disini tidak perlu takut." Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap kepalanya.
"Yang Mulia apa anda dan Yang Mulia Putri baik-baik saja?." Paman Hong Li bertanya sambil berlari menghampiri kami berdua bersama beberapa pelayan.
"Yang Mulia Putri anda tidak apa-apa?." Pelayan Xiao Ching bertanya khawatir.
Xiao Ching masih enggan melepaskan pelukannya padaku. Kutepuk pelan punggungnya agar dia bisa tenang.
"Paman Hong Li panggilkan tabib untuk mengobati pengawal yang terluka karna terkena panah tadi." Perintahku yang langsung dilakukan oleh paman Hong Li.
"Baik Yang Mulia." Dan segera dia berjalan pergi.
"Xiao Ching.." Aku melepaskan pelukannya perlahan. Kutatap lembut dirinya. Ah, seperti ini ternyata rasanya mempunyai seorang adik.
__ADS_1
"Jangan takut. Kakak tidak akan membiarkanmu terluka." Aku berucap tulus padanya. Aku merasa harus melindungi gadis kecil yang manis ini. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.
Dia tersenyum melihatku perlahan rasa takutnya memudar, meskipun belum sepenuhnya hilang.
"Sekarang kembalilah ke kediamanmu. Kau masih punya jadwal belajar sastra bukan?. Kakak juga akan belajar jadi pulanglah." Aku menyuruhnya pulang karna takut jika kejadian tadi terulang kembali. Saat ini di kediamanku sangatlah tidak aman.
"Kakak aku ingin memberikanmu ini." Dia berkata dengan menyerahkan bungkusan sedang berwarna merah padaku.
"Apa ini?." Aku yang tidak tahu pun bertanya tapi tetap menerima pemberiannya.
"Itu permen dan beberapa gulali beku manis yang aku bawakan bersama kakak Xiao Lu saat kemarin pergi ke luar istana. Bukanlah kakak kemarin memintaku dan kak Xiao Lu membawakan oleh-oleh makanan yang manis. Tapi maafkan aku jika baru bisa memberikannya pagi ini."
"Ah jadi begitu.. Terima kasih. Pasti kau lelah kemarin setelah berkeliling. Tidak apa-apa." Aku berucap sambil tersenyum manis.
"Kakak.. " panggil Xiao Ching.
"Hmm." Aku hanya menggumam sebagai jawaban.
"Apakah kau terluka?."
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Aku menyakinkannya.
"Mari Yang Mulia. Kami permisi dulu Yang Mulia Putra Mahkota dan terima kasih sudah melindungi Yang Mulia Putri." Pelayan Xiao Ching menunduk hormat lalu menuntun Xiao Ching pergi.
'Seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat keibuan.' Batinku kembali menerka.
Aku berjalan menuju sebuah panah yang sekarang sedang menancap pada pohon dan mencabutnya. Tidak ada yang istimewa dari panah ini kecuali ada sebuah lambang berbentuk ular disana.
'Aku harus segera mencari tahu tentang hal ini secepatnya. Aku tidak akan menunda-nunda ini lagi.' Aku membatin dalam hati dengan memperhatikan panah yang masih ada ditanganku ini.
~Di tempat lain~
Seorang pria paruh baya terlihat bersama seorang wanita yang tengah duduk manis di ruangannya.
"Apakah kau sudah melakukan apa yang aku katakan?." Wanita itu mengeluarkan suaranya.
"Sudah Yang Mulia Selir Jiang. Tapi kenapa anda masih memerintahkan pada hamba untuk melakukan hal itu?. Bukannya anda bilang tidak ingin melakukan hal itu lagi?." Pria itu bertanya heran pada wanita didepannya ini.
"Memang, tapi ini hanyalah peringatan untuknya. Dan ini juga yang terakhir. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Apakah dia merasa terancam atau sedang ketakutan sekarang?." Dia tersenyum mengerikan menatap pria paruh baya di depannya.
"Oh iya, bagaimana dengan rencana selanjutnya kapan kau akan memulainya Wakil Perdana Menteri?." Dia kembali bertanya.
"Hamba akan melakukannya besok Yang Mulia. Saat rapat bersama dengan para pejabat juga Yang Mulia Raja sendiri."
"Kerja bagus."
__ADS_1
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..