Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 20


__ADS_3

Aku memandang orang yang tadi membuatku terkejut setengah mati, dengan kondisi masih berjongkok. Dan segala sumpah serapah yang sudah kusiapkan seketika hilang juga lenyap hanya dalam sekejab.


Orang itu mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya memandangnya heran. Siapa dia, aku rasa belum pernah melihatnya selama aku berada disini. Tapi dilihat dari penampilannya dia terlihat seperti seorang bangsawan apa jangan-jangan dia ini....


"Kakak kau melamun?." Katanya membuyarkan segala pemikiranku yang ada.


Dia masih setia mengukurkan tangannya padaku sambil tersenyum.


Dia ternyata Xiao Chen. Anak kedua dari Raja. Terlahir dari seorang Selir bernama Jiang. Dia anak yang baik dengan tingkah konyol yang dimilikinya. Berumur 16 tahun. Dia memiliki 5 elemen. Api, angin, air, tanah juga petir.


Aku menerima uluran tangannya dan segera berdiri. Tapi yang terjadi dia malah menyeretku. Entah kemana dia akan membawaku. Kami berdua berlari agak jauh menjauhi kediamanku. Aku hanya diam mengikuti semua yang diperbuatnya.


Aku terlalu malas untuk bertanya, setelah berlarian tadi dan sekarang aku harus diseret secara paksa seperti ini. Tak bisakah pagi hariku disini terasa menyenangkan?. Kenapa selalu saja ada hal-hal menyebalkan yang terjadi.


"Mau pergi kemana kita?." Aku bertanya sangat datar padanya. Dan kalimatku itu membuatnya menghentikan langkah kakinya.


Kami berdua berhenti didekat pohon besar di taman. Padahal aku tadi tidak berniat untuk pergi ke tempat ini. Huh... Ya ampun.


"Yang Mulia... Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Dia mengatakannya dengan serius dan menatapku dalam.


"Apa?." Hanya tanggapan seadanya yang kuberikan padanya.


"Kakak... Selama ini, beberapa hari ini... Semua kejadian yang menimpamu itu... Sebenarnya adalah... Kelakuan dari ibuku." Dia berkata dengan terbata-bata.


Alis mataku terangkat satu, tak paham dengan apa yang dikatakannya. Sepertinya otakku masih mencerna kata-kata yang diucapkannya. Dan selama beberapa menit kepalaku juga masih meloading.


Kerja otak dikepalaku melambat.


"Kakak..." Pangeran Xiao Chen mamanggilku pelan.


"Em... Apa?." Sekarang aku terlihat seperti orang bodoh.


"Kau... Tidak apa-apakan Yang Mulia?." Pangeran Xiao Chen bertanya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja. Dan tadi apa maksudmu aku tidak mengerti." Ucapku dengan tampang polos minta ditampol.


"Yang Mulia, tidak maksudku kakak kumohon tolong jangan pergi besok." Dia memohon sambil memelas padaku.


~Di tempat lain~


Lien Hua sedang duduk termenung. Pikirannya melayang mengingat kejadian saat dia bertemu dengan Putra Mahkota. Kadang dia akan tersenyum manis, kadang juga dia akan berekspresi sendu.



[Ilustrasi Lien Hua]


Perdana Menteri yang melihat putrinya seperti ini merasa khawatir. Lien Hua lebih suka menjadi seorang penyendiri sekarang. Dia memanggil istrinya yang berjalan mendekati dirinya.


"Apa yang terjadi dengan putri kita?. Sejak kapan dia suka murung dan sendirian begitu?." Ucap Perdana Menteri pada istrinya.


"Entahlah... Sudah sejak kemarin dia seperti ini, setelah pulang dari istana. Aku tidak tahu apasaja yang sudah terjadi dengannya disana." Ibu Lien Hua Nyonya Lien merasa cemas melihat putrinya.


"Kita tanyakan saja pada Lien Hua. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?." Perdana Menteri berjalan menghampiri putri bungsunya diikuti istrinya dibelakangnya.


"Lien Hua..." Panggil sang ayah.


"Iya Yang Mulia... Eh?! ayah, ibu." Jawab Lien Hua yang terkejut ketika melihat ayah dan ibunya sudah berada didekatnya.


"Yang Mulia?." Ibunya bertanya heran.


"Siapa yang sebenarnya sedang kau pikirkan Lien Hua?." Perdana Menteri bertanya dengan tegas.


"Aya-ah... Aku... Itu aku..." Lien Hua gugup.


"Kau sedang memikirkan Putra Mahkota?." Perdana Menteri bertanya to the point pada putrinya.


"Ayah..." Lirih Lien Hua.


"Apa itu benar putriku?." Nyonya Lien yang selaku ibunya turut bertanya karna merasa penasaran.


Lien Hua menatap sendu kearah ayah dan ibunya, kemudian dia menggangguk pelan sebagai balasan. Kedua orang itu hanya menatap tidak percaya kearah anaknya. Mereka tak menyangka anaknya akan menaruh hati pada seorang penerus tahta kerajaan.


"Lien Hua... Apa kau menyukai Putra Mahkota?." Ibunya bertanya kembali.


"Ibu... Aku tidak tahu, aku hanya... Hanya selalu memikirkannya. Aku mohon tolong maafkan aku ayah, ibu." Lien Hua menunduk dalam.


"Ayah tidak melarang dirimu untuk menyukai siapapun putriku, tapi ayah sangat tidak setuju jika kau mempunyai hubungan dengan Putra Mahkota." Perdana Menteri mengelus pucuk kepala putrinya sayang.


Seketika saja Lien Hua langsung mendongakkan kepala menatap sang ayah yang tengah menatapnya sendu.


"Kenapa ayah?." Matanya berkaca-kaca.


"Iya suamiku kenapa kau berbicara seperti itu?." Istrinya, Nyonya Lien juga ikut bertanya karna tidak mengerti dengan jalan pikiran sang suami.

__ADS_1


"Ayah tidak mau kau terluka nantinya. Dan lagi Putra Mahkota akan terancam nyawanya jika dia berhubungan denganmu lebih jauh lagi. Ayah mohon hentikan perasaanmu itu, sebelum rasamu semakin bertambah besar padanya." Ada nada sedih juga sendu saat Perdana Menteri mengatakannya. Dia beranjak pergi meninggalkan anak dan istinya yang menatapnya bingung, sebab dia berkata ambigu.


"Ibu..." Lien Hua menatap ibunya sedih. Nyonya Lien yang peka pun langsung merengkuh putrinya didalam dekapannya.


"Ibu mengerti... Ibu akan mencoba berbicara pada ayahmu. Lien Hua tidak boleh bersedih, hm?." Kemudian dia menangkup wajah anaknya dengan kedua tangan. Sambil tersenyum berharap putrinya akan tenang setelah melihat senyumannya.


~Di kediaman Putra Mahkota~


Aku sedang mengerjakan beberapa tugasku sebagai Putra Mahkota disini. Beberapa tumpukkan kertas ada di atas mejaku.


Tak terasa dengan cepat aku telah menyelesaikan semuanya. Hampir satu jam sudah aku duduk dengan melamun setelah mengerjakan tugasku.


Masih segar dalam ingatanku ketika aku berbicara dengan Xiao Chen. Dia sangat mengkhawatirkan kakaknya, Putra Mahkota. Aku tersenyum pahit saat mengingatnya. Aku iri dengan diriku dimasa lalu. Begitu banyak orang yang mencintai dan memperhatikannya. Berbanding terbalik sekali dengan diriku dimasa depan.


"Yang Mulia..." Panggilan dari paman Hong Li tidak kuindahkan. Aku masih saja setia dalam lamunanku.


"Yang Mulia... Guru Feng Ying sudah datang ingin bertemu dengan anda." Ulangnya namun sama sekali tidak ada jawaban dari mulutku. Aku terlarut dalam duniaku sendiri.


"Yang Mulia... Astaga ada apa dengan anda sebenarnya?. Kenapa akhir-akhir ini anda suka sekali melamun?." Bahkan kecerewetan paman Hong Li tak membuatku tersadar.


"Yang Mulia..." Dengan memelas paman Hong Li masih mencoba memanggilku.


Aku tertawa dengan rasa pahit didalamnya. Membuat paman Hong Li dan guru Feng Ying menatap aneh pada diriku. Aku mengalihkan pandanganku pada jendela yang ada disebelahku. Senja disore hari sangatlah indah. Namun tak dapat mengobati luka yang ada dihatiku. Aku merindukan orang tuaku, tapi disisi lain hatiku juga masih menyimpan segala kenangan buruk yang terjadi padaku.


Ditempat lain Lien Hua juga tengah bersedih dan menangis dalam diam sambil menatap langit sore yang indah ini. Dia tersenyum sendu menatap senja yang begitu mempesona namun berbanding terbalik dengan perasannya.



[BACKSONG]


조금 더 웃어요 행복한 미소로 


(Jogeum deo useoyo haengbokhan misoro)


Tersenyumlah sedikit dengan senyum bahagiamu


자꾸만 그대를 찾는 내 맘 달래도록 


(Jakkuman geudaereul channeun nae mam dallaedorok)


Sehingga kau dapat menghibur hatiku yang sering mencarimu


조금 더 웃어요


(Jogeum deo useoyo)


세상이 그댈 질투 하도록


(Sesangi geudael jilthu hadorok)


Maka dunia akan merasa cemburu


자꾸만 그댈 부르는 내맘이


(Jakkuman geudael bureuneun nae mami)


Hatiku selalu memanggilmu


욕심도 내지 못할테니


(Yoksimdo naeji mothaltheni)


Tidak bisa serakah


가슴이 욕해 사랑한단 말조차 못하니까


(Gaseumi yokhae saranghandan maljocha mothanikka)


Hatiku mengutukku karena aku tidak bisa mengatakan "aku mencintaimu"


눈물이 터져 그리움이 흐르고 흐르니까


(Nunmuri theojyeo geuriumi heureugo heureunikka)


Air mataku menetes karena kerinduanku yang mengalir dan mengalir


가시 처럼 목에 걸려버린 슬픈 그 말만


(Gasi cheoreom moge geollyeobeorin seulpheun geu malman)


Hanya kalimat sedih yang tertinggl ditenggorokanku seperti duri


하루종일 귓가에 맴돌고만 있죠

__ADS_1


(Harujongil gwitgae maemdolgoman ijyo)


Dan berdengung di telingaku sepanjang hari


왜 하필 그대죠 그대를 사랑하게 됐는지


(Wae haphil geudaejyo geudaereul saranghage dwaenneunji)


Mengapa itu dirimu, kenapa harus dirimu yang kucintai


고갤 저어도 아니라고 해도


(Geugael jeoeodo anirago haedo)


Bahkan ketika aku menyangkalnya


이미 그댈 놓질 못하네요


(Imi geudael nohjil mothaneyo)


Aku tetap tidak bisa melepasmu


가슴이 욕해 사랑한단 말조차 못하니까


(Gaseumi yokhae saranghandan maljocha mothanikka)


Hatiku mengutukku karena aku tidak bisa mengatakan "aku mencintaimu"


눈물이 터져 그리움이 흐르고 흐르니까


(Nunmuri theojyeo geuriumi heureugo heureunikka)


Air mataku menetes karena kerinduanku yang mengalir dan mengalir


가시 처럼 목에 걸려버린 슬픈 그 말만


(Gasi cheoreom moge geollyeobeorin seulpheun geu malman)


Hanya kalimat sedih yang tertinggal ditenggorokanku seperti duri


하루종일 귓가에 맴돌고만 있죠


(Harujongil gwitgae maemdolgoman ijyo)


Dan berdengung di telingaku sepanjang hari


사랑해요 그댈 사랑해요 영원히


(Saranghaeyo geudael saranghaeyo yeongweonhi)


Aku mencintaimu, aku mencintaimu selamanya


그대 날 보지 않는데도


(Geudae nal boji annhneundedo)


Meskipun jika kau tak melihatku


수천번씩 그댈 부르고 불러봐도 모르죠


(Sucheonbeonssik geudael bureugo bulleobwado moreujyo)


Walaupun aku berkata beratus kali kau tetap tidak mengerti


항상 그자리에서 그댈 기다려도 모르죠


(Hangsang geujeorieseo geudael gidaryeodo moreujyo)


Meskipun aku menunggu ditempat yang sama kau tetap tidak tahu


바보처럼 그저 바라보는 못난 사랑을


(Babo cheoreom geujeo baraboneun motnan sarangeul)


Cintaku yang konyol terlihat dimatamu seperti seorang yang bodoh


그대는 모르시죠 아무리 불러도


(Geudaeneun moreusijyo amuri bulleodo)


Kau tidak tahu, tak peduli apapun


 

__ADS_1


[Kim Dong Wook-My Heart Is Cursing]


 


__ADS_2