Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 27


__ADS_3

Aku berhenti mengejar guru Feng Ying dan melihat sekelompok orang sedang mengepung mangsanya. Aku melirik ke arah guru Feng Ying yang menggelatukkan giginya marah, melihat seorang gadis dan juga pria tua yang sedang terpojokkan di depan sana.


Dia menuruni kudanya dan langsung berlari ke arah orang-orang yang akan membahayakan kedua orang itu. Guru Feng Ying berhasil menyelamatkan gadis itu, saat sebuah pedang akan mengenainya tubuhnya.


Diriku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini sebelumnya. Kukira berjalan didalam hutan akan aman, tapi ternyata tidak. Harus kuakui aku belum pernah masuk ke dalam sebuah hutan selama ini, jadi aku tidak tahu jika dihutan ternyata cukup berbahaya juga.


Aku hanya mengira mungkin bahaya yang ditimbulkan dari hutan hanya berupa binatang-binatang ganas pemakan daging seperti macan, harimau atau serigala.


Aku ikut menuruni kudaku dan membantu guru Feng Ying mengalahkan orang-orang itu. Jumlah mereka cukup banyak sekitar 20 orang lebih. Dan hal ini menimbulkan rasa penasaranku. Kenapa orang sebanyak ini hanya mengepung 2 orang. Dan aku merasa mereka bukan seorang perampok atau bandit. Sebab dari cara mereka bertarung tidak seperti para perampok lainnya, mereka sangat gesit dan juga lihai.


Aku melawan mereka sambil mengamati gerakkan yang mereka lakukan, bagiku orang-orang ini sudah dilatih dengan baik dan memiliki penguasaan dasar bela diri yang sudah kuat. Mereka bukanlah lawan sembarangan. Jika lengah sedikit saja bisa dipastikan kita berdua tidak akan selamat, juga nyawa pun akan ikut melayang.


Aku melirik guru Feng Ying yang ada disampingku sambil melawan beberapa orang yang mengepungku. Dia sangat lihai mengatasi beberapa orang yang menyerangnya dan dengan mudah menjatuhkan mereka.


Melihatnya hampir mengalahkan semua orang-orang itu, membuatku mau tidak mau harus segera ikut mengakhiri pertarungan ini. Dengan cepat aku memberikan jurus totok di area sekitar leher mereka. Dan membuat mereka semua tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Guru Feng Ying menatapku tidak percaya dengan apa yang barusaja kulakukan. Dia pun juga segera melumpuhkan para musuhnya dengan cepat. Aku yang sudah tidak bertarung lagi pun bertanya pada salah satu orang yang saat ini tengah tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Siapa kalian?." Kataku datar sambil memperhatikan orang itu.


Tapi sayang dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menggigit bibirnya sendiri sampai putus. Mataku membulat melihatnya. Antara terkejut, kaget, dan tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat.


Orang itupun tewas di hadapanku dengan bibir yang tergigit membuatku mematung seketika. Dan perbuatannya itu diikuti oleh orang-orang lainnya yang memilih mati daripada mengatakan sebuah kejujuran.


Kakiku mundur perlahan karna melihat kejadian itu, tubuhku bergetar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Kurasa aku merasa takut sekaligus syok dengan semua ini. Kugelengkan kepalaku berharap bisa sedikit menghilangkan rasa yang tengah menerpaku.


"Yang Mulia..." Panggil guru Feng Ying yang saat ini tengah membantu dua orang itu.


Aku masih bergeming ditempatku berdiri sekarang tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutku. Diriku berusaha menutup mataku dan mensugesti diriku sendiri agar lebih tenang. Aku mengatur nafasku yang tadi tengah memburu. Baru kali ini aku melihat adegan mengenaskan seperti ini. Dan itu sungguh sangat mengejutkanku sekarang.

__ADS_1


"Yang Mulia..." Sekali lagi guru Feng Ying memanggilku dan perlahan aku bisa membuat kepalaku menoleh padanya. Aku menatapnya dalam diam tanpa membalasnya. Diriku belum bisa mengatakan apapun sekarang, aku masih terlalu syok.


Guru Feng Ying menghampiriku dan tangannya terulur ke arahku. Ketika tangan itu akan menyentuhku, tanpa aba-aba aku dengan cepat menghindarinya dengan mundur beberapa langkah.


" Yang Mulia.. Anda tidak apa-apa?." Tanyanya dengan raut heran.


Aku langsung pergi menaiki kudaku tanpa memperdulikannya. Dan memutar arah kudaku. Aku tidak ingin melihat mayat-mayat itu lagi. Membayangkan kejadian tadi saja membuatku merasa menggigil kembali. Dan aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi dihidupku.


"Yang Mulia.. Sebenarnya ada apa denganmu?!." Guru Feng Ying berkata jengkel padaku, dia sangat tidak peka dengan keadaanku.


'Dasar orang tua tidak peka!.'


"Cepat tolong mereka dan ayo kita pergi sekarang." Aku berkata datar padanya dan mulai melajukan kudaku.


"Yang Mulia tunggu... Yak!!! Yang Mulia..." Dia berteriak memanggilku.


Tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan meninggalkannya. Aku berhenti didekat sebuah sungai tak jauh dari sana. Segera saja aku turun dari kuda dan membasuh mukaku disana. Berkali-kali aku membasuh wajahku berharap apa yang baru saja kulihat tadi hanyalah sebuah mimpi yang akan hilang begitu saja.


"Astaga! Yang Mulia.. Lepaskan aku!." Teriak seseorang yang ternyata adalah guru Feng Ying.


Aku terkejut kembali, ternyata orang yang menepuk bahuku dan mengejutkanku adalah guru Feng Ying. Aku menghembuskan nafas dan melepaskannya. Aku mengusap wajahku kasar, entah apa yang sedang terjadi denganku saat ini.


"Sebenarnya ada apa denganmu?!." Guru Feng Ying berteriak kesal padaku.


Aku hanya diam tanpa menjawabnya. Aku berjalan pergi meninggalkannya dan duduk di bawah pohon. Aku menyenderkan tubuhku disana. Rasanya tenagaku habis terkuras saat ini. Bayangan tentang orang-orang tadi yang mati dihadapanku masih jelas kuingat. Dan itu membuatku tak tenang.


Aku melihat sekilas guru Feng Ying berjalan menghampiriku. Sedang dua orang yang kami tolong tadi sedang membersihkan diri mereka di air sungai. Air sungai itu sangat jernih dan terasa segar saat aku membasuhkannya ke wajahku.


Guru Feng Ying menatapku dengan tatapan hang sulit diartikan. Dan aku kembali mengabaikan kehadirannya dengan menutup mataku. Aku bisa mendengar langkah kalinya semakin mendekat, dan dia duduk disampingku.

__ADS_1


"Wajahku pucat. Apa kau takut?." Dia mulai bertanya.


"Hn." Hanya gumaman yang kuberikan.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika dirimu sangat terkejut dan takut tadi." Ucapnya dengan nada menyesal.


Aku tidak menanggapinya tapi aku membuka mataku. Aku melirik ke arah dua orang yang tadi kami tolong. Mereka tengah mengumpulkan beberapa kayu bakar yang sepertinya akan dibuat api unggun.


Yah... Hari memang sudah menggelap. dan sepertinya kami akan berkemah malam ini disini. Perjalanan kami hanya tinggal beberapa jam saja. Jadi tidak apa-apa jika kami berkemah disini sambil beristirahat.


Malam hari nampak indah dengan banyaknya bintang yang bertaburan dilangit meskipun bulannya belum menampakkan diri. Aku menikmati pemandangan ini sambil berusaha melupakan kejadian tadi.


Hembusan angin malam membelai wajahku. Aku mulai merasakan ketenangan. Dan tanpa kusadari guru Feng Ying melangkah pergi meninggalkanku dan menghampiri dua orang itu. Aku masih mengamati keindahan yang ditampakkan oleh langit malam ini sambil menikmati sumilir dingin angin malam.


Dua orang yang ditolong tadi saat ini tengah membuat api unggun. Sebelumnya, memang guru Feng Ying yang menyarankan mereka untuk beristirahat disini dikarenakan hari yang telah gelap. Tidak mungkin mereka akan berjalan keluar dari hutan ini dengan keadaan gelap gulita. Lebih baik menunggu fajar menjelang.


Dan lagipula guru Feng Ying berpikir di hutan yang cukup lebar ini bisa membuat mereka tersesat jika memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan. Guru Feng Ying menolehkan kepalanya melihat muridnya yang masih asyik dengan dunianya sendiri, lalu dia menggelengkan kepalanya. Dan beranjak pergi dari sana untuk membantu dua orang yang ditolongnya yang terlihat sedang sibuk.


"Apa ada yang butuh bantuan?." Guru Feng Ying bertanya ramah pada dua orang itu.


"Tidak perlu tuan. Kami bisa melakukannya, lebih baik tuan istirahat saja." Tolak halus pria tua itu. Dan diangguki oleh gadis yang ternyata adalah putrinya.


Pria tua itu melihat Putra Mahkota yang duduk nyaman dibawah pohon sambil menyenderkan tubuhnya. Dia pun bertanya kembali.


"Apakah tuan yang disana itu baik-baik saja tuan?." Dia bertanya dengan sedikit khawatir.


"Tenang saja paman. Dia baik-baik saja. Hanya saja dia sedang banyak pikiran."


Dan pria tua itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan sang gadis masih sibuk menata kayu yang akan digunakan untuk membuat api. Guru Feng Ying meliriknya dengan tersenyum aneh.

__ADS_1


Setelah api yang mereka buat telah siap. Guru Feng Ying berinisiatif untuk mencari ikan di sungai yang saat ini berada di depan mereka. Mereka butuh makan malam. Dan dia bisa menggunakan kekuatannya untuk menangkap ikan di keadaan yang kurang pencahayaan ini.


Dengan menggunakan elemen air miliknya dia menangkap beberapa ikan dengan mudah. Kemudian dia membawa ikan itu ke dekat api dan membakarnya bersama dengan ayah dan anak itu.


__ADS_2