
Liliana a.k.a Xiao Hui
"Aku mendengarnya ketika kau berbicara kemarin malam." Ucap guru Feng Ying.
Membuatku langsung mengalihkan perhatianku padanya.
"Kau menguping?." Aku menatap tajam guru Feng Ying.
"Bukan menguping, aku hanya tak sengaja mendengarnya." Dia berkelit tidak mau berkata yang sesungguhnya.
"Itu sama saja." Sahutku cuek.
"Kenapa sikapmu ini tidak mirip dengannya?." Dia bertanya sambil melihatku dari atas sampai bawah.
"Berhenti melihatku seperti itu atau kucongkel matamu." Desisku merasa tak suka dilihat seperti itu.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal yang mengerikan seperti itu?." Dia bergidik takut.
Kami hanya berdua saja disini sekarang. Para pengawal dan pelayan sedang pergi menyiapkan makanan untuk makan malam. Sedangkan paman Yong sedang istirahat setelah tadi pulang berlatih dengan pengawal dan jendral lain. Jadi kami bisa leluasa berbicara tanpa takut ada yang mendengar.
Aku diam tak menyahuti perkataan guru Feng Ying. Jika dia berkata sudah mendengarnya kemarin, bisa dipastikan guru Feng Yi sudah tahu semuanya. Aku tak perlu repot-repot lagi menjelaskan apapun padanya, semua sudah jelas.
"Kau gadis yang kasar ternyata." Dia kembali berucap dengan tampang menyebalkan minta ditampar.
"Sudah bosan hidup sekarang?." Aku berkata dengan sinis padanya. Entah kenapa aku rasanya tidak suka guru Feng Ying menggodaku.
"Aku hanya bercanda maafkan aku Yang Mulia." Dan tersenyum aneh.
"Terserah." Balasku acuh.
Malam hari ini sangat indah dengan sinar bulan dan juga bintang-bintang yang menemaninya. Begitu indah pemandangan malam ini membuatku sedikit tersenyum tipis saat melihatnya. Tiba-tiba paman Hong Li datang menghampiri kami.
"Yang Mulia... Makan malam sudah siap." Paman Hong Li memberitahuiku.
Di meja makan aku dan guru Feng Ying makan bersama sambil sesekali bercakap-cakap. Sepertinya dia ingin mengenalku lebih dekat.
__ADS_1
"Tenaga dan energimu tadi tidak stabil, apa yang sudah kau lakukan sebenarnya?." Dia kembali bertanya sambil menyumpit makanananya.
"Tidak ada. Itu hanya karna elemen yang ada ditubuhku belum bisa menyesuaikan tempatnya disana." Aku masih berkutat dengan makanan yang ada di dalam mangkukku.
Dia menatapku dengan pandangan aneh, tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku yang tak mendengar lagi suaranya pun membuatku beralih melihatnya.
"Elemen yang ada ditubuhku bukan milikku. Elemen itu milik Putra Mahkota. Dan masih membutuh waktu untuk bisa menepati tempat di dalam diriku." Kataku menjelaskan.
"Kau tidak punya elemen sendiri?."
"Tidak punya."
"Tapi kan kau reinkarnasi dari Putra Mahkota?. Meskipun kau ini seorang perempuan." Dia masih asyik bertanya rupanya.
"Di kehidupan masa depan tidak ada hal seperti itu."
"Lalu dengan apa kalian berperang disana?."
"Dengan otak dan pemikiranmu." Aku tidak berbohong di duniaku memang itulah kunci dalam memenangkan sebuah peperangan. Ketika kau memiliki otak yang cerdas, maka kau akan menjadi seperti penguasa. Dan sebaliknya.
"Itu sangat aneh." Guru Feng Ying hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kau disana dilahirkan dari keluarga yang bukan berasal dari bangsawan?." Guru Feng Ying tiba-tiba bertanya aneh.
"Tidak. Aku terlahir dari keluarga biasa. Memangnya kenapa?." Aku bertanya dengan mulut penuh nasi.
"Kau seperti tidak makan satu bulan saja. Disana apa kau kekurangan makanan?." Wajahnya memelas menatapku.
Astaga. Guru Feng Ying tidak mengerti yang kumaksudnya. Ternyata susah juga berbicara dengan orang jaman lampau. Aku meletakkan sumpitku dan menatapnya tajam.
"Hah... Disana tidak ada yang namanya bangsawan seperti disini. Ah sudahlah guru, menjelaskan apapun juga tidak ada gunanya. Kau tidak akan mengerti." Aku lelah berbicara dengannya.
Memang di duniaku aku terlahir dikeluarga yang berkecukupan. Tapi aku tidak mau mengatakannya. Lagian untuk apa aku mengatakannya dia juga tidak akan mengerti bukan. Dan kenapa aku makan seperti ini sekarang?. Itu karna aku kelaparan setelah berlatih, dan juga ini memang sudah menjadi kebiasaanku. Aku suka makan dengan lahapnya ketika merasa sangat lapar.
~Pagi hari, dikediaman Pangeran Xiao Lun~
__ADS_1
"PAMAN DIMANA BAJU GANTIKU?!." Teriak Pangeran Xiao Lun pada paman Lie pelayan setianya.
Suara menggelegar itu membuat seorang pria paruh baya berlari tergopoh-gopoh membawakan beberapa pakaian ditangannya. Dia menghela nafas melihat kelakuan majikannya yang terbilang cukup unik ini.
Padahal matahari masih belum memancarkan sinar terangnya tapi tuannya ini sudah membuatnya kalang kabut kesana kemari mencarikan perlengkapannya. Pagi-pagi begini tuannya sudah bangun dan membuatnya sibuk.
"Ini pakaian anda Yang Mulia." Dia menyerahkan pakaian ditangannya pada pemuda yang saat ini tengah berada didepannya.
"Terima kasih paman Lie." Kata Pangeran Xiao Lun sambil nyengir.
"Anda ingin pergi kemana pagi-pagi begini Yang Mulia?." Paman Lie heran melihat Pangeran Xiao Lun yang tengah bersiap-siap. Mau pergi kemana tuannya pagi-pagi buta seperti ini.
"Aku ingin menemui Yang Mulia Putra Mahkota. Aku harus menemuinya segera. Dan aku ingin pergi sendirian saja. Jangan katakan kepergianku pada siapapun. Apa kau mengerti paman?." Ucap Pangeran Xiao Lun sambil tergesa-gesa memakai pakaiannya.
"Sepagi ini Yang Mulia, anda yakin?. Dan lagi apakah Yang Mulia Putra Mahkota sudah bangun?." Paman Lie bertanya.
"Aishh kau cerewet sekali paman. Jika kakak belum bangun aku hanya tinggal membangunkannya saja kan?. Jika aku tidak segera menemuinya pagi ini lalu kapan lagi, dia akan berangkat besok. Dan jika aku menunggu sampai siang hari sudah pasti mata-mata ibu akan melaporkannya padanya." Sambil bersiap-siap Pangeran Xiao Lun berbicara panjang lebar.
"Aku pergi dulu paman." Pangeran Xiao Lun langsung melesat pergi setelah bersiap dan meninggalkan paman Lie bahkan sebelum pelayannya itu menjawab ucapannya.
Paman Lie hanya tersenyum melihat kepergian junjungannya itu. Dia tidak menyangka, dibalik kelakuan kekanakan tuannya, dia mempunyai hati yang baik.
~Di kediaman Putra Mahkota~
Aku bangun sangat pagi dan ingin berolahraga dengan berlari-lari kecil. Dan aku pun melakukannya di taman belakang kediamanku. Disini lumayan luas halamannya. Jadi aku tidak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari tempat berlari.
Aku berhenti sebab melihat bunga teratai yang indah mekar di kolam kecil. Ah... Bunga itu selalu membuatku mengingat ibuku. Aku pun berjongkok untuk memetik bunga yang cantik itu. Perlahan aku mengarahkan tanganku agar mencapainya. Dan ternyata tanganku tak cukup panjang untuk menggapainya. Aku masih terus berusaha dan tidak mau menyerah dengan mudahnya.
"Sedikit lagi... Sedikit lagi... Tinggal sedikit lagi." Aku menyemangati diriku sendiri agar dapat mencapainya. Saat diriku hampir menyentuh bunga itu, tiba-tiba seseorang mengejutkanku dari belakang.
"Yang Mulia apa yang sedang anda lakukan?." Dan pertanyaan itu sukses membuatku hampir masuk ke dalam kolam saking terkejutnya diriku.
Untung saja aku masih bisa berpegangan pada rumput dengan sebelah tanganku agar tidak jatuh dan terkena lumpur. Benar-benar mengesalkan. Ini masih pagi tapi siapa yang berani dengan seenaknya mengganggu diriku bahkan dia juga mengejutkanku seperti itu.
Sumpah serapah dan kata-kata pedas sudah tersusun rapi didalam kepalaku. Dan hanya menunggu mulutku untuk mengatakannya pada orang yang ada dibelakangku.
__ADS_1
Aku menolehkan kepalaku kebelakang dengan tatapan menusuk. Tapi seketika tatapanku berubah menjadi sebuah pandangan heran. Pasalnya aku tidak mengenal orang yang saat ini tengah berdiri dibelakangku dengan cengiran diwajahnya.
Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..