Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 22


__ADS_3

Saat ini Perdana Menteri tengah bersiap pergi ke istana untuk menghadiri rapat kembali. Seorang perempuan paruh baya datang membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan.


"Suamiku, aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Makanlah dulu sebelum kau berangkat." Ucapnya lembut. Wanita itu adalah Nyonya Lien, istrinya.


"Taruh saja disitu, aku masih memperbaiki pakaianku." Balasnya sambil merapikan diri.


Nyonya Lien pun menaruh nampan itu dimeja dan menata makanan yang dibawanya. Dia kemudian duduk disalah satu kursi yang ada disana. Dia memandangi suaminya yang sekarang tengah memunggungi dirinya.


"Suamiku, kenapa kau berkata seperti itu pada Lien Hua?. Apa kau tahu dia mungkin akan merasa sedih dengan perkataanmu." Nyonya Lien membahas tentang perkataan dari Perdana Menteri pada putrinya kemarin.


Perdana Menteri yang mendengar perkataan dari istrinya pun hanya bisa menghela nafas.


"Bukan maksudku untuk membuatnya bersedih istriku. Kau tahu aku sangat menyanyangi putri kita. Maka dari itulah aku ingin dia dalam keadaan aman. Kau juga tahu aku selalu setia mengabdi pada Yang Mulia Raja, aku tidak mau jika Putra Mahkota yang merupakan anaknya akan berada dalam bahaya bila terus ada disamping putri kita." Jelasnya panjang lebar pada istrinya, berusaha membuatnya mengerti dengan keputusan yang diambilnya.


"Kau pasti juga masih ingat kejadian yang telah menimpa putri kita, dan hal itu akan terus berlanjut entah sampai kapan aku juga tidak tahu. Akan lebih baik jika kita tak mendekatkan mereka berdua. Mungkin saja hal itu bisa membuat mereka berdua aman dari mara bahaya yang mengintai." Lanjutnya dengan nada sedih.


Nyonya Lien hanya bisa menunjukkan ekspresi sedih dengan mata yang berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Dan sang suami hanya mengusap punggungnya istrinya itu sayang.


"Aku harap kau bisa mengerti akan keputusanku ini istriku. Semua ini demi kebaikan mereka berdua."


***


~Di tengah perjalanan~


Liliana a.k.a Xiao Hui POV


Aku dan guru Feng Ying saat ini memacu kuda dengan sangat cepat. Diriku tak mau membuang waktu terlalu banyak. Setelah beberapa jam kami pun memutuskan beristirahat di sebuah kedai. Memacu kuda ternyata sangat melelahkan apalagi dengan kecepatan penuh.



[Ilustrasi Kedai]


Seorang pelayan menghampiri ketika kami telah duduk di dalam kedai. Dan dia menanyakan apa yang akan kami pesan. Dia bertanya dengan ramah.


"Tuan anda ingin memesan apa?." Tanya seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelayan. Dia lumayan cantik, dan itu membuatku menatap muak pada wajah guru Feng Ying yang melihatnya.

__ADS_1



[Ilustrasi pelayan Wanita]


"Aku sudah melihat pesananku. Kau cantik sekali.." Mata guru Feng Ying menatap mesum kearah pelayan itu, membuatku ingin menendangnya keluar dari sini seketika.


Kutatap dia tajam, berusaha mengkodenya agar segera menghentikan kelakuannya. Apa dia tidak malu?. Namun guru Feng Ying malah mengacuhkanku.


"Ekhem... Kami memesan makanan dan minuman bukan perempuan." Aku menghentikan aksi guru dengan memesan terlebih dahulu lalu menekan kata 'perempuan' dengan sangat jelas. Guru Feng Ying mendelik kearahku, dan hanya kubalas dengan mengacuhkannya.


"Baik tuan.." Pelayan itu berjalan pergi mengambilkan pesananku.


"Berhentilah melakukan hal seperti itu guru, ingatlah umurmu. Jika kau ingin masih mempermainkan wanita seperti tadi, siapa yang akan mau menikah denganmu?." Ucapku seadanya karna guru Feng Ying tak hentinya menatapku dengan tampang kesalnya.


"Bukankah anda sendiri yang menyuruhku untuk melakukan hal ini jika sedang bosan, tapi sekarang apa?. Anda sangatlah plin plan Yang Mulia?!." Dia menekuk wajahnya kesal sebab diriku menggagalkannya untuk bermain dengan perempuan.


Aku menghela nafas melihat kelakuannya. Kualihkan pandanganku ke seluruh kedai ini, mencari sesuatu yang mungkin akan menarik daripada melihat wajah kusut guru Feng Ying. Tapi nihil, tak ada yang menarik pandanganku disini.


"Tuan... Silahkan ini pesananku anda." Pelayan tadi membawakan beberapa makanan dan minuman yang kupesan.


"Yang Mulia... Aku masih penasaran kenapa anda tidak ingin pergi dengan para prajurit. Bukankah lebih aman jika kita berangkat dengan mereka?." Rupanya kekesalan guru Feng Ying tadi sudah hilang sebagian.


"Apa kau pikir aku dilemparkan ke jaman ini tanpa tujuan?." Kataku serius.


Guru Feng Ying menatap lekat diriku dengan dahi mengkerut tanda dia tidak mengerti.


"Memangnya kenapa kau bisa berada disini?." Dia bertanya dengan wajah serius.


"Aku dikirim kesini untuk membasmi para penggoda dan orang yang mempermainkan perempuan." Balasku sekenanya sambil menyeringai.


"Yak!..." Teriak Guru Feng Ying kembali kesal padaku. Namun aku tak peduli dengannya.


"Hohoho.. Begitukah caramu berbicara denganku guru?, kau lupa kau sedang berhadapan dengan siapa?." Aku kembali menampilkan smirk khasku. Dengusan sebal pun akhirnya keluar dari mulutnya. Dan aku hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihatnya.


'Lucu sekali kelakuannya. Hahaha' Batinku tertawa gembira telah membuat seorang pendekar yang sudah melegenda marah. Meskipun hanya segelintir orang yang tahu dia adalah seorang pendekar yang sudah melegenda.

__ADS_1


"Maafkan hamba Yang Mulia yang paling Agung." Ucapkan sambil mendesis dan membuatku tak bisa lagi menahan tawa. Dan tawaku pun pecah seketika.


"Apakah itu sangat lucu?!." Dia memijat keningnyanya sebab aku menertawainya.


"Setidaknya aku tidak akan bosan dalam perjalanan, jika aku bisa membuatmu sedikit kesal aku akan mendapatkan tontonan lucu secara cuma-cuma." Aku menghentikan tawaku dan membalasnya asal.


"Baiklah.. Baiklah terserahmu saja. Tapi tidak mungkin juga jika kau dikirim kesini tanpa melakukan sesuatu 'kan?." Guru Feng Ying merubah ekspresinya menjadi begitu serius dan aku hanya memandangnya datar.


"Tentu saja ada sesuatu yang harus kulakukan disini. Maka dari itu aku tidak mau berlama-lama berada didalam perjalanan. Waktuku tidak banyak untuk menyelesaikannya." Jelasku padanya.


"Memangnya apa yang harus kau selesaikan dalam waktu sesingkat itu?." Kami masuk ke dalam sebuah percakapan yang sangat serius, namun ini malah membuatku tak nyaman.


"Sebenarnya waktunya cukup lama, hanya saja aku yang belum memulainya. Tugas ini bisa membantu Putra Mahkota untuk menghilangkan gambaran buruk tentangnya pada setiap orang. Sudahlah nanti aku jelaskan lagi saat diperjalanan. Lebih baik sekarang kita makan sebelum makanannya dingin" Terangku.


Kami berdua menghentikan percakapan dan makan dengan diam juga tenang. Perutku yang tadi terus memberontak karna kelaparan kini akhirnya bisa tenang setelah makan dengan lahap.


Perjalanan berlanjut dan saat ini kami melewati sebuah hutan. Hari masih siang, terik matahari sangatlah menyengat membuat guru Feng Ying menyarankan untuk melanjutkan perjalanan melewati hutan.


Hutan ini sangat rimbun, namun udaranya masih segar dihirup meskipun hari sudah siang. Disini juga tidaklah terlalu panas, dahan-dahan pohon yang dipenuhi dedaunan seakan-akan memayungi kita dari sengatan panasnya sinar matahari.


"Guru apa kau yakin kita juga akan cepat sampai jika melewati hutan ini?." Tanyaku yang masih ragu.


"Tentu saja Yang Mulia. Hutan ini memang jalan pintas paling cepat untuk bisa pergi ke kerajaan Lin. Raja juga biasa lewat sini jika dia berkunjung kesana." Kami masih menaiki kuda namun tidak melaju secepat tadi, kami berjalan biasa.


"Baiklah kalau begitu." Jawabku yang mengakhiri percakapan kami.


Tak terasa hari sudah menjelang sore. Sebentar lagi malam akan menjelang tapi ditengah perjalanan kami berdua mendengar suara.


"TOLONG!!!!!... TOLONG!!!.... TOLONG!!! SIAPAPUN TOLONG!!..." Suara seorang perempuan berteriak meminta pertolongan.


"Guru apa kau mendengar sesuatu?." Tanyaku untuk memastikan bukan hanya aku saja yang mendengarnya. Yah hanya berjaga-jaga saja jika itu bukanlah sebuah suara ghaib. Hei.. Ini dihutan apalagi menjelang malam. Aku sedikit merinding, walaupun masih tetap tenang.


Guru Feng Ying langsung melajukan kudanya membuatku terkejut akan perbuatannya. Padahal aku baru saja bertanya tapi dia mengabaikanku.


"Dasar pria tua mesum!. Ck. Apa dia tidak khawatir kalau tuannya ini dalam bahaya jika ditinggal sendiri. Aish..." Umpatku karna dia meninggalkanku dan malah berlari kearah sumber suara itu. Aku menghela nafas dan kemudian menyusulnya.

__ADS_1


Aku masih mengumpat panjang lebar selama mengejarnya. Apa dia lupa aku juga perempuan?. Ah lupakan saja untung saja aku disini aku tidak berwujud perempuan, jika iya bisa dipastikan aku akan membakarnya hidup-hidup jika berani menggodaku.


__ADS_2