Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 6


__ADS_3

Liliana a.k.a Xiao Hui POV


Aku berjalan pelan menuju taman. Hanya tempat itu yang bisa menyembuhkan moodku menjadi baik. Tanpa menghiraukan sekitar aku berjalan. Banyak yang menatapku seperti tontonan. Entahlah aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Mungkin para pelayan itu berpikir kenapa aku berjalan sendirian, biasanya aku akan ditemani beberapa pengawal dan pelayan.


Tapi sekarang ini aku ingin sendirian saja, mereka berdua sangat menyebalkan. Aku masih kesal dengan paman Hong Li juga jendral Yong. Sebenarnya bukan salah paman Hong Li bertanya seperti itu, namun semua terjadi gara-gara Putra mahkota yang punya tabiat buruk ini.


"Yang Mulia.."panggil seseorang di belakangku. Aku yang tidak mengenal suara barusan menolehkan kepala dan menghentikan langkahku.


Seorang pemuda ditemani beberapa pengawal dan pelayan dibelakangnya sedang melangkah menghampiri diriku. Dia tersenyum ramah padaku.


'Ah.. Itu sepertinya Pangeran Xiao Lu.' Batinku menerka dan membalik badanku.



[Ilustrasi Pangeran Xiao Lu]


Pangeran Xiao Lu


Anak ketiga dari Raja dan Selir Ciu Ling. Berumur 15 tahun. Seorang pemuda yang ramah kepada siapa saja. Baik hati dan penurut. Dia sangat ahli dalam ilmu bela diri, mandiri, dan memiliki otak yang pandai. Elemen yang dikuasainya ada 4, yaitu angin, api, air, dan tanah. Dia Pangeran yang sederhana sifatnya menurun dari ibunya.


'Buku itu sangat berguna juga. Dan Pangeran ini lebih cocok untuk menjadi penerus tahta daripada Putra Mahkota ini.' Pikirku kembali.


"Yang Mulia sedang apa anda disini sendirian?."tanyanya padaku.


"Aku hanya ingin jalan-jalan saja. Dan panggil saja aku kakak. Bukankah aku sudah mengatakannya beberapa kali padamu?." balasku. Sebenarnya Putra Mahkota yang asli juga tidak suka dipanggil dengan embel-embel 'Yang Mulia' oleh semua saudaranya. Terutama oleh Pangeran Xiao Lu yang keras kepala jika disuruh memanggilnya kakak.


"Maafkan aku. Tapi itu tidaklah sopan Yang Mulia. Ibu hamba selalu mengajarkan untuk selalu bersikap hormat dan sopan kepada anda." jawabnya jujur.


'Astaga.. Dia penurut sekali seperti diriku dulu.'


"Kalau kau ingin bersikap sopan padaku maka panggil aku kakak. Aku tidak nyaman jika kau memanggilku dengan embel-embel 'Yang Mulia'." Aku masih bersih keras supaya dia mau memanggilku kakak.


Jujur saja aku merasa risih dengan panggilan itu. Terasa aneh dan mengganggu saat terdengar di telingaku.


"Tapi Yang Mulia.."dia ingin membantah namun aku lebih cepat mencegahnya.


"Aku tidak ingin mendengar alasan atau bantahan apapun lagi darimu adik ketiga." Ucapku serius.


"Em.. Baiklah Yang- em.. Kakak." ucapnya kikuk. Yah mungkin dia belum terbiasa saja. Aku tersenyum melihatnya.


"Sebenarnya anda ingin pergi kemana sendirian seperti ini Yang eh.. Kakak maksudku. Apakah kakak ingin jalan-jalan keluar istana?. Jika iya bagaimana kalau kita pergi bersama saja. Xiao Ching juga akan ikut." Dia masih belum terbiasa Memanggilku kakak.


"Kakak..." Tiba-tiba seorang gadis datang dan memelukku erat. Aku yang terkejut dengan perlakuannya segera menoleh melihat siapa tersangka utama yang telah memelukku seenaknya.


Terlihat seorang gadis kecil yang cantik tengah menatapku polos sambil tersenyum manis.



[Ilustrasi Putri Xiao Ching]


Putri Xiao Ching


Putri bungsu Raja dengan Selir Yuan. Dia berumur 13 tahun. Gadis riang yang juga seorang pecinta binatang. Dia memelihara seekor kucing berbulu abu-abu yang diberi nama Ling Ling. Gadis cantik, imut juga anggun. Pandai melukis dan menyulam.

__ADS_1


"Kakak.. Ayo kita pergi bersama keluar istana." Ajaknya padaku tanpa melepaskan tangannya dariku.


"Maafkan kakak. Tapi kakak tidak bisa pergi denganmu."kataku lembut sambil melepaskan tangan kecilnya.


"Kenapa?." Matanya berkaca-kaca. "Apa kakak tidak suka pergi denganku?" Lanjutnya dengan nada sedih.


"Bukan begitu. Kakak hanya ingin pergi ke taman saja. Lagipula kakak sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk tidak sering keluar istana lagi." Aku memberinya pengertian dengan menambah sedikit bumbu kebohongan, aku mengelus rambut lembutnya.


"Ah.. Begini saja jika nanti kalian pergi keluar istana, bisakah kalian membawakan sesuatu untuk kakak?." Em.. Seperti makanan mungkin?." Bujukku padanya.


"Apa yang kakak inginkan nanti akan kami bawakan ya kan Xiao Ching?." Pangeran Xiao Lu ikut menanggapi bujukanku.


'Jadi seperti ini ya rasanya punya saudara?.' Batinku bertanya. 'Mereka berdua sangat perhatian.' lanjutku sambil tersenyum hangat melihat keduanya.


"Em.. Bagaimana dengan makanan?. Aku ingin memakan makanan yang manis seperti adikku ini." Kataku sambil menyentuh ujung hidung kecil Xiao Ching.


Xiao Ching tersenyum karna kelakuanku dan mengangguk menyetujui bujukanku.


"Hati-hati dijalan. Kakak pergi dulu." Dan segera aku melangkah pergi meninggalkan Xiao Lu dan Xiao Ching.


"Yang Mulia.. Sepertinya rumor yang beredar tentang Putra Mahkota itu benar?." Kata pengawal Pangeran Xiao Lu.


"Bukankah berarti itu bagus. Memang seharusnya kakak menjadi lebih dewasa seperti ini karna kelak dia yang akan memimpin kerajaan ini. Benarkan?." Dia menoleh pada pengawalnya sambil tersenyum. Dan pengawalnya membenarkan perkataannya.


"Iya Yang Mulia.." Mengangguk pada tuannya.


"Xiao Ching.. Ayo kita pergi sekarang."Ajak Pangeran Xiao Lu menggandeng tangan adiknya. Dan mereka berjalan dengan riang bersama meninggalkan istana.


Aku duduk sambil menyenderkan tubuhku pada pohon didekat kolam. Sesekali aku melempar batu ke sana. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.


Rasa bosan ini tak kunjung menghilang. Aku rindu duniaku dulu.


"Hohoho... Kenapa kau memasang wajah masam seperti itu?"


Suara seseorang mengintrupsiku untuk melihatnya. Nampak sesosok makhluk aneh berbaju serba putih yang membawaku kesini muncul dengan gaya aneh.


'Makhluk aneh itu kenapa dia datang kesini lagi?. Apa dia masih mau memberiku hukuman lagi?. Huh.. Menyebalkan.' kataku dalam hati.


"Hei.. Hei.. Hei apa-apaan katamu dalam hati itu?."dia menghampiriku dengan wajah kesal. Tapi aku tidak peduli.


"Kenapa kau ada disini?" tanyaku malas.


"Huh.. Sebenarnya aku ingin memberimu beberapa hadiah. Tapi karna kau berpikiran negatif padaku, aku juga akan memberimu tambahan hukuman.' Ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


"Terserahmu kau saja." Aku memejamkan mataku.


"Astaga.. Ada apa sebenarnya denganmu hm?. Kau tidak suka tinggal disini?."


"Kau sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?."


"Apa begitu caramu berbicara dengan seorang Dewa?. Apa kau tidak takut jika nanti aku akan menyuruh Dewa kematian untuk mengambil nyawamu?. " dia mencoba menakut-nakutiku tapi aku tidak peduli.


"Lalu apa peduliku?. Jika sudah waktunya aku untuk mati aku juga akan mati." balasku cuek dan masih menutup mata. Aku bukanlah seorang penakut asal dia tahu.

__ADS_1


Dia hanya mendengus mendengar jawabanku dan ikut duduk didekatku. Aku membuka mataku lalu memicingkan mata padanya. Seenaknya saja dia dekat-dekat denganku.


"Aku kesini membawa tiga hadiah dan satu hukuman untukmu, kau mau tahu yang mana dulu?." Celotehnya tanpa menghiraukan pandanganku.


Aku hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Apa hukumannya?" Dengan nada malas aku menanggapinya.


Tuk..


Sebuah buku berukuran tidak terlalu besar, namun isinya sangat tebal dia taruh di atas tanganku. Aku yang bingung menoleh dan meminta penjelasan darinya.


"Apalagi ini?." Ucapku merasakan perasaan tidak enak mulai menghampiri.


"Tentu saja itu hukumanmu." Katanya yang bagiku terdengar ambigu.


Aku masih menatapnya meminta penjelasan lebih. Dia yang merasa risih kutatap seperti itu, kemudian menyahuti ucapanku.


"Buku berwarna biru tua itu isinya adalah misi atau tugas yang harus kau selesaikan di dunia ini. Dan ingat jangan coba-coba untuk membukanya secara acak. Buka saja berurutan dari awal." Jelasnya.


"Apa kau barusaja bercanda denganku?." Dia menatapku bingung karna pertanyaan yang kulontarkan padanya.


"Apa maksudmu?." Katanya dengan ekspresi bingung.


"Bagaimana mungkin aku menyelesaikan misi ini, jika misinya seperti ini. DAN KETEBALAN BUKU INI SEKITAR 10 Cm?. APA KAU SEBENARNYA INGIN MEMBUANGKU KESINI, HA?."Dan akhirnya aku tidak bisa menahan lagi amarahku.


"BUAHAHAHAHAHA..." Dewa itu malah tertawa membahana mendengar kemarahanku.


"APANYA YANG LUCU?!". Bentakku tidak terima yang malah ditertawakan.


"Hei aku tidak bermaksud begitu sungguh. Coba kau lihat ini." Dia menghentikan tawa nistanya padaku dan menjentikan jarinya.


Dan aku merasakan tubuhku disinari cahaya putih dan perlahan-lahan tubuh asliku pun terlihat.



Aku menatap seluruh tubuhku tidak percaya.


"Itu adalah hadiah untukmu. Yah meskipun hanya sebentar. Aku tahu kau merindukan tubuh aslimu kan?" Aku melihat Dewa itu tersenyum.


"Tapi kenapa ini rasanya tidak sakit seperti waktu itu?" Tanyaku pasalnya waktu dia mengubahku jadi seperti Putra Mahkota rasanya sakit. Namun ini tidak sama sekali.


"Tentu saja tidak sama. Aku mengubahmu dulu untuk waktu yang agak lama. Tapi aku kembali mengubahmu jadi dirimu sendiri untuk sementara. Hanya beberapa menit." Jawabnya padaku.


Aku masih tidak percaya dengan ini semua. Rasanya seperti mimpi bisa melihat tubuhku yang asli kembali. Aku tersenyum senang.


"Ayo kita akan pergi untuk melihat hadiahmu yang kedua?" Ajaknya sambil membuat sebuah portal seperti dahulu saat dia membawaku kesini.


"Kemana?." Tanyaku kembali.


"Sudahlah ikut saja kau akan tahu nanti." Sambil menyeretku dia berkata, kemudian kami berdua memasuki portal cahaya yang dibuatnya. Dan menghilang.


Hai reader... Jangan lupa Like, vote, komentarnya juga kasih author yang masih baru ini rate 5 ya?.. hehehe biar author lebih semangat lagi untuk Up nya😊 makasih..

__ADS_1


__ADS_2