Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 24


__ADS_3

Aku berhenti mengejar guru Feng Ying dan melihat sekelompok orang sedang mengepung mangsanya. Aku melirik ke arah guru Feng Ying yang menggelatukkan giginya marah, melihat seorang gadis dan juga pria tua yang sedang terpojokkan di depan sana.


Dia menuruni kudanya dan langsung berlari ke arah orang-orang yang akan membahayakan kedua orang itu. Guru Feng Ying berhasil menyelamatkan gadis itu, saat sebuah pedang akan mengenainya tubuhnya.


Diriku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini sebelumnya. Kukira berjalan didalam hutan akan aman, tapi ternyata tidak. Harus kuakui aku belum pernah masuk ke dalam sebuah hutan selama ini, jadi aku tidak tahu jika dihutan ternyata cukup berbahaya juga.


Aku hanya mengira mungkin bahaya yang ditimbulkan dari hutan hanya berupa binatang-binatang ganas pemakan daging seperti macan, harimau atau serigala.


Aku ikut menuruni kudaku dan membantu guru Feng Ying mengalahkan orang-orang itu. Jumlah mereka cukup banyak sekitar 20 orang lebih. Dan hal ini menimbulkan rasa penasaranku. Kenapa orang sebanyak ini hanya mengepung 2 orang. Dan aku merasa mereka bukan seorang perampok atau bandit. Sebab dari cara mereka bertarung tidak seperti para perampok lainnya, mereka sangat gesit dan juga lihai.


Aku melawan mereka sambil mengamati gerakkan yang mereka lakukan, bagiku orang-orang ini sudah dilatih dengan baik dan memiliki penguasaan dasar bela diri yang sudah kuat. Mereka bukanlah lawan sembarangan. Jika lengah sedikit saja bisa dipastikan kita berdua tidak akan selamat, juga nyawa pun akan ikut melayang.


Aku melirik guru Feng Ying yang ada disampingku sambil melawan beberapa orang yang mengepungku. Dia sangat lihai mengatasi beberapa orang yang menyerangnya dan dengan mudah menjatuhkan mereka.


Melihatnya hampir mengalahkan semua orang-orang itu, membuatku mau tidak mau harus segera ikut mengakhiri pertarungan ini. Dengan cepat aku memberikan jurus totok di area sekitar leher mereka. Dan membuat mereka semua tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Guru Feng Ying menatapku tidak percaya dengan apa yang barusaja kulakukan. Dia pun juga segera melumpuhkan para musuhnya dengan cepat. Aku yang sudah tidak bertarung lagi pun bertanya pada salah satu orang yang saat ini tengah tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Siapa kalian?." Kataku datar sambil memperhatikan orang itu.


Tapi sayang dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menggigit bibirnya sendiri sampai putus. Mataku membulat melihatnya. Antara terkejut, kaget, dan tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat.


Orang itupun tewas di hadapanku dengan bibir yang tergigit membuatku mematung seketika. Dan perbuatannya itu diikuti oleh orang-orang lainnya yang memilih mati daripada mengatakan sebuah kejujuran.


Kakiku mundur perlahan karna melihat kejadian itu, tubuhku bergetar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Kurasa aku merasa takut sekaligus syok dengan semua ini. Kugelengkan kepalaku berharap bisa sedikit menghilangkan rasa yang tengah menerpaku.


"Yang Mulia..." Panggil guru Feng Ying yang saat ini tengah membantu dua orang itu.


Aku masih bergeming ditempatku berdiri sekarang tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutku. Diriku berusaha menutup mataku dan mensugesti diriku sendiri agar lebih tenang. Aku mengatur nafasku yang tadi tengah memburu. Baru kali ini aku melihat adegan mengenaskan seperti ini. Dan itu sungguh sangat mengejutkanku sekarang.


"Yang Mulia..." Sekali lagi guru Feng Ying memanggilku dan perlahan aku bisa membuat kepalaku menoleh padanya. Aku menatapnya dalam diam tanpa membalasnya. Diriku belum bisa mengatakan apapun sekarang, aku masih terlalu syok.


Guru Feng Ying menghampiriku dan tangannya terulur ke arahku. Ketika tangan itu akan menyentuhku, tanpa aba-aba aku dengan cepat menghindarinya dengan mundur beberapa langkah.


" Yang Mulia.. Anda tidak apa-apa?." Tanyanya dengan raut heran.


Aku langsung pergi menaiki kudaku tanpa memperdulikannya. Dan memutar arah kudaku. Aku tidak ingin melihat mayat-mayat itu lagi. Membayangkan kejadian tadi saja membuatku merasa menggigil kembali. Dan aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi dihidupku.


"Yang Mulia.. Sebenarnya ada apa denganmu?!." Guru Feng Ying berkata jengkel padaku, dia sangat tidak peka dengan keadaanku.


'Dasar orang tua tidak peka!.'


"Cepat tolong mereka dan ayo kita pergi sekarang." Aku berkata datar padanya dan mulai melajukan kudaku.


"Yang Mulia tunggu... Yak!!! Yang Mulia..." Dia berteriak memanggilku.

__ADS_1


Tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan meninggalkannya. Aku berhenti didekat sebuah sungai tak jauh dari sana. Segera saja aku turun dari kuda dan membasuh mukaku disana. Berkali-kali aku membasuh wajahku berharap apa yang baru saja kulihat tadi hanyalah sebuah mimpi yang akan hilang begitu saja.


Tak lama seseorang menepuk bahuku dari belakang membuat tingkat kewaspadaanku meningkatkan. Dan dengan cepat aku segera memegang tangan itu dan memelintirnya ke belakang tubuh orang itu.


"Astaga! Yang Mulia.. Lepaskan aku!." Teriak seseorang yang ternyata adalah guru Feng Ying.


Aku terkejut kembali, ternyata orang yang menepuk bahuku dan mengejutkanku adalah guru Feng Ying. Aku menghembuskan nafas dan melepaskannya. Aku mengusap wajahku kasar, entah apa yang sedang terjadi denganku saat ini.


"Sebenarnya ada apa denganmu?!." Guru Feng Ying berteriak kesal padaku.


Aku hanya diam tanpa menjawabnya. Aku berjalan pergi meninggalkannya dan duduk di bawah pohon. Aku menyenderkan tubuhku disana. Rasanya tenagaku habis terkuras saat ini. Bayangan tentang orang-orang tadi yang mati dihadapanku masih jelas kuingat. Dan itu membuatku tak tenang.


Aku melihat sekilas guru Feng Ying berjalan menghampiriku. Sedang dua orang yang kami tolong tadi sedang membersihkan diri mereka di air sungai. Air sungai itu sangat jernih dan terasa segar saat aku membasuhkannya ke wajahku.


Guru Feng Ying menatapku dengan tatapan hang sulit diartikan. Dan aku kembali mengabaikan kehadirannya dengan menutup mataku. Aku bisa mendengar langkah kalinya semakin mendekat, dan dia duduk disampingku.


"Wajahku pucat. Apa kau takut?." Dia mulai bertanya.


"Hn." Hanya gumaman yang kuberikan.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika dirimu sangat terkejut dan takut tadi." Ucapnya dengan nada menyesal.


Aku tidak menanggapinya tapi aku membuka mataku. Aku melirik ke arah dua orang yang tadi kami tolong. Mereka tengah mengumpulkan beberapa kayu bakar yang sepertinya akan dibuat api unggun.


Yah... Hari memang sudah menggelap. dan sepertinya kami akan berkemah malam ini disini. Perjalanan kami hanya tinggal beberapa jam saja. Jadi tidak apa-apa jika kami berkemah disini sambil beristirahat.


Hembusan angin malam membelai wajahku. Aku mulai merasakan ketenangan. Dan tanpa kusadari guru Feng Ying melangkah pergi meninggalkanku dan menghampiri dua orang itu. Aku masih mengamati keindahan yang ditampakkan oleh langit malam ini sambil menikmati sumilir dingin angin malam.


Aku menolehkan kepalaku ke samping melihat kehebohan ketiga orang yang sedang menangkap ikan. Guru Feng Ying menggunakan elemen air miliknya untuk menangkap ikan sedangkan ayah dan anak yang kami tolong tadi kini sedang memegang dua ekor ikan ditangannya, hasil dari tangkapan guru Feng Ying.


Setelah dirasa cukup dengan empat ekor ikan yang mereka dapat. Ketiga orang itupun langsung bersemangat membakarnya. Aroma ikan bakarpun tercium sampai hidungku. Perutku pun berbunyi nyaring yang membuatku nyengir sambil mengusap perut.


Tapi tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Aku melihat wajah dewa renkarnasi dilangit. Aku mengucek mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang kulihat bukanlah khayalanku semata.


"Hei apa yang kau lakukan?. Waktumu tinggal 4 hari lagi?!." Katanya garang.


Aku hanya bisa melongo dan berkedip beberapa kali.


"Hei jangan melamun!!!." Dia berteriak kesal.


Aku tersadar akan lamunanku dan memfokuskan pengelihatanku padanya.


"Jangan membuang-buang waktu. Cepat selesaikan tugasmu sebelum terlambat." Setelah mengatakan hal itu dewa renkarnasi menghilang. Dan hanya meninggalkan langit malam.


Aku mengusap wajahku kasar. Aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikan tugas itu. Aku mendesah frustasi ketika otakku menjadi buntu tanpa ada jawaban atau ide cemerlang yang muncul.

__ADS_1


Entah kenapa aku mendadak menjadi seperti orang bodoh yang tidak bisa memikirkan sebuah cara.


Diriku mendengar guru Feng Ying memanggilku sambil melambaikan tangan mengajakku untuk makan malam bersama. Namun aku hanya mengacuhkannya. Pikiranku Lagi-lagi menjadi kalut. Dan ini benar-benar bukanlah hal yang bagus.


"Tuan..." Aku mendengar suara seseorang didekatku. Kutolehkan kepalaku melihat siapa gerangan orang yang menyapaku. Ternyata dia adalah gadis yang tadi kutolong.


[Ilustrasi gadis yang ditolong]


Dia terlihat membawa sebuah daun yang digunakannya sebagai alas dari ikan bakar yang dibawanya. Dan tersenyum tipis padaku. Kemudian dia menyerahnya padaku.


"Makanlah tuan. Anda pasti belum makan." Katanya padaku.


Kuambil ikan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Moodku sedang buruk saat ini. Dia tanpa aba-aba juga duduk tidak jauh dariku. Pandangannya menatap langit malam yang dihiasi bulan sambil tersenyum sendu.


Aku hanya diam memperhatikannya tanpa berniat mengganggunya.


Entah apa yang merasuki mulutku, tiba-tiba aku malah bertanya padanya.


"Siapa namamu?." Tanyaku dan setelah pertanyaan itu keluar aku malah merasa aneh. Biasanya aku hanya akan cuek.


Dia tersenyum sambil menatapku. Dan menjawabku.


"Mei Lin.. Namaku Mei Lin tuan." Jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Kenapa tadi mereka menyerangmu?. Apakah mereka seorang perampok?." Aku masih melanjutkan ucapanku. Daripada aku hanya diam dan mengira-ngira lebih baik aku bertanya saja secara langsung bukan?.


Dia menoleh melihatku, wajahnya menunjukkan sedikit rasa terkejut karna pertanyaan yang kulontarkan. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Aku tidak tahu tuan. Tiba-tiba saja mereka menyerangmu dan juga ayahku." Terlihat sekali jika dia menyembunyikan sesuatu saat mengatakannya.


Dia terlihat gugup dan mengarahkan pandangannya saat mengatakannya. Tapi aku masih mencari celah agar dia mengatakan yang sebenarnya. Aku penasaran dengan apa yang disembunyikannya.


"Kau terlihat seperti seseorang yang sedang patah hati." Ucapku seenaknya tanpa kusaring terlebih dahulu, sambil memasukkan daging ikan kemukutku. Aku sungguh lapar saat ini.


Mei Lin salah tingkah karna perkataanku. Sepertinya tebakanku benar. Padahal aku tadi hanya iseng, pikirku.


"Aku benarkan?." Aku semakin memojokkannya.


"Darimana anda tahu tentang hal itu tuan?." Mei Lin serius.


"Dengan melihat ekspesimu siapapun juga akan menyadarinya." Kataku dengan enteng.


Aku mengeluarkan giok dari bajuku dan memperlihatkannya pada Mei Lin.


"Mereka bukan perampok ataupun bandit. Mereka adalah prajurit dari sebuah kerajaan. Dan giok ini aku temukan saat tadi melawan mereka.." Aku menjeda ucapanku.

__ADS_1


"Apa kau yakin tidak mengetahui hal itu?."


Dia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.


__ADS_2