Aku Jadi Anak Raja?

Aku Jadi Anak Raja?
BAB 3


__ADS_3

"YANG MULIA... YANG MULIA!!!"


Lagi-lagi sebuah teriakan terdengar di telingaku. Mau tak mau aku harus membuka mataku lagi dan bangun. Teriakan seperti ini tidak akan bagus untuk kesehatan telinga jika terus menerus terjadi.


Dan lagi aku harus menghembuskan nafas untuk membuang rasa kesalku. Bahkan sinar matahari saja masih malas untuk menampakkan dirinya. Tapi dengan seenaknya orang itu berteriak dipagi buta seperti ini.


Pintu terbuka dan menampilkan seorang laki-laki yang tadi malam juga melakukan hal yang sama seperti ini. Dia mengatur nafasnya perlahan sebelum menghampiriku. Entah siapa nama orang ini aku belum mencari tahunya dibuku.


'Sepertinya dia suka sekali berlarian sambil berteriak.' pikirku saat melihatnya mengatur nafas didekat pintu.


"Yang Mulia.. Yang Mulia.. Yang Mulia.. Ini gawat.." sambil menghampiriku dia berkata heboh.


Aku mengeluarkan tatapan malasku sekali lagi. Memangnya ada hal penting apa di pagi yang masih buta ini. Aku tidak habis pikir dengan orang ini.


"Ada apa?" tanyaku dengan nada malas.


"Yang Mulia hari ini Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan anda." beritahunya padaku dengan ekspresi cemas.


Aku melihatnya dengan tatapan aneh. 'Memangnya kenapa jika raja ingin bertemu diriku. Kenapa dia harus kelihatan cemas?' pikirku.


"Lalu kenapa?" balasku acuh.


Dia menampilkan ekspresi bingung dan heran secara bersamaan saat melihatku. Aku yang tidak tahu apa-apa masa bodoh dengannya.


"Yang Mulia.. Bukannya anda tidak pernah suka jika bertemu dengan Yang Mulia Raja?" tanyanya hati-hati.


'Oh jadi hubungan anak dan ayah ini sedikit renggang' batinku menerka.


"Memangnya kenapa aku tidak suka dengannya?."kataku cuek. Tiba-tiba dia menyentuh dahiku. Dan mengecek keadaanku. Juga mengeluarkan pertanyaan beruntun seperti kereta api padaku.


"Yang Mulia apa anda baik-baik saja?. Apakah kepala anda terbentur?. Apakah anda sakit?. Astaga Yang Mulia sebenarnya anda kenapa?. Anda baik-baik saja bukan?."dia terus mengulang pertanyaan itu dan membuatku merasa jengah dengan kelakuannya.


"Bisakah kau diam?. Kau berisik sekali pagi-pagi begini." balasku tak sopan padanya karena kesal. Dia sepertinya memang lebih tua dariku, mau bagaimana lagi aku adalah tuannya meskipun hanya berposisi sebagai pengganti.


Dia memandangku dengan ekspresi sedih. 'Yang Mulia tega sekali denganku.' batinnya ngenes.


'Apa-apaan ekpresinya itu?. Dia membuatku merasa seperti habis memarahiku anak kecil. Helaan nafas kembali kulakukan melihat tingkahnya itu.


"Sudahlah pergilah siapkan aku sarapan. Aku akan bersiap untuk bertemu dengan ayahanda." usirku padanya dengan halus.


Dia masih melihatku dengan tidak percaya. 'Kenapa Yang Mulia berubah seperti ini?' dalam renungnya. Namun dia tetap melakukan apa yang aku katakan. Dia menunduk memberi hormat dan berjalan pergi. Baru beberapa langkah berjalan, dia berhenti dan menoleh padaku.


"Yang Mulia anda yakin dengan apa yang tadi anda katakan?, anda tidak akan kabur lagi seperti waktu itu bukan?" katanya memastikan ucapanku.


"Aku tidak akan kemana-kemana. Kau bisa pergi sekarang jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan." jawabku.


Setelah mendengar jawaban ku akhirnya dia bergegas keluar dari ruanganku.


Aku tidak melanjutkan tidurku kembali. Aku lebih memilih mencari tau lebih jauh tentang putra mahkota dan apa saja yang tidak aku ketahui dengan buku hitam ini.


~Pagi hari~


Kini mentari pagi telah bangun dan menampakkan dirinya. Banyak orang yang sedang memulai aktivitasnya. Tak terkecuali di kerajaan ini.


Para pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Berjalan dengan tergesa-gesa sudah menjadi makanan mereka setiap pagi. Agar tugas mereka cepat selesai. Pagi hari memanglah waktu sangat sibuk. Banyak yang harus disiapkan oleh mereka.


Hal ini juga terjadi di tempat tinggal putra mahkota. Para pelayan sedang hilir mudik menyiapkan berbagai keperluan bagi sang pewaris tahta.


Seorang kasim kepala pelayan terlihat tengah menghampiri seorang jendral yang saat ini tengah berjalan menuju ruangan putra mahkota.


"Tuan apakah anda datang kemari untuk bertemu Yang Mulia?" ucapnya tanpa basa basi.


"Iya. Apakah Yang Mulia ada didalam?" balasnya.


"Iya tuan. Yang Mulia sedang bersiap didalam ruangan untuk bertemu Yang Mulia Raja."jelasnya.


"Apa terjadi sesuatu dengan Yang Mulia? selidik jendral itu pada kasim kepala pelayan.


"Apakah anda sudah mendengar yang terjadi semalam disini tuan?" Kepala pelayan malah bertanya balik.


"Hm aku mendengarnya saat aku masih dalam perjalanan kesini." balasnya.


Liliana a.k.a Xiao Hui POV


Aku baru saja selesai menyiapkan diri.


Aku memakai pakaian khas seorang bangsawan. Rasanya aneh memakai pakaian ini. Sangat rumit, ribet dan yang pasti tidak sesimple panampilanku dulu.

__ADS_1



Kulihat diriku pada sebuah kaca. Tampak seorang laki-laki berparas rupawan. Mungkin bagi kaum wanita yang melihatnya akan langsung menjatuhkan hati. Namun tidak untukku. Aku ini wanita, kenapa aku dirubah menjadi laki-laki.


Perasaanku menjadi sebal sendiri gara-gara memikirkannya. Kulangkahkan kakiku pergi keluar untuk mencari udara segar agar moodku membaik.


Saat aku sudah berada diluar aku melihat dua orang yang tengah berbicara serius. Kuputuskan berjalan menuju ke arah mereka.


"Kalian sedang membicarakan diriku?" perkataanku sepertinya mengejutkanku kedua orang itu hingga mereka menundukkan kepalanya padaku dan juga meminta maaf.


'Ternyata benar mereka sedang membicarakanku.' tuduhanku yang terbukti.


"Yang Mulia.." ucapnya melihatku dengan takut. Orang itu adalah kasim kepala pelayan di kediaman putra mahkota sekaligus orang yang membuat telingaku tidak sehat pagi ini.


"Yang Mulia maafkan atas kelancangan hamba." kata seorang lainnya.


Dia adalah jendral muda yang berumur 25 tahun. Namanya Yong Jiheun. Kemampuannya dan skillnya diatas rata-rata. Dia salah satu orang kepercayaan putra mahkota setelah kasim yang menjabat sebagai kepala pelayan, Hong Li. Dan memiliki kesetian yang luar biasa.


Itulah kira-kira yang aku ketahui dari membaca buku itu.



{Jendral Yong Jiheun ilustrasi}


Aku berjalan melewati mereka setelah 'menyapa' lebih dulu. Aku ingin pergi ke taman, tempat awal mula dimana aku datang kesini. Mereka berdua mengikuti yang tengah pergi dari kediamanku.


"Yang Mulia anda mau pergi kemana?. Sebentar lagi anda harus bertemu dengan Yang Mulia Raja. Bukannya anda sendiri yang mengatakan akan pergi menemui beliau?" Kepala pelayan itu masih saja mengoceh yang membuatku harus membungkam mulutnya dengan jawaban.


"Taman. Aku mau pergi kesana sebentar." kataku dengan pandangan tajam meliriknya. Kepala pelayan menundukkan kepala takut. Sedangkan Yong Jiheun yang ada disampingnya hanya diam sambil mengikutiku dari belakang.


~Di taman~


Keadaannya masih sama seperti kemarin saat aku terbangun disini. Hambaran rerumputan hijau dengan dihiasi aneka bunga yang sedang bermekaran.


Aku melangkah dengan perlahan sambil menikmati pemandangan yang ada. Rasanya begitu menyenangkan. Hembusan angin yang sejuk menerpaku, menambah suasana hatiku menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Aku ingat dulu waktu saat masih di duniaku sendiri, aku sering kabur dari rumah hanya untuk pergi ke taman. Hanya untuk menghilangkan rasa penat dan lelahku setelah belajar begitu keras.


Setidaknya disini aku masih bisa menemukan tempat seperti di duniaku yang bisa membuatku merasa tenang dan nyaman walaupun awalnya aku merasa asing berada di taman ini.


Aku menghentikan kakiku saat pengelihatanku melihat sebuah bunga yang disukai ibuku, bunga teratai. Bunga itu tumbuh sangat indah dan cantik disebuah kolam kecil yang ada ditaman ini.


'Bunga teratai bisa tumbuh dengan cantik dan indah meskipun dalam kotornya lumpur. Dan seorang wanita harus bisa tumbuh dengan indah dan cantik meskipun dalam keadaan apapun.'


Hatiku merasakan sebuah rasa rindu. Padahal baru satu hari aku berada disini. Tapi entah mengapa aku ingin kembali pulang. Kembali ke kehidupanku yang dahulu, meskipun aku tidak bahagia disana namun disanalah rumahku.


{}SoundtrackšŸ¤—{}


Neul ttokgateun haneure


Selalu tepat dibawah langit yang sama


Neul gateun haru


Selalu sama beberapa hari


Geudega omneun-gotmalgoneun Dallajin-ge omneunde


Selain tidak memiliki kamu tidak ada yang berbeda pada semuanya


Nan utgoman sipeunde Da ijeundeusi


Ku sudah berpikir tentang membiarkan kamu pergi


Amuil aneun deut geuroke


Tanpa meninggalkan memori samar seperti tidak ada yang terjadi


Useumyo salgopeunde


Senyuman menghidupkan hari-hariku


Geuriwo geuriwoso


Rindu kamu, sangat rindu kamu


Geudega geuriwoso

__ADS_1


Karena aku sangat merindukanmu


Meil nan honjasoman


Setiap hari aku sendiri


Geudereul bureugo bullobwayo


Dan aku memanggilmu


Bogopa bogopaso


Ingin melihatmu, ingin melihatmu


Geudega bogopaso


Karena aku ingin melihatmu


Ije nan seupgwanchorom


Sekarang hanya seperti sebuah kebiasaan


Geudea ireumman bureuneyo


Aku hanya menyebut nama anda


Oneuldo


Bahkan saat ini


Nan bonenjur-aratjyo da namgim-obsi


Aku sudah berpikir tentang membiarkanmu pergi


Anijyo anijyo nan ajik geudereul motbonetjyo


Tidak tidak, aku masih tidak bisa membiarkanmu pergi


Oneuldo


bahkan saat ini


Haruharuga jugeul gotman gateunde


Setiap hari tampaknya menjadi hari terakhir bagi saya


Ottoke heyaheyo


Apa yang harus ku lakukan


Saranghe sarangheyo


Cinta, aku cinta kamu


Geudereul sarangheyo


Benar-benar cinta kamu


Maljocha mot-hagoso geudereul geuroke bonenneyo


Pengakuanku sudah terlambat, apakah kamu sudah mendengar


Mianhe mianheyo


Maaf, maafkanku


Nae mari deullinayo


Apakah kamu mendengar kata-kataku


Dwineujeun nae gobegeul geuden deureul su isseulkkayo


Kebingunganku yang terlambat dapatkah kamu mendengar ini


Sarangheyo


Aku mencintaimu

__ADS_1


[Jung Yong Hwa-because I miss you]


__ADS_2