AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 10


__ADS_3

Beban yang menyiksa Faye seharian ini seakan menguap begitu saja saat melihat senyuman Eugene menyambutnya, menguap secepat cairan alkohol yang diteteskan ke permukaan kulit. Berganti dengan debaran yang kian tak menentu di dadanya. Juga rasa sesak dan canggung, namun semua itu terasa menyenangkan.


Eugene dan Faye terdiam, berdiri berhadapan di depan bongkahan batu besar berlumut tempat mereka berjanji untuk bertemu malam ini.


Faye mengepalkan jemarinya yang gelisah, takut jika suara debaran jantungnya sampai terdengar oleh Eugene. "Ikut aku," tiba-tiba suara Eugene menyentak Faye. Tanpa bertanya gadis itu mengekor langkah Eugene. Faye berusaha berjalan lebih cepat untuk mengimbangi langkah devoile itu, namun ia tetap tidak bisa menyejajarkan langkahnya.


Apa yang ku pikirkan? Aku sangat ingin berjalan di sisinya....


Faye menggigit bibir, kemudian tersenyum karena merasa konyol sendiri.


Langkah-langkah kaki Eugene terasa tanggung. Pemuda itu terbiasa berjalan dengan cepat, tapi ia tidak ingin meninggalkan Faye terlalu jauh di belakang. Eugene ingin berjalan di sisi Faye, namun ada rasa takut yang aneh nyusupi dadanya. Troll, naga, griffin, monster seganas apapun, bahkan Raja Zodic sekalipun Eugene tidak pernah merasakan setitik pun rasa takut terhadap mereka. Tapi pada fyriel bernama Faye yang berjalan di belakangnya.


Hanya fyriel dengan pendar cahaya yang begitu lemah. Hanya seorang gadis yang tidak akan sepadan jika melawannya. Gadis bergaun lavender, rambutnya yang dikelabang memperlihatkan leher dan bahu kecilnya yang putih. Entah kenapa itu jauh lebih 'menakutkan' bagi Eugene hingga menaikkan grafik denyut jantungnya, melebarkan pupil matanya, dan napasnya tidak leluasa.


Sensasi yang hampir membuatnya gila, namun ia begitu menikmatinya.


Eugene mengulurkan tangan. "Naiklah," katanya dengan nada canggung. "Maksudku, aku akan menggendongmu." Pipi Faye memerah. Ekspresi bingung menghiasi wajahnya.


Sial! Apa dia tidak tahu bahwa memasang wajah seperti itu hanya membuatnya terlihat semakin cantik!? Eugene mendesah dalam hati.


"Aku bisa berjalan sendiri," tolak Faye halus.


"Aku akan membawamu ke titik tertinggi Deep Forest. Kau yakin bisa memanjat pohon ini?" Jemari Eugene menunjuk sebuah pohon di sebelah Faye.


Kepala Faye sempurna mendongak untuk menemukan puncak pohon yang dimaksud, kemudian ia mengeluarkan tawa yang menyedihkan. Pasrah, akhirnya fyriel itu menyambut uluran tangan Eugene. Dalam hitungan detik tubuh Faye sudah berada dalam pelukan devoile itu. Kepalanya serasa berputar karena terlalu malu dalam dekapan tubuh Eugene.


Pendar kegelapan Eugene membentuk sayap, membawa mereka berdua terbang menembus angin malam. Naik menyusuri pohon itu hingga menemukan dahan yang paling tinggi. Eugene mendudukkan Faye di dahan tersebut perlahan, kemudian ia menyusul setelah menghilangkan sayap kegelapannya. Mata Faye berbinar takjub melihat pemadangan di sekitarnya.


"Danau Rosemary, seluruh Deep Forest, dan seluruh Kerajaan Asyre Barat maupun Timur, semua terlihat dari sini," Eugene berujar pelan.


Faye mengangguk kagum. Kilauan danau Rosemary yang tertimpa sinar rembulan, taburan pendar cahaya Kerajaan Asyre Timur, kemegahan misterius Kerajaan Asyre Barat, dan langit yang terlihat sangat luas dan tak terbatas begitu memukau dirinya. Gelora yang aneh membuncah, memenuhi dada gadis itu.

__ADS_1


"Ini indah sekali," desis Faye melalui bibir jingganya yang tersenyum samar. "Baru kali ini aku melihat pemandangan seindah ini...."


"Benarkah?" Eugene tersenyum dengan satu sudut bibir. "Aku akan membuatnya lebih indah lagi untukmu."


Faye melebarkan mata, mengikuti gerakan tangan Eugene yang merogoh sesuatu di balik jubah panjangnya. Devoile itu mengeluarkan sebuah flute berwarna perak dengan ukiran indah. Jantung Faye berdetak perlahan ketika melihat ujung flute yang berkilau itu menyentuh bibir tipis Eugene.


Alunan nada yang lembut dari flute Eugene membelai telinga Faye. Desiran angin dan suara gesekan daun pepohonan menambah harmoni musik yang menghangatkan dadanya. Pangeran devoile itu memejamkan mata, berkonsentrasi pada permainan flute nya. Faye bisa melihat bulu mata Eugene yang panjang. Sinar bulan menyinari lembut kulit pucat pemuda itu. Faye duduk begitu dekat dengan Eugene. Ujung jemari tangannya bahkan memasuki jangkauan pendar ungu gelap milik devoile itu, tapi ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Aneh, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Faye mensyukuri hal ini.


Eugene membuka mata, melirik Faye dengan sorot mata yang membuat gadis itu merasa terbuai akan keindahannya. Detik itu pula Faye baru menyadari bahwa keindahan sempurna itu adalah berada di sisinya, dengannya yang sedang menatap lembut dirinya. Ujung jemari mereka tidak sengaja bersentuhan, namun Faye tidak ingin menarik tangannya.


Sejak kehilangan sang ibu, Eugene sering pergi ke tempat ini untuk menyendiri, sambil memejamkan mata memainkan flute yang dulu diajarkan ibunya, sudah ratusan tahun pemuda itu melakukannya untuk menenangkan hati. Namun malam ini, ia menemukan sepasang mata ungu berkilau menatapnya ketika ia membuka mata. Saat itu pun ia merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam. Jauh lebih menenangkan hatinya.


Eugene menyudahi permainan flutenya. Denyut jantungnya terhenti sejenak, merasakan ujung jemarinya menyentuh milik Faye saat ka bermaksud meletakkan tangan di dahan pohon yang sedang mereka duduki. Rasa panas yang aneh menjalar dari jemari ke seluruh tubuhnya.


"Apa kau benar-benar devoile?" Eugene menoleh, mendapati tak percaya dari mata Faye. "Maksudmu?"


"Suara flute tadi benar-benar menyentuh hatiku." Fyriel itu mengalihkan mata kemudian menunduk. "Ayah dan Kyrion selalu berkata bahwa devoile adalah makhluk yang menebarkan ketakutan, kegelapan dan dendam"


"Begitulah kami."


Faye mengerutkan kening. "Tapi aku tidak melihatnya dalam dirimu...."


Mata merah Eugene melirik gadis itu. Tidak ada sepatah kata pun yang mampu ia ucapkan untuk menjawab Faye.


"Kenapa kau tak menarik tanganmu?" Eugene balas bertanya, setengah berbisik.


Ditatapnya gadis itu. Ia bisa melihat leher kecil Faye yang menelah ludah, menyiapkan sebuah jawaban yang tepat. Dan selama keheningan tanpa jawaban itu, jemari mereka tetap bersentuhan dan tidak bergeser sedikitpun. Kegelapan dari tubuh Eugene jauh lebih kuat ketimbang cahaya Faye, membuat jari Faye yang bersentuhan dengannya seakan ikut tertelan dalam pendar berwarna ungu gelap itu.


"Aku...," suara Faye melirih.


Eugene tidak melepas mata dari bibir Faye.

__ADS_1


"Mungkin aku devoile paling gila di seluruh Kerajaan Asyre Barat," bisiknya. "Dan itu karena kau, Faye."


Pipi Faye memerah. Eugene sendiri bisa merasakan rasa panas yang tadi bermula di tangan kini merambat ke wajahnya. Gila, mungkin itu kata-kata terkonyol yang pernah ia ucapkan seumur hidup untuk melukiskan dirinya sendiri, tapi ia benar-benar merasakannya sekarang. Fyriel itu membuatnya merasa terbuai, memberikan efek jauh lebih dahsyat daripada sebotol anggur paling memabukkan di seluruh Kerajaan Asyre.


"Seperti ini saja..." Eugene termangu. Faye sedang memalingkan wajah darinya, tapi ia yakin benar kalimat barusan berasal dari bibir gadis itu. Belum tuntas ia berfikir, Faye memutar kepala dan wajah, mereka berdua segera berhadapan. "Aku hanya ingin seperti ini... lebih lama lagi."


Faye bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di pupil mata Eugene.


Demi Freya! Apa yang baru saja ku katakan pada Eugene!? Rasanya tubuh Faye ingin meleleh saking kacau dan malunya. Bibirnya sudah bergerak di luar kontrol logika, hanya mengikuti keinginan hatinya yang makin lama makin konyol ketika berada di dekat Eugene. "Aku tidak keberatan." Senyuman manis di bibir pucat itu seperti menuangkan air es ke kepala Faye.


Faye merasakan jemari Eugene bergerak, kini tangan hangat devoile itu telah menggenggam tangannya. Dan tatapan pemuda itu mengunci seluruh pergerakan sendi tubuh Faye, membekukan waktu mereka berdua yang salin bertatapan, mendalami manik mata yang ada di hadapan masing-masing. Hanya seperti itu, tapi apa yang mereka rasakan jauh lebih dalam dari apa yang terlihat.


Semilir angin malam. Wangi kayu pepohonan, rumput dan bunga. Gemerisik dedaunan menyanyikan melodi hutan. Cahaya lembut sang rembulan. Detik demi detik kedua mata itu bertemu,tak menyisakan celah sedikitpun, menjejali hati mereka yang saling menginginkan satu sama lain.


Seekor serigala liar melolong, mengingatkan kedua makhluk itu untuk berkedip barang sekali. "Sudah lewat tengah malam," bisik Eugene tanpa melepas tatapan. "Sebaiknya kau pulang sekarang dan pergilah tidur." Faye menjawab hanya dengan dua kali kedipan mata. "Oke?" Eugene meminta jawaban.


Akhirnya Faye mengangguk berat. Faye tahu ia tidak boleh egois, hanya menuruti keinginannya sendiri. Ia juga tidak boleh ceroboh. Menemui Eugene di malam hari dengan diam-diam kabur dari rumah seperti ini sudah merupakan hal yang berbahaya. Faye harus pandai-pandai memperhitungkan segalanya agar tak seorang pun mengetahui kenekatannya ini.


Eugene tertawa pelan. "Aku devoile, makhluk yang jahat. Aku bisa saja menahanmu di sini sepanjang waktu untukku sendiri." Ia menyisihkan helaian rambut putih yang hampir menutupi mata Faye. "Karena itu pulanglah, sebelum aku berubah pikiran, Nona."


Faye berusaha menarik napas ke dalam paru-parunya yang terasa menyempit. Kakinya masih terlalu berat untuk meninggalkan tempat ini. Satu alis Eugene terangkat. Pemuda itu mendesah pelan. Ia melepas anting batu ruby yang selalu dipakainya di telinga kiri dan memberikannya ke dalam genggaman Faye. Pipi Faye memerah lagi saat bibir pucat Eugene mecium punggung tangannya.


"Bawalah, agar kau bisa tidur nyenyak." Satu mata Eugene mengedip.


Faye menatap anting batu ruby di genggamannya. Gadis itu merasa harus memberikan sesuatu agar Eugene juga bisa mengingatnya, lebih tepatnya ia ingin pangeran devoile itu selalu mengingatnya dan memikirkan dirinya. Faye menarik pita ungu yang mengikat rambut panjangnya, hanya itu benda yang di bawanya malam ini.


"Aku tidak yakin kau bisa tidur nyenyak tanpa ini." Faye menyodorkannya pada Eugene.


"Apa kau benar-benar fyriel? Kau cukup pandai menggodaku." Eugene tertawa.


Faye hanya mendengus dan mengalihkan mata ke arah lain. "Aku akan mengantarmu ke tugu perbatasan."

__ADS_1


Tangan berkuku hitam itu menarik Faye dengan lembut dan sayap kegelapan segera terbentang lebar di bawah sinar rembulan, membawanya terbang. Faye tahu ia harus memejamkan mata, menikmati detik-detik terakhirnya dalam dekapan Eugene malam ini.


__ADS_2