AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 19


__ADS_3

Warna merah batu ruby di anting pemberian Eugene bercahaya begitu indah ketika Faye menghadapkannya ke arah cahaya matahari yang sudah tak lagi di atas kepala. Clarina sudah pulang lebih dahulu karena harus menemani kakak perempuannya membeli baju. Tinggal Faye sendirian, berbaring di rerumputan lembut sambil menatapi benda kesayangannya berharap malam segera tiba dan Deep Forest memanggilnya.


"Faye...." Gadis itu tersentak ketika mendengar seseorang memanggil. Dengan gugup dimasukkannya kembali anting ruby itu ke dalam tas.


"Kyrion?" Fyriel berambut pirang itu tampak terengah-engah. Gerak-geriknya terlihat penuh kewaspadaan. Matanya beredar awas seakan khawatir akan ada seseorang yang mengejarnya.


"Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur," kata Kyrion terburu-buru, tanpa pembukaan apapun.


"Tunggu, ada apa ini?"


"Jawab saja pertanyaanku!" bentak Kyrion.


Faye terkejut. Belum pernah ia melihat Kyrion yang seemosional ini sebelumnya. "Apa...?"


"Apa Eugene pergi menemuimu semalam?"


Pertanyaan pemuda itu serasa memaku Faye di tempat. Perlahan ia menggeleng berat.


"Jangan berbohong! Ada jejak hawa kegelapan kami temukan di sana!" Kyrion merenggut kedua bahu Faye, membuat gadis itu menjerit kecil.


Sorot ketakutan di mata Faye menyadarkan Kyrion. Fyriel itu kemudian melepaskan tangan dari Faye dengan wajah menyesal.


"Maafkan aku," desisnya pelan. "Aku begitu mengkhawatirkanmu, Faye. Setelah ini utusan dan prajurit kerajaan akan menjemputmu ke istana untuk memastikan itu. Karena itu aku pergi lebih dulu padamu dan ingin meyakinkan diriku sendiri." Tangan Kyrion membelai rambut Faye dengan lembut.


"Aku yakin kau tak me..."


"Ya." Faye menatap Kyrion lurus. "Ya, Kyrion. Eugene datang menemuiku semalam." Lidah Kyrion terasa kelu.


"Tidak hanya semalam. Malam-malam sebelumnya pun kami bertemu di Deep Forest," lanjut Faye. "Aku mencintainya. Dan dia mencintaiku."


Beberapa detik Kyrion merasa bagai kakinya tak menginjak tanah lagi.


"Yang benar saja." Ia tertawa pelan. "Tidak mungkin. Itu tidak mungkin, Faye. Kau Fyriel. Dia Devoile."


"Aku tahu" sanggah Faye. "Kami tahu, Kyrion."


"Apa yang kau inginkan?? Hanya karena kau tak merasakan sakit saat kegelapannya menyentuhmu, lalu kau berpikir bisa menjalin hubungan dengannya? Kukira kau tahu bahwa devoile tak punya rasa cinta, Faye. Dia tidak mungkin mencintaimu. Kau hanya dimanfaatkan! Kau tidak boleh mencintai makhluk seperti dia! Kalian sangat berbeda, tak mungkin bisa bersatu!"


Plakk!!


Kyrion terdiam. Rasa panas menjalari pipi setelah tangan Faye menamparnya. Perasaan Kyrion mungkin hampir porak-poranda di tengah kenyataan seperti ini, ditambah lagi saat melihat air mulai menitik dari mata ungu fyriel di hadapannya.


"Maafkan aku, Kyrion," desah Faye. "Aku bukannya tidak pernah memikirkan perkataanmu tadi, aku bahkan memikirkannya berulang kali, lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan. Tapi sekarang aku yakin, Eugene berbeda. Aku tahu ia mencintaiku. Perasaanku, hatiku yang mengetahuinya."


Jemari Kyrion terkepal, gemetaran. Kenyataan ini masih sangat sulit diterima. Sesaat ia berharap ini hanyalah mimpi dan ingin segera terbangun dari mimpi ini, tapi hembusan angin dingin yang serasa menampar pipi menyadarkan pemuda itu bahwa ini benar-benar kenyataan yang harus di hadapinya.

__ADS_1


"Kenapa harus dia...? Aku mencintaimu. Akulah yang terus menunggu balasan perasaanmu selama puluhan tahun. Kenapa...??"


"Itulah yang kurasakan, Kyrion," jawab Faye berusaha tegar. "Seperti yang pernah kau katakan, aku tak pernah mengatur perasaanku. Aku tak memaksa perasaanku untuk memilih orang yang kucintai."


Mendengar itu, Kyrion bagai kehabisan kata-kata. Ya, Faye juga berhak mengatakan hal seperti itu padanya. Kyrion tersenyum pedih. Kenyataan memang tidak bisa dilawan walau sekejam apa pun ia menyakiti. Kenyataan tidak bisa dibalikkan sesuai keinginan, yang bisa dilakukan adalah menghadapinya dalam keadaan seburuk atau sebaik apa pun itu. Seperti yang dilakukan fyriel itu saat ini, berusaha mengesampingkan perih di hati yang menghabisi seluruh asanya dan kemudian meraih tangan Faye perlahan.


"Kau harus pergi dari sini," bisik Kyrion penuh kecemasan. "Aku akan melindungimu."


Mata Faye berkaca-kaca melihat Kyrion yang memaksakan senyum di atas wajah sedihnya. "Kyrion..." Jemari Kyrion gemetaran di sela-sela jemari Faye. "Terima kasih atas semua kebaikanmu, Kyrion," lanjut gadis itu. "Tapi aku tidak akan pergi."


"Kita tidak tahu apa konsekuensi dari kesalahanmu, Faye," desis Kyrion cemas.


"Aku hanya tidak ingin melarikan diri karena aku tidak melakukan kesalahan. Cinta tidak terdengar sebagai satu kesalahan bagiku. Aku lelah menyembunyikan semua ini, Kyrion." Faye bersikeras. "Percayalah padaku, semuanya akan bertambah rumit jika aku melarikan diri "


Kyrion menatap Faye nanar, dalam kepalanya berkelebat bermacam gambaran yang akan terjadi jika gadis itu mengakui hubungannya dengan pangeran devoile di hadapan Raja Atlura. Ia menelan ludah. Jemari Faye menggenggam tangannya, menghangatkan di tengah hawa yang mulai dingin karena sang mentari beranjak turun ke peraduan. Kedua mata ungu itu menatapnya penuh keyakinan.


"Sekarang bawa aku ke hadapan Raja Atlura."


***


Pintu ruang singgahsana Raja Zodic terbanting keras. Sepatu kulit hitam Eugene menghentak-hentak penuh kemarahan di sepanjang ruangan berlantai marmer yang terasa dingin itu. Mata merahnya berkilat lebih tajam dari biasa. Wajah pucat devoile itu memerah agak kehitaman, menandakan kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun. Dengan kasar dicengkeramnya leher seorang pengawal yang menghalangi jalannya menuju singgahsana Raja Zodic. Malang nian nasib pengawal yang ingin melindungi rajanya itu. Dengan gerakan yang sangat cepat hingga tak kasatmata, pedang kegelapan Eugene sudah merobek jantungnya. Tubuh pengawal tak berdaya itu terjatuh di lantai, mengucurkan darah berwarna kehitaman.


Pelayan-pelayan di sekeliling Raja Zodic memekik ngeri, namun satu jentikan jari sang raja segera menghentikan kepanikan itu. Suasana senyap dalam sekejap.


"Tidak usah berbasa-basi!" bentak Eugene kasar. "Kau juga melakukan hal yang sama, bukan? Tadi pagi, pada pengawal rombongan fyriel itu."


"Hmm? Apa aku baru saja mendengarmu sedang membela mereka?" suara Raja Zodic rendah namun terasa menggemuruh. Eugene membalas dengan geraman dalam. "Bukan aku yang membunuh enam prajurit fyriel di tugu perbatasan itu."


"Hmpf..."


"Apa yang kau rencanakan!??" teriak Eugene sambil melontarkan pedangnya ke arah singgahsana. Raja Zodic menggeser kepala sedikit. Pedang Eugene menancap keras beberapa senti di sisi telinga pria itu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Raja Zodic bangkit dari kursi kekuasaanya.


"Bukankah sudah cukup jelas? Aku ingin berperang dan merebut wilayah mereka, menguasai seluruh Asyre untuk bangsa devoile!" seringainya.


"Aku berbicara tentang info yang didapat Scarlet setelah membuntutiku kemarin! Apa sebenarnya yang kalian inginkan, hah!?"


Dalam satu kedipan mata tiba-tiba Raja Zodic menghilang dari singgahsana dan berada di depan Eugene. Tangannya mencengkeram leher pemuda itu. Kuku-kuku hitamnya yang panjang menggores kulit pucat Eugene.


"Berhentilah berbicara seperti itu pada ayahmu, Nak," desis Raja Zodic tepat di dekat wajah Eugene. "Aku ingin menggunakan kisah konyolmu dengan anak penjaga tambang Escudo itu untuk melemahkan mereka." Eugene mengerang, merasakan sakit yang mencekik leher.


"Kau hanya bermain-main dengan gadis itu, bukan?


Katakan...., itu hanya akal-akalanmu untuk merebut tambang Escudo."


"Tidak." Mata merah Eugene melirik tajam. "Aku benar-benar mencintainya."

__ADS_1


Satu senyuman sinis merekah di bibir kering Raja Zodic, setelah itu di bantingnya Eugene ke lantai tanpa ampun. Suara berdebam yang di timbulkan membuat bahu para pelayan dan pengawal di ruangan itu berjengit ngeri. Beberapa retakan muncul di permukaan lantai marmer yang tertimpa tubuh Eugene. Hawa kegelapan Raja Zodic menguar, makin ganas.


"Jangan main-main denganku."


"Kau ingin aku mengulangi lagi?" Eugene tersenyum tajam menantang. Perlahan devoile itu bangkit sambil menepuk-nepuk debu yang mengotori bajunya. "Aku mencintai fyriel itu "


Sekelebat bayangan meluncur cepat, dengan sigap Eugene berkelit. Belati Raja Zodic menancap di perisai seorang pengawal, jauh di belakang Eugene. Wajah pengawal itu memucat sadar bahwa baru saja ia selamat dari status "korban salah sasaran".


"Memuakkan. Darah wanita j∆l∆ng itu benar-benar mengalir dalam tubuhmu," geram Raja Zodic. Urat-urat di lehernya menonjol, reaksi dari panas kemarahan yang menguasai diri devoile itu.


Eugene menegang di tempat. "Apa maksudu?"


"Memangnya ada wanita lain ketika aku menyebut 'j*l*ng' selain ibumu?" sengit Raja Zodic dengan senyum mengejek. "Beraninya kau!!"


Teriakan kemarahan Eugene memenuhi ruangan. Devoile itu kembali menyerang Raja Zodic dengan pedangnya. Raja Zodic menyambar salah satu pedang pajangan di dinding dan menahan serangan putranya. Beberapa detik kedua bedan itu saling menahan, kemudian saling terpental. Berlanjut dengan duel penuh kecepatan yang dihiasi dengan percikan api dan suara benturan pedang. Satu serangan Eugene menggores pipi Raja Zodic. Darah berwarna hitam mengaliri pipi kiri raja devoile itu, namun ia tetap terbahak penuh kemenangan.


"Kau tahu? Ibumu, devoile j*l*ng dengan kegelapannya yang payah itu, aku tak tahu apa yang mengganggu otaknya hingga ia berpikir tentang cinta," desis Raja Zodic. "Awalnya aku hanya mengabaikan 'kelainan jiwa' itu. Aku masih punya banyak wanita lain untuk memuaskanku, sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku salah...."


Mata Eugene tak berkedip sedikit pun, tegang.


"Saat seorang devoile lahir, sudah seharusnya diminumkan air susu sang ibu yang akan memperkuat sifat kegelapannya. Tapi Yvona tak meminumkannya padamu. Dan bodohnya aku baru menyadari hal itu beberapa tahun kemudian, saat kulihat kegelapanmu jauh lebih lemah daripada milik anak-anak devoile lain. Saat itu pula aku sadar bahwa aku telah membiarkan sebuah kesalahan besar dan aku harus membereskannya secepat mungkin..." Tangan Raja Zodic membelai rambut Eugene. Senyuman samar di bibir pria itu mendadak mengaduk-aduk perasaan Eugene.


"Akulah yang membunuh Yvona. Ibumu."


Devoile itu menikmati perubahan demi perubahan ekspresi di wajah putranya, menyeringai puas bagai menanti hadiah kemenangan yang sudah ada di depan mata.


"Apa kau bilang...?" suara Eugene bergetar penuh emosi. "Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, melenyapkannya dari muka Benua Asyre ini." Raja Zodic terkikik. "Dan setelah itu aku terus melatihmu dengan keras untuk menguatkan kegelapanmu. Kau berkembang dengan cepat, Eugene. Membuatku bangga! Tapi lihatlah, ternyata si j*l*ng itu menyisakan kekonyolannya padamu. Di hatimu. Hatimu yang lemah itulah yang membuat kegelapanmu tak kunjung mencapai kesempurnaan!"


Eugene menonjokkan kepalan tangannya dengan penuh amarah tepat ke wajah Raja Zodic. Pria itu jatuh tersungkur ke belakang, namun segera bangkit berdiri dan kembali menertawakan Eugene bagai menertawakan badut tontonan.


"Kau gila!!!!" raung Eugene kalap.


"Gila? Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu pada ayahmu? Dan juga... aku ini devoile. Tidak. Aku adalah kegelapan terpekat, raja bangsa devoile!!" balas Raja Zodic membahana.


"Kejahatan dan kegelapan adalah hidup devoile, putraku. Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Tanyakan pada dirimu, apakah kau pantas disebut devoile??"


"Berisik!!" Eugene mengayunkan pedang hitamnya dengan liar. Pendar kegelapan di tubuhnya menguar makin kuat, makin membesar. "Kau! Aku tak sudi darah kotormu mengalir dalam tubuhku!!!"


"Hahahahaha!!!! Marahlah, Eugene! Marahlah!! Kegelapan akan segera sempurna menutupi hati lemahmu!! Inilah yang ku inginkan! Inilah langkah terakhirku untuk menyempurnakanmu, Putraku!!" teriak Raja Zodic sambil berkelit lincah menghindari serangan demi serangan yang di lancarkan Eugene. "Bayangkan wajah ibumu yang terus memohon agar aku tak membunuhnya hari itu. Memohon! Ia ingin tetap hidup agar bisa melihatmu tumbuh besar. Perasaan bodoh itu ia sebut dengan cinta! Dan saat aku mendengar kata itu terucap dari bibir busuknya, aku segera memotong leher devoile wanita itu! Kau bisa membayangkannya, bukan??"


Eugene terengah-engah, dadanya dipenuhi dengan kemarahan yang seakan tiada akhir. Tiap kalimat Raja Zodic tergambar jelas di benaknya. Devoile itu makin kehilangan kontrol, seolah semua ingatan di kepalanya tergantikan dengan dendam, amarah, dan hasrat untuk membunuh, menghancurkan segala yang ada di hadapannya.


Praanggg!!!


Para pengawal melompat kaget dari posisi siaga mereka yang sebenarnya sudah mulai goyah karena menonton duel sang raja devoile dan putranya. Kaca lukis besar di jendela ruangan itu pecah berkeping-keping, sesuatu terbang menerobos masuk. Devoile, dengan sayap berwarna merah crimson dan tanduk putih gading kecil mencuat di kepala. Mata kuning devoile itu segera menemukan sosok Eugene. Dengan cepat dipukulnya tengkuk pemuda itu hingga jatuh tak sadarkan diri dan dibawanya terbang, pergi dari tempat itu secepat mungkin sebelum Raja Zodic dan para pengawal bereaksi.

__ADS_1


__ADS_2