AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 13


__ADS_3

Titik-titik kecil berwarna kebiruan berpendar indah menghiasi malam hari di Deep Forest. Cahaya itu berasal dari kunang-kunang yang beterbangan mengabaikan dinginnya malam. Salah satunya hinggap di helaian rambut putih yang berkilau tertimpa lembutnya cahaya bulan purnama.


Faye memejamkan mata, menyandarkan punggung dan kepalanya ke punggung Eugene yang sedang memainkan sebuah lagu dengan flutenya. Siluet kedua makhluk itu terlihat indah di bawah bulan yang sedang membulat sempurna.


Eugene menghela napas perlahan usai menuntaskan lagunya. Mata merah devoile itu mengikuti seekor kunang-kunang yang terbang melintas tak jauh darinya. Seulas senyuman samar terlihat di bibir tipis itu.


"Mereka bersinar indah sekali." Faye mengangguk di balik punggung Eugene. "Ehm. Seperti warna Escudo."


"Sayang sekali, kristal seindah Escudo adalah pembunuh bagiku." Eugene tertawa ringan.


Jawaban itu tiba-tiba membangkitkan kembali rasa gelisah dalam dada Faye, seakan Eugene baru saja mengingatkan bahwa pemuda itu adalah makhluk yang berbeda darinya, berlawanan seratus delapan puluh derajat. Gadis itu membalik badan, menghadapi Eugene.


"Hei, Eugene," panggilnya.


"Hm?" Yang dipanggil segera menghadapkan wajah.


"Apa kau pernah berpikir tentang kita?" Kening Eugene berkerut. "Tentu saja. Aku selalu memikirkanmu sampai aku merasa bodoh karenanya." Ia tertawa sambil memutar mata.


"Bukan itu maksudku..." Faye menciut. Garis alis tajam milik Eugene bertaut, bingung.


"Apa kau pernah berpikir tentang kelanjutan hubungan kita?" tanya Faye hati-hati. "Seberapa lama akan bertahan.... Apa bisa begini terus...."


Eugene terdiam menatap Faye yang menggosok-gosok kedua telapak tangannya ketika sedang merasa gelisah.

__ADS_1


"Kenapa kau memikirkan yang seperti itu, Faye?"


Mata ungu Faye membalas tatapan Eugene dengan hati-hati, menggambarkan perasaannya yang kini sedang merasa tak aman dan tak menentu.


"Karena aku mencintaimu...," jawab Faye.


"Aku selalu memikirkannya mau tak mau, karena aku mencintaimu...." Eugene bisa merasakan gemuruh dalam dadanya saat mendengar satu kalimat itu.


Cinta. Satu kata yang tidak pernah ia dengar di seluruh penjuru Kerajaan Asyre Barat. Kata itu seakan begitu tabu dan asing di kalangan bangsa devoile. Eugene hanya pernah mengetahuinya dari buku-buku yang ada di perpustakaan istana. Buku-buku cerita yang sudah lusuh dan berdebu yang teronggok di sudut perpustakaan yang terabaikan dan hampir dibakar oleh sang penjaga perpustakaan. Sebelum buku-buku itu akhirnya menjadi serpihan abu, ia hanya sempat mengetahui bahwa cinta adalah rasa suka pada seseorang. Eugene tidak bisa mengerti hanya dengan informasi sedangkal itu. Apa ayah nya hidup bersama ibunya dengan rasa cinta? Apa ia terlahir dari rasa cinta itu? Tapi ia sama sekali tak pernah mendengar kata itu diucapkan oleh para devoil yang saling berpasangan. Apa rasa sukanya pada Faye bisa disebut sebagai cinta?


"Apa kau mencintaiku, Eugene?" Devoile itu membeku. Akhirnya pertanyaan itu datang juga. Faye menatapnya lurus dengan sorot mata yang benar- benar menantikan jawaban. Eugene terdiam membisu.


Apa aku mencintai Faye?


Eugene bisa saja langsung mengatakan "ya" agar tidak mengecewakan Faye. Namun ia tahu, bisa saja ia menyakiti gadis itu di kemudian hari jika tidak yakin dengan perasaannya sendiri sekarang ini.


"Eugene....?"


Hati Faye gamang menanti jawaban dari Eugene. Detik demi detik berlalu, seakan hanya memberitahunya bahwa Eugene tidak yakin dengan hubungan mereka. Ketakutan mendadak menyusupi dada fyriel itu. "Apa kau mencintaiku?" ulangnya lagi dengan suara agak bergetar.


Eugene tetap membisu. Perasaan kecewa semakin menjalari hati Faye. "Apa devoile bisa mencintai seseorang? Bisakah kalian jatuh cinta?" Faye mulai merasakan kekacauan di otaknya yang melontarkan pertanyaan seperti itu. "Ayahku berkata bahwa kegelapan tak menyisakan tempat hidup untuk cinta."


"Itu...."

__ADS_1


"Lalu apa yang kau rasakan padaku, Eugene?"


Keduanya saling berpandangan, namun kali ini dengan pandangan yang penuh ketidakpastian dari hatu masing-masing. Membuat dinginnya malam terasa semakin menusuk tulang Faye.


"Aku...." Irama jantung Faye semakin cepat mendengar suara rendah Eugene.


"Aku tidak tahu."


Lutut Faye lemas seketika, seakan semua harapan yang menyangga keduanya hilang begitu saja. Selama ini ia mencemaskan kelanjutan hubungannya dengan Eugene, mencemaskan masa depan mereka. Tapi bukankah semuanya terasa percuma jika Eugene bahkan tidak tahu dengan perasaanya sendiri? Rasa kecewa di dada Faye seakan naik, mendesak air matanya untuk keluar. Ia menggigit bibir untuk menahan tangis, namun ternyata tidak cukup kuat untuk membendung gejolak rasa yang menusuk itu. Setitik air mata akhirnya turun perlahan dari kedua mata ungu itu. Napas Eugene tercekat ketika melihatnya.


"Faye ..."


Faye memalingkan wajah, menghindari jemari berkuku hitam milik Eugene yang hendak mengusap pipinya. Saat itu pula Eugene merasa seperti ada ribuan serangga yang berputar di perutnya. Tidak, tidak hanya di perut, tapi juga di dada, membuatnya susah bernapas. Belum habis ia merasakan sensasi tidak nyaman itu, tiba-tiba Faye beranjak dan berusaha menuruni pohon sendirian. Secepat kilat Eugene menyambar tangan fyriel itu.


"Bodoh! Kau pikir lengan kurusmu ini kuat untuk menuruni pohon sendirian??" refleks Eugene membentak karena khawatir.


"Lepaskan, aku ingin pulang sekarang!"


"Kau bisa jatuh!"


"Aku tidak perduli!"


Eugene menggeram pelan. Tanpa memperdulikan lagi ocehan Faye, ia segera membopong tubuh fyriel itu dan mengumpulkan kegelapannya untuk membentuk sayap. Faye melakukan perlawanan, ia benar- benar tidak ingin devoile itu menyentuhnya saat ini, namun sepertinya perlawanan itu sama sekali tidak menyulitkan Eugene. Faye berhenti memberontak saat Eugene menurunkannya sesampai di bawah pohon. Mata merah pemuda itu menatapnya kosong.

__ADS_1


Pikiran Faye tidak cukup jernih untuk memikirkan itu, yang diinginkannya saat ini hanyalah menyendiri. Entah bagaimana caranya ia mengikis dahaga rindunya pada Eugene yang sebenarnya masih belum terpuaskan malam ini.


Ia hanya ingin sendirian. Memandang mata merah itu mendadak terasa sangat menyakitkan.


__ADS_2