AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 21


__ADS_3

Matahari dari timur dalam suasana yang tenang seperti biasanya di Kerajaan Asyre Timur, namun tidak demikian halnya dengan suasana dalam rumah kayu sederhana tak jauh dari Deep Forest yang penuh butiran embun di pagi hari. Vortes tak bisa memejamkan mata semalam suntuk sepulang mendampingi Faye menghadap Raja Atlura. Pria itu hanya duduk termenung tanpa suara sedikitpun di meja makan, ditemani Kyrion. Mata Vortes terlihat sangat berat dan lelah, tetapi pikiran yang terlalu kacau tak mengizinkannya untuk jatuh tertidur. Ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan putrinya yang kembali mengurung diri di dalam kamarnya. Vortes merasa begitu tak berdaya dan lemah sebagai seorang ayah karena tidak mampu membantu mengurangi penderitaan putrinya.


Kyrion menatap Vortes prihatin, pria yang biasa terlihat ceria itu kini sangat berantakan dan tertekan. Ia berusaha menenangkan Vortes, meyakinkan bahwa Faye pasti kuat dan semuanya akan baik-baik saja, tapi fyriel itu bergeming seolah tidak mendengar perkataannya. Kyrion menghela napas perlahan, menatap pintu kamar Faye yang terkunci dari dalam.


Faye..., aku tahu semua ini berat bagimu, tapi aku yakin kau mampu menghadapi semua ini. Kau masih punya orang-orang yang mencintaimu di luar sini...


Lembut sinar mentari membangunkan Faye. Matanya masih terasa berat dan basah ketika ia mencoba membukanya. Gadis itu menangis semalaman hingga tertidur karena lelah. Faye mengerang lirih dan bangkit dari tidur dengan wajah dan rambut acak-acakan. Seketika itu juga memori tentang kejadian semalam terulang di otaknya yang baru sempurna sadar. Rasa sesak, berat, dan tertekan menyergapnya lagi. Mendadak Faye merasa takut untuk menghadapi hari ini, yakni hari pertamanya tanpa Eugene. Dan tanpa bisa dikontrol, benak fyriel itu membayangkan ribuan hari berikutnya tanpa pemuda yang ia cintai.


"Hei."


Faye terkejut, sontak menoleh ke satu sudut kamar, ke arah dari mana suara itu memanggilnya. Bibir fyriel itu terperangah. Bagai mendapat semua tenaganya kembali, Faye meloncat turun dari ranjang dan berlari ke sudut kamar itu, memeluk seorang pemuda berjubah hitam dengan kancing-kancing perak mengkilau. Jemari Faye mencengkeram punggung jubah pemuda itu, memeluk dengan begitu erat seakan tak mengizinkannya bergerak pergi sedikit pun.


"Aku telah berbohong, Eugene...," isak Faye lirih. "Aku bilang pada mereka bahwa aku akan melakukannya, tapi ternyata tidak bisa. Aku tidak bisa tanpamu...."


"Kau tak perlu melakukannya, Faye." Eugene melepaskan pelukannya perlahan. Diusapnya air mata yang membasahi pipi kemerahan gadis itu dengan kedua ibu jari. Faye menatap mata merah Eugene dengan penuh tanda tanya sementara jemari devoile itu menyisir rambut berantakannya dengan penuh kelembutan.


"Tapi..., jika aku tak melakukannya, ayahmu...."


"Persetan dengannya," sela Eugene dengan nada sengit. "Dia akan tetap menyerang kerajaan ini."


Sorot terkejut memancar dari kedua bola mata Faye.


Duk duk duk!


"Faye!!!" Eugene dan Faye tersentak mendengar suara gedoran yang begitu keras di pintu kamar. Faye tahu, itu suara ayahnya.


"Devoile! Aku tahu kau ada di dalam! Jangan sentuh putriku, Makhluk terkutuk!!" Faye mengerling ke arah Eugene penuh kecemasan. Rasa takut mendorongnya secara naluriah untuk masuk ke dalam pelukan Eugene mencari perlindungan. Sungguh tak pernah terbayangkan seumur hidupnya ia mencari perlindungan pada kegelapan dan merasa takut akan cahaya seperti ini.


Eugene mengangguk untuk meyakinkan Faye. "Para pengawal Atlura pasti sudah mencium keberadaanku. Tapi tenanglah, aku tak akan lari. Aku akan melakukan apa pun yang kubisa agar bisa tetap bersamamu." Secercah kebahagiaan menerangi hati Faye saat mendengarnya.


Braakkk!!!


Pintu kamar dibuka paksa. Vortes dan Kyrion segera masuk dengan wajah memerah penuh amarah. Kemarahan semakin meledak di dada keduanya saat melihat devoile berpendar ungu gelap itu tengah memeluk Faye. Eugene segera menggeser tubuh Faye ke belakang, melindungi gadis itu dengan tubuhnya. Melihat Vortes yang menghunus tombak Escudo ke arahnya, devoile itu pun mencabut kedua pedang hitamnya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Tuan Vortes."


"Tutup mulutmu, Devoile!" bentak Vortes kasar. "Menyingkirlah sekarang juga atau kami akan membunuhmu! Para pengawal sudah mengepung di luar, jadi jangan berpikir untuk membuat kekacauan!"


"Aku akan menjatuhkan pedangku kalau itu bisa membuatmu mendengarkanku." Eugene meletakkan kedua pedangnya di lantai tanpa ragu. "Aku ingin menyampaikan sesuatu pada raja kalian."


Kyrion menudingkan pedang Escudonya. "Apa lagi yang kau inginkan?? Pergilah, jauhi Faye!! Kau hanya akan mendatangkan kehancuran bagi kerajaan kami!"


"Ayah...,Kyrion...,"sela Faye takut di tengah keributan para lelaki itu. "Kumohon, dengarkan Eugene. Dia punya hal penting yang harus Raja Atlura ketahui, demi kerajaan kita." Vortes dan Kyrion masih mengepal erat senjata masing-masing, menatap beralih-alih dari Faye dan Eugene.


"Kumohon, beri dia kesempatan..."

__ADS_1


"Cih." Dengan raut wajah penuh kebencian akhirnya Kyrion menurunkan kembali pedangnya. "Ini hanya karena Faye yang memintanya, Devoile!" Fyriel itu membalikkan badan dengan gaya angkuh, kemudian memberi instruksi kepada para pengawal di luar agar tak menyerang. Mata ungu Vortes menatap kosong ke arah Faye dan Eugene, membuat perasaan Faye mendadak merasa tak enak.


"Ayah..."


"Kita berangkat ke istana sekarang." Rasa bersalah dan kecewa menusuk dada Faye. Vortes sama sekali tak memandangnya barusan, tak memberinya kesempatan bicara. Pria itu meninggalkannya keluar dengan punggung yang terlihat dingin dan kesepian. Eugene menangkap isi hati Faye melalui wajah gadis itu. Digenggamnya tangan Faye dengan penuh kasih sayang.


"Semuanya akan baik-baik saja," ujarnya sembari tersenyum hangat. "Percayalah padaku ,Faye."


Belaian lembut Eugene di kepala membuat perasaan Faye lebih tenang. "Ehm." Ia mengangguk.


Eugene dan Faye bergabung bersama dengan Vortes, Kyrion dan para pengawal yang berwajah tegang saat menatap kegelapan pekat menyelimuti tubuh sang pangeran devoile. Rombongan itu bergerak menuju Istana Asyre Timur, melewati jalan umun yang dipadati oleh rakyat. Para fyriel, centaur, kurcaci, dan elf yang sedang beraktivitas pagi mendadak berkerumun, memandangi si devoile bermata merah dalam rombongan makhluk cahaya itu menggandeng tangan Faye. Bisikan penuh rasa heran dan ekspetasi keluar dari bibir semua rakyat di sepanjang jalanan. Tidak berhenti pada Eugene, kini mata mereka pun mulai menelanjangi sosok Faye pula. Entah dari siapa, Faye berpikir sepertinya berita tentang hubungannya dengan Eugene telah menyebar hingga keluar istana. Bahu fyriel itu menciut dan kepalanya agak menunduk akibat tatapan tajam yang terus menusuknya. Kyrion mendesah berat mendapati bentuk Faye yang hampir mirip kura-kura yang akan menyembunyikan kepala dalam tempurung itu.


"Bisakah kau lepaskan tanganmu?? Itu benar-benar mengganggu," pinta Kyrion pada Eugene dengan nada sengit. "Atau kau sengaja ingin mencari sensasi disini??"


Tanpa menjawab, Eugene segera melepas gandengan dari Faye, kemudian diangkatnya kedua tangan dengan wajah tidak berdosa yang tampaknya membuat Kyrion makin kesal. Devoile itu mendengus geli setelah Kyrion tak menatapnya lagi.


"Kelihatannya dia menyukaimu," bisik Eugene di telinga Faye. Kyrion menoleh lagi dengan cepat. Wajah terlipat fyriel itu hanya ditanggapi Eugene dengan siulan santai.


Devoile itu berusaha menikmati perjalanannya menuju Istana Asyre Timur meskipun sebenarnya begitu banyak cahaya fyriel membuatnya merasa gerah, rasanya seperti hawa mengintimidasi. Eugene tak ingin menampakkan ketidaknyamanannya karena hal itu dipastikan hanya akan membuat Faye khawatir.


Rasanya agak lega saat memasuki istana, karena tak ada lagi kerumunan seperti di jalan tadi. Tetapi ketika menghadapi pendar cahaya Raja Atlura yang begitu kuat, Eugene kembali merasa tidak nyaman.


"Jadi kau... putra Zodic..." Mata hijau emerald sang raja menelusuri Eugene dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Namaku Eugene. Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu," jawab Eugene mantap, memastikan semua yang ada di ruangan besar itu bisa mendengarnya. Raja Atlura memiringkan kepalanya. "Tentang?"


Semua yang ada di ruangan itu berbisik-bisik. Raut tegang dan tak percaya menghiasi wajah para fyriel. Faye berdiri bersama Vortes dan Kyrion, tak jauh di belakang Eugene.


"Dia tak akan menyerang jika kau tak menemui Faye lagi, Eugene," tegas Raja Atlura. "Karena itu, kuminta kau pergi dari sini sekarang juga."


"Apa? Kau akan membiarkan ayahku merebut wilayah kalian dengan mudah??" Eugene tak terima.


"Pergilah. Zodic jelas akan menyerang jika ia tahu kau berdiri di sini lebih lama lagi. Tolong mengertilah, Devoile," sang penasihat kerajaan menjawab untuk rajanya. "Jangan keras kepala, kau hanya sendirian di wilayah kami sekarang. Raja Atlura sudah berbaik hati dengan mengampuni kesalahanmu kemarin, membunuh enam pengawal kami, jadi jangan membuat masalah lagi."


Eugene menggeram kesal. "Aku tidak pernah membunuh pengawal kalian! Devoile lain yang melakukannya!" teriaknya.


"Apa yang bisa membuat kalian percaya padaku?? Aku akan melakukannya!! Aku sungguh tidak menginginkan peperangan ini, tapi ayahku tak akan pernah berhenti sampai ia berhasil menguasai seluruh Asyre! Ia tak pernah peduli dengan semua perjanjian yang telah kalian buat! Jika baru sekarang ia menyerang, itu bukan karena ia pernah menepati perjanjian, ayahku hanya menunggu saat yang tepat untuk menjemput kemenangan gemilangnya!"


Hening. Tak ada satupun suara yang menanggapi usaha Eugene. Pemuda itu merasa seakan ia hanya pecundang besar yang dilecehkan, tak ada satu pun yang memandang bahkan mendengarkannya.


"Aku percaya!" Semua kepala menoleh ke arah suara itu. "Aku percaya pada Eugene." Faye melangkah mantap menuju sisi Eugene, menghadap Raja Atlura. "Eugene datang kemari dengan menentang ayahnya bukan untuk kita curigai seperti ini. Kumohon, Yang Mulia. Kita harus melindungi kerajaan ini. Percayalah...."


"Aku percaya padanya." Vortes menyusul maju ke sebelah Faye.


Faye terkejut, hampir tak percaya pada apa yang ia lihat. Vortes tersenyum lembut padanya, seakan topeng berwajah dingin yang tadi menutup wajah pria itu kini sudah hancur berkeping-keping. Rasanya Faye ingin memeluk ayahnya sambil menangis bahagia, tapi itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan di saat seperti ini.

__ADS_1


"Menurut saya, sebaiknya kita segera menyiapkan pasukan, Yang Mulia." Kyrion menyusul dengan tazim. "Kebetulan Ayah punya strategi perang jitu yang sudah lama menunggu untuk uji coba. Ya kan..., Ayah?"


Emerio yang berdiri di jajaran petinggi kerajaan segera tergagap karena semua mata tiba-tiba tertuju padanya. Beberapa saat pria berjenggot pirang itu tampak menimbang-nimbang. Namun saat menangkap pancaran kuat dari mata keemasan putranya yang ia banggakan, fyriel itu mengangguk pada Raja Atlura.


Tiba-tiba gema suara terompet gading membahana di seluruh kerajaan. Denyut jantung semua yang mendengar tanda itu seolah berhenti sesaat. Wajah Emerio yang tadinya masih merona merah mendadak pucat pasi.


"Yang Mulia!!!" Seorang pengawal mendobrak masuk pintu ruang singgahsana. "Maafkan kelancangan saya, tapi ini darurat! Pengawas di menara sudah melihat pasukan Asyre Barat di bagian terlarang Deep Forest! Mereka dipastikan bergerak menuju kemari dalam jumlah besar!!"


Raja Atlura berdiri di singgahsananya. "Kalian bisa memprediksi jumlah mereka?"


Pengawal itu menarik napas di tengah engahannya. "Sekitar lima ratus ribu ,Yang Mulia. Terdiri dari devoile, minotaur, goblin, chimera, troll dan griffin."


Emerio segera bergerak mengambil alih kontrol. "Kita punya dua ratus ribu prajurit yang siap berperang. Perintahkan pasukan untuk mengamankan orang tua, wanita dan anak-anak ke barak perlindungan bawah tanah. Kumpulkan para pria dan pemuda, juga elf, kurcaci, golem, centaur, unicorn, dan pegassus untuk membantu pasukan kita. Kyrion, kumpulkan komandan semua sektor dan pastikan strategi perangku di mengerti. Semua harus bergerak cepat!!"


"Baik!" Kyrion segera berlari keluar setelah memberi hormat pada Raja Atlura. Emerio menyusulnya kemudian.


"Aku juga harus bergabung dalam pasukan, Faye," suara Vortes menyadarkan Faye yang bingung di tengah kepanikan dalam istana. "Pastikan dirimu aman di barak perlindungan." Faye mengangguk dan memeluk Vortes agak lama sebelum akhirnya pria itu bergabung dengan fyriel-fyriel lain yang bersiap untuk perang.


"Izinkan aku bergabung bersama pasukanmu." Eugene menatap Raja Atlura lurus.


"Kenapa aku harus mengizinkanmu?" Raja Atlura balik bertanya sambil memakai pakaian perang yang disiapkan pelayannya. Eugene tersenyum pongah.


"Tentu karena kau membutuhkanku. Jumlah pasukanmu masih akan kalah walaupun ditambah dengan tenaga rakyatmu. Ayahku punya jumlah pasukan sebesar itu karena ia memaksa seluruh penghuni bagian terlarang Deep Forest untuk bergabung dengannya," jelasnya. "Kau takkan menyesal. Tanpa Escudo pun, aku bisa menghabisi seribu devoile sendirian."


Raja Atlura hanya melengos melihat kesombongan devoile itu. Tanpa menyahut, ia memberi isyarat pada seorang pelayan agar memberi Eugene baju perang. Sepeninggal Raja Atlura, Faye mendekati Eugene yang sedang memasang armor di tubuhnya. Eugene tersenyum kecil, ia sudah bisa mengerti apa yang akan dikatakan Faye hanya dengan melihat wajah khawatir gadis itu.


"Sudah berapa kali aku mengatakannya?" Eugene mencubit pipi Faye gemas. "Semua akan baik-baik saja. Pasukan ayahku pasti akan kalah. Devoile dan Fyriel bisa hidup damai lagi setelahnya, dan kita bisa terus bersama."


"Aku mengkhawatirkanmu," desis Faye lirih.


"Kau harus percaya padaku, Faye. Apa aku bisa menganggap percaya itu juga bagian dari cinta?" Faye terpana sejenak, kemudian seulas senyum merekah diantara kedua pipinya yang merona. "Kau belajar dengan cepat, Eugene."


"Itu semua berkat dirimu." Eugene memeluk Faye, mereguk ketenangan dari fyriel itu sebelum bergabung dengan ketegangan di luar sana. "Jaga dirimu. Aku berjanji segera menjemputmu ketika perang sudah berakhir." Faye mengangguk, air mata yang meleleh di kedua pipinya terasa hangat di tengah udara dingin. Eugene tersenyum lagi melihat tangisan itu.


"Ah, aku haus."


Belum sempat berkedip, Faye sudah terlanjur membeku saat bibir tipis Eugene menyentuh kedua pipinya, menyesap bulir air matanya dengan lembut. Devoile itu mengedipkan satu mata sebelum berbalik meninggalkan Faye. "Dua tetes air mata sudah cukup menyegarkan. Aku sudah tidak haus, jadi jangan menangis lagi." Faye tertawa pelan. Itulah Eugene, selalu bisa menenangkan gejolak di hatinya.


Dewi Freya, kumohon... lindungi Ayah dan Kyrion...


Kumohon lindungi kerajaan kami..., lindungi bangsa fyriel dan bangsa lain yang mencintai kedamaian di tanahmu ini...


Aku mohon, lindungilah Eugene...


Mungkin bagi yang lain dia adalah kegelapan, tapi dia adalah cahaya kehidupan bagiku....

__ADS_1


Ditengah-tengah para fyriel yang berlindung dalam barak bawah tanah, Faye mengatupkan kedua tangan di depan dada. Memejamkan mata, membayangkan Dewi Freya ada di hadapannya dan ia memohon dengan sepenuh hati.


Suasana tempat perlindungan itu begitu suram, penuh dengan tangisan anak-anak dan ******* khawatir dari bibir para wanita yang memikirkan anggota keluarga mereka dalam peperangan di atas sana. Namun pendar cahaya dari tubuh mereka menerangi tempat itu, menandakan bahwa masih ada harapan yang begitu tinggi untuk menjemput sebuah kemenangan.


__ADS_2