
Raja Atlura mengalami pergolakan dalam batinnya. Ia tidak sampai hati untuk menatap raut di wajah Vortes dan putrinya saat ini. Ia bisa merasakan kekecewaan dari sinar mata sang penjaga Escudo itu ketika melihat putrinya datang dan membenarkan segala tuduhan yang dijatuhkan padanya. Namun kasih sayang yang begitu besar mengalahkan kekecewaan Vortes terhadap putri kesayangannya itu, membuat pria itu mengabaikan egoisme dirinya dan lebih memilih untuk merengkuh bahu putrinya, menguatkan Faye selama berdiri di hadapan sang raja fyriel.
"Faye," Raja Atlura membuka mulutnya dengan hati yang berat, "dengan segala hormatku, mewakili seluruh rakyat Kerajaan Asyre Timur, Aku meminta kepadamu...." Faye menelan ludah. Bola matanya bergetar pelan, tidak berani menatap cahaya yang begitu terang di hadapannya itu.
"Kita semua tidak menginginkan peperangan. Karena itu, tolong penuhi keinginan Zodic," pinta Raja Atlura dengan lembut. "Jangan pernah berhubungan dengan pangeran devoile itu lagi."
Bibir Faye bergetar. Seluruh tubuhnya mendadak merinding membayangkan akan seperti apa hidupnya nanti tanpa Eugene. Detak jantungnya serasa ingin berhenti saat itu juga. Vortes merasakan tubuh Faye yang makin lemas. Disangganya tubuh putri kesayangannya itu dengan kedua lengan kokohnya.
"Bisakah kau melakukan itu, Faye?" tanya Raja Atlura, memastikan. "Demi bangsa kita. Kerajaan kita."
Tak terasa Faye menitikkan air dari mata ungunya. Rasa sakit meremuk redamkan perasaan gadis itu. Semua mata tertuju pada fyriel berambut putih itu, memancarkan sorot penuh harap, menantikan kesanggupannya, memaksa Faye untuk mengangguk di tengah isak tertahan yang penuh rasa pedih. Semua fyriel itu mendesah lega dan berterima kasih mendapati kesanggupan Faye. Bibir-bibir mereka menggurat senyum penuh harapan.
Hanya Kyrion yang menatap Faye nanar, menelisik sosok yang kini tampak sangat tak berdaya itu. Memandang cahaya Faye yang terlihat makin redup. Ya, sebagian asa kehidupan gadis itu telah menghilang.
Hanya Vortes yang berwajah pedih, mengusap punggung Faye kemudian memeluknya erat. Berharap bisa mengambil semua rasa sakit dari hati putrinya untuk ia rasakan sendirian.
Dan hanya Faye yang merasakan kehancuran. Dingin. Lemah. Gadis itu terus menangis, terisak tanpa suara dalam pelukan ayahnya.
***
Eugene membuka mata perlahan. Sejenak pemandangan di sekitar terlihat buram dan berputar. Setitik air yang sangat dingin jatuh ke keningnya, membuat kesadarannya kembali dengan cepat. Eugene tersentak dan langsung terbangun. Tangannya mencari-cari pedang di punggung, tapi benda itu tidak ada pada tempatnya.
"Mencari ini?"
Dengan sigap Eugene menangkap dua bilah pedang hitam panjang yang dilemparkan padanya. Alis tajam devoile itu mengernyit.
"Saber?"
__ADS_1
Saber menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang mirip ikan hiu. "Oi."
"Di mana kita?" Eugene memutar pandangan, terlihat bingung.
"Deep Forest," jawab Saber "Aku baru menemukan gua bawah tanah ini. Bagus untuk tempat persembunyian, kan? Sebenarnya ini bekas tempat tinggal troll." Ia mengangkat bahu.
Perlahan Eugene mengaitkan kancing-kancing jubahnya yang terbuka.
"Aku merasa begitu buruk...."
"Hawa kegelapanmu terpicu oleh kemarahanmu, Bung." Saber menatap prihatin. "Kau sudah kembali normal sekarang, setelah tujuh jam tak sadarkan diri."
Eugene melirik Saber di hadapannya. Devoile itu sedang asyik membakar ikan yang di tusuknya dengan ranting. Mata kuning Saber berbinar menatap si ikan, berharap agar ikan itu segera matang. Kelihatannya ia sangat kelaparan.
"Kenapa kau membawaku pergi?"
"Kau devoile," sanggah Eugene. "Apa kau tak berpikir seperti halnya ayahku? Kau tak ingin kegelapanku sempurna dan hatiku sekeras batu kegelapan? Bangsa devoile tak seharusnya memiliki seorang pangeran sepertiku."
"Kau juga devoile, bukan?" Saber tak sabar lagi menunggu ikannya. Langsung digigitnya ikan setengah matang itu, mengabaikan panas yang masih membara. Diberikannya ranting ikan yang satu lagi ke tangan Eugene. "Itu hanya pikiran secara umum, Eugene. Tapi kau tidak bisa memukul rata pikiran setiap orang." Eugene termenung, meneruskan bakaran ikan di tangannya.
"Terus terang, aku sama sekali tidak mengerti ada apa dengan dirimu. Bagaimana jalan pikiranmu. Dan jika aku berpendapat, kau memang sudah gila, Bung. Berpikir tentang cinta. Menjalin hubungan dengan fyriel. Melawan ayahmu sang kegelapan terpekat. Oh, ayolah!" Saber memukul pundak Eugene. "Tapi naluriku mengatakan bahwa kau adalah sahabatku. Karena itu... seaneh apa pun jalan yang kau pilih, aku akan membantumu untuk berjalan di sana."
Senyuman geli terlukis di bibir Eugene. "Ini pertama kalinya seumur hidupku, mendengarmu mengucap kata-kata hebat seperti itu."
"Benarkah??" Mata Saber membelalak senang. "Perkataanku menyentuh hatimu? Begitu dramatis? Wow, aku keren juga!!"
Eugene dan Saber tertawa berbarengan Suara tawa mereka menggema dan mengeras berkali lipat di dalam gua yang besar dan gelap itu.
__ADS_1
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa ibumu, Eugene....."
Senyum Eugene memudar perlahan. Devoile itu mengangguk satu kali. Ikannya sudah matang sekarang. Eugene mencuilnya sedikit dengan jemari, kemudian ditiupnya pelan. Rasa hangat mengusir dingin di perutnya ketika ia menelan potongan daging ikan yang hambar tanpa bumbu itu, namun rasa lapar membuat ikan itu terasa begitu nikmat.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Saber. "Aku jamin sekarang ayahmu sedang menyiapkan pasukan untuk menyerang Asyre Timur."
Tenggorokan Eugene tercekat.
"Apa?" Saber heran dengan ekspresi Eugene. "Tak usah kaget. Meskipun gadis fyriel itu sudah mendapatkan hukuman dari Atlura karena hubungannya denganmu, tentu ayahmu tetap akan menyerang Asyre Timur. Itulah tujuannya dari awal. Gadis itu hanya alat untuk melengahkan Atlura dan pasukannya. Atlura pasti berpikir ayahmu takkan menyerang jika hubunganmu dengan gadis itu dihentikan."
"Faye...."
Eugene menyerahkan ikannya yang masih empat per lima utuh pada Saber dan tergesa memasang kedua sarung pedangnya di punggung.
"Mau ke mana??"
"Asyre Timur," jawab Eugene tanpa keraguan sedikit pun. "Aku harus meyakinkan Atlura soal peperangan ini, juga soal perasaanku pada Faye."
Saber melengos kemudian menepuk jidatnya. "Kau memang sahabatku yang paling gila, Bung!"
Tawa kecil menantang dari bibir Eugene.
"Jangan mati disana, oke!?" seru Saber sambil menudingkan telunjuk pada Eugene.
"Tak akan," jawab Eugene sambil tertawa. "Kau juga bisa mati karena melakukan ini, Saber. Ini sama saja dengan kau mengudeta ayahku. Berjanjilah kau tak akan mati."
Saber tersenyum dengan penuh keyakinan. "Aku berjanji!"
__ADS_1
Sayap ungu kehitaman Eugene terbentang. Satu kepakan membawa tubuhnya tak lagi menginjak tanah. Mata merah devoile itu menatap Kerajaan Asyre Timur yang terbentang di kejauhan. Eugene mengatupkan rahang, menguatkan dirinya untuk menghadapi entah apa pun yang nantinya menghadang dirinya beberapa detik, menit, atau jam kedepan.