
Faye meletakkan syal hasil rajutannya yang baru setengah jadi ke atas ranjang. Gadis itu menguap, kemudian menggeliatkan tubuhmya yang terasa agak pegal. Ia meyangga dagu di daun jendela, menatap rembulan sambil menghirup udara malam yang terasa dingin dan basah di paru-paru. Sinar lampu minyak dari teras-teras rumah bangsa fyriel berpendar lembut seperti gerombolan kunang-kunang, menambah suasana damai Kerajaan Asyre Timur di malam hari
"Indahnya...," bibir Faye mendesah pelan.
******* itu memang keluar dari bibirnya, tapi sebenarnya berasal dari lubuk hatinya.
Faye merasa kesepian. Ia memang memiliki Vortes sebagai ayahnya, Kyrion sebagai kakak laki-laki, dan Clarina sebagai sahabat baiknya. Tapi tiba-tiba saja Faye merasakan ada satu lagi yang belum dimilikinya. Seperti Clarina terhadap Kyrion, Faye ingin ada seseorang yang bisa menghadirkan kehangatan di hatinya.
Faye menutup wajah dengan kedua tangan dan membunyikan erangan pelan. Satu hembusan angin yang lembut menyibakkan rambut putihnya. Gadis itu mendesah lagi kemudian membuka mata perlahan.
Seorang pemuda dengan jubah hitam panjang tanpa lengan dan celana kulit berwarna hitam pula yang terlihat mewah duduk di dahan pohon depan kamar Faye. Lembaran rambutnya yang hitam keunguan tampak lembut menutup sebagian dahi dan pelipis hingga sisi-sisi leher jenjang pemuda itu.
Warna merah berkilat dari mata itu tampak mencolok di tengah kegelapan malam. Sebuah cincin hitam berukir indah melingkar di jari tengah tangan kanan pemuda itu.
Mata Faye melebar. Napasnya serasa tercekik.
"Mata ungu yang begitu indah...."
Faye mundur selangkah. Tangannya bersiap menutup jendela kamar, namun entah kenapa gerakannya melambat ketika rembulan menyinari wajah pemuda itu.
"Eugene....?"
Pemuda itu tertawa kecil. "Kau mengingatku? Sungguh suatu kehormatan..."
Iya menundukkan kepala. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu, Faye."
Jantung Faye berdenyut hebat ketika mendengar namanya terucap dari bibir Eugene.
"Mau apa kau kesini? Kalau kau mencari Kyrion, datanglah ke Istana Asyre Timur, dan matilah disana."
"Wow...." Mata Eugene membulat. "Aku tidak tahu fyriel bisa selagak ini."
Faye tersenyum sinis. "Kami bukan kaum lemah, Devoile."
"Tentu." Eugene mengangkat bahu dengan ringan. "Tapi tolong berpikirlah sedikit. Aku ini putra mahkota Asyre Barat, mana mungkin aku salah alamat hanya untuk mencari Kyrion busuk itu. Memangnya sedangkal itu informasi yang diketahui seorang pangeran sepertiku?"
Faye menggeruty dalam hati, kesal akan kearoganan Eugene. Terlebih pemuda itu menambahkan embel-embel "busuk" di belakang nama Kyrion.
"Kau ingin mati muda ya? Berkeliaran di kerajaan fyriel tanpa seorang pengawal pun, gertak Faye. Bibir Eugene membunyikan tawa lagi.
"Setidaknya itu yang ku pertaruhkan untuk bisa melihat wajah cantikmu lagi"
Faye menatap Eugene lurus. Pemuda itu tersenyum dengan ringan, senyuman yang mengacak-acak benteng pertahanan di hatinya. Faye merasa dirinya amat menyedihkan karena takluk hanya dengan satu senyuman dari bibir pucat Eugene.
"Baiklah, kurasa sudah cukup untuk malam ini." Eugene beranjak dari duduknya. "Kurasa aku bisa tidur nyenyak, tidak seperti kemarin.." Dada Faye berdebar. Ia juga merasakan hal yang sama kemarin. Eugene mengedipkan mata merahnya. "Sampai jumpa, Faye."
Lagi-lagi sayap hitam itu.....
__ADS_1
Faye menyentuh dadanya yang berdebar. Gadis itu segera menutup jendela dan berbaring di ranjang. Jemarinya membelai helaian syal rajutannya sendiri.
Demi Freya dan Atlura.....
Kenapa warna hitam ini jadi terlihat begitu indah.....?
***
Langkah Faye menuju halaman belakang Istana Asyre Timur terasa begitu berat, seakan ada hantu yang bergelayut di kedua kakinya. Saat Kyrion tersenyum menyadari kedatangannya pun, gadis itu sangat ingin berlari balik ke rumah dan bersembunyi di kolong ranjang saja. Bersikap biasa setelah tidak sengaja mendengar perasaan Kyrion itu begitu sulit, setidaknya butuh upaya yang begitu besar hingga membuat mata ungu Faye melebar secara tidak wajar.
"Siap untuk latihan hari ini, Nona?" Kyrion membungkukkan badan bagai pangeran dalam negri dongeng.
"E-ehm." Kepala Faye mengangguk gugup.
Kyrion mengerutkan alis. " Apa kau sakit?" Ia menjulurkan tangan untuk memeriksa suhu di kening Faye, tapi gadis itu refleks menghindar. Mendadak ada hawa tidak enak memenuhi dada Faye. Ia sadar telah melakukan reaksi yang mungkin terlihat tidak wajar di mata Kyrion, buktinya pemuda itu kini menyorotkan tatapan yang makin curiga padanya.
"Bi-bisa kita mulai latihannya?" Faye segera menyambar sebuah busur panah sebelum Kyrion membuka mulut untuk bertanya lagi.
"Hari ini jadwal memanah, kan?"
"Baiklah...." Kyrion melepas tatapan curiganya. Faye bisa bernapas lega sekarang.
"Tapi kau tidak akan memakai busur itu." Pemuda itu mengambil busur di tangan Faye.
Faye mengangkat kedua alis. "Lalu?"
"Escudo...?" bibir Faye mendesis bingung bercampur takjub. "Ta-tapi ..., bukankah hanya keluarga kerajaan dan pengawal saja yang boleh menggunakan senjata berbahan Escudo?"
"Ayolah, ayahmu bahkan seorang penjaga tambang Escudo, Faye." Kyrion tertawa geli.
Diletakkannya busur dan anak panah Escudo ke tangan gadis itu. "Keluarga penjaga tambang Escudo adalah keluarga kerajaan juga, lagi pula...."
Bibir kemerahan Kyrion berhenti berkata-kata. Matanya menatap Faye, menyirat kekhawatiran. Jemari pemuda itu menyibakkan rambut Faye yang menutupi pipi.
"Aku sudah berjanji pada Tuan Vortes untuk melindungimu dengan cara yang terbaik."
Satu senyuman manis merekah di bibir Kyrion.
"Oke, cobalah menggunakannya." Faye mengangguk kaku..
Mungkin akan terasa lebih berat jika dibanding busur dan anak panah biasa, tapi Escudo adalah bahan terbaik untuk menempa sebuah senjata," jelas Kyrion sambil menyilangkan tangan.
"Kecepatan dan keakuratannya lebih tinggi, karena itu kau harus berlatih untuk membiasakan diri."
Penjelasan Kyrion langsung terasa saat Faye merasakan berat yang tidak biasa ketika menarik busur. Gadis itu mengendurkan tarikannya lagi sambil membuang napas perlahan, kemudian menyiapkan tenaga untuk mengencangkan tarikan yang kedua kalinya. Tangan dan lengan Faye gemetaran menahan beban saat ia harus memosisikan anak panah ke arah sasaran.
Terdengar suara tawa kecil Kyrion.
__ADS_1
"Benar, kan?"
Kyrion berpindah ke belakang Faye. Kedua tangannya meraih tangan Faye yang sedang menarik busur, membantu fyriel yang terlihat sangat keberatan itu.
Faye sedikit terkejut ketika kedua tangan Kyrion menyelimuti tangannya. Ia ada di tengah rengkuhan tubuh pemuda itu. Harusnya Faye sudah terbiasa dengan posisi ini, karena bukan pertama kalinya. Dulu Kyrion juga pernah melakukan hal yang sama saat awal-awal Faye berlatih memanah.
Bedanya, sekarang Faye merasa begitu malu dengan posisi seperti ini. Apa lagi penyebabnya jika bukan karena ia berpikir akan pengakuan perasaan Kyrion beberapa hari yang lalu.
Syuutt!!
Panah menancap tepat di tengah sasaran
"Wow, nilai sempurna!" puji Kyrion sambil melepaskan tangan dari Faye.
Faye terbengong sejenak menatap sasaran tembak, kemudian mengedipkan mata seperti baru tersadar dari sugesti seorang penghipnotis.
"Kau yang menembaknya, Kyrion." Ia berpura-pura ngambek agar kekacauan di otaknya tadi tidak terbaca oleh Kyrion.
Kyrion tertawa renyah. "Maaf, habisnya kau lemas sekali." Tangannya menimbang-nimbang berat busur Escudo yang baru saja digunakan Faye. "Sebenarnya ini milikku,ditempa sepuluh kali, wajar jika terlalu berat untukmu. Aku akan meminta tuan Vortes untuk membuat yang sesuai untukmu."
"Ayah selalu lebih mendengarkan perkataan mu daripada aku." Faye memutar mata.
"Oh, iya." Gadis itu teringat sesuatu. Segera diacaknya isi tas yang ia letakkan di kursi taman istana. Kyrio mengerutkan dahi penasaran ketika Faye menyodorkan sebuah kotak kepadanya.
"Clarina menitipkannya padaku." Faye tersenyum-senyum. "Untukmu."
Faye terus mengawasi ekspresi Kyrion, mulai dari menerima, membuka kotak, kemudian mengeluarkan jubah buatan Clarina yang begitu indah dan memasukkannya kembali.
Tidak ada perubahan sama sekali pada garis wajah pemuda itu, datar. Entah mengapa hati Faye terasa pedih, membayangkan jika Clarina berdiri di posisi nya saat ini dan tidak mendapatkan ekspresi yang diharapkan dari orang yang ia cintai.
"Jubahnya bagus sekali," komentar Faye lirih.
"Ya kan...., Kyrion...?"
Mata keemasan Kyrion meliriknya. "Ya."
"Kau suka...?"
"Apa kau membuat sesuatu juga?" Kyrion mengalihkan pembicaraan. "Kau selalu menjahiy bersama Clarina,kan?"
Faye terdiam menunduk. Napasnya terasa sesak.
"Tidak." Ia menggelengkan kepala. "Aku tidak membuat apapun."
Sorot kecewa dari mata cokelat keemasan Kyrion serasa mengiris hati Faye.
Ia benci Kyrion yang lebih memilih dirinya. Ia benci dirinya sendiri.
__ADS_1