
Putra mahkota Kerajaan Asyre Barat merebahkan tubuh di atas rerumputan halaman belakang istana. ******* panjang keluar dari bibir tipisnya. Pemuda itu menekuk lengan untuk alas kepala kemudian memejamkan mata merahnya. Hembusan angin yang lembut membelai rambut hitam keunguan Eugene. Ia begitu menikmati suasana tenang seperti ini.
Seekor kupu-kupu cantik berwarna ungu hinggap di ujung hidung Eugene, membuat devoile itu refleks langsung membuka mata. Dipandanginya semburat warna yang begitu indah di sayap kupu-kupu itu. Warna ungu yang sama dengan mata fyriel yang ia temukan kemarin. Mata yang begitu jernih dan lembut, dengan bulu mata yang panjang dan lentik memayungi kedua mata indah nya. Memberikan sensasi yang aneh dalam dada ketika ia menatapnya. Diantara kedua mata yang indah itu terdapat garis hidung yang mungil dan runcing. Bibir fyriel itu tipis dan mungil, merekah berwarna jingga begitu menggoda. Kulit gadis itu pun begitu putih dan lembut ketika disentuhnya.
Eugene mengusap wajah sambil mendesah frustasi. Kecantikan bangsa fyriel memang terkenal dimana-mana, tidak diragukan sedikitpun. Tapi baru kali ini Eugene melihatnya sendiri dari jarak yang sangat dekat. Menyentuh gadis fyriel itu tanpa merasakan sakit sedikit pun di tubuhnya.
Kejadian aneh itu begitu menggelitik hati Eugene, mengusik pikiran devoile yang biasanya bersikap tak acuh terhadap apa pun itu.
"Eugene!!"
Mata Eugene melebar waspada ketika mendengar suara itu. Ia segera bangkit dari tidur dan bersiap hendak melarikan diri, namun seorang gadis tiba-tiba sudah memeluk lehernya dari belakang. Eugene sampai mendelik, rasanya seperti tercekik saja.
"Aku sangat merindukanmu,Eugene!"
"Lepaskan! Aku tidak bisa bernapas, Scarlet!" raung Eugene. Gadis berpendar merah gelap itu melepas rangkulannya dari leher Eugene sambil memonyongkan bibir. Eugene segera membetulkan kerah jubah tanpa lengannya.
"Oh, dua hari aku meninggalkanmu untuk berburu unicorn, tubuhmu terlihat makin seksi, Eugene! Kau pasti berlatih keras, ya?" Scarlet memeluk lengan Eugene dengan manja.
Eugene hanya mendecakkan lidah karena merasa risih dengan kelakuan Scarlet.
Scarlet adalah adik Saber. Kakak beradik itu adalah anak dari Penasihat Kerajaan Asyre Barat. Venom, penjilat terbesar dalam kerajaan. Setidaknya itulah kenyataan yang Eugene tahu menegenai ayah dari kakak beradik itu. Venom si devoile berjenggot merah itu selalu mencari celah untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya dengan berlindung di balik posisi sebagai penasihat kerajaan. Namun itu bukan alasan bagi Eugene untuk membenci anak-anak Venom, Saber dan Scarlet. Eugene tetap memperlakukan kakak beradik itu dengan baik walaupun Saber dan Scarlet sering kali mengganggu dan menyusahkan dirinya, terlebih Scarlet yang selalu mengejar-ngejar dan mengaku sebagai calon istri Eugene.
__ADS_1
"Aku bahkan bolos latihan." Eugene memutar bola matanya.
Scarlet tertawa genit kemudian bersandar di bahu Eugene. "Saber bilang kau berhasil menghancurkan troll berkepala tiga hingga berkeping-keping dengan mudah. Kau memang calon suamiku!"
"Hei...."
Eugene menatap Scarlet yang bersandar padanya. Gadis itu membeku, berdebar melihat wajah Eugene yang menawan begitu dekat hingga dadanya terasa sesak.
Scarlet memang devoile yang cantik, penampilannya pun selalu menggoda lelaki. Rambut merah gadis itu dipotong pendek, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Baju-baju Scarlet selalu bergaya seksi dan sangat berkelas. Wangi parfum yang mengundang para pemuda devoile tergila-gila tiap hari tercium dari tubuh itu, namun Eugene tidak merasakan apa-apa terhadapnya. Tidak ada sensasi aneh yang menjajah dada seperti saat ia menatap fyriel bernama Faye.
Sementara Scarlet yang terbuai oleh ketampanan Eugene perlahan menutup mata, berharap bibir pucat Eugene yang selalu ia idamkan itu menyentuh bibirnya.
"Kau sedang apa sih? Mengantuk?"
"Eugene!!" Scarlet menghentakkan kaki, menyusul Eugene.
"Kenapa kau tidak pernah menyentuhku??"
Eugene menunjukkan sorot mata heran.
"Aku cantik, semua pemuda ingin dekat denganku. Tapi kenapa kau selalu tak acuh padaku??" oceh Scarlet tidak bisa menahan emosi. "Apa kau sedang menyukai gadis devoile lain??"
__ADS_1
Eugene terdiam sejenak. "Tidak...."
"Lalu???"
Eugene mengalihkan tatapan dari Scarlet dan melanjutkan langkahnya.
"Eugene jawab aku!!"
"Aku tidak tahu," jawab Eugene dingin.
"Yang ku tahu hanyalah dia begitu cantik. Dan kau tidak bisa menandingi kecantikannya di mataku, Scarlet."
Jawaban ity membekukan sendi-sendi Scarlet, sekaligus menginjak-injak harga dirinya. Selama ini ia selalu di puja sebagai devoile tercantik di seluruh Kerajaan Asyre Barat, tapi pernyataan Eugene barusan membuat seluruh puji-pujian itu seakan tidak ada gunanya sama sekali.
Siapa gadis tengik yang berani merebut Eugene-ku??
Scarlet mengepalkan tangannya,geram.
Eugene melangkah dengan hati yang terasa bergejolak. Gejolak seperti ini baru pertama ia rasakan seumur hidupnya, dan ia tidak tahu bagaimana cara meredam rasa itu, bahkan membunuh beberapa chimera dan griffin yang ia lakukan tadi pagi pun tidak mampu mengusir kegamangan dalam hatinya.
Langkah Eugene terhenti, menatap kupu-kupu ungu yang tadi kini sedang terbang mengitarinya.
__ADS_1
Warna ungu di mata Faye. Eugene benar-benar ingin melihatnya sekali lagi.