
Fyriel dengan pendar cahaya tipis itu merenung di daun jendela kamarnya sama seperti kemarin, menatap rembulan yang bercahaya di langit. Pikirannya sedang kacau. Mungkin lebih baik jika saja Faye sudah tertidur malam itu, malam saat ia tidak sengaja mendengar Kyrion yang terang-terangan mengucap tentang perasaan pemuda itu padanya. Lebih baik jika saja Faye tidak tahu tentang kebenaran itu, sehingga perasaan terbeban seperti ini tidak akan menghantui dirinya. Perasaan tidak enak ini begitu menyiksa Faye. Faye tahu masalah ini tidak bisa dibaginya pada siapa pun. Dan ia tidak tahu apa persisnya yang harus ia lakukan untuk menghilangkan perasaan sesak ini. Gadis itu menghela napas dalam.
Ditatapnya dahan pohon tempat sang pangeran devoile mendatanginya kemarin malam.
Eugene... apa yang dia lakukan sekarang?
Apa devoile juga makan bersama keluarga seperti halnya yang dilakukan para fyriel? Apa devoile bisa merasakan kebahagiaan? Apa devoile bisa merasakan cinta? Apa benar-benar hanya ada dendam dan kejahatan dalam hati devoile? Lalu bagaimana mereka bisa bertahan hidup seperti itu?
******* berat terhembus dari bibir jingga Faye.
Tapi..., Eugene yang datang sendirian untuk menemuiku....
Dadanya terasa semakin menyempit. Kegalauan yang entah datang dari arah mana begitu menusuk-nusuk hatinya. Ia minggigit bibirnya sendiri.
Ia ingin bertemu Eugene. Melihat devoile itu lagi, merasakan sensasi melayang dan ringan saat mata merah pemuda itu menatapnya.
Faye begitu menginginkannya seperti seorang pecandu yang menginginkan candunya. Pikiran ini mendadak menguasai, ia ingin menikmati pesona pangeran devoile itu, melupakan sejenak kekacauan yang menjajah hatinya saat ini.
Faye menyibakkan ekor gaun putih yang ia kenakan. Dengan hati-hati ia memanjat jendela kamarnya. Gadis itu menoleh sekali lagi, memastikan pintu kamar sudah tertutup. Ayahnya tidak pernah mencari lagi jika sudah memastikan Faye masuk dan menutup pintu kamarnya. Dan fyriel itu pun melangkah, menginjak rerumputan basah dengan kaki telanjang mengikuti bisikan hatinya yang telah menguasai dirinya.
Eugene mengumpat dalam hati.
Mata merahnya menatap serpihan Escudo yang ditebar membentuk garis di sepanjang tugu perbatasan Kerajaan Asyre Timur. Beruntung ia melihat kilauan biru kristal Escudo itu dari kejauhan ketika terbang tadi. Serpihan Escudo memang takkan menyakiti devoile, namun hawa kegelapan mereka yang akan bereaksi dengan kristal itu, menghasilkan kilatan cahaya yang akan mengundang para fyriel yang berjaga di menara Istana Asyre Timur datang. Kelihatannya para pengawal kerajaan telah mengendus jejak hawa kegelapan yang tanpa sengaja ditinggalkannya kemarin malam saat ia mengunjungi Faye, karenanya mereka memperketat penjagaan dengan menebar serpihan Escudo di sepanjang tugu perbatasan.
Eugene sedang tidak ingin ada kekacauan malam ini, karena itu ia memutuskan untuk tidak nekat melintasi tugu perbatasan. Hanya duduk termenung di atas bongkahan batu besar berlumut di Deep Forest, tidak jauh dari tugu perbatasan itu. Eugene bahkan masih bisa melihat puncak Istana Asyre Timur yang berkilauan di malam hari. Devoile itu tertawa kecut beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Apa yang sedang ku lakukan di sini??"
Eugene beranjak. Ia mencuri pandang sejenak ke arah tugu perbatasan, kemudian berpaling sambil menghela napas. Devoile itu melompat turun dari bongkahan batu besar yang ia duduki. Suara botnya yang menapak rerumputan mengisi kesunyian Deep Forest, bersahutan dengan suara katak-katak gemuk yang mengorek keras.
Langkah Eugene terhenti tiba-tiba. Pemuda itu memasang telinga, ia yakin baru saja mendengar suara langkah di rerumputan. Ia menoleh sembari menyiagakan satu tangan, bersiap menarik satu dari dua pedang di punggungnya. Eugene mengernyit, memicingkan mata ke arah padang ilalang di sekitar tugu perbatasan. Perlahan sebuah pendar cahaya menyeruak dari balik semak ilalang yang tampak keabu-abuan di malam hari.
"Mereka datang? padahal aku sudah menjaga jarak sepuluh kaki dari garis Escudo itu," desis Eugene sambil mendengus geli. Pemuda itu menarik kedua pedang hitamnya, namun kuda-kudanya melemah ketika pendar cahaya itu semakin dekat. Eugene menurunkan pedang saat matanya menangkap sosok yang memancarkan cahaya lemah itu.
Faye menatap pedang di tangan Eugene.
"Bukan.. aku tidak bermaksud...," pemuda itu tergagap. Ia segera memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung. "Aku tidak tahu kalau kau yang datang."
Gadis itu tidak menjawab, hanya berdiri kaku tidak jauh dari tempat Eugene. Matanya menatap pemuda itu, tapi tidak menatap langsung ke wajah. Eugene ikut terdiam, sebenarnya pemuda itu tidak percaya pada apa yang ada di depannya saat ini. Ia memang memiliki niatan untuk mengunjungi Faye lagi malam ini, namun batas bertabur Escudo itu menahannya. Tapi kini gadis itu ada di hadapannya. Eugene mengerjapkan matanya satu kali, tak habis pikir dengan semua keanehan yang melandanya tiga hari terakhir ini.
Eugene mengangkat wajah mendengar suara lembut Faye.
"Aku?" Devoile itu tertawa kecil. "Ini adalah wilayah bebas, jadi tidak ada masalah kan kalau aku melakukan apa pun di tempat ini?" Devoile itu memdekati Faye perlahan.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian." Debaran jantung Faye dimulai lagi ketika Eugene memberinya sebuah senyuman menggoda.
"Aku...," bibir Faye mendesis. "Aku tidak tahu." Senyuman Eugene memudar. Ditatapnya fyriel cantik di hadapannya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Eugene melangkah lebih dekat lagi.
"Tidak tahu?" Ia memiringkan kepala. "Bukankah kau tahu tempat ini sangat berbahaya untukmu? Kau tidak ingat troll yang hampir saja membunuhmu?" bisiknya.
Mata merah pangeran devoile itu menjerat Faye.
__ADS_1
"Kau tidak ingat aku pernah berkeliaran di tempat ini?" tanya Eugene lagi. "Aku Eugene, pangeran para devoile. Kau tahu aku sangat berbahaya, bukan? Faye menelan ludah.
"Aku tahu itu," balasnya. "Yang aku tidak tahu adalah... mengapa aku datang kesini walaupun aku tahu semua itu berbahaya untukku." Jawaban Faye terasa bagai desiran angin yang membelai lembut telinga Eugene. Bibir pucatnya tersenyum tipis. Menatap wajah yang bersinar cantik itu, Eugene tidak bisa menahan keinginan untuk menyentuhnya lagi. Perlahan jemari devoile itu menelusuri garis pipi Faye.
"Apa ini menyakitkan?" Eugene berbisik.
Faye menggeleng perlahan. Eugene tertawa kecil. "Demi Freya..., kenapa bisa seperti ini?"
Sesaat hembusan angin malam menyela keheningan. "Aku... tidak bisa menahannya..." Mata Eugene menelusuri wajah Faye.
"Saat aku tidak bisa melewati tugu perbatasan itu, rasanya seperti ada batu kegelapan besar yang mengganjal dadaku."
Faye menunduk, ia tahu pipinya memerah merasakan jemari Eugene. Aroma parfum devoile itu terbawa angin yang bertiup. Faye belum pernah mencium wangi yang seperti itu seumur hidup dan ia merasa aneh karena nyaman dengannya.
"Lihatlah aku."
Sebuah dentuman menyerang jantung fyriel itu. Dengan takut-takut Faye mengangkat pandangan dan segera menemukan sepasang mata merah Eugene yang menatapnya lembut. Napas Faye terasa sesak, benaknya pun seakan melayang. Ia begitu menyukai warna merah di iris mata tajam pangeran devoile yang ada di hadapannya itu.
"Apa aku sudah gila?" Eugene tertawa pelan. "Aku begitu menginginkanmu, Fyriel..."
Bisikan Eugene membius Faye, seakan menarik gadis itu jatuh ke alam lain yang begitu indah dan membuatnya terlena. Faye membuka bibirnya perlahan.
"Mungkin..." Bibir pucat Eugene menyuarakan tawa. "Apa aku bisa melihatmu lagi besok?"
Faye mengerjapkan mata ungunya yang berkilau di bawah sinar rembulan, pemandangan yang begitu indah mengaduk dada Eugene. Terlebih saat fyriel itu mengangguk perlahan, mengabulkan hasrat keinginan yang menjajah hati sepasang makhluk kegelapan dan cahaya itu.
__ADS_1