AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 17


__ADS_3

Demi Freya, apa yang mereka lakukan??


Mata kuning Scarlet melotot. Urat-urat seakan menonjol di pelipis dan lehernya. Devoile itu gemetaran karena amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu.


Pertama, Eugene yang nekat sendirian pergi ke Kerajaan Asyre Timur.


Kedua, Eugene memeluk seorang gadis.


Ketiga, gadis itu jelas-jelas seorang fyriel.


Scarlet hampir hilang akal. Kegilaan macam apa yang sedang ku tonton saat ini? Dan lagi, bagaimana bisa Eugene bersentuhan begitu lama dengan fyriel itu? Kenapa fyriel yang terlihat lemah itu bahkan tidak mati?


Kepala Scarlet seakan berputar sampai ia merasa tanduknya akan putus sebentar lagi. Apa fyriel itu gadis yang Eugene maksud?


Cinta? Scarlet mendengus geli. Gurauan macam apa yang dibicarakan Eugene?


Diliriknya lagi ke arah jendela itu. Mata merah Eugene. Sorot di mata pangeran devoile itu, Scarlet benar-benar tidak pernah melihat yang seperti sekarang. Mendadak serasa ada lubang pusaran menganga di hati Scarlet.


Scarlet menggeram. Aku harus segera membicarakan ini dengan Raja Zodic.

__ADS_1


Harus!


***


Fyriel bertubuh tegap dan kekar itu berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong istana. Wajahnya terlipat, tangannya mengusap jenggot pirangnya berulang kali. Desisan tertekan pun tidak hanya sekali keluar dari bibirnya. Matahari di luar sana sudah berada tepat diatas kepala, membuat hawa begitu panas, namun sama sekali bukan itu yang membuatnya gelisah.


Dua orang pengawal membukakan pintu masuk untuknya.


"Hamba menghadap Yang Mulia Atlura, cahaya tertinggi kami," fyriel itu mengucap salam sambil membungkuk memberi hormat.


Seorang fyriel yang tampak sudah sangat tua tersenyum bijak di atas singgahsana emasnya. Pendar cahaya yang memancar dari tubuh itu begitu kuat dan indah. Jubah kebesaran yang ia kenakan berwarna putih berhiaskan benang-benang emas. Disisinya tertambat sebuah tongkat mengilau yang berukiran rumit, terbuat dari kristal Escudo berwarna turquoise indah. Mata hijau Emerald Raja Atlura menatap lembut, menyorotkan kebaikan dan kearifan yang luar biasa.


"Bangunlah, Emerio. Jangan membungkuk terlalu lama pada orang tua ini," jawab Raja Atlura rendah hati.


Keriput di dahi Raja Atlura bertambah. Jika ini Emerio, berarti pasti ada kaitannya dengan keamanan kerajaan.


"Bicaralah."


"Para penjaga melihat ada reaksi dari pagar serpihan Escudo yang di tebar di sepanjang tugu perbatasan, dengan kata lain....."

__ADS_1


"Ada devoile yang telah memasuki wilayah kita?" Raja Atlura mengutarakan kesimpulan terlebih dahulu. Emerio pun mengangguk tegang.


"Sebenarnya sekitar satu bulan yang lalu, kami menemukan jejak hawa kegelapan devoile di sekitar rumah Vortes. Namun karena tidak ada gangguan dan kerusakan yang terjadi, kami memutuskan untuk tidak membesarkan masalah dan memasang pagar Escudo di perbatasan untuk berjaga-jaga," jelas Emerio dengan wajah yang terlihat merasa bersalah. "Tetapi semalam...., kita kehilangan enam orang pengawal yang datang ke tugu perbatasan untuk memeriksa kilatan Escudo itu."


Wajah Raja Atlura mengeras. Emerio sendiri tidak berani mengangkat pandangan dari lantai.


"Semua ini kesalahan saya, Yang Mulia. Saya bersedia menerima konsekuensi apa pun dari kesalahan besar ini."


Raja Atlura memejamkan mata sejenak, tampak berpikir dalam diamnya. "Aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu, Emerio. Kau tidak perlu merasa bersalah sendirian," jawabnya menenangkan Emerio. "Berapa devoile yang memasuki wilayah kita?" tanyanya kemudian.


"Pengawal yang berjaga mengatakan bahwa terjadi dua kali kilatan, Yang Mulia. Itu berarti ada dua devoile, dan sedikit jejak mereka tertinggal, sekali lagi di sekitar rumah Vortes."


Sebuah gumaman pelan dibunyikan oleh sang raja. Para pelayan dan pengawal yang ada di dalam ruangan terlihat saling melirik satu sama lain, berbagi gelisah yang mereka rasakan melalui bahasa sorot mata.


"Apa yang mereka inginkan? Apa Zodic masih keras kepala ingin merebut tambang Escudo di atas perjanjian itu? Aku bahkan tidak pernah mencuranginya, tidak pernah menyakiti bangsanya meskipun kelemahan besar mereka ada di tanganku."


"Sudah sifat asli mereka, Yang Mulia," tanggap Emerio. "Zodic tidak akan puas hanya dengan separuh wilayah Asyre." Raja Atlura mendesah berat.


"Kirimkan utusan kerajaan untuk menyampaikan peringatanku kepada Zodic. Aku ingin tahu, apa ia masih bisa mengingat perjanjian yang di tanda tanganinya sendiri," titahnya dengan suara menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


"Sertakan beberapa pengawal terbaik. Kau bisa memberikan kesempatan juga pada putra kebanggaanmu, Emerio."


Fyriel bermata keemasan itu tersenyum bangga saat mendengar Raja Atlura menyinggung putranya. Ia segera mengangguk, menyanggupi perintah sang cahaya tertinggi Kerajaan Asyre Timur.


__ADS_2