AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 11


__ADS_3

Suara kokok ayam samar-samar menyeruak masuk kedalam mimpi Faye, perlahan fyriel itu membuka mata untuk menyambut udara pagi yang berembun. Faye menutup mulutnya yang menguap dengan tangan. Satu bulan sudah jam tidur gadis itu berkurang karena waktunya terpakai untuk bertemu dengan Eugene. Awalnya Faye merasakan berat di tubuhnya, namun akhirnya ia bisa menyesuaikan diri dengan jam tidurnya yang makin sedikit. Bahkan Faye merasa sanggup untuk tidak tidur seharian jika saja Eugene tidak melarang kebodohannya itu.


Mandi pagi mengembalikan seluruh kesegaran dan kekuatan Faye. Sambil berdendang lirih gadis itu mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Suara agak berisik yang dibuatnya membangunkan Vortes yang sudah tidur cukup lama karena kelelahan menempa senjata pesanan salah seorang anggota keluarga kerajaan. Faye segera menghampiri ayahnya yang berjalan terhuyung-huyung keluar dari kamar.


"Selamat pagi, Ayah." Dikecupnya pipi pria itu.


"Oh, bagaimana kalau di pipi yang satu lagi? Rasanya tidak enak kalau beraktivitas seharian nanti dengan pipi berat sebelah."


Faye memutar bola mata kemudian menambahkan satu ciuman lagi di pipi yang lain. Vortes terkekeh karena telah berhasil menggoda putri kesayangannya itu.


"Kau memasak lagi?" Fyriel dewasa itu bertanya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Ya, aku harus mempraktikkan apa yang diajarkan Clarina, Ayah. Maaf kalau akhir-akhir ini pencernaanmu terganggu." Faye menjulurkan lidah dengan wajah merasa bersalah.


"Masakanmu makin membaik, Sayang. Kurasa kau sudah siap untuk menjadi seorang istri."


"Ayah!!" Vortes terkekeh lagi, kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Faye terdiam di dapur, menatap sup yang ia masak dalam panci sambil menggenggam pengaduknya di tangan. Sudah tak terhitung berapa kali ayahnya membicarakan soal kehidupan cintanya. Itu wajar, karena Faye sudah memasuki umur yang cukup untuk merasakan pengalaman cinta dan Vortes sebagai ayahnya sekaligus orang tua satu-satunya memikirkan dan menginginkan yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


Aku sedang jatuh cinta, Ayah. Tapi....


Bagaimana jika kau mengetahui bahwa pemuda yang kucintai adalah devoile....?


Aku mencintainya, Ayah..., Eugene sang pangeran kegelapan itu. Ini gila. Aku bahkan tidak mendapatkan satu literatur pun yang menyebut tentang percintaan antara fyriel dan devoile, dua bangsa yang begitu berlawanan. Hanya aku dan Eugene yang menorehkan sejarah semacam ini.


Cahaya dan kegelapan. Bisakah kami bersatu?

__ADS_1


Dalam hati Faye sudah tahu bahwa hubungannya dengan Eugene tidak mempunyai masa depan yang jelas. Ia tahu bahwa hubungan ini tidak akan berjalan mulus sebagaimana layaknya pasangan yang lain. Ia tahu bahwa hubungan ini adalah sebuah kesalahan, baik dimata bangsanya maupun bangsa devoile. Namun tiap kali ia menatap mata merah itu, menyentuh kegelapan itu, seakan memberinya harapan baru dan keyakinan kuat bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Sekalipun Faye belum mampu melihat apa yang menantinya di depan, tetapi saat bersama Eugene fyriel itu merasa cukup kuat untuk menghadapi apa pun, membuatnya bertahan untuk melawan arus yang tidak jarang membanjiri hatinya.


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu rumah mengagetkan Faye. Awalnya gadis itu menyangka Kyrion yang datang, namun cara mengetuk yang barusan terdengar berbeda. Jika itu Kyrion, akan ada sedikit jeda di antara ketukan pertama dan kedua.


Siapa yang bertamu sepagi ini selain Kyrion? Faye segera meletakkan pengaduk supnya dan menghampiri pintu depan dengan banyak tanda tanya berenang di kepalanya. Seorang gadis dengan sepasang mata biru bening berdiri di depan pintu ketika Faye membukanya.


"Clarina?"


"Hai, Faye." Senyuman manis merekah di bibir Clarina. "Boleh aku ikut sarapan di rumahmu?"


Faye melongo sebentar sebelum menjawab, "O-oh, tentu saja."


"Baiklah, aku akan mengantar senjata ke istana." Vortes beranjak sambil mengelus perut yang sudah kenyang. "Nikmati waktu kalian berdua."


Rasanya Faye bisa menangis bahagia melihat keberangkatan ayahnya pagi ini, lebih tepatnya melihat ayahnya yang akhirnya berangkat juga.


Faye berdeham, membersihkan tenggorokan dari rasa manis susu yang baru saja diteguknya.


"Jadi, Clarina..." iya menyorongkan tubuhnya, "apa tujuan kedatanganmu yang sebenarnya?"


"Bukankah aku sudah bilang? Aku ingin merasakan sarapan pagi di rumahmu, Faye," jawab Clarina tanpa rasa aneh. "Boleh aku minta sup nya satu mangkuk lagi?"


Sodoran mangkuk dari Clarina hanya membuat alis Faye makin berkerut heran. Bukan soal supnya, tapi ia merasa jelas ada yang aneh dengan tingkah laku sahabatnya pagi ini. Sambil menghela napas Faye segera menyajikan satu mangkuk sup lagi ke hadapan fyriel berambut merah muda itu.

__ADS_1


"Ceritakan padaku...," kata Faye lembut.


Clarina berhenti meniup satu sendok sup yang hendak ia lahap. "Kau selalu punya sarapan pagi yang jauh lebih lezat dari ini, Clarina. Ayolah, apa ada yang sedang mengganggu hatimu?"


Satu sendok sup jagung itu masuk ke mulut Clarina. "Kau datang kemari untuk menceritakan sesuatu padaku, bukan?"


Clarina mengulum sup jagungnya, menahannya lebih lama di dalam mulut kemudian menelannya perlahan.


Satu tarikan napas gadis itu tersendat setelahnya. Faye terkejut ketika melihat bulir-bulir bening tiba-tiba berjatuhan dari kedua sudut mata biru Clarina, membasahi pipi kemerahan fyriel itu. Beberapa tetes meluncur di dagu dan terjatuh ke dalam mangkuk sup Clarina.


"Kyrion..."


Seakan ada sebatang tombak menancap di dada ketika Faye mendengar nama itu terucap dari bibir Clarina yang sedang banjir air mata. Tubuhnya bergerak begitu saja, beranjak dari kursi dan perlahan memeluk Clarina yang sedang menangis sesegukan. Bibir Faye tak mampu bergerak sedikit pun, tidak sanggup untuk menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Ke-kenapa kau menangis...? Bukankah Kyrion juga punya hak untuk tak membalas perasaanku?" Clarina mengangkat wajah.


"Andai aku tahu rasa sakit ini, mungkin aku tidak akan berani berharap banyak dari awal...."


Jemari Faye membelai rambut Clarina yang kemudian membenamkan wajah di pundaknya.


"Aku tidak bisa makan di rumah. Tidak bisa tidur... Tidak bisa menyiram bunga seperti biasanya..." Clarina berusaha berbicara di tengah tangisannya.


"Aku... aku tidak bisa melakukan apapun... karena aku masih bisa melihat Kyrion di dekat sana. Tiap kali aku melihatnya... rasanya sakit sekali..."


Menatap wajah sembab Clarina membuat dada Faye terasa sesak. Perih. Air matanya sendiri seakan mendesak untuk keluar, namun ditahannya. Yang bisa ia lakukan hanya menggenggam erat tangan Clarina dengan tangannya yang gemetaran. Dan membiarkan waktu mengeringkan air mata dari kedua mata biru yang indah itu.

__ADS_1


__ADS_2