
Tapp!!
"Bagus sekali!"
Fyriel berjenggot pirang dengan tubuh kekar bertepuk tangan menyambut sebatang tombak Escudo yang tepat mengenai tengah sasaran. Ia tak bisa menyembunyikan gurat dan senyuman bangga di wajahnya.
"Dengan kemampuan seperti ini, aku bisa merekomendasikanmu sebagai komandan prajurit Asyre Timur, Kyrion."
"Ayah terlalu terburu-buru." Kyrion tersenyum tipis sambil menyeka keringat yang menetes di dahi.
"Oh, ayolah...., ada apa denganmu, Nak? Seiring kekuatan yang besar akan datang tanggung jawab yang besar pula." Emerio menepuk pundak putra kebanggaannya."Kalau kau khawatir kesibukan akan menjauhkanmu dari Faye, aku memberimu izin untuk membawanya tinggal bersama kita di istana. Tentu Vortes juga tidak akan keberatan jika putrinya bergabung menjadi anggota keluarga kita." Pria itu terkekeh dengan suaranya yang menggelegar.
Kyrion hanya tersenyum menanggapi ocehan ayahnya. "Bersihkan dirimu. Sebentar lagi Faye akan datang untuk berlatih, bukan?"
"Ya, Ayah. Terima kasih untuk latihan hari ini." Kyrion mengangguk sopan.
Emerio membalas dengan satu lambaian tangan dan segera pergi untuk memantau latihan para prajurit kerajaan. Suasana relatif aman selama beberapa ratus tahun terakhir, membuat pekerjaannya terasa begitu ringan. Hanya sempat terjadi ancaman kecil sekitar satu bulan yang lalu, saat beberapa prajurit yang berpatroli menemukan jejak hawa kegelapan devoile yang tertinggal dalam kawasan mereka. Terlebih jejak itu berakhir di sekitar rumah sahabatnya, yakni Vortes sang penjaga tambang Escudo. Namun tidak ada tanda-tanda penyerangan maupun pengrusakan yang ditemukan. Dan setelah pagar serpih Escudo ditebar di perbatasan, tak ada lagi ancaman keamanan lain yang muncul.
Langkah fyriel itu terhenti ketika berpapasan dengan seorang gadis bergaun warna putih yang sama seperti rambutnya.
"Faye?" Gadis itu membungkukkan badan sambil mengembangkan rok gaunnya. "Tuan Emerio, lama tak berjumpa."
"Tentu, kapan terakhir kali aku melihatmu?"
"Setahun yang lalu, saat perayaan suci Dewi Freya. Pesta panen,Tuan Emerio "
"Ah, ya. Setelah itu Kyrion yang rajin berkunjung ke rumahmu. Aku sampai lupa menyempatkan diri untuk mampir karena ayahmu terlalu sering bertandang ke rumahku." Pria itu tertawa keras sambil menepuk-nepuk kepala Faye.
"Akan ku sempatkan mampir untuk mencicipi masakanmu, Faye. Sekarang pergilah, Kyrion baru saja selesai berlatih denganku. Cepat atau kau harus menunggunya sampai selesai mandi."
__ADS_1
"Baik. Saya permisi." Faye membungkuk sekali lagi sambil tersenyum.
Tapi Faye tahu benar, senyuman itu hanya sekedar hiasan di bibirnya, hanya sebuah ekspresi yang ia paksakan untuk menghormati sahabat ayahnya. Gadis itu tidak tahu apa ia masih bisa memaksakan senyuman lagi setelah satu senyum yang terasa begitu berat itu. Terlebih saat ia menemui Kyrion, orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini, namun ia harus melakukannya demi hatinya sendiri.
Mata cokelat keemasan Kyrion melebar. "Oh, kau datang lebih cepat?" Faye menelan ludah, berusaha menggerakkan lidah yang terasa kaku.
"Aku tidak ingin latihan hari ini."
"Apa?" Kyrion memiringkan kepala pirangnya. "Kau bosan, ya? Baiklah, apa kita harus latihan di luar sa..."
"Tidak." Wajah Kyrion pias ketika melihat Faye menyela kalimatnya dengan nada dingin. Pemuda itu kemudian mendekat, berusaha mencari tahu suasana hati Faye melalui wajah fyriel itu.
"Ada apa, Faye?" nada bicaranya berubah serius.
Faye tidak membuka mulut sama sekali. Ia menunduk, namun Kyrion masih bisa melihat kedua bahunya yang tegang. Perasaan Kyrion makin mengatakan ada yang tidak beres. Ia mengulurkan tangan menyentuh wajah Faye, namun gadis itu menepisnya perlahan.
"Jangan sentuh aku." Tepisan tangan dan kalimat itu tidak keras, tapi cukup kuat untuk membuat lubang besar di hati Kyrion saat ini. Terlebih ketika gadis yang ia cintai itu mengangkat wajah, menatap dengan sorot kecewa.
"Lalu apa hubungannya dengan sikapmu ini?" tanyanya dengan sorot mata dingin.
"Dia sahabatku, karena itu...." Faye menghentikan kalimat. Ia menggigit bibir. Ia tersadar, Kyrion memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Faye hanya muak dengan semua yang terjadi, tapi siapa yang harus disalahkan? Dirinya sendiri? Takdir?
"Itu bukan berarti aku harus membalas perasaannya, kan? Aku tidak mencintai Clarina, Faye. Aku tidak bisa," terang Kyrion dengan suara pelan. "Aku tidak ingin menyakiti Clarina lebih jauh, karena itu aku tidak memaksakan perasaanku."
Tidak ada jawaban dari Faye. Kyrion mulai merasa gundah dengan ekspresi Faye yang belum berubah juga. Rasanya ia ingin mengucap ribuan kata lagi untuk menjelaskan pada gadis itu, namun semua kata-kata itu seakan bercampur aduk, berantakan di dalam kepalanya dan tidak terucap satu kata pun.
Bibir Kyrion mendesis pelan, frustasi dengan keheningan di antara mereka berdua.
"Aku mencintaimu, Faye..." Mata Faye berkedip kaget, seakan baru tersadar dari sebuah lamunan panjang. Tidak lama kemudian fyriel itu menyadari bahwa bibirnya kini gemetaran.
__ADS_1
"Kenapa kau mengatakannya padaku?"
Kyrion menyiratkan kebingungan di wajahnya.
"Maaf..., aku...." Ia mengusap rambut pirangnya sambil mendesah berat. "Aku tidak tahu lagi harus berkata apa untuk menjelaskannya padamu."
"Mungkin sudah cukup jelas bagiku, Kyrion. Hanya saja...." Tenggorokan Faye serasa tersumbat sesuatu, beban dalam hatinya. Sementara Kyrion mencoba mencerna kalimat gadis itu.
"Faye...." Mata Kyrion bersinar samar. "Sikapmu padaku yang agak berubah akhir-akhir ini..., karena kau sudah menyadari perasaanku sebelumnya?".
Faye menunduk. Seulas senyum kecut tersungging di bibir jingganya.
"Harusnya aku tahu kau pasti menyadari itu."
Beberapa pelayan istana melintas dan menyapa Kyrion. Pemuda yang biasanya terlihat ramah itu pun tidak bisa menutupi ekspresinya yang sedang kacau saat ini. Ia hanya mengangguk, membalas sapaan ceria para pelayan itu sekadarnya.
"Jadi itu yang membuatmu kemari Kau merasa bersalah, bukan? terka Kyrion lirih. "Andai itu bukan Clarina, kau tidak akan datang kemari sekarang dan berwajah seperti ini."
"Kenapa harus aku?" Faye tidak berani menatap mata Kyrion.
"Kau bercanda? Kenapa kau tidak mengerti juga??"
Nada bicara Kyrion mengandung penekanan emosi.
"Cinta bukan sesuatu yang bisa kau paksakan. Aku mencintaimu. Aku sendiri juga tidak pernah mengatur hal itu. Perasaan itu muncul dengan sendirinya. Kau tidak bisa menanyakan hal seperti itu padaku, karena aku benar-benar mencintaimu!"
"Kau benar, perasaan tidak bisa di paksakan..., jawab Faye, nyaris berbisik. "Kau yang tidak bisa membalas perasaan Clarina...., dan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu...." Satu denyutan yang begitu menyakitkan menyerang jantung Kyrion.
"Sayangnya aku juga tidak bisa memaksa rasa sakit ini untuk segera hilang," lanjut Faye.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan berjalan meninggalkan Kyrion yang berwajah pias sendirian. Fyriel itu tidak mampu menggerakkan kaki, hanya menggerakkan mata menatap kepergian gadis berambut putih itu dengan rasa sesak menyelubung dada.