
Faye.
Gadis itu memiliki mata besar berwarna ungu bening bagaikan manik permata yang berkilau. Rambut panjangnya yang berwarna putih terurai lurus dan lembut hingga mencapai paha.
Bibir jingga tipis fyriel itu sering terlihat menyunggingkan senyum ceria,menebar pesona kecantikan bangsa fyriel yang memang tidak diragukan lagi di Kerajaan Asyre.
Karena lumrahnya kecantikan dan ketampanan,kedua hal itu sudah tidak memiliki nilai lagi di mata bangsa fyriel. Tingkat pendar cahaya di tiap tubuh fyriel yang menjadi penentu kekuatan dan mengundang decak kagum di kalangan bangsa tersebut.
Cahaya itu pula yang membedakan bangsa fyriel dengan bangsa elf.
Saat dibutuhkan,cahaya yang berpendar di sekujur tubuh fyriel dapat dikumpulkan dan membentuk sayap cahaya yang akan membawa mereka terbang tinggi.
Sayangnya,cahaya kebanggaan bangsa fyriel adalah kekurangan bagi Faye. Sejak lahir, pendar cahaya berwarna lavender di tubuhnya sangat lemah.
Ia tidak bisa terbang menggunakan sayap cahaya seperti fyriel lainnya,karena seluruh cahaya di tubuhnya tidak cukup untuk membentuk sayap sempurna jika dikumpulkan.Satu-satunya hal yang menjadi kebanggaan Faye adalah ayahnya Vortes sang penjaga tambang legenda Escudo.
"Faye pelan-pelan!"
Faye tidak mendengarkan teguran Kyrion. Gadis itu terus berlari dengan penuh semangat menuju Deep Forest, hutan terbesar dan terindah di Asyre.Kyrion berjanji menemani Faye berjalan-jalan di Deep Forest, sekedar untuk menyenangkan hati gadis itu.
__ADS_1
Kyrion.
Fyriel bermata coklat keemasan itu lebih tua dari Faye. Ia berperan sebagai kakak laki-laki Faye sejak kecil karena ayah mereka berteman baik.Terkadang Kyrion juga mengambil peran ibu Faye yang memang telah tiada setelah melahirkan gadis itu.Kyrion termasuk dalam level tinggi fyriel seusianya, terlihat dari pendar cahaya keemasan yang begitu kuat menyelimuti tubuh rampingnya yang kokoh.
Pemuda itu memang rajin berlatih, apalagi ia adalah putra dari seorang Panglima Kerajaan Asyre Timur,Emerio sang kuda hitam Raja Atlura.
"Kau lamban,Kyrion!" teriak Faye sambil tertawa di sela napasnya yang terengah-engah.
"Cepatlah sedikit, aku sudah tidak sabar ingin menangkap kelinci!"
Kyrion tersenyum penuh arti.
Cahaya emas Kyrion memudar dengan cepat,berkumpul menuju punggung indahnya dan membentuk siluet sayap yang membentang lebar nan cantik. Segera saja kaki Kyrion tidak menyentuh tanah lagi.Pemuda itu melesat bagai semilir angin musim semi yang lembut.
"Uwaaa!"
Faye menjerit ketika Kyrion menangkap tubuhnya,membawa serta gadis itu terbang.
Ia tertawa dengan gembira dalam pelukan Kyrion, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Mata ungunya ia pejamkan. Tercium aroma tipis bunga-bunga Deep Forest yang sudah semakin dekat.
__ADS_1
"Kau senang?"
Faye membuka mata,melihat mata Kyrion yang berkedip lembut padanya.
"kalau boleh jujur, mungkin jauh lebih menyenangkan jika aku bisa terbang dengan cahayaku sendiri."
Ia tersenyum tipis. "Tapi terimaksih, Kyrion. Kau yang membuatku tahu bagaimana rasanya terbang!"
Kyrion tertawa dengan suara tenornya yang halus."Tentu,Faye. Cahayaku untuk melindungimu, juga membawamu terbang kemana pun kau mau."
Faye tersenyum. Kebaikan Kyrion selalu membuat hatinya terasa hangat. Fyriel bermata keemasan itu adalah harta terpenting bagi Faye setelah ayahnya, Alasannya untuk tetap bahagia meskipun memiliki kekurangan besar sebagai seorang fyriel.
"Clarina bisa cemburu nanti kalau mendengarnya."
"Lagi-lagi Clarina." Kyrion memutar mata, jengah.
Faye menjulurkan lidahnya usil. Kyrion menurunkan gadis itu perlahan dari pelukannya begitu mereka tiba di air terjun Deep Forest. Belum ada sedetik menyentuhkan kaki ke tanah, mata Faye sudah menangkap sosok seekor kelinci dan ia segera mengejar kelinci itu dengan penuh semangat. Kyrion hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Faye yang kekanak-kanakan untuk gadis seusianya, sampai-sampai pemuda itu terpikir sebuah teori konyol yang tidak masuk akal bahwa mungkin tingkat pendar cahaya juga berpengaruh terhadap kedewasaan seorang fyriel.
"Ingat garis perbatasannya, Faye!" teriak Kyrion dari kejauhan.
__ADS_1
"oke!" Kyrion menggeliatkan tubuh,menghirup udara segar dan wangi Deep Forest. Suara hempasan air terjun membelai telinganya. Suasana segar seperti ini sangat cocok untuk melepas lelah, apalagi sudah lama Kyrion tidak berlibur. Pemuda berambut pirang panjang itu segera melepas sepatu kulitnya dan mencelupkan kedua kaki ke air sungai Deep Forest yang hangat dan berkilau.