
"Oi, Eugene!"
Gigi taring Saber terlihat begitu jelas saat devoile itu meringis senang. Dengan langkah menghentak ceria seperti biasa, ia menghampiri Eugene yang sedang berbaring di halaman belakang Istana Asyre Barat.
"Ini tidak biasanya." Saber menghempaskan tubuh di samping sahabatnya.
Eugene melirik ke arah Saber. "Maksudmu?"
"Tidak biasanya melihatmu disini setelah matahari terbenam. Biasanya kau sudah menghilang entah kemana."
"Terserah aku, kan mau ada di mana pun dan kapan pun. Itu bukan urusanmu."
"Apa ayahmu menyuruhmu tidur cepat?" goda Saber. Mendengar geraman Eugene, Saber langsung menghilangkan cengiran konyol di wajahnya.
"Ada apa? Kau sedang ada masalah?"
Eugene tidak menjawab, malah memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
"Kau bertengkar dengan ayahmu?" Saber belum menyerah. Hening, hanya ada suara jangkrik.
"Apa Scarlet membuatmu kesal? Kalau iya, aku akan membuatnya menyesal karena terus saja mengganggumu."
"Hmpf...," Eugene menahan tawanya. "Kau tidak akan bisa. Berapa kali pun mencoba, selalu berakhir dengan wajahmu yang babak belur,kan?"
__ADS_1
Saber memasang wajah kesal. "Setidaknya aku sudah berusaha, kan...." Eugene tertawa. "Yah, terima kasih."
Kedua devoile itu terdiam menatap lautan bintang-bintang di langit. Naluri Eugene seakan mengatakan bahwa seharusnya ia tak berada di sini sekarang. Tubuhnya seakan meronta ingin berlari menuju Deep Forest seperti biasa, namun bisikan di hatinya menahan semua itu. Rasanya Eugene tidak sanggup menampakkan dirinya di hadapan Faye saat ini.
"Hei, Saber...."
" Oi?"
"Apa kau mengerti tentang cinta?"
Saber tersedak air ludahnya sendiri. Eugene meliriknya jengah. "Kenapa kau menanyakan hal aneh seperti itu?" Mata kuning Saber berkilat heran.
"Jawab saja."
"Apa kau gila? Jawabannya, tentu aku tidak tahu!" jerit Saber berlebihan. "Walaupun kau bertanya pada seluruh devoile di negeri ini termasuk pada ayahmu sekalipun, aku jamin tidak akan ada yang tahu dan kau hanya akan jadi bahan tertawaan! Kau beruntung sekali menanyakannya padaku, setidaknya aku tidak akan menertawakanmu. Ah, kau belum bertanya pada orang lain sebelumku, kan?"
"Lalu apa yang kau rasakan jika melihat seorang gadis cantik yang menarik perhatianmu? Bagaimana kau bisa menjalin hubungan dengannya?"
Mendadak tampang Saber melongo. Disentuhnya dahi Eugene, khawatir jika sahabatnya itu terkena demam tinggi hingga sistem kerja otaknya mengalami gangguan.
"Apa? Yang jelas aku suka. Kita bebas menyukai gadis manapaun, kan? Apa kau habis terdampar di alam lain, Eugene? Tidak ada aturan mengikat disini. Aku bisa berhubungan dan mempunyai anak dengan gadis mana pun. Para gadis pun bebas berganti pria mana pun yang ia suka, bukan? Apa ada yang salah denganmu?" Saber mengernyit ngeri pada Eugene. "Ayolah, apa kau lupa kalau ayahku dan ayahmu pernah berhubungan dengan wanita yang sama? Kau beruntung Eugene, sungguh beruntung. Hanya ibumu yang mengandung dari ratusan wanita yang berhubungan dengan ayahmu Aku dan Scarlet bahkan dilahirkan dari ibu yang berbeda, apa kau lupa? Atau kepalamu baru saja terbentur sesuatu?"
Penjelasan Saber yang begitu panjang itu mungkin akan terdengar normal bagi Eugene sebelum bertemu dengan Faye. Tapi entah bagaimana, kini terasa aneh. Terlebih saat mambayangkan, bagaimana reaksi Faye jika melihatnya berhubungan dengan wanita lain. Bahkan tanpa melirik gadis lain pun, Eugene sudah mengecewakan Faye dan membuat gadis itu menangis di depannya hanya karena ia yang tidak yakin akan perasaannya sendiri. Dan Eugene pun tidak ingin menyentuh gadis mana pun selain Faye. Tidak ada gadis lain yang mampu mengalahkan kecantikan Faye itu di mata Eugene.
__ADS_1
"Eugene?" panggil saber lagi.
"Apa kau tidak pernah merasakan sakit di dadamu?" Pertanyaan ketiga Eugene tak kalah anehnya bagi Saber.
"Kenapa? Saat dipukul? Atau tersayat? Tentu saja sakit."
"Bukan itu," desis Eugene serius. "Saat kau tidak bisa melihat wajah gadis yang kau sukai. Saat ia pergi meninggalkanmu. Kau merasa kegilangan?"
Tawa Saber kali ini benar-benar menyembur, tidak bisa ditahan lagi.
"Demi Freya! Itu pertanyaan terkonyol yang pernah ku dengar, Bung!" Saber berusaha menghentikan tawanya sambil menepuk-nepuk pundak Eugene. "Apa ada rasa sakit yang seperti itu? Aku tidak pernah mendengarnya sepanjang sejarah kehidupan devoile! Bahkan aku yang jauh di bawah level kegelapanmu pun tidak pernah memikirkan hal itu. Bisa kau beri tahu aku, terbuat dari apa sih, hatimu itu?? Apa batu kegelapan putra mahkota Asyre Barat selembek itu? Oh....."
Eugene hanya menatap Saber yang sibuk terpingkal dengan tatapan yang datar.
"Aku sudah sinting....."
"Eh?" Saber membelalak ketika Eugene tiba-tiba beranjak dan mengembangkan sayap kegelapannya.
"Tunggu! Mau kemana kau, Eugene??"
"Aku harus pergi sekarang juga."
"Oi!"
__ADS_1
Devoile itu akhirnya hanya bisa menghela napas melihat kepergian Eugene. Setelah menggeliatkan tubuh karena lelah tertawa, Saber meninggalkan halaman belakang dengan wajah yang terlihat kusut karena mulai memikirkan keanehan sahabatnya barusan. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran devoile berpendar merah tua yang duduk bersembunyi di dahan pohon, mengertakkan giginya dengan kesal.
Scarlet segera membuat sayapnya dan pergi mengikuti Eugene terbang jadi kejauhan.