AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 5


__ADS_3

"Eugene.... putra Zodic??"


Vortes mendelik pada Kyrion. Hampir saja cangkir teh yang ia bawa pecah jika Kyrion tidak segera menangkapnya.


"Kau benar-benar bertemu dengannya?" Kyrion mengangguk.


"Di bagian terlarang Deep Forest." Diletakkannya kembali cangkir yang meluncur itu ke tangan Vortes. "Tapi ia tidak menyukai Faye sedikitpun. Devoile itu membunuh troll berkepala tiga yang menyerang Faye."


"Dia bukannya tidak melukai Faye, hanya belum," desah Vortes sambil menuang teh kedalam cangkir. "Terima kasih kau datang untuk Faye, Kyrion."


"Saya tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu, Tuan Vortes. Faye dalam bahaya karena keteledoran saya."


Vortes tersenyum. Disodorkannya secangkir teh panas ke hadapan Kyrion. Tangan fyriel dewasa itu menepuk pundak Kyrion, tangan yang berbalut perban karena dipenuhi luka akibat menempa Escudo selama ratusan tahun.


"Kau pantas menerimanya, Kyrion. Aku tahu kau selalu melakukan yang terbaik untuk menjaga putriku." Mata ungu Vortes menatap Kyrion lembut. "Kau satu-satunya fyriel yang kupercaya untuk menjaganya."


Bibir tipis Kyrion yang kemerahan menyungging senyum. Ia menoleh ke arah kamar Faye yang pintunya masih terbuka.


Dari sela tirai manik yang berkilauan terlihat gadis itu sudah tertidur pulas sambil memeluk bantal bulu angsa pemberiannya.


"Pasti, Tuan Vortes." Kyrion memiringkan kepala tanpa melepas tatapannya dari Faye, menyangga dagu runcingnya dengan satu punggung tangan. "Karena aku mencintai Faye lebih dari apapun...."


****


Para pengawal di sepanjang koridor menuju ruang utama istana membungkukkan badan hormat ketika Eugene berjalan melewati mereka. Hentakan sepatu bot hitam pemuda itu menggema angkuh di tengah keheningan istana Asyre Barat.


"Dari mana saja kau seharian ini?"


Raja Zodic melontarkan pertanyaan tepat ketika Eugene membuka pintu ruangannya.Mata merah pemuda itu menatap tajam, kesal karena ayahnya bertanya seakan ia hanya anak kecil yang selalu butuh pengawasan.


"Aku berlatih," jawabnya pendek.


"Bagaimana kau bisa berlatih sementara Sieg melapor padaku bahwa kau bolos latihan?"


"Ck....,tua bangka itu," umpat Eugene.


"Aku berlatih sendirian. Sieg bisa membuatku mati bosan dengan daftar teorinya."


"Troll berkepala tiga terlalu mudah untukmu."


"Kau mengirim devoile untuk memata-mataiku??"

__ADS_1


Pria yang duduk di atas singgahsana yang tersusun dari tulang belulang dan tengkorak itu tersenyum sinis. Pendar berwarna hitam sempurna menguar dari tubuhnya, menebarkan kekuatan dahsyat bagi siapapun yang menatapnya.


Eugene mewarisi warna merah dari mata Raja Zodic, yang kini berkilat tajam menatapnya.


"Kau lupa bahwa ayahmu ini adalah Raja Asyre?" desis Raja Zodic dingin.


"Aku bisa melakukan segalanya yang kumau, Nak. Termasuk membunuhmu jika aku harus melakukannya, walaupun kau adalah satu-satunya putra mahkota kerajaan ini."


"Cih." Eugene mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia mengalihkan mata dari Raja Zodic. Pemuda itu selalu tidak menyukai saat-saat ia harus bicara empat mata dengan sang ayah. Keduanya sama-sama keras kepala sehingga sulit untuk meraih kata sepakat dalam segala hal.Selain itu, Eugene sering merasa terintimidasi oleh sang ayah. Tuntutan Raja Zodic pada Eugene sebagai satu-satunya putra mahkota Kerajaan Asyre Barat sering membuat pemuda itu merasa tercekik. Sesungguhnya Eugene lebih menyukai kebebasan, hidup tanpa tekanan dan melakukan apa pun yang ia sukai. Sifat itu ia dapatkan dari ibunya yang meninggal saat ia masih kecil.


"Kenapa kau tidak membunuh fyriel itu?"


Eugene menarik napas panjang. "Kyrion datang melawanku."


"Aku tau itu." Raja Zodic berkata dengan nada meremehkan. "Kau punya cukup waktu untuk menghabisi riwayat fyriel itu sebelum Kyrion datang. Dasar bodoh, harusnya kematian fyriel itu bisa menjadi alasan agar kerajaan kita bisa berperang lagi dengan kerajaan Atlura tua bangka itu."


"Berhentilah mengawasiku!!" sergah Eugene kasar.


"Urusi saja penjilat-penjilat yang makin menjamur di kerajaanmu!" Pemuda itu menyibak ekor jubah tanpa lengannya dan berbalik pergi. Suara pintu yang dibanting begitu keras oleh Eugene membuat Raja Zodic berdecak prihatin. Pria itu menjentikkan jari-jarinya yang berkuku hitam panjang. Seorang pelayan segera menuang segelas anggur untuk sang raja.


"Bagaimana mungkin aku melakukannya..."


"Hatimu tidak sekeras batu kegelapan, lambang mutlak kerajaan kita. Itu semua karna salah Yvona, devoile ****** yang melahirkanmu."


Diletakkannya gelas anggur itu ke nampan pelayan yang masih setia menunggu.


"Bagaimana mungkin aku melepasmu... satu-satunya penerusku." Seringai tajam merekah di bibir Raja Zodic.


"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kegelapanmu sempurna. Dan saat itu kau akan siap untuk merebut seluruh Asyre bersamaku, Eugene."


Bulan berwarna merah darah bersinar di langit Kerajaan Asyre Barat. Lolongan para serigala menyambut tawa membahana Raja Zodic, sang kegelapan terpekat.Tak pernah ada tawa bahagia yang tulus terdengar di kerajaan itu. Hanya ada tawa yang mengandung dendam, kepicikan, dan kejahatan.


***


"Aw!"


Setitik darah merah keluar dari telunjuk Faye yang tidak sengaja tergores jarum rajut. Gadis itu segera menghisap lukanya.


"Kau tidak apa-apa, Faye?"


Faye tersenyum canggung. "Tidak apa-apa,Clarina. Hanya tergores jarum sedikit."

__ADS_1


Kau melamun apa sih?"


Clarina menarik telunjuk Faye keluar dari bibir fyriel itu. Ditiupnya luka gores Faye dengan lembut, kemudian dicabutnya batang semak bunga di sekitanya dan diolesnya getah tumbuhan itu ke luka Faye.


"Getah ini bisa mengurangi perih dan mengeringkan luk." Clarina meniup lagi untuk mengeringkan getah di jari Faye.


Senyuman tipis tersungging di bibir Faye .


Matanya menatap Clarina sayu.Fyriel berambut ikal merah muda itu adalah sahabat baiknya, putra Penasihat Kerajaan Asyre Timur. Clarina gadis yang lembut, terampil memasak dan menjahit, mahir memanah, juga cerdas. Pendar cahaya putih milik Clarina pun cukup kuat dan indah, menambah kecantikan menawan gadis itu.


Clarina menjadi idaman banyak pemuda di Kerajaan Asyre Timur, namun gadis itu menjatuhkan hatinya pada Kyrion.


Mengingat Kyrion, mendadak dada Faye terasa sesak. Pesona pangeran devoile Eugene membuatnya sulit menutup mata semalam, meskipun sudah memeluk bantal pemberian Kyrion yang biasanya membuat tidurnya semakin lelap dan nyaman. Seharusnya devoile adalah makhluk yang menebarkan rasa takut di hati, tetapi ketika menatap wajah dan senyuman Eugene, Faye malah merasakan sebaliknya. Ia tidak bisa tidur karena perdebatan hebat dalam hatinya. Rasa bersalah dan kebingungan bertarung dengan keinginan mendapatkan kesempatan untuk sekedar melihat pangeran devoile itu lagi.


Disaat itulah Faye mendengar pembicaraan ayahnya dengan Kyrion.


Karena aku mencintai Faye lebih dari apapun...


Pipi Faye memerah saat mengingat apa yang dikatakan Kyrion yang jelas-jelas di dengarnya semalam. Mungkin pemuda itu mengira Faye telah jatuh tertidur. hasilnya, beban pikiran di otak Faye makin bertambah membuatnya terjaga hingga pagi datang dan kini jarinya tergores jarum cukup panjang karena mengantuk.


Kyrion mencintaiku?


Kepala Faye seperti melayang hanya dengan membayangkan hal itu. Semuanya terlalu aneh. Kyrion memang tampan dan memiliki banyak kelebihan,terlebih pemuda itu selalu menjaganya. Tapi Faye terlanjur menyayangi Kyrion sebagai seorang kakak tidak lebih, apalagi Clarina sangat menyukai pemuda itu. Andai Faye bisa menentukan, baginya Kyrion lebih pantas bersama Clarina.


Kedua fyriel itu mendekati sempurna, mereka pasti menjadi pasangan yang begitu serasi dan mengagumkan.


Tapi kenyataan yang ada hanya membuat Faye merasa bersalah baik pada Clarina maupun Kyrion. Helaan napas berat terhembus dari bibir jingga fyriel itu. "Ada apa? Kau terlihat kurang bersemangat hari ini, Faye." Clarina membulatkan mata biru beningnya.


Faye menggeleng cepat. "Aku hanya mengantuk karena tidak bisa tidur semalam."


"Kau kelelahan karena berlatih dengan Kyrion?"


"Tidak. Hanya sedang banyak pikiran ...."


Clarina tersenyum penuh arti. "Apa itu? Kau sedang jatuh cinta?"


"Ti-tidak!" Elak Faye cepat.


"Tidak? Tapi kulihat pipimu merona tadi." Clarina tertawa geli sambil mencibut pipi Faye gemas. "Oh Faye...., aku selalu menunggu saat-saat kita bisa berbagi cerita cinta."


Faye menatap Clarina yang melanjutkan jahitan sebuah jubah indah berwarna abu-abu berhiaskan bantuan berkilau yang dibuatnya sendiri dengan sabar dan teliti. Jubah untuk Kyrion. Faye menghela napas lagi. Ditatapmya syal rajutan dari bulu domba hitam di pangkuan, ia bahkan tidak punya seseorang yang spesial yang akan menerima hasil karyanya itu. Warna hitam itu mengingatkan Faye akan Eugene lagi, tapi segera ditepisnya jauh-jauh pikiran konyol itu dan ia menentukan bahwa sang ayah adalah satu-satunya lelaki yang akan memakai syal rajutnya.

__ADS_1


__ADS_2