
Faye memejamkan mata, bersiap merasakan sakit ketika kegelapan pekat Eugene menyentuh pipinya. Namun beberapa detik telah berlalu dan tidak ada rasa sakit sama sekali. Gadis itu terdiam. Harusnya cahaya dan kegelapan yang berpendar dari tubuh fyriel dan devoile bisa saling menyakiti kedua bansa itu, namun Faye benar-benar tidak merasakan sakit ketika devoile itu menyentuh kulitnya.
Eugene sendiri terperanjat melihat fyriel di depannya tak memberikan reaksi apapun. Mata tajamnya itu melebar, menatap mata Faye yang berkilau bagai kristal berwarna ungu. Kulit yang disentuhnya pun terasa begitu lembut bagai sutra. Eugene membeku melihat bibir tipis Faye yang berwarna jingga. Sesaat kecantikan Faye membiusnya.
"Kenapa dia tidak bereaksi?" Pertanyaan Saber mengejutkan Eugene hingga ia tersadar. "Biar kucoba!" Saber mengulurkan tangan kurusnya pada Faye, namun secepat kilat Eugene menepis. Devoile berambut perak itu mengaduh karena tepisan Eugene yang begitu keras.
"Apa-apaan kau? Sakit tau!!"
Eugene menggeram, "Apa kau mau menghinaku? Aku devoile di level yang jauh lebih tinggi darimu. Kau beeharap bisa menyakiti fyriel ini lebih daripada aku?" Saber menciut dengan perasaan jengkel.
"Apa hubunganmu dengan Kyrion?" Eugene beralih perhatian lagi pada Faye.
"A-aku tidak kenal," elak Faye menyadari gelagat tidak baik dari devoile yang sedang mencengkeram pipinya itu.
Eugene tersenyum. Senyuman iblis yang terkenal begitu menawan dan menjatuhkan hati lemah manusia.Faye memalingkan mata dari pemandangan itu.
"Kau pikir aku tuli? Aku mendengar bibir manismu ini mengucapkan nama itu tadi..."
Jemari Eugene membelai bibir Faye dengan lembut.
Syuuutttt!
Dengan kecepatan yang luar biasa Eugene menoleh ke belakang, menghindar dari sekelebat bayangan yang melintas diantaranya dan Faye. Saber menjerit sambil menunjuk-nunjuk anah panah berwarna turquoise berkilau menancap di batang pohon tak jauh dari tempatnya berdisi saat ini.
Senyum gembira Faye melebar, ia kenal benar anak panah milik siapa itu.
__ADS_1
"Kyrion!"
Fyriel bersayap cahaya emas itu menyambar kerah bulu jubah Eugene, menjauhkan devoile itu dari Faye. Namun kegelapan Eugene menyakiti tangan Kyrion. Ia segera melepas cengkeraman dan mengembalikan cahaya dari sayap untuk melindungi sekujur tubuhnya, sementara Eugene mendarat ringan diatas tanah dengan satu kakinya. Dekeluarkannya dua pedang andalan sambil menyunggingkan senyum puas.
"Anak panah dari Escudo yang ditempa sepuluh kali.Tidak diragukan lagi itu pasti kau... Kyrion putra Emerio sang kuda hitam Atlura." Kyrion menanggapi dengan senyuman sinis.
"Beraninya kau menyentuh Faye..."
"Oh, jadi namanya Faye?" Mata merah Eugene mengerling pada Faye yang bersembunyi di balik punggung Kyrion.
"Baru kali ini aku menyentuh kulit fyriel secantik dia..."
Kyrion mencabut pedang dan menyerang Eugene secepat angin. Dua pedang milik Eugene menahan serangan berbahaya itu, menimbulkan percikan api sesaat dari gesekannya yang begitu keras. Kilatan kemarahan tampak di kedua mata keemasan Kyrion.
Tawa mengejek keluar dari mulut Eugene.
"Aku punya nama, Bodoh. Jangan menyebut seperti aku devoile murahan saja," balasnya.
"Aku Eugene, putra Zodic penguasa devoile. Ingat itu, Kyrion.
Eugene menghentakkan kedua pedang hitam miliknya, mendesak Kyrion mundur.
Fyriel itu meraung kesal ketika kegelapan Eugene terkumpul di punggung, membentuk sayap hitam yang terbentang lebar.
"Sampai jumpa lagi, Cantik." Eugene mengedipkan mata pada Faye.
__ADS_1
Gadis itu mengerutkan alis, menatap kesal pada Eugene. Namun ia tidak bisa berbohong bahwa devoile yang terbang di bawah sinar rembulan itu memang menawan. Baru kali ini ia melihat devoile daru jarak yang sangat dekat seperti tadi, ketika Eugene menyentuhnya. Alis yang tajam memperkuat sorot mata pemuda itu. Iris mata merah seperti Eugene tidak ada satu fyriel pun yang memilikinya. Senyuman tipis di bibir devoile itu pun sempat membuat jantung Fayr berdebar aneh.
"Kau tidak apa-apa,Faye?"
Suara lembut Kyrion melepas jubah luarnya dan menyelimutkannya ke tubuh Faye. Dengan lembut ia merapikan rambut panjang Faye yang agak sedikit berantakan. Kebaikan Kyrion itu membuat Faye merasa bersalah karena ia malah memikirkan pesona Eugene. Gadis itu segera membersihkan pikiran dan mengangguk perlahan.
"Bukankah sudah aku bilang jangan lupakan perbatasannya? Kenapa kau tidak pernah benar-benar mendengarkanku??" Nada bicara Kyrion meninggi, penuh kekecawaan.
Faye menunduk. "Maafkan aku,Kyrion..."
"Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran di Deep Forest lagi!"
Gadis itu mengangkat wajah, terkejut mendengar perkataan Kyrion. Hatinya begitu kecewa dan menyesal. Ia tidak bisa berkata apa pun lagi saat itu, hanya menahan air mata karena sedih akan kemarahan Kyrion.
Kyrion merengkuh Faye ke dalam pelukannya.
"Tadi itu berbahaya sekali," desah pemuda itu lirih."
"Cincin dan pedang dari batu kegelapan... dia benar-benar pewaris raja Zodic."
Dada Faye sesak. Kyrion membuatnya kembali sadar bahwa Eugene yang begitu mempesona itu adalah bahaya yang sangat besar. Tangan Faye yang gemetar perlahan membalas memeluk pinggang Kyrion.
"Terima kasih," bisiknya. "Ini yang ke-lima ribu tujuh ratus sepuluh kali aku mengucapkannya padamu seumur hidupku, Kyrion..."
Kyrion tersenyum samar. Pemuda itu tidak menjawab, hanya memejamkan mata menghirup wangi tipis dari atas kepala Faye di bawah dagunya.
__ADS_1