
Scarlet duduk bersandar di kursi berukir mewah yang menghiasi satu sudut rumahnya. Ia termenung, menatap bulir air hujan yang sedang turun deras melalui jendela. Tangannya memegang alat pengikir kuku, namu gadis itu terlihat sudah tidak fokus lagi dengan kegiatannya. Kedua alis Scarlet mengerut, wajahnya pun terlihat tegang memikirkan sesuatu.
Pikirannya sekarang di penuhi tentang Eugene. Scarlet tergila-gila pada pangeran devoile itu bahkan sejak ia masih kecil. Tampan, kaya, kuat, bahkan calon raja, apalagi yang kurang? Semua kesenangan sebagai wanita bisa ia dapatkan dari Eugene, termasuk menjadi seorang ratu bangsa devoile bila ia bisa mendapatkan hati Eugene. Karena itulah Scarlet begitu terobsesi pada Eugene, begitu berhasrat untuk menjatuhkan pemuda itu ke dalam pelukannya.
Tapi... Scarlet mengertakkan gigi taringnya.
Ia tahu akhir-akhir ini Eugene selalu pergi beberapa jam setelah matahari terbenam dan pulang lewat tengah malam. Sekali, dua kali, tiga kali, Scarlet masih berpikir bahwa Eugene hanya pergi untuk berburu. Tapi ini setiap hari. Scarlet selalu mengamati gerak-gerik pemuda itu dari jendela kamar, Eugene terbang ke arah Deep Forest. Ia tidak bisa lagi berpikir bahwa Eugene hanya sekedar berburu.
Apa ia menemui gadis devoile yang pernah ia bicarakan? hati Scarlet berbisik. Tapi kenapa harus di Deep Forest?
Scarlet menggigit bibirnya yang bergincu merah darah. Memikirkan Eugene yang tertarik dengan gadis lain saja sudah membuat kepalanya panas.
***
__ADS_1
"Faye?"
Vortes mengetuk pintu kamar putri nya dengan wajah agak terlipat karena khawatir dengan keadaan putrinya. Sejak tadi malam hingha pulang bekerja sore ini ia belum melihat Faye keluar dari kamarnya barang sekali. Faye yang tak kunjung menyuarakan jawaban menambah kecemasannya. Vortes mencoba membuka pintu, tapi terkunci. Pria itu segera keluar rumah dan mengecek jendela kamar Faye. Vortes bisa sedikit lega karena gorden jendela itu tidak tertutup. Faye ada di dalam, namun melihat gadis itu meringkuk di ranjang segera mendatangkan berbagai macam pikiran di benak Vortes. Apa Faye sakit? Atau sedang ada masalah? Atau ia hanya mengantuk? Atau...?
Vortes hanya bisa menghela napas berat pada akhirnya. Dengan langkah lunglai ia kembali ke dalam rumah. Diletakkannya senampan makanan di depan pintu kamar Faye dan mengetuk pintu sekali lagi.
"Faye..., makanlah, kau bisa sakit. Aku taruh makanannya di depan pintu. Kau bisa membawanya masuk kalau kau mau."
Faye mengambil nampan itu perlahan. Wajahnya terlihat sembap dan tak bersemangat. Hati Vortes rasanya seperti tersayat. Ia tahu putrinya selesai menangis, tapi pria itu lebih memilih untuk tersenyum dan tidak menanyakan apa pun daripada memasang wajah sedih yang nantinya malah makin membebani Faye.
"Ayah...."
Vortes sedikit tersentak. "Ya?"
__ADS_1
"Terima kasih.... Tapi aku sedang ingin sendirian saat ini, jadi jangan mengkhawatirkanku," ucap Faye sambil tersenyum lemah.
Terbersit sedikit rasa lega saat ayahnya mengangguk. Faye segera masuk kembali dengan nampan di tangannya. Gadis itu kembali naik ke ranjang seperti sedia kala dan meletakkan nampan di atas meja di sisi ranjangnya. Ditatapnya roti isi daging yang terlihat masih mengepul di nampan. Biasanya itu adalah makanan favorit Faye. Hanya dengan mencium aroma roti daging dari kejauhan saja sudah bisa membuat fyriel itu menelan air liur. Tapi kini tiga buah roti daging hangat di depan matanya seakan tidak memiliki daya tarik sama sekali.
Perut Faye berbunyi, rasanya perih dan teraduk-aduk. Akhirnya ia mencomot sebuah roti daging dan memakannya tanpa minat. Mata ungu Faye menatap kosong ke luar jendela kamar.
Apa aku telah salah mencintai orang? Kenapa Eugene tidak mengatakan bahwa ia mencintaiku? Apa ia hanya bermain-main denganku?
Faye berusaha menelan kunyahan rotinya yang semakin lama kian merasa berat di tenggorokan. Harusnya ia tahu dari awal, bagaimana resiko untuk menjalani hubungan cinta dengan devoile. Faye tidak tahu apakah devoile benar-benar bia memiliki perasaan cinta seperti miliknya. Mereka adalah makhluk kegelapan. Dan seperti kata ayahnya, cinta adalah cahaya. Kegelapan tidak akan menyisakan tempat untuk kehadiran cinta.
Namun di samping semua itu, Faye benar-benar tidak bisa menghindari hatinya untuk Eugene. Ia merasa begitu bodoh dan menyedihkan, seperti masuk ke dalam sebuah pintu sementara ia sudah tahu bahwa apa yang ada di balik pintu itu adalah sesuatu yang berbahaya. Ia merasa begitu buruk saat ini. Kesalahan apa gerangan yang ia lakukan hingga Dewi Freya mengutuknya dengan kisah cinta yang menyedihkan seperti ini?
Kenyataan ini terasa begitu menyakitkan bagi Faye.
__ADS_1