
Vortes menyeruput teh sambil menatap putrinya heran. Pagi ini Faye terlihat tidak biasa, gerak-geriknya terlihat lebih lembut. Entah kenapa cara tertawa dan berbicara Faye pun menjadi lebih manis. Beberapa kali mata Vortes menangkap bibir anak satu-satunya itu tersenyum-senyum sendirian dalam diam.
"Apa kau bermimpi indah tadi malam, Faye?"
"Eh?" Alis Faye terangkat,kaget. "Ehm..., begitulah, Ayah." Ia sambil tersenyum.
Dahi Vortes terlipat. "Begitulah?"
"Yah, begitulah..."
"Oh, baiklah..." Pria itu meletakkan cangkir tehnya sambil menghela napas. "Kemarilah. Karena hari ini kau begitu manis, aku akan mengelabang rambutmu."
Faye menjawab tawaran ayahnya dengan senyuman lebar. Gadis itu segera menangguhkan pekerjaan mengelap piring dan menghampiri ayahnya seperti seekor kucing yang dipanggil majikannya untuk makan. Faye sering merasa kesulitan untuk menata rambut panjangnya, karena itu ia lebih memilih untuk membiarkannya terurai begitu saja.
Fyriel itu merasa nyaman ketika ayahnya menyentuh kepala dan menyisir rambutnya. Sudah begitu lama adegan ayah dan anak ini tak terjadi karena Vortes begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Dasar manja." Vortes tertawa kecil sambil menjentikkan jari ke kepala Faye.
"Aw! Sakit, Ayah!" Vortes mencubit pipi anaknya gemas. Faye mengaduh sambil tertawa, berusaha menyingkirkan jemari sang ayah yang menjepit pipinya.
"Rasanya seperti mimpi, tiba-tiba saja kau sudah sebesar ini," ujar Vortes sambil mengelabang rambut putih Faye.
"Putri kecilku telah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik." Faye memilin bibirnya, malu. "Tentu saja." Ia memutar kepala, menatap kedua mata ungu ayahnya. "Apa aku mirip dengan Ibu, Ayah?"
Sejenak tangan Vortes berhenti bergerak. Tak lama kemudian seulas senyuman menghiasi bibir pria itu. "Ya. Kalian dua wanita tercantik dalam hidupku." Faye terdiam. Fyriel itu berbalik dan memeluk ayahnya penuh haru.
"Oh, Ayah... Aku sangat menyayangimu."
"Benarkah? Tapi kelihatannya sebentar lagi aku akan punya saingan." Faye melepas pelukan. "Maksud Ayah?" Dengan lembut satu tangan Vortes memutar balik tubuh Faye agar ia bisa melanjutkan kelabang rambut yang baru seperempat jalan dibuatnya.
"Apa tidak ada pemuda yang kau cintai?"
__ADS_1
Mendadak tenggorokan Faye seperti tersumbat. Entah bagaimana, satu-satunya bayangan yang melintas adalah wajah Eugene. Kejadian semalam bagaikan mimpi. Faye sendiri hampir tidak percaya akan apa yang dilakukannya sendiri, seakan seluruh kesadaran dan logikanya lumpuh saat ia memutuskan untuk pergi sendirian ke Deep Forest semalam untuk menemui sang pangeran kegelapan.
Rasanya begitu ringan dan menyenangkan, membuatku lupa segalanya hingga melakukan hal yang mungkin akan ku anggap bodoh jika aku berada di posisi orang lain . Apa seperti ini rasanya jatuh cinta?
Pipi Faye memerah. Perasaan rindu kembali menggelitik hatinya.
"Bagaimana dengan Kyrion?"
Pertanyaan kedua Vortes membuyarkan lamunan Faye seketika. Kali ini ia tidak berani menoleh untuk menatap ayahnya lagi.
"Dia kakakku, Ayah." Vortes tertawa geli.
"Manis sekali." Diikatnya ujung kelabang dengan seutas pita berwarna lavender, menyesuaikan dengan warna gaun yang dikenakan putrinya hari ini. "Dia tampan, kuat, baik hati dan bisa diandalkan di segala situasi. Aku menyukainya."
"Begitulah...." Faye tertawa canggung. "Clarina juga menyukai Kyrion."
"Banyak gadis yang menyukai Kyrion," kata Vortes menambahi. "Begitulah...."
Alis Faye bertaut. "Kyrion? Tapi hari ini aku tidak ada jadwal latihan, Ayah."
"Memang bukan untuk latihan. Ia akan mengajakmu berjalan-jalan."
"Terakhir kali Kyrion berkata tak akan pernah membawaku lagi untuk berjalan-jalan ke Deep Forest." Faye beralasan. Ia sudah bisa membayangkan tekanan batin yang akan menyelubunginya jika berjalan-jalan dengan Kyrion hanya berdua saja.
"Oh, ayolah Sayang. Masih banyak tempat lain yang bisa kalian kunjungi selain Deep Forest, bukan?" Faye mendengus.
"Jadi karena itu Ayah mendandaniku?"
Vortes hanya menjawab dengan tawa sambil berjalan menuju ke dapur. Bersamaan dengan itu terdengar suara ketukan di pintu. Suara yang seketika membuat kedua bahu Faye tidak bisa rileks lagi.
"Clarina!"
__ADS_1
Faye melambaikan tangan penuh semangat pada seorang fyriel berambut merah muda yang sedang menyiram bunga dengan cantiknya. Sebenarnya lambaian tangan itu lebih mirip sinyal gawat darurat. Faye tidak tahan lagi dengan Kyrion yang menggandeng tangannya di sepanjang perjalanan menuju Istana Asyre Timur.
Sebenarnya Kyrion bermaksud mengajak gadis itu ke pantai, tapi Faye memaksa untuk mengubah destinasi ke istana. Tentu saja itu strategi agar ia bisa bertemu dengan Clarina yang akan mencairkan suasana. Lagi pula bagus jika ia bisa membuat Clarina lebih dekat dengan Kyrion saat ini.
Itu pikiran Faye, tapi realitas mengatakan sebaliknya. Suasana di antara Faye, Kyrion dan Clarina menghadirkan hawa canggung yang aneh. Terlihat saat ini di taman belakang rumah Kyrion di dalam kompleks istana, mereka bertiga sedang menikmati sarapan pagi tanpa percakapan sedikit pun. Saking canggungnya, Faye merasa seakan ada keringat sebesar biji jagung mengalir di dahi, sampai rasanya ia bisa mati karena hawa yang sangat tidak nyaman ini.
"Pa-pai ini enak sekali." Faye berusaha mencairkan suasana. Dengan sigap Kyrion segera meletakkan sepotong pai lagi ke piring Faye dan memotongnya menjadi beberapa bagian agar gadis itu bisa langsung melahapnya tanpa repot-repot lagi.
"Makanlah sebanyak yang kau mau. Aku akan membuatnya lagi jika kau suka."
Faye langsung terbengong. Kyrion malah menampakkan 'perlakuan istimewa' padanya di depan Clarina. Dengan hati-hati sudut mata gadis itu mengawasi ekspresi Clarina.
"Kau membuatnya sendiri, Kyrion?" Clarina menatap takjub. Faye menghembuskan napas lega, kelihatannya Clarina baik-baik saja.
Kyrion mengangguk satu kali. "Gunakan apel yang bertekstur agak keras, juga rapikan adonan kulit painya agar tidak ada yang terlalu gosong karena akan mempengaruhi rasa di bagian kulit lainnya."
Clarina ber-ooh sambil mengulum pai di bibir mungilnya. "Kalian berdua sama-sama pandai memasak ya," komentar Faye. "Kalau aku sih tidak bisa diandalkan."
"Bagaimana kalau kita memasak bersama tiap selesai menjahit, Faye? Aku akan mengajarimu," tawar Clarina.
"Benarkah? Kau baik sekali, Clarina." Faye menggenggam tangan sahabat dekatnya itu.
"Aku juga bisa mengajarimu selesai latihan." Kyrio tak mau kalah. Faye menjerit dalam hati. "Kalian berdua benar-benar akrab, ya?" Clarina tertawa kecil. "Aku benar-benar iri."
Rasanya arwah Faye seperti melayang keluar saat mendengar itu.
"Bukankah kau tidak perlu khawatir? Kau cantik dan populer, bahkan banyak temanku menyukaimu, Clarina," tanggap Kyrion.
Pipi Clarina memerah mendengar Kyrion berbicara tentang dirinya. "Maksudku..., kalian gambaran kakak adik yang begitu sempurna. Ya kan Faye?" Faye mengangguk dengan sendi leher yang kaku.
"Melihat kalian saja aku sudah sangat bahagia." Bibir Clarina merekahkan senyum menawan. Dari ekor mata Faye bisa melihat wajah Kyrion yang mengeras. Sepasang mata emas itu menatapnya dengan sorot kecewa ketika ia mengiyakan perkataan Clarina...
__ADS_1
Ah, demi Freya. Faye benar-benar tidak bisa menunggu lagi untuk bertemu dengan Eugene malam ini untuk melepas beban, menggantinya dengan meneguk ketenangan yang ia peroleh bersama sang pangeran kegelapan.