AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 23


__ADS_3

Suara tetesan air menggema begitu jernih di telinga Faye. Pendengarannya belum pernah menangkap suasana setenang ini, hanya ada suara tetes air dan percik api yang membakar kayu kering, bahkan jauh lebih tenang ketimbang suasana kamarnya sendiri di malam hari. Dan entah kenapa, ia begitu merindukan ketenangan seperti ini.


"Faye...?"


Dahi Faye mengerut. Ada satu suara lagi yang membelai telinganya.


"Faye...?"


Mata ungu fyriel itu mengerjap, perlahan menemukan dirinya dalam pelukan sosok bermata merah yang menatap penuh kecemasan. Detik demi detik berlalu, akhirnya Faye bisa merasakan hangat di tangan karena Eugene menggenggam dan menempelkannya di bibir pucatnya. Bibir Faye yang kini sama pucatnya dengan milik Eugene karena kehilangan cukup banyak darah itu tersenyum lemah.


"Bisakah kau tersenyum? Aku belum melihatmu terseyum padaku satu kali pun setelah perang usai...," pinta Faye lirih. Eugene mendengus geli."Masih sempat berpikir begitu? Padahal kau sedang terluka..." Devoile itu menghela napas, namun akhirnya tersenyum juga. "Aku sudah mencabut anak panahnya, karena itu lukamu terasa lebih sakit. Ramuan dedaunan yang kutempelkan ini mungkin terasa pedih membakar, tapi akan mempercepat penyembuhan."


Faye mengangguk-angguk sambil mengamati kilauan kancing jubah Eugene yang tertimpa cahaya temaran api unggun. Ditemani dengan irama denyut jantung Eugene yang terdengar jelas, karena devoile itu menyandarkan kepala Faye menghadap dada bidangnya agar luka di bahu belakang Faye tidak terusik.


"Maaf, kau begini karena aku...," desah Eugene merasa bersalah.


"Rasa sakit ini jauh lebih baik daripada panah Escudo itu menusukmu," balas Faye. "Dan yang seharusnya minta maaf itu aku. Aku mengatakan hal yang terdengar tidak searah dengan harapanmu mengenai hubungan kita. Tapi sungguh, saat itu aku begitu putus asa. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu, Eugene."


"Aku mengerti..." Eugene membelai rambut Faye lembut. "Aku mengerti..."


Faye menghela napas lega kemudian memejamkan mata, merasa nyaman dalam pelukan tubuh Eugene yang wangi.


"Gua ini...Saber menemukannya untuk melindungiku dari Ayah," kenang Eugene. "Tidak kusangka itu adalah saat terakhir aku melihatnya, sahabat baikku. Dan bahkan setelah pengorbanan besar Saber, kita hanya mendapatkan keputusan menyedihkan seperti ini."

__ADS_1


Faye bisa merasakan kekecewaan Eugene yang sangat dalam meskipun ia tidak melihat wajahnya.


"Eugene...."


"Hmm?"


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Hanya soal waktu sampai prajurit Raja Atlura menemukan kita..."


Eugene menegakkan tubuh Faye agar ia bisa melihat wajah gadis itu.


"Tidak akan ada yang berubah,Faye," bisiknya meyakinkan. "Kita akan tetap bersama, selama mungkin yang kita bisa. Melakukan apa pun yang kita mau. Pergi ke mana pun yang kita inginkan. Takkan ada yang berubah." Mata merah Eugene dan kalimat itu membuat Faye terpesona.


"Aku akan melindungimu dan juga melindungi cinta kita."


"Aku mencintaimu,Eugene....," bisik Faye lembut.


Bisikan itu membius Eugene, seakan memenuhi dadanya dengan gambaran kebahagiaan yang tak terbendung lagi. Napas Eugene terasa makin berat di tiap tarikannya. Sebagian kesadaran dan kontrol dirinya seakan melayang entah kemana. Dilingkarkannya tangannya yang berkuku hitam itu ke pinggang kecil Faye. Gadis itu tampak terkejut di awal, namun akhirnya wajahnya melunak dan mata ungu itu tertutup dan memperlihatkan bulu mata yang berjajar indah.


Eugene nyaris bisa mendengar jantungnya sendiri. Dengan pipinya yang agak merona, ia menyentuh bibir jingga Faye dengan bibirnya. Terasa hangat dan lembut. Melalui sentuhan pertama itu, Eugene tahu bahwa ia menyukainya dan nalurinya mengatakan bahwa ia akan lepas kontrol jika terlalu lama menyentuh bibir itu. Eugene mendalami ciuman pertamanya itu selama beberapa detik, kemudian mengakhirinya dengan begitu lembut. Pemuda itu tersenyum mendapati raut wajahnya yang terlihat gugup dari pantulan mata bening Faye.Dipeluknya lagi gadis itu. Ia tak ingin membiarkan Faye melihat wajah merona konyolnya lebih lama.


"Aku juga...Tidak. Aku lebih mencintaimu lagi, Faye." Faye tersenyum simpul dalam pelukan Eugene. "Jadi...,sampai kapan kita terus bersembunyi di sini?" "Kita tidak akan pergi sebelum lukamu membaik." " Kurasa aku sudah baikan," tawar Faye.


"Bodoh, pekalah sedikit. Aku sedang ingin berdua saja denganmu," omel Eugene. "Dan baru tiga jam berlalu setelah panah itu menusukmu, jadi aku tidak bisa percaya kata-katamu barusan."

__ADS_1


Dian-diam Faye memilin bibirnya. Tapi jujur ia senang mendengar alasan pertama Eugene. Gadis itu tersentak karena merasakan tubuh Eugene yang tiba-tiba menegang, bersiaga. Ketegangan itu merambat ke tubuhnya dalam hitungan detik. Eugene menempelkan telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar Faye tidak bersuara. Faye yakin ia tidak akan bersuara, hanya detak jantungnya yang mengeras karena peningkatan adrenalin itulah satu-satunya suara yang ia hasilkan.


Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari sekitar mulut gua. Faye menelan ludah. Perlahan Eugene memindahkan tubuh fyriel itu dari pelukannya, mendudukkannya di satu sudut gua. Devoile itu kemudian berdiri dengan kuda-kuda yang kuat, bersiap dengan kedua pedang di tangan. Ia menggertakkan gigi. Tidak ada jalan keluar lain dari gua ini, satu-satunya pilihan hanya menghadapi siapa pun atau apa pun yang semakin mendekat itu.


Seorang pemuda berambut pirang panjang dikucir muncul dari balik batuan jalan masuk gua, menatap Eugene dengan satu alis terangkat.


"Aku menghargai usahamu untuk melindungi Faye, tapi bisakah kau turunkan pedangmu sekarang?"


"Kyrion...?" Mata ungu Faye berbinar.


Kyrion tersenyum tipis, bergabung dengan Faye dan Eugene di dekat api unggun. "Berhentilah menatapku seakan aku adalah orang yang paling kau nantikan seharian seperti itu," ujarnya sambil membuka bungkusan daun yang ia bawa. "Aku bawakan roti daging kesukaanmu, Faye."


Faye bertepuk pelan menyambut roti daging yang dijamin enak itu karena pasti Kyrion membuatnya sendiri. Dengan lahap gadis itu menyantap roti. Gigitan demi gigitan Faye yang penuh ekspresi bahagia membuat Kyrion dan Eugene tanpa sadar tersenyum saat memandangnya.


"Kau bawakan apa untukku?" Eugene melirik Kyrion usil. "Peduli setan denganmu. Carilah makanan sendiri ke hutan sana," ketus Kyrion.


"Dasar pilih kasih."


"Untuk apa aku mengasihani bocah sepertimu?"


"Bocah?? Umurku seratus dua puluh tahun, kau tahu? Dan aku tidak suka dikasihani!"


"Masih lima tahun lebih muda dariku."

__ADS_1


Pertengkaran Eugene dan Kyrion berhenti seketika Faye membelah sebuah roti daging jadi dua dan menyumpalkannya ke mulut mereka masing-masing. Gadis itu tertawa melihat wajah bengong dua pemuda itu.


__ADS_2