
"Aah..., kenapa dia penakut sekali," desis Faye kelelahan.
"Padahal aku cuma ingin mengelus bulu lembutnya saja." Gadis itu mengendap-endap di sela ilalang berwarna oranye, mengintip kelinci coklat gemuk yang mendelik waspada tidak jauh darinya. Faye mengambil ancang-ancang... dan hap!
Meleset lagi. Faye mengerang kesal.
Namun ia tidak putus asa mengejar kelinci itu. Rambut panjangnya yang putih bersih berkibar mengikuti belaian angin ketika ia berlari. Kelinci gemuk itu rupanya masih gesit walaupun banyak lemak tertimbun di tubuhnya, tertutup bulu cokelat tebal yang membuat Faye begitu gemas. Hewan itu berlari dengan cepat, terus menerobos ilalang kebingungan mencari tempat persembunyian di tengah- tengah padang rumput itu.
"Oh, kau tidak bisa bersembunyi disitu,Sayang!" Faye tertawa geli melihat si kelinci berusaha untuk menyembunyikan tubuh gemuknya di balik sebuah tugu di tengah padang ilalang itu. Tapi jemari Faye yang berkuku merah muda tidak berhasil menghentikan kelinci itu lagi.
"Aduuhh, lari lagi!"
Hidung si kelinci berkedut semakin cepat, kelelahan dan frustasi akan gadis fyriel yang terus mengejarnya. Sebenarnya ia tahu bahwa fyriel itu tidak bermaksud memburunya untuk makan malam, hanya saja ia sedang malas jika bulu lembutnya yang tebal diacak-acak setelah ia merapikannya seharian tadi. Kelinci itu terkejut ketika merasakan tangan Faye menyentuh pantatnya.
"Kena!"
Faye berguling di rerumputan bersama kelinci cokelat itu di pelukannya. Gadis itu tertawa lega karena akhirnya bisa mengacak-acak bulu lembut kelinci itu. Saking gemasnya, bibir jingga Faye mengecup hidung kedutan si kelinci.
"Eugene!"
Tawa Faye terhenti. Ia menajamkan telinga, mengedarkan mata ungunya waspada. Suara tadi didengarnya cukup jelas.
Refleks Faye segera bangkit dan bersembunyi di balik bongkahan batu besar bersama dengan kelincinya.
"Oi, Eugene! Kita sudah masuk bagian terlarang Deep Forest! Sadar tidak, sih!?"
"Berisik! Kau pikir aku bodoh??" seseorang menyahut suara itu. Faye menegang di balik batu. Bagian terlarang? Ia segera mengawasi keadaan sekitar. Bibirnya segera berdecak gelisah. Rupanya Faye terlalu asyik mengejar kelinci sampai ia tidak sadar telah melewati tugu perbatasan.
Deep Forest yang luas ini memang terbagi menjadi dua karena terletak tepat di wilayah perpecahan bangsa fyriel dan devoile. Dan di antara dua bagian Deep Forest terdapat bagian terlarang di tengah-tengah, daerah peralihan antara wilayah kekuasaan dua bangsa tersebut.
Bahayanya, Faye bisa saja bertemu dengan devoile yang sedang berkeliaran di wilayah bebas ini selain troll ganas dan minotaur liar yang memberontak dari penguasa bangsa fyriel dan devoile.
"Kita bisa bertemu troll berkepala tiga kalau berlama-lama di sini, Eugene!" Suara itu makin mendekat. "Justru itu yang aku cari!" Yang terus di sebut-sebut sebagai Eugene itu menjawab kesal. "Kalau kau bicara lagi akan kupatahkan tandukmu!!"
Faye menelan ludah.
__ADS_1
Tanduk? Makhluk apa dua laki-laki yang sedang bercengkerama itu? Minotaur? Atau... devoile??
Faye mundur selangkah dari tempat persembunyiannya. Mungkin lebih baik ia melarikan diri sekarang juga dari tempat itu, pikirnya.
Minotaur atau devoile yang jelas keduanya sama-sama berbahaya bagi bangsa fyriel, apalagi dengan pendar cahaya yang begitu lemah seperti dirinya.
"Grrhhh...!"
Hembusan angin hangat yang cukup kencang dari belakang menyibak rambut putih Faye.
Mendadak sendi-sendi tubuh gadis itu terasa membeku. Perlahan diliriknya ke belakang sambil berusaha menepis rasa takut yang tidak-tidak di benak, tapi sayangnya pikiran yang tidak-tidak itu ternyata sesuai dengan kenyataan. Tiga pasang mata merah menyala menatap tepat di belakang Faye.
"Groaaaaarrrrr!!!"
"Kyaaaa!!!"
Seekor troll hijau berkepala tiga dengan tinggi sepadan dengan pohon oak berumur ratusan tahun berusaha memukulkan palu besarnya ke arah Faye. Untungnya gadis itu masih sempat menghindar walaupun pada akhirnya kehilangan keseimbangan tubuh dan terjatuh. Nafas Faye menjadi sesak karena panik. Pandangan matanya menyorotkan ketakutan ke arah troll yang menyerang. Mudah saja bagi troll level tertinggi itu untuk membunuh fyriel muda dengan cahaya lemah seperti Faye, terlebih gadis itu tidak membawa senjata apapun.
"Roaaarrrr!!!" Troll itu meraung, mengayunkan palunya sekali lagi.
Jangkauan Faye untuk menyelamatkan diri sangat pendek. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya memejamkan mata sambil melindungi kepalanya.
Hening. Bibir Faye gemetaran. Apa? Kenapa tidak terasa sakit? Apa aku mati seketika dan sudah sampai di surga?
Sedikit demi sedikit gadis itu membuka mata. Masih pemandangan di bagian terlarang Deep Forest yang terlihat.
Ternyata ia belum mati. Faye terkejut .
Sesosok tubuh pemuda melindunginya, menahan serangan palu si troll berkepala tiga dengan kedua lengan yang terlihat sangat kokoh.
"Ky...?"
Kalimat Faye tertahan. Sesaat ia sempat mengira Kyrion benar-benar datang menolongnya, namun saat mendapati pendar ungu gelap yang begitu pekat menyelimuti tubuh pemuda itu tenggorokannya tercekat.
Devoile.
__ADS_1
"Kau bilang Kyrion?" ia bertanya.
Faye membeku di balik punggung devoile itu.
"Kyrion putra Emerio kuda hitam Atlura, kau mengenalnya?"
Devoile itu menoleh. Iris matanya yang berwarna merah menatap Faye tajam.
Dua tanduk kecil berwarna hitam mengilat mencuat dari kepalanya yang berambut hitam keunguan. Bibir tipis devoile itu menyeringaikan senyum yang menawan, menampakkan gigi taring yang sedikit lebih panjang dari milik fyriel dan manusia normal.
Faye menelan ludah. Tanduk hitam dan kegelapan yang sangat pekat.Pemuda itu devoile tingkat tinggi.
"Kita bicarakan nanti, fyriel! Saber, kau awasi dia!"
"Oke!" Seorang devoile lainnya dengan tanduk masih berwarna putih gading yang kelihatan tidak terlalu hebat menghampiri Faye dan membelalakkan mata kuningnya agar terlihat garang.
Sementara devoile bermata merah tadi membanting troll berkepala tiga dengan mudah menggunakan kedua tangannya.
Dengan cepat pemuda itu berlari mendaki tubuh besar si troll, kemudian mencabut dua bilah pedang panjang berwarna hitam berkilau dari sarung pedang yang diikatkan menyilang di punggung.Dan...
Jrebbb!
Faye menutup mata.
Angin berhembus, membawa butiran-butiran troll yang telah hancur menjadi debu. Faye terperangah, devoile itu mampu memusnahkan troll level tertinggi dalam waktu singkat di usianya yang masih terlihat sangat muda,mungkin seusia Kyrion.
"Akhirnya menu latihanku hari ini komplet."
Devoile itu menggeliat, mengendurkan otot-otot tubuhnya yang tampak kencang terlatih.
"Sepertinya troll bodoh itu terlalu mudah untukmu,Eugene." Saber tertawa.
"Bagaimana jika kau bunuh fyriel mungil ini untuk penutup?"
Mata Faye melebar ketakutan.
__ADS_1
"Ah, ya. Aku hampir lupa kalau aku punya dia..."
Eugene mendekat dengan senyuman di satu sudut bibir. Namun alisnya segera mengernyit seakan menyadari sesuatu yang janggal.