AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 16


__ADS_3

"Faye...."


Sebuah suara selembut kapas memanggil-manggil namanya.


"Faye kemarilah...."


Gadis itu menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita berambut hitam lurus berdiri di tengah hamparan padang bunga dengan berbagai warna, tersenyum padanya sambil mengembangkan kedua tangan, membuka pelukannya untuk Faye. Faye tak mengenal wanita itu, namun ia merasa seakan hatinya terpanggil. Kakinya bergerak dan melangkah begitu saja, membelah bunga dan semakin dekat dengan wanita itu.


"Kemarilah, peluk aku," kata wanita itu lembut.


Rasa hangat menyusupi dada Faye. Entah bagaimana perasaan rindu meluap-luap saat ia masuk ke dalam pelukan wanita itu. Faye merasa begitu tenang dan bahagia, perlahan air mata meleleh di kedua sudut matanya.


Bibir Faye gemetaran, ingin mengucapkan sesuatu.


"Ibu...?"


Krekk!


Faye sontak membuka mata, tersentak. Fyriel itu mengernyitkan mata yang masih berat, memeriksa suara keras apa yang mengagetkannya tadi. Jendela kamarnya ternyata masih terbuka dan dipermainkan oleh angin. Gorden putih transparan di jendela pun berkibar saking kencangnya angin malam ini.


Faye membungkus tubuh dengan selimut, duduk menekuk lutut di samping ranjangnya. Disangganya dagu dengan kedua lutut, kemudian menatap menerawang ke luar jendela. Alisnya mengerut, memikirkan mimpi barusan.


Siapa wanita itu? Bagaimana aku bisa merasa bahwa dia adalah ibuku?


Masih jelas di ingatannya sosok wanita itu. Suara wanita itu. Faye mendesah berat, ia tidak bisa melihat wajah wanita dalam mimpinya itu. Kalaupun melihatnya, ia juga tidak akan tahu karena memang belum pernah melihat wajah ibunya sekali pun.


Tep!


Faye berjengit kaget dari lamunan ketika menyadari ada bayangan seseorang di lantai kayu kamarnya. Refleks gadis itu menoleh ke arah jendela. Perlahan tapi pasti, wajah Faye pun berubah jadi masam.


"Hei."


Suara itu menyapanya rendah, lembut. Eugene berjongkok di daun jendela kamar Faye, menyangga kedua sikunya di atas paha dan menyunggingkan senyuman miring yang tanggung. Tubuh Faye menegang karena terkejut dan merasa terdesak, ia tidak ingin bertemu dengan pemuda itu sekarang, namun hati kecilnya berbunga ketika mengetahui bahwa Eugene mencarinya.


Faye memutuskan untuk mengunci bibir dan tidak membalas sapaan Eugene.

__ADS_1


Devoile itu melompat masuk ke kamar Faye tanpa suara hentakan kaki yang keras. Beberapa detik Eugene hanya berdiri dengan posisi yang terbilang tanggung. Mata merahnya beredar menjelajahi tiap sudut kamar Faye. Sesekali ia memilin bibir tipis pucatnya.


"Err..., maaf aku tidak melepas sepatu. Tapi tenanglah, lantaimu tidak akan kotor." Eugene berbasa-basi.


Faye menghela napas. "Untuk apa kau datang kemari?"


"Aku mencarimu karena kau tidak datang ke Deep Forest," jawab Eugene.


Faye memalingkan wajah. "Buat apa...," suaranya begitu lirih, namun Eugene masih bisa mendengarnya.


"Tentu saja untuk menemuiku."


Mata ungu Faye menatap Eugene dengan tatapan skeptis. Ia begitu heran, bagaimana Eugene bisa bersikap biasa saja seakan tidak terjadi sesuatu yang salah antara mereka berdua? Sementara ia sendiri begitu kelam memikirkan masalah kemarin.


Apa ada yang tidak beres dengan kepala devoile ini? Atau aku hanya sedang bermimpi, jadi mimpi yang tadi adalah sebuah mimpi dalam mimpi?


Faye mencoba mencubit keras lengannya. "Aw!"


Eugene memandang Faye yang berwajah dan bertingkah aneh.


Ia bisa melihat sorot terkejut di mata fyriel itu saat mendengar ucapannya, juga saat Faye berusaha meredam keterkejutan itu agar tidak terlihat olehnya. Eugene tersenyum samar.


"Maafkan kebodohanku kemarin," pemuda itu angkat bicara. "Sebelumnya, aku ingin kau tahu, Faye. Terus terang aku terkejut dengan kata-katamu kemarin. Di kerajaanku tidak pernah ada seorang pun yang menyebut kata itu, termasuk diriku sendiri."


Faye memainkan bulu-bulu selimut dengan jemarinya.


"Karena itulah, pikiranku benar-benar kosong. Aku tidak bisa memikirkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaanmu." Eugene tersenyum kecut. "Aku... sama sekali tidak mengerti apa itu cinta."


Pandangan mata ungu itu terangkat, kini bertemu dengan Eugene.


"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu..." Jemari Eugene menyela rambut hitam keunguannya, tampak frustasi. "Tapi aku ingin kau tahu sesuatu."


Eugene maju selangkah, memperpendek jarak dengan Faye.


"Dadaku terasa sakit. Napasku sesak. Wajahku memanas. Tubuhku tidak bisa rileks. Jantungku berdegup sungguh jauh dari normal. Rasanya melayang dan hangat dalam dadaku. Aku ingin melihatmu, keinginan itu tidak ada habisnya walaupun sudah semalaman suntuk aku melakukannya. Aku ingin menyentuhmu, dan rasanya aku bisa mati ketakutan kalau-kalau kau tersakiti olehku, tapi sungguh... aku tidak bisa menahannya. Aku ingin dekat denganmu selama mungkin yang aku bisa. Aku tidak ingin melepasmu. Aku tidak ingin melihat punggungmu yang menjauhiku. Aku tidak bisa melihat gadis lain lagi selain dirimu. Semua perasaan itu telah menguasai diriku, membuatku tidak bisa berpikir jernih." Eugene mengambil napas dalam. "Aku menjadi bahan tertawaan devoile lain karena semua itu. Mungkin saja aku satu-satunya devoile yang bisa berpikir dan merasa seperti itu. Mungkin saja Ayah bisa membunuhku karena ia merasa gagal dengan putra mahkota seperti diriku. Mungkin aku sudah gila. Aku benar-benar devoile sinting."

__ADS_1


Eugene berhenti. Wajahnya terlihat frustasi saat ia menumpahkan seluruh isi kepalanya dalam kalimat sepanjang tadi. Eugene yakin ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan selama seratus dua puluh tahun hidupnya.


"Tapi aku tidak menyesali semua itu. Sedikit pun tidak," bisik Eugene.


Faye membeku, terpana dengan senyuman devoile di hadapannya itu. Satu hembusan angin yang cukup kuat bertiup, menyibakkan helaian rambut halus Eugene. Perlahan Faye beranjak dari ranjang. Dibalutkannya selimut ke sekeliling tubuh kokoh Eugene. Faye tersenyum kecil melihat wajah bengong devoile itu.


"Kenapa kau selalu memakan jubah tanpa lengan, sih? Apa kau tidak kedinginan?"


Eugene masih terlihat bingung beberapa saat, namun senyuman khasnya yang pongah segera kembali.


"Badanku bagus. Sayang, kan, kalau tidak terlihat?" Tawa kecil Faye menyembur.Eugene melepas bungkusan selimut dan perlahan memeluk gadis itu, menggurat ekspresi terperangah dan wajah merah di pipi Faye.


"Selimut ini hanya membuatku konyol," bisik Eugene di telinga Faye. "Aku punya cara sendiri untuk menghangatkan tubuhku. Seperti ini...."


Jantung Faye berdegup kencang ketika Eugene mempererat pelukannya. Mata fyriel itu sayu, merasa nyaman dengan kegelapan yang menyelubungi diri hingga cahaya tipisnya tidak tampak lagi. Faye mengangkat tangan, membalas pelukan devoile itu.


"Eugene...."


"Hm?"


"Kau tidak perlu berbicara sepanjang tadi," kata Faye sambil tersenyum kecil. " Kau hanya perlu meringkasnya dalam satu kalimat saja."


Jemari Eugene membelai rambut panjang Faye. Ia memejamkan mata, menghirup wangi rambut fyriel yang membuatnya merasa nyaman itu. "Apa itu?"


"Aku mencintaimu," jawab Faye. "Mudah, bukan?"


Faye bisa merasakan kepala Eugene yang mengangguk di sisinya.


"Aku mencintaimu, Faye," balas Eugene. "Aku sangat mencintaimu."


Eugene melepas pelukan, menatap Faye. Faye benar-benar terpana dengan kalimat itu. Ia tidak bisa mengungkapkan bahagia yang terlalu besar hingga rasanya tidak tertampung lagi dalam tubuh. Eugene pun tidak bisa mengalihkan diri dari wajah cantik yang merona di hadapannya. Disentuhnya pipi Faye, dan perasaan tidak terlukiskan segera menyergap saat melihat Faye yang tersenyum dan balas menyentuh tangannya, sama sekali tidak tampak kesakitan. Gadis itu menahan tangan Eugene di pipinya, memejamkan mata dan menikmati hangat dari tangan devoile itu.


"Aku bahagia," bisik Faye. " Bahagia sekali... Terima kasih telah datang untukku, Eugene."


Setitik air mata mengalir di pipi Faye karena terlalu besarnya kebahagiaan yang ia rasakan. Dengan lembut Eugene mengusap air mata itu.

__ADS_1


"Demi Freya, aku bahagia bertemu denganmu dan bisa merasakan semua ini." Eugene membenamkan kepala Faye ke dalam pelukannya, sekali lagi menyelimuti fyriel itu dengan kegelapannya, membiarkan debaran jantungnya bertahan lebih lama.


__ADS_2