AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

AKU JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Episode 22


__ADS_3

Eugene melangkahkan bot hitamnya di antara jasad-jasad devoile yang bergelimpangan tanpa pendar kegelapan lagi. Aroma amis darah bercampur bau hangus di sekitar begitu menusuk hidungnya yang kini mengucurkan darah hitam. Eugene merasakan kepalanya berat dan berputar. Melalui pandangan yang kunang-kunang, mata merah devoile itu terus mencari-cari sesuatu.


Sesuatu yang membuat kemarahan meledak di dadanya, membuatnya membantai musuh dengan kejam tanpa ampun saat perang berlangsung tadi. Ingatan saat Raja Zodic memamerkan potongan kepala Saber sebelum akhirnya dua kubu pasukan itu berbenturan masih melekat jelas dalam benaknya.


Dengan langkah tertatih Eugene mendekati tubuh Raja Zodic yang tergeletak di tanah. Raja devoile yang selalu di puja itu kini tampak tidak berharga, teronggok seperti sampah, kering dan hitam setelah Raja Atlura menusuk jantungnya dengan kristal Escudo melalui pertempuran yang begitu sengit. Eugene menendang jasad yang tertelungkup itu hingga berbalik. Jemari ayahnya itu masih mencengkeram apa yang ia cari-cari.


Tangan gemetaran Eugene memungut potongan kepala Saber. Wajah sahabatnya yang selalu ceria itu kini pucat tak bernyawa. Dengan napas tersengal Eugene menutup mata kuning Saber yang masih terbuka, kemudian dipeluknya.


"Bukankah kau sudah berjanji padaku...," ucap Eugene dengan suara bergetar. "Hei, Bodoh. Kau sudah berjanji padaku!"


Hening. Suara fyriel-fyriel yang bahu membahu menolong korban luka terdengar di kejauhan. Keheningan itu menyayat dada Eugene. Rasa sakit ini, kehilangan ini, Eugene bisa merasakannya.


"Bodoh..., kenapa kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri..?"


Faye berlari mendekati Eugene. Tubuh gadis itu tiba-tiba terasa ringan saat mendapati sosok yang dicintainya masih bertahan setelah perang besar ini. Ia merasa begitu bahagia sampai terlupa akan mayat-mayat yang berceceran di sekeliling.


"Eugene!"


Langkahnya melambat. Pemuda itu tidak menoleh ketika dipanggilnya. Senyuman di bibir Faye meremang. Perlahan ia mengulurkan tangan, menyentuh pundak lebar pemuda itu. Alangkah leganya ketika gadis itu mendapati wajah Eugene menoleh padanya, namun ia segera tercekat.


Dua butir air mata di sudut-sudut mata merah Eugene tampak berkilau diterpa cahaya senja. Mata ungu Faye hampir tak berkedip. Sosok Eugene, kegelapan itu kini tampak tidak berdaya, begitu rapuh sendirian. Bibir pemuda itu kering dan gemetaran. Jantung Faye serasa bagai diiris sesuatu ketika melihat potongan kepala devoile dalam pelukan Eugene.


Faye mengenalnya. Devoile berambut perak agak panjang dengan tanduk berwarna putih gading. Devoile itu yang bersama Eugene saat mereka pertama kali bertemu di bagian terlarang Deep Forest. Saber.


"Eugene..."


Dipeluknya siluet lemah pangeran devoile itu. Rasa sakit dalam dada Eugene, Faye memahaminya, merasakannya. Dibelainya rambut hitam keunguan Eugene, menyampaikan bahwa ia mengerti apa yang dirasakan pemuda itu. "Aku tidak ingin dia berakhir seperti ini...," bisik Eugene dengan tatapan hampa. "Aku...,aku..."


"Ssh...," desis Faye menghentikan ucapan Eugene. Mata ungu itu terpejam karena rasa nyeri yang menguasai dadanya. Dibenamkannya kepala Eugene dalam pelukannya. "Saber mati karena aku..." Eugene tersengal. "Ia mati karena menolongku. Ayah membunuh Saber karena aku..." Air mata Eugene merembes ke dada Faye. Terasa hangat, namum pedih.


"Dewi Freya tahu, Saber melakukan hal yang benar, Eugene," balas Faye lirih. Tangan fyriel itu mempererat rengkuhan seakan ingin melindungi Eugene dari kenyataan yang pahit ini. Eugene menggangguk pelan dalam rengkuhan Faye.


Maafkan aku, Saber....


Sampai kapanpun..., kau akan tetap hidup dalam ingatanku. Maafkan aku tak bisa melindungimu...


Kuharap aku bisa berteman lagi denganmu di kehidupan berikutnya... Kau bisa mendengarku? Jika kau dengar, berjanjilah. Kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Berjanjilah, Saber.


"Dengan jatuhnya Kerajaan Asyre Barat di tangan Raja Atlura, sang cahaya tertinggi, Benua Asyre kembali menjadi satu kesatuan yang agung di bawah naungan Dewi Freya. Fyriel dan devoile sebagai bangsa terbesar di benua ini akan hidup berdampingan dalam damai bersama bangsa-bangsa lainnya. Pemberontakan dalam bentuk apa pun setelah ultimatum ini dibacakan, akan ditindak lanjuti dan diberantas hingga ke akar-akarnya berdasarkan hukum yang berlaku, demi kedamaian benua Asyre, demikian titah sang raja. Semoga Dewi Freya melimpahkan kesejahteraannya pada kita semua."


Utusan kerajaan itu menggulung perkamennya, diikuti dengan sorak-sorai dari rakyat yang berkumpul di bawah balkon istana. Setelah sekian ribu tahun fyriel dan devoile hidup dalam kekuasaan terpisah, tentunya ultimatum barusan adalah sesuatu yang terdengar "baru" dan masih terasa sulit untuk diwujudkan. Namun catatan sejarah telah membuktikan bahwa bukan tidak mungkin untuk menjalani kehidupan baru itu, demi meraih kedamaian yang dijanjikan Raja Atlura.


Faye dan Eugene menatap kerumunan penuh sukacita itu di balkon. Tangan keduanya bergandengan erat. Menatap kebahagiaan banyak orang itu,tanpa sadar segaris senyum tergurat di bibir pucat Eugene. "Aku tak pernah tahu..., ternyata aku menikmati perdamaian seperti ini..." Faye melirik Eugene. "Terkadang ada saat di mana kita tidak mengerti diri kita sendiri, dan ada satu masa yang harus kita lalui untuk memahaminya. Mereka menyebut masa itu sebagai pencarian jati diri."


"Maksudmu...,ini adalah diriku yang sebenarnya?"


"Kuharap begitu." Faye mengangguk sambil mengangkat bahunya sedikit.


"Ehhmm!"

__ADS_1


Satu dehaman keras yang terdengar dibuat-buat itu mengalihkan perhatian Faye dan Eugene. Kyrion dengan wajah selaku tampak terlipat jika melihat Eugene berdekatan dengan Faye menghampiri mereka berdua dengan langkah-langkah lebar yang tenang.


"Raja Atlura ingin kalian segera menghadap," ujarnya. Sejenak Faye dan Eugene saling berpandangan heran, sebelum akhirnya beranjak dari balkon menuju ruang singgahsana raja. Kyrion hanya melengos seraya memutar bola mata keemasannya karena melihat pangeran devoile itu tidak melepas gandengan dari tangan Faye sedikit pun.


"Kami menghadap Yang Mulia Atlura, cahaya Benua Asyre yang agung." Eugene membungkuk takzim diikuti Faye. Agak aneh baginya mengucap salam dan menghormat pada seorang fyriel seperti ini, tapi ia harus membiasakan diri mulai sekarang semenjak tidak ada lagi Kerajaan Asyre Barat, hanya ada satu Asyre yang agung.


Raja Atlura mengangguk, menerima penghormatan keduanya.


"Pertama, aku ingin berterima kasih atas semua bantuanmu selama perang, Eugene." Eugene tersenyum, membungkuk lagi dengan kepalan tangan kanan diletakkan di dada kirinya.


"Setelah perang usai, kita semua tahu bahwa fyriel dan devoile dapat hidup bersama dalam damai seperti dahulu kala sebelum Hayden menggunakan Escudo untuk mengadu domba dua bangsa besar ini." Raja Atlura mengeraskan suara. "Hidup bersama, saling menghormati dan bertoleransi di atas tanah Benua Asyre, hal itu yang perlu kita garis bawahi."


Tanpa ada kesepakagan sebelumnya, Eugene dan Faye saling melirik. "Sebenarnya hal apa yang ingin Yang Mulia sampaikan pada kami?"


Pertanyaan berani Eugene mengundang tatapan berpuluh pasang mata yang ada di ruangan itu. Sebagian dari mereka membatin kelancangan bicara devoile itu.


Raja Atlura tersenyum simpul. "Baiklah, aku takkan berlama-lama, Anak muda. Sebagai simbol perdamaian antara fyriel dan devoile, aku ingin menerimamu sebagai anggota keluarga istana. Sebagai wakil kehormatan dari bangsa devoile, kau akan bertanggung jawab terhadap keseimbanga. dan kesejahteraan bangsamu di benua kita bersama ini." Faye melirik Eugene di sampingnya dengan hati berbunga bangga.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Yang Mulia."


"Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui," tiba-tiba saja Raja Atlura mengubah objek pembicaraan dari "Eugene" menjadi "kalian". Menyadari itu, Faye refleks menengakkan punggung. "Ini mengenai kalian berdua..."


Eugene dan Faye terdiam, menanti kelanjutan kalimat sang raja. Kyrion yang berdiri di jajaran petinggi istana bersama ayahnya pun ikut mematung, mengantisipasi apa yang akan dikatakan fyriel tua di atas singgahsana emas itu.


"Apa kalian berdua benar-benar saling mencintai?"


Sontak pipi Faye memerah saat itu. Ia merendahkan kepala dan berusaha mengabaikan tatapan mata yang mengitarinya. Malu, rasanya sampai ingin bersembunyi dalam genggaman tangan Eugene andai saja bisa. Eugene tersenyum menatap kegugupan Faye. "Ya, Yang Mulia. Tak diragukan lagi."


"Perdamaian antara fyriel dan devoile bukan berarti mengesahkan hubungan cinta antara dua bangsa tersebut. Pada masa sebelum Hayden memecah belah kita, fyriel dan devoile, pun hidup tanpa menorehkan catatan seperti kalian."


"Catatan?" Eugene mendesis. "Apa kami membutuhkan catatan sejarah untuk bekal melanjutkan hubungan kami? Aku dan Faye baik-baik saja, apa kau tidak lihat? Ini memang aneh, tapi kami benar-benar berbeda, kami tidak saling menyakiti. Kami hanya saling mencintai, apa itu merugikan kalian?"


Nada bicara Eugene yang mulai terdengar meninggi membuat suasana dalam ruangan itu sedikit gerah. Raja Atlura hanya manggut-manggut sambil memejamkan mata. "Cobalah kalian berpikir lebih panjang," jawabnya tenang. "Jika hubungan kalian terus berlanjut jauh dan serius, apa kalian tidak berpikir untuk memiliki keturunan? Ah, mungkin hal itu belum terpikirkan mengingat usia kalian masih terbilang hijau."


"Bagaimana jika aku memikirkannya sekarang?" Semua mata tertuju pada Eugene.


"Kami memikirkannya sekarang." Devoile itu mempererat genggamannya di tangan Faye. "Apa dengan memiliki keturunan, itu akan mengganggu kalian?" Faye menunduk, menggigit bibir. Jantungnya berdegup kencang mendengar suara Eugene yang begitu lantang dan penuh keyakinan mengenai hubungan mereka. Fyriel itu menarik napas dalam, kemudian membalas genggaman Eugene.


"Itulah yang menjadi masalah besar" tekan Raja Atlura. "Kita tidak tahu apa yang akan terlahir dari percampuran darah fyriel dan devoile. Tak pernah tertulis dalam catatan sejarah tentang itu, hanya...." Suasana hening mendadak.


"Hanya?" Mata merah Eugene menyelidik.


"Disebutkan dalam catatan masa lampau, seorang peramal mendapatkan 'pandangan' bahwa akan datang satu hari di mana darah merah dan hitam tercampur. Cahaya dan kegelapan yang bertemu akan menghasilkan sebuah bayangan besar. Kelak bayangan itu akan menelan semua kegelapan dan tak akan menyisakan cahaya di benua ini...." Raja Atlura menyilangkan jemari keriputnya yang berhias cincin Escudo.


Eugene tertawa kecut. "Lalu ahli sejarah dan cenayangmu menganalogikan ramalan itu untuk kami?"


"Hasil dari percampuran fyriel dan devoile nantinya akan menghancurkan kedua bangsa itu sendiri. Tentu kita semua tak menginginkan hal itu terjadi." Para fyriel dan devoile dalam ruangan itu saling berbisik setuju. Pemandangan itu begitu menyayat hati Eugene dan Faye, seakan semuanya kini setuju untuk memupuskan seluruh harapan mereka setelah perjuangan mereka untuk menyatukan kedua bangsa itu.


"Ba-bagaimana jika kami menjamin itu tak akan terjadi?" Faye angkat bicara dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Faye...?" Mata Eugene menatap gadis itu tak percaya. Paru-paru Faye terasa terjepit saat mendapati tatapan itu. Eugene menatap seakan ia telah mengkhianati keyakinan mereka berdua.


"Hanya biarkan kami bersama. Kumohon, pertimbangkan itu, Yang Mulia," pinta Faye sembari berusaha mengabaikan wajah tidak terima Eugene. Sederhana, Faye hanya tak ingin Raja Atlura memisahkannya dengan Eugene sekarang. Ia tak peduli dengan ramalan ataupun kekhawatiran orang-orang asalkan bisa tetap bersama Eugene, walaupun ada batasan dalam hubungan mereka Faye akan berusaha menyanggupinya apa pun itu.


"Maafkan aku, Putriku. Tapi semua tak bisa menjamin itu. Kita tak tahu apa yang akan terjadi, akan lebih bijaksana jika masalah ini ditekan dari akarnya."


"Masalah??" sengit Eugene keras. " Dengan mudahnya kalian menganggap perasaan kami sebagai masalah!? Bagaimana jika kalian berada di posisi kami?"


"Aku mengerti soal tempramenmu yang tinggi itu, Eugene. Tapi bisakah kau menahannya di sini? Kita sedang membicarakan kepentingan banyak pihak sekarang...."


"Banyak pihak?? Aku tak sudi dengan campur tangan banyak orang! Ini hanya antara aku dan Faye! Aku sudah cukup bersabar membiarkanmu mencampuri urusan kami!" gertak Eugene. "Persetan dengan ramalan bodoh itu! Faye akan tetap bersamaku, itulah yang paling ku harapkan dari perdamaian bangsa devoile dan fyriel!"


Faye mencelos. Eugene begitu memercayainya dan memiliki harapan yang begitu kuat akan masa depan hubungan mereka, sementara ia hanya egois memikirkan diri sendiri. Gadis itu merasa bersalah karena tadi telah mengucapkan hal yang mengecewakan semangat Eugene. Devoile itu berpikir lebih jauh dan dewasa dalam menyikapi hubungan mereka ketimbang dirinya. Diam-diam Faye merasa terharu dan mencintai pemuda itu lebih dan lebih lagi.


"Apa kau tak peduli dengan bangsamu, Devoile??" nada Raja Atlura ikut meninggi. "Kau adalah harapan tertinggi mereka. Apa kau tak bisa sedikit berkorban untuk kepentingan bangsamu!?"


Eugene terhenyak. Pergolakan dalam hatinya makin dahsyat. Perasaan itu membuatnya semakin muak dan benci.


"Pengorbanan...?" bibir tipisnya mendesis. "Tidak. Aku sudah kehilangan ibu dan sahabatku sampai detik ini. Aku tak ingin kehilangan lagi orang-orang yang aku cintai!!!" Eugene meradang.


"Apa pun yang kau katakan, aku tak akan mengubah keputusan ini. Ini adalah kesepakatan bersama, mewakili seluruh rakyat Asyre." Raja Atlura tetap pada pendirian. "Jika kau bersikeras, itu berarti menentang hukum kerajaan."


Wajah Eugene menampilkan senyum arogan.


"Kurasa aku tak punya pilihan lain selain menentangnya."


Ujung-ujung runcing tombak Escudo para pengawal tertuju pada Eugene dan Faye. Kyrion menatap tegang pemandangan itu. Tanpa sadar tangannya sudah bersiaga di sarung pedangnya, entah pada siapa fyriel itu akan berpihak.


"Masih ada waktu untuk berubah pikiran, Eugene." Raja Atlura memberi kesempatan terakhir.


"Oh, jadi seperti ini cara kalian... melawan dua pedang dengan puluhan tombak?" Eugene menepuk-nepuk pedang di punggungnya. "Sayangnya, aku bukan penjilat yang menarik kata-kata yang telah kuucapkan."


Tatapan Raja Atlura berubah dingin.


Syuuttt!!!


"Eugene!!! Ah!!"


Faye jatuh terduduk di dekat kaki Eugene. Devoile itu membeku ketika darah merah merembes dari bahu belakang Faye ke gaun putih gadingnya. Fyriel itu menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng Eugene dari serangan mendadak itu. Rintihan lirih mengalir dari bibir jingga Faye. Rasa sakit dari panah Escudo yang menancap itu seperti berkedut menusuk-nusuknya.


Melihat Faye terluka, Kyrion tak bisa lagi berdiam diri. Namun Emerio menahan langkah pemuda itu.


"Beraninya kalian!!!" raung Eugene keras. Kilatan mata merah devoile itu sedikit menyurutkan keberanian para pengawal yang mengepung. Dengan cepat Eugene menebas semua tombak itu dengan menggunakan pedang hitamnya. Belum puas, pangeran devoile itu mulai memburu tubuh para pengawal untuk mangsa pedangnya.


"Eugene..., jangan..." Faye menggapai tangan Eugene dengan sisa-sisa kesadarannya, berusaha menghentikan amarah Eugene. Tapi tetap saja pemuda itu tak bergeming, terus menebas tubuh para pengawal yang berusaha mencoba menghentikannya.


"Eugene!!!"


Eugene berpaling. Teriakan itu berasal dari Kyrion yang menatap dari tengah-tengah kerumunan. Eugene menangkap gerak bibir kemerahan fyriel itu mengatakan sesuatu. Kemudian Kyrion memalingkan kepala kearah pintu balkon yang terbuka.

__ADS_1


Eugene memasukkan satu pedangnya bersamaan dengan kegelapannya yang membentuk sayap di punggung. Satu tangannya yang bebas segera merengkuh tubuh Faye yang hampir tak sadarkan diri. Sejenak devoile itu menatap ke arah Kyrion, sebelum akhirnya terbang meninggalkan kekacauan di Istana Asyre.


__ADS_2