Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis

Aku Menjadi Raja Iblis Pembunuh Raja Iblis
Chapter 9 : Familiar


__ADS_3

"Rots, tahan serangannya! Reiga habisi dia. Neil, tetap pertahankan posisimu!"


 


Aku memberikan beberapa perintah singkat untuk membenarkan posisi mereka yang bisa dikatakan berantakan.


Karena aku hanya bisa mengambil quest rendah dan menengah, aku memutuskan untuk bergabung sementara dengan kelompok Reiga. Untuk kali ini, kami mengambil quest yang rendah untuk berjaga-jaga. Sebenarnya berjaga-jaga untuk mereka.


 


"Ternyata lebih mudah melakukannya jika ada arahan darimu, Kanezuki Rei."


 


"Ya!"


"Benar sekali!"



"Yah... aku tidak melakukan apapun."


 


Benar, aku tidak melakukan apapun selain memberikan arahan. Setidaknya untuk sekarang, agar mereka dapat sedikit bekerja sama. Sedangkan Lia yang berada di sebelahku hanya melontarkan senyumnya kepadaku.


Quest yang kali ini kami ambil adalah mendapatkan kulit dari enam *L*izardman. Untuk sekarang, mereka telah mengalahkan empat, hanya kurang dua.


 


"Kerja bagus, bagaimana jika kita beristirahat terlebih dahulu?"


 


"Boleh juga!"


 


Reiga yang menanggapai saran Lia langsung mendatanginya bersama yang lain dan tentu aku mengikuti mereka. Tidak jauh dari tempat kami berada, ada sebuah pohon yang lumayan besar, meski tidak sebesar pohon tempat aku mendapatkan semua peralatan ini.


Kami berteduh di bawah pohon tersebut. Selepas kami duduk bersandar di bawah pohon itu, Lia mengeluarkan beberapa potong roti lapis dan dua kantong yang berisikan air.


"Silakan dinikmati."



"Wow! Roti lapis buatan Lia!"


 


Sepertinya Neil sangat menyukai roti buatan Lia.


 


"Ini, Rei..."


 


Lia memberikan sepotong roti lapis kepadaku. Tentu aku menerimanya dengan senang hati, kemudian mengucapkan terima kasihku padanya. Pada saat aku menggigit roti tersebut...


"Enak!"


 


Itulah yang kurasakan, benar-benar enak. Aku ingin tahu bagaimana dia membuatnya hingga seenak ini? Aku memang sering memasak sendiri pada saat di dunia yang sebelumnya. Tapi aku tidak mungkin bisa membuat roti lapis yang seenak ini.


"Ini... kau yang membuatnya atau dengan sihir?"


 


Aku bertanya kepadanya sambil berbisik. Ternyata dia malah meletakkan jari telunjuknya didepan bibir sambil berkata 'Ssstt...'. Sudah kuduga! Tidak mungkin bisa membuat sesuatu yang seenak ini tanpa sihir. Tapi sihir apa yang dia gunakan?


Sambil memikirkannya, aku memakan roti yang berada di tanganku dengan sangat lahap.


Selesai makan, kami melanjutkan quest lagi. Karena sepertinya disekitar situ sudah tidak ada Lizardman lagi, kami memutuskan untuk mulai sedikit manjauh dari kota. Katanya, semakin jauh dari kota, maka semakin banyak monster. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak.


Kami sudah lumayan lama berjalan. Tidak lama kemudian kami melihat sebuah desa kecil.


 


"Sepertinya kita sudah terlalu jauh dari kota, yah?"


"Sepertinya begitu."


 


Reiga menanggapi pertanyaanku dan kami melihat sekitar. Saat kami ingin kembali ke kota, sebuah sambaran petir berwarna biru muncul dari tengah kota. Itu membuat kami semua melirik petir tersebut. Itu aneh karena warna petir tersebut biru.

__ADS_1


  "Apa yang terjadi?"


"Petir? Terlebih berwarna biru!"


 


Tanpa menghiraukan apa yang sedang Reiga dan Neil katakan, Lia memegang bagian belakang jubahku kemudian menatapku. Sebuah tatapan yang memiliki arti 'apa yang akan kau lakukan?'.


Tentu saja tujuanku adalah membebaskan dunia ini dari segala kejahatan. Aku langsung berlari menuju desa itu bersama Lia dengan mereka bertiga juga mengikuti kami.


Sesampainya di desa itu, kami melihat banyak orang yang mencoba menyelamatkan diri. Seorang wanita dengan umur yang mungkin sekitar empat puluh tahun lebih berlari menghampiriku.


  "Apa kalian petualang?!"


"Ya!"


Suaranya terdengar sedang ketakutan dan gemetar.


  "Tolong selamatkan desa kami dari Kirin!"


"Baiklah, aku akan mencobanya!"


 


Setelah itu wanita tersebut kembali berlari menjauh dari desa.


  "Kirin!?"


 


Reiga tiba-tiba terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan wanita tadi.


  "Kalian semua, selamatkan para penduduk desa! Biar aku yang menghadapinya!"


 


Mereka semua langsung mengangguk, kemudian mulai menyebar untuk menyelamatkan penduduk desa.


Saat aku sampai tepat di tengah-tengah desa, aku melihat seekor kuda bertanduk berwarna putih yang dikelilingi petir berwarna biru di sekitarnya.


"Unicorn?"


 


Tak lama kemudian dia menyadari kehadiranku dan langsung menghadap ke arahku. Aku bersiap untuk menarik pedangku.


"*Kau..?*"



"Kau bisa berbicara?!"


 


Saat itu, aku semakin bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan besar, jika dia mampu untuk berbicara, bisa jadi dia berbeda dari semua monster yang pernah kulawan.


"*Apakah kau orang yang panggil oleh Tuan Azazel?*"


 


Itu sungguh membuatku terkejut. Apa dia tahu tentang Azazel?


"Apa maksudmu?!"



"*Pedang itu... aku yang membuatnya!*"


Hah!? Pedang ini? Dia mengatakkan itu sambil melihat pedang yang akan kucabut. Jika memang dia bawahan Azazel, maka aku tidak perlu untuk menyerangnya. Setelah memutuskan, aku melepaskan cengkramanku pada pedang itu dan berdiri dengan tegap di depannya.


  "Jika memang benar kenapa?"


 


Tiba-tiba unicorn itu seperti berlutut didepanku! Apa yang terjadi?


  "Master!"


 


Master? Tunggu! Sejak kapan aku menjadi majikanmu? Aku menatapnya, dia adalah unicorn dengan tinggi dua meter dengan panjang hampir tiga setengah meter. Tanduknya transparan seperti kristal dengan mata berwarna biru dan hampir seluruh tubuhnya memiliki warna campuran biru dan putih. Menurutku, itu sungguh elegan.


  "Siapa namamu?"


"*Master yang sebelumnya memanggilku dengan nama Yuri.*"


Master yang sebelumnya? Apa maksudnya Azazel?

__ADS_1


 


"Yuri? Yuri, bangunlah!"


 


Setelah dia bangun dari posisi seperti berlutut seperti seekor kuda ksatria, aku bertanya mengapa dia menyerang desa. Tapi ternyata dia tidak menyerang desa, melainkan ingin mendatangiku. Apa mungkin dia bisa merasakan kekuatan dari senjata yang dia buat?


"... Lalu, untuk apa kau menemuiku?"



"*Untuk menjadi kekuatanmu!*"



"Kekuatanku?"



"*Ya, untuk membebaskan dunia dari kejahatan!*"


 


Apakah ini berarti dia baik? Untuk sekarang aku akan mempercayainya. Bukan karena aku mudah percaya pada siapapun, melainkan aku sulit menolak jika ada seseorang yang ingin membantuku.


"Jadi, bagaimana caramu untuk menjadi kekuatanku?"


 


Setelah aku mengatakkan itu, tubuh Yuri langsung diselimuti cahaya putih dengan petir di sekelilingnya. Tak lama kemudian, seluruh tubuhnya menjadi gumpalan energi berwarna putih dengan petir, yang lalu masuk ke dalam tubuhku melalui dada.


Sejujurnya, aku sedikit ketakutan pada saat energi itu masuk kedalam tubuhku. Tapi tidak terjadi apa-apa. Setidaknya, hanya itu yang bisa membuatku merasa sedikit tenang.


 


"Kekuatanku adalah kecepatan, jadi aku akan menjadi kaki master saat dibutuhkan!"


 


'Kecepatan? Apa seperti pedang ini ya?'


  "Ya!"


 


Heh!? Apa dia bisa membaca pikiranku?


"Eng... Yuri, jangan membaca pikiran ya. Itu sedikit membuatku terganggu."



"*Baiklah jika itu keinginanmu, Master!*"



"Terima kasih."


 


Karena di desa tidak terjadi kerusakan, dan juga tidak ada korban. Aku langsung mendatangi yang lainnya setelah mereka mengamankan seluruh penduduk desa.


  "Reiga, apa yang lainya baik-baik saja?"


"Ah! Kanezuki Rei, semuanya baik-baik saja! ... Kirinnya?"



"Dia menghilang. Sekarang sudah aman!"


 


Setelah itu aku memberitahu seluruh penduduk desa bahwa sudah aman. Sekarang mereka dapat kembali ke desa dengan lega. Sedangkan kami berlima memutuskan kembali ke kota. Saat diperjalanan, Reiga, Neil, dan Rots berada di barisan depan, sedang aku dengan Lia dibelakang. Lia mendekatkan dirinya padaku dan bertanya.


  "Apa kau mendapatkannya?"


 


Dengan suara yang pelan agar yang lain tidak mendengarnya.


"Ketahuan, ya?"


 


Aku hanya menunjukkan senyumku padanya. Sepertinya aku memang tidak bisa membohonginya. Perempuan sungguh menakutkan!


Untung saja pada saat kami dalam perjalanan kekota, kami menemui beberapa *L*izardman lagi. Jadi quest yang kami ambil berhasil. Hari yang cukup melelahkan. Tapi aku senang karena mendapatkan Familiar.

__ADS_1


__ADS_2