
Beberapa hari telah berlalu sejak Yuri memutuskan untuk membantuku. Aku mulai sering berlatih dengannya. Sebenarnya, dengan kekuatan Yuri dan seiring berlalunya waktu, aku mulai terbiasa walaupun pada awalnya sangat sulit. Karena memang dari awal aku tidak bisa mengontrol pengeluaran energi sihirku.
Karena kekurangan itu, aku belajar kepada Lia untuk mengontrol pengeluaran sihir. Jujur saja, dia mungkin masih level satu, tapi memiliki kapasitas sihir yang lumayan besar. Bahkan hingga hari ini, aku masih berlatih dengan Lia ketika kelompoknya sedang memiliki waktu senggang.
"Rei, bagaimana kalau beristirahat dulu?"
"Baiklah..."
Kami berlatih di luar kota, tepatnya di tempat yang sama pada saat kami mengambil quest untuk membunuh Lizardman.
Di bawah rindangnya pohon dan cerahnya langit, kami beristirahat untuk sementara. Tak lama kemudian, Lia mengeluarkan beberapa roti lapis dari tas miliknya. Itu roti lapis yang sama pada waktu itu.
"Apakah kali ini kau juga membuatnya dengan sihir?"
"Hah? Ah... untuk sekarang tidak. Aku membuatnya tanpa menggunakan sihir."
Aku penasaran dengan rasanya. Aku langsung mengambil satu potong roti lapis tersebut dan dengan cepat memakannya. Sejak gigitan pertama, rasanya memang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Jujur saja, menurutku, roti lapis yang sebelumnya lebih baik daripada yang sekarang. Tapi yang ini juga tidak buruk.
"Yang ini tidak terlalu buruk, meski yang menggunakan sihir lebih enak. Tapi yang begini lebih baik, 'kan?"
"Be\-, benarkah? Syukurlah kau menyukainya!"
Wajahnya terlihat senang. Ketika aku mengambil roti lapi yang kedua, aku teringat akan sesuatu,
"Lia, bagaimana jawabanmu tentang ajakanku yang waktu itu?"
Yah, alasanku tetap disini selain dari level petualangku yang kurang adalah Lia. Aku merasa tidak bisa meninggalkannya, karena sayang sekali jika kami berpisah ketika sudah saling mengenal. Selain itu, ini untuk menjaga rahasia milikku.
"A\-ah... tentang itu... Aku sudah membicarakannya dengan yang lain. Mereka bilang tidak apa\-apa jika aku ingin mengikutimu. Jadi, aku akan ikut!"
Heh?! Membicarakannya dengan mereka?! Itu artinya mereka memperbolehkan Lia untuk meninggalkan kelompok mereka?! Meskipun itu membuatku senang, tapi aku sempat memikirkan tentang mereka kedepannya. Apa mereka bisa mendapatkan anggota baru?
"Mereka juga akan mulai mencari priest dan mage lain."
Mendengar penjelasan Lia, aku sedikit merasa bersalah pada mereka. Apa mungkin aku harus membantu mereka juga? Yah... untuk itu, mungkin aku bisa memberikan mereka satu koin mithril. Tapi apakah mereka akan senang dengan hanya sebatas itu?
Untuk sekarang itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Aku akan melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Setelah menghabiskan semua roti lapis yang dibawa oleh Lia, aku mulai berlatih lagi hingga menjelang malam.
***
"Apa tidak apa\-apa?" – Reiga
"Itu sangat membantu kami, tapi apa kau yakin." – Neil
"Ya, terimalah..."
Aku beserta seluruh anggota kelompok Reiga berkumpul disebuah meja yang terletak di lantai satu Guild. Aku memberikan satu keping koin mithril untuk mereka. Aku berharap itu dapat membantu mereka untuk banyak hal, seperti membeli perlengkapan yang lebih bagus dan lengkap. Menurutku, semakin bagus perlengkapan seseorang, maka semakin besar kesempatan mereka untuk selamat. Meski perlengkapan bukanlah penentu utama dalam sebuah pertarungan, melainkan pengalaman, strategi, dan juga keberanian untuk mengambil resiko.
"Bagaimana cara kalian untuk mendapatkan anggota baru?"
Itulah pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku ketika memikirkan tentang mereka tanpa Lia.
"Tenang saja, besok aku akan mengajak kenalanku untuk masuk ke dalam kelompok ini. Lagipula, mereka sedang tidak bergabung dalam kelompok manapun."
Mendengar pernyataan Reiga, aku tetap masih bingung. Bagaimana cara mendapatkan anggota di dunia ini?
"Baiklah, untuk sekarang aku akan memercayaimu, Reiga! Besok pagi, kita semua berkumpul kembali di sini, bersama anggota baru yang akan kau masukkan tentunya."
Mendengar saranku, mereka semua hanya mengangguk. Tidak lama setelah itu, kami bubar dan aku langsung menuju ke kamar, kemudian tidur. Keesokannya, setelah terbangun dari tidur, aku langsung menuju ke lantai bawah untuk memastikan bahwa mereka telah berkumpul atau belum. Dan ternyata belum. Sungguh mengecewakan.
Sambil menunggu mereka, aku memesan makanan untuk sarapan. Belakangan ini, aku memastikan apapun yang akan kumakan harus memiliki nutrisi. Aku melakukan hal ini untuk merubah pola hidupku yang lama, dimana pada saat itu aku jarang berolahraga, dan sering memakan makanan yang kurang memiliki nutrisi seperti makanan ringan.
Belum selesai aku menghabiskan makananku, Reiga datang bersama dua orang yang tak kukenal. Keduanya adalah perempuan, salah satunya memiliki mata berwarna kuning keemasan, rambut berwarna coklat dengan model dikepang kesamping, dengan warna kulit yang tidak terlalu putih, namun tidak coklat. Entah kenapa penampilannya mirip seperti Karin. Sedangkan yang satunya memiliki kulit putih cerah, rambut pendek hingga bahu dengan warna pirang, dan memiliki warna mata seperti batu emerald.
'Apa mereka anggota barunya?'
Gumamku dalam hati. Entah bagaimana Reiga mengajak kedua perempuan itu. Tapi menurutku, seleranya tidak buruk!
Aku segera memanggil mereka untuk duduk di sebelahku, dan aku segera menghabiskan sarapanku. Kami menunggu yang lainnya untuk datang. Setelah beberapa lama, Lia, Neil, dan Rots turun dari lantai dua Guild.
Setelah kami semua berkumpul, ditambah dua perempuan tersebut. Kami mulai memperkenalkan diri, begitu juga dengan mereka.
Gadis yang memiliki warna rambut coklat bernama Nita sebagai mage, sedangkan yang memiliki rambut berwarna pirang bernama Icha sebagai priest. Mereka berdua adalah mantan pacar Reiga. Mendengar itu, aku sedikit menjentikkan lidahku dan sedikit mengalihkan pandanganku dari Reiga.
"Ada apa Kanezuki Rei?"
"Tidak, bukan apa\-apa."
__ADS_1
'Kenapa selalu orang yang terlihat keren dan tampan yang mendapatkan banyak perhatian wanita? Reiga dan Shin, mereka berdua sungguh membuatku iri!'
Mendengar aku sedikit meninggikan suara kepada Reiga, Lia menatapku dengan tajam. Apa-apaan dengan tatapannya? Apa dia pikir aku menyukai mereka? Salah! Justru aku sedikit iri kepadanya. Entah mengapa Reiga mengingatkanku kepada Shin?! Apa karena mereka sama-sama populer dikalangan perempuan?!
Setelah perkenalan, aku menyarankan untuk mengambil quest. Ini juga mungkin cocok untuk mengukur kemampuan mereka. Reiga mungkin percaya terhadap mereka, tapi tidak denganku. Pada saat kami melihat-lihat quest yang ada di papan permintaan, aku melihat sebuah quest kelas satu. Apa ini quest yang baru diajukan? Lucky. Emh... quest tersebut meminta untuk melakukan penyusuran di hutan bagian barat, karena alasan ada yang melihat koloni Orc.
'Kenapa di bagian barat banyak sekali monster?'
"Apa kalian menemukan quest yang sesuai?"
"Sepertinya kami akan mengambil yang ini!"
Aku melihat quest yang ditunjuk oleh Reiga. Quest tersebut meminta untuk mendapatkan enam taring Kera Raksasa di hutan bagian barat. Di hutan bagian barat juga?! Apa yang sebenarnya berada di hutan bagian barat?!
"Hm... bagaimana jika kita berangkat bersama\-sama? Lagipula tempat yang akan kita tuju sama."
"Heh? Bukankah Kanezuki Rei ingin membantu kami?"
Rencanaku memang begitu, tapi karena aku menemukan quest yang kubutuhkan, mau bagaimana lagi? Bisa gawat jika quest ini diambil oleh petualang lain. Jadi aku hanya bisa meminta maaf saja.
"Aku akan tetap membantu kalian, lagipula tempat yang kita tuju sama."
"Baiklah kalau begitu."
Sesampainya kami disana, kami sedikit menyusuri hutan tersebut, namun tidak menemukan apapun.
"Yuri, apa kau bisa merasakan kehadiran monster lain?"
"*Sedikit ke arah utara, sepertinya terdapat kera raksasa. Sembilan ekor*."
"Terima kasih!"
Aku bertanya kepada Yuri dengan nada yang kecil agar mereka tidak menyadarinya. Jika sampai mereka menyadarinya, bagaimana reaksi mereka ya? Apa mereka akan terkejut jika aku mendapatkan seekor familiar Kirin?
"Nah, bagaimana jika kearah utara sedikit?"
Aku mengajak mereka ke tempat yang dikatakan oleh Yuri. Tepat seperti yang Yuri katakan, di tempat itu terdapat enam ekor kera dengan tubuh besar dan bulu mereka berwarna putih, hampir seperti salju. Dan diwajah mereka, empat taring tumbuh panjang keluar dari mulut mereka. Tunggu, enam ekor!? Dimana yang lainnya?
Setelah kera yang lain bangun, mereka langsung membentuk formasi yang biasa mereka lakukan. Para laki-laki berada di barisan depan, sedangkan kedua anggota baru itu berada di garis belakang untuk memberikan serangan jarak jauh dan sekaligus memberikan support. Aku lupa nama mereka... siapa yah? ...... Ah sudahlah, aku akan menanyakannya kembali nanti.
Aku merasa bahwa mereka yang sekarang lebih kompak dari pada yang sebelumnya, serangan mereka juga lebih terkoordinasi. Aku yakin mereka bisa menjadi kelompok yang hebat suatu hari nanti.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menghabisi ketiga kera raksasa tersebut. Meski Rots lebih banyak terluka karena terus menerus menahan serang mereka. Tapi, priest mereka langsung menyembuhkannya. Jujur saja, menurutku kerja sama mereka sudah bagus.
"Kita berhasil!"
Sepertinya Neil sangat senang, tapi ini belum berakhir. Masih ada dari mereka yang tersisa.
"Ah, kalian ambil taring mereka, tapi jangan sampai lengah!"
Aku menyuruh mereka agar tidak lengah. Tapi tetap saja, tiga kera yang lainnya kemana?
'Apa lebih baik aku kembali bertanya pada Yuri? Tapi jika seperti itu akan menjadi membosankan.'
"Master, kita telah terkepung! Terdapat sekitar 120\-an orc!"
Ap-!? Sial! Ternyata aku yang sedang lengah!
"Kalian semua!! Cepat berkumpul!!"
Aku berteriak pada mereka semua untuk cepat berkumpul agar dapat melindungi satu sama lain. Kami semua saling membelakangi satu salma lain agar bisa melihat kesegala arah. Gawat, aku mulai merasakan hawa membunuh.
Tidak lama kemudian, makhluk yang memiliki tubuh besar, gemuk, dan juga memiliki wajah yang terlihat seperti **** dengan membawa senjata di salah satu tangannya, memiliki warna kulit yang coklat mulai bermunculan dihadapan kami satu persatu.
"Lia, apakah mereka kuat?"
"Tidak, mereka hanya sedikit lebih kuat dari goblin. Tapi jika sebanyak ini..."
Ah! Aku baru ingat, di quest itu... tertulis 'koloni'! Ah! Aku tidak membacanya dengan benar! Tapi, jumlah mereka hanya sekitar seratus, tidak sebanding dengan goblin yang telah kubunuh. Kalau begitu, aku akan menggunakan cara yang sama pada saat itu.
"Kalau begitu, aku akan menghabisi mereka semua!"
"Hah!? Bagaimana caranya?"
Aku langsung mencabut pedangku dari sarungnya, seperti biasa semua yang berada disekitarku langsung menjadi sangat lambat. Aku menggunakan cara yang sama pada saat aku membunuh semua koloni goblin. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menghabisi mereka semua.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menebas mereka satu persatu. Setelah itu, aku memilih tempat tepat didepan Lia, kemudian menyarungkan kembali pedang tersebut.
"Apa kau lupa bagaimana aku menyelamatkanmu dan bagaimana caraku menghabisi semua goblin di daerah sini?"
Setelah berkata seperti itu, semua orc tersebut langsung tergeletak diatas tanah. Aku merasakan yang lain menatapku dengan takjub. Gawat, aku mulai merasa senang sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Kau benar, bagaimana aku bisa lupa?"
Wah, dia menunjukkan senyumnya yang berseri! Manis sekali! Karena sikapmu yang seperti itu aku jatuh cinta padamu? Dasar...!
Dengan ini, quest yang kami lakukan, semuanya selesai. Setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke kota dan langsung pergi ke Guild.
Setelah mereka menyerahkan taring yang tadi kami dapatkan dan aku memberikan laporan, kami semua berkumpul kembali di salah satu meja kosong yang ada paling dekat dengan kami. Aku langsung meletakkan kepalaku ke atas meja lalu menghela nafas panjang.
"Ada apa Rei?"
"Tidak, bukan apa\-apa."
Aku membalas pertanyaan Lia dengan dingin. Meski aku berkata seperti itu, sebenarnya ada apa-apa. Setelah melakukan quest tersebut aku masih belum naik level, ditambah lagi para Orc itu tidak memiliki item yang bagus, uang saja tidak punya! Sungguh sial...
"Oh ya, apa kalian tidak ingin membeli peralatan yang baru dari koin yang kuberikan pada waktu itu?"
"Ah, sebenarnya kami memang sudah memutuskan untuk membeli peralatan yang bagus."
"Begitukah?"
Bukankah begitu lebih baik.
"Lia, apa yang harus dilakukan seseorang agar bisa naik level?"
"Um, kalau tidak salah, harus mengalahkan seseorang atau monster yang lebih kuat dari dirimu. Atau mengalahkan banyak monster. Intinya, melakukan sesuatu yang dapat melampaui dirimu sendiri."
Hah?! Jadi itu alasan mengapa sekarang aku lambat naik level? Yah, lagipula, sepertinya quest yang memiliki level tinggi sudah kuambil semua. Apa aku harus mengalahkan semua monster yang berada dihutan bagian barat? Itu hutan yang sangat besar! Lagipula sangat banyak monster. Tapi ada yang membuatku penasaran, kenapa di hutan bagian barat selalu muncul monster. Apa mereka memiliki kemampuan respawn seperti di dalam game?
"Yuri, apa kau mengetahui sesuatu tentang hutan yang berada di bagian barat kota?"
"*Tidak, Master. Tapi saya merasakan sesuatu dengan kekuatan yang sangat besar. Mungkin melebihi kekuatan Master*."
"Melebihi, ya...?"
Huh? Tunggu- Itu dia!! Tapi kurasa untuk sekarang lebih baik aku tidak pergi ke sana terlebih dahulu. Jika memang sesuatu yang berada disana lebih kuat dariku, maka aku setidaknya harus menguasai kekuatanku dan sambil berlatih bersama Lia dan Yuri. Ya, itulah yang terbaik untuk sekarang!
"Maaf semuanya, aku akan kembali ke kamar terlebih dahulu."
Aku langsung berdiri, kemudian meninggalkan mereka semua dengan tubuh yang terlihat lemas karena kecewa. Sesampainya di kamar, aku langsung duduk di atas kursi sambil menghadap keluar jendela. Melihat matahari yang sudah mulai terbenam, ternyata tidak terlalu buruk. Ah, aku teringat akan sesuatu lagi.
"Yuri, apa kau mengetahui sesuatu tentang kedua belati ini?"
Aku bertanya kepada Yuri sambil menarik kedua belati yang berada di belakang pinggangku bersamaan dengan sarungnya.
"*Maafkan saya, saya tidak mengetahui apapun tentang itu*."
"Jadi begitu... Ah, tidak perlu bersikap terlalu formal terhadapku. Anggap saja kita ini teman!"
"*Terima kasih banyak. Untuk kedua belati itu, saya sepertinya pernah melihat Tuan Azazel memegangnya, tapi tidak pernah menariknya... Selain itu, saya lupa*."
"Sudahlah jika memang lupa."
Selama ini, aku belum pernah menggunakan kedua belati ini. Jadi aku sedikit penasaran dan juga takut akan kekuatan yang ada di dalamnya. Baiklah, aku akan mencoba menggunakannya hanya ketika dalam posisi yang benar-benar tertekan. Selain itu, aku juga harus menjaga kartu AS milikku.
"Oh ya, Master, saya ingin memberitahu sesuatu. Jika Master telah sepenuhnya bisa menguasai kekuatan saya, Master tidak akan hanya mendapatkan kecepatan, melainkan hanya dengan memikirkan suatu tempat, Master akan langsung berada di tempat tersebut."
Heh?! Bukankah itu sama saja dengan teleportasi? Jika memang begitu, itu akan sangat berguna.
"Terimakasih Yuri, itu akan sangat berguna!"
"*Sebuah kehormatan, jika saya dapat membantu*."
'Bukankah sudah kubilang untuk jangan terlalu formal? Yah, selain itu, aku jadi tidak sabar untuk segera menguasai kekuatan Yuri dan melakukan teleportasi yang hanyalah khayalan belaka jika di dunia asalku!'
__ADS_1
Setelah beberapa hari sejak aku berada di dunia ini, aku sepertinya dapat merasa senang. Aku bisa mengenal banyak orang, memiliki banyak teman, serta kekuatan untuk melindungi sesuatu yang kusayang. Meski rasa bersalah terhadap Shin tetap membekas jauh di dalam hatiku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya! Itu sudah pasti akan kulakukan!